NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Syuting di daerah pengunungan.

Pagi keberangkatan itu datang lebih cepat dari biasanya.

Udara masih dingin saat Mireya turun ke lobby, rambutnya diikat sederhana, tas kecil di bahu. Ia sudah siap berangkat bersama kru seperti biasa.

Namun langkahnya berhenti.

Di depan—

sebuah mobil sudah menunggu.

Dan bersandar santai di sampingnya, Zevran Ardevar.

Mireya berkedip.

“…kamu?”

Zevran membuka pintu mobil tanpa banyak bicara, seolah itu hal yang wajar.

“Ayo.”

Mireya langsung menggeleng kecil.

“Kamu kan sibuk… nggak usah deh ribet banget. Aku bisa minta Pak Laurent, atau—”

Ia melirik ke samping.

Pixy yang berdiri di sana langsung mengangkat tangan kecilnya dengan semangat.

“Aku juga bisa bawa mobil kok, kak!”

Mireya terdiam.

“…hah?”

Tatapannya turun-naik, menilai.

“…kamu bisa?”

Pixy langsung manyun sedikit.

“Walaupun aku keliatan kecil, aku udah lulus pelatihan kok… aku cukup jago…”

Lalu buru-buru menambahkan, seolah takut diremehkan,

“Aku juga bisa make up sederhana! Dan banyak hal lain!”

Mireya hampir tertawa, tapi menahan.

Namun sebelum ia sempat menjawab—

Zevran sudah lebih dulu membuka suara.

“Tidak perlu.”

Nada suaranya tenang.

“Terlalu banyak risiko.”

Mireya menghela napas.

“…berlebihan.”

Zevran hanya melirik sekilas.

“Aku juga investor di sana.”

Kalimat itu keluar ringan.

“Aku sekalian lihat lokasi. Kebetulan sedang senggang.”

Mireya menatapnya beberapa detik.

Diam.

Lalu mengangguk pelan.

“…ya sudah.”

Ia masuk ke mobil.

Pixy ikut di belakang, masih sedikit menggumam pelan tentang kemampuannya yang tidak dipercaya.

Perjalanan dimulai.

Mobil melaju meninggalkan kota, menuju jalanan yang semakin sepi, semakin hijau.

Di dalam mobil, suasana cukup tenang.

Mireya bersandar, lalu tanpa sadar membuka ponselnya.

Satu pesan masuk.

Dari Robert.

Ia membuka.

Dan langsung terdiam.

“Nona Mireya… tuan muda berbohong.”

“Tolong segera bujuk beliau untuk pulang…”

“Pekerjaan beliau menumpuk sekali…”

Di bawahnya—deretan emotikon menangis.

Banyak sekali.

Mireya menutup mulutnya pelan.

Menahan tawa.

Matanya perlahan beralih ke arah kursi depan.

Ke arah Zevran yang sedang menyetir dengan wajah tenang, fokus ke jalan, seolah tidak ada yang aneh.

Cool.

Terlalu cool.

“…jadi ‘senggang’ ya.”

gumamnya pelan.

Zevran tidak menoleh.

“Hm?”

“Tidak apa-apa.”

Mireya menunduk, bahunya sedikit bergetar.

Bukan karena gugup.

Tapi karena menahan tawa.

Untuk pertama kalinya—

ia menemukan kebohongan pria itu.

Dan entah kenapa—

rasanya…

hangat.

...****************...

Perjalanan masih berlanjut.

Jalanan mulai berubah—dari kota padat menjadi jalur hijau yang sepi dan panjang.

Mireya bersandar, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

“Berarti… sayang sekali ya kita nggak bisa nonton episode pertama langsung di TV.”

"Terminal pribadi nanti di blokir sinyal nya"

Ia melirik ke depan.

“Mungkin sutradara bakal kasih waktu… biar kita ikut meramaikan.”

Pixy langsung mengangguk semangat dari kursi belakang.

“Iya kak! Pasti! Semua orang juga pasti nonton bareng!”

Lalu tanpa aba-aba, gadis itu mulai membuka topik lain dengan wajah serius.

“Oh ya kak, aku udah siapin banyak barang jaga-jaga.”

Mireya menoleh.

“Barang?”

“Iya! Kalau kepakai bagus, kalau nggak ya nggak apa-apa. Semua aman di bagasi.”

Pixy menghitung dengan jari.

“Baju ganti, kaos kaki, perlengkapan mandi—”

Masih normal.

Mireya mengangguk.

Sampai—

“—termasuk pakaian dalam tambahan, sama Bra—”

PLAK.

Tangan Mireya langsung menutup mulut Pixy.

“Kenapa kamu bahas itu di sini?!”

Wajahnya langsung merah padam.

Pixy berkedip bingung di balik tangan itu.

“Hmm?!”

Mireya buru-buru melirik ke depan.

Zevran masih menyetir dengan tenang.

Terlalu tenang.

Yang justru bikin makin memalukan.

Ia menurunkan suaranya.

“Pelan-pelan ngomongnya…”

Mireya melepas tangannya pelan.

Pixy langsung menghela napas.

“Loh kenapa malu sih…”

Ia cemberut kecil.

“Padahal yang nyuruh siapin itu kan Kak Zevran…”

Hening.

Mireya membeku.

Perlahan—

kepalanya berputar ke depan.

“…apa?”

Zevran tidak menoleh.

“Untuk jaga-jaga.”

Jawabannya singkat.

Datar.

Seolah itu hal paling normal di dunia.

Pixy mengangguk kuat-kuat.

“Iya! Katanya biar Kak Mireya nggak repot kalau di lokasi nanti—”

PLAK.

Mulut Pixy disumpal lagi.

“Sudah, cukup!”

Mireya benar-benar tidak berani melihat ke depan sekarang.

Wajahnya panas.

Sangat panas.

Pixy hanya mengeluarkan suara protes kecil.

“Hmmmm!”

Sementara di depan—

Zevran tetap menyetir.

Tenang.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun—

ujung bibirnya nyaris terangkat sedikit.

...****************...

Mobil berhenti di area parkir lokasi syuting.

Udara langsung terasa berbeda—lebih dingin, lebih lembap. Aroma tanah dan dedaunan basah menyambut mereka begitu pintu dibuka.

Mireya turun lebih dulu.

Pixy sibuk di belakang, mengecek barang-barang.

Lalu—

pintu sisi pengemudi terbuka.

keluar.

Awalnya…

tidak ada yang sadar.

Kru masih lalu-lalang, membawa properti, berdiskusi soal jadwal.

Sampai satu orang berhenti.

Menatap.

Sedikit lebih lama.

“…eh.”

Orang kedua ikut menoleh.

“…itu…”

Dan dalam hitungan detik—

gelombang kecil itu menyebar.

“Serius?”

“Bentar… itu bukannya—”

“Zevran… Ardevar?”

Nama itu tidak diucapkan keras-keras.

Tapi cukup untuk membuat suasana berubah.

Beberapa kru langsung berdiri lebih tegak.

Yang lain pura-pura sibuk—

tapi mata mereka jelas melirik.

“Hhh aku baru sadar…”

“Sialan, itu mukanya familiar banget…”

“Kayak pernah lihat di majalah bisnis…”

“Dia investor, kan?”

“Iya… salah satu yang besar itu…”

Lalu—tatapan mereka beralih.

Ke Mireya.

Hening sejenak.

“…dia yang nganterin?”

Nada suaranya berubah.

“Berarti…”

“Bener ya…”

"Gosip itu"

Bisikan mulai turun.

Lebih pelan.

Lebih tajam.

“…dia punya backingan.”

“…dekat banget malah.”

“Jangan-jangan…”

Seseorang tertawa kecil.

“…kenari bos.”

Beberapa yang lain ikut terkekeh.

“Ya tapi beruntung sih—”

“Bosnya nggak jelek.”

“Kalau gitu sih… ya…”

Kalimatnya tidak dilanjutkan.

Tapi semua orang mengerti.

Di sisi lain—

Mireya berdiri diam.

Ia mendengar.

Tidak semua.

Tapi cukup.

Tangannya mengepal sedikit.

Pixy di sampingnya sudah hampir meledak.

“Ka—”

Namun sebelum ia sempat bicara—

Mireya menggeleng pelan.

Satu gerakan kecil.

Tapi jelas.

Jangan.

Pixy menutup mulutnya.

Menahan.

Padahal wajahnya sudah merah karena kesal.

Bisikan itu terus berlanjut.

Semakin berani.

Karena mereka pikir—

tidak ada yang akan melawan.

Dan memang—

Mireya tidak bergerak.

Ia hanya menarik napas pelan.

“…tidak perlu.”

Gumamnya hampir tak terdengar.

Karena ia tahu—

penjelasan apa pun sekarang…

tidak akan mengubah apa-apa.

Di depan—

Zevran masih berbicara dengan seseorang dari tim produksi.

Tenang.

Profesional.

Seolah tidak menyadari apa pun.

Atau mungkin—

memang tidak peduli.

Namun sejak saat itu—

cara orang memandang Mireya berubah.

Bukan lagi sekadar aktris baru.

Tapi seseorang—

yang berada di bawah bayangan kekuasaan.

Dan bisikan itu—

tidak akan berhenti begitu saja.

Entah apa ini pertanda nasib baik atau nasib buruk.

Tapi yang pasti masa depan Mireya untuk membuktikan dirinya layak akan semakin bertambah besar.

Dan Mireya yakin hal itu.

Masa depan adalah miliknya!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!