Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Selasa malam, di sebuah kafe yang cukup jauh dari sekolah dan rumah. Tempat ini biasanya digunakan untukku bertemu rutin dengan Maya setiap hari Senin sepulang sekolah, atau ketika ada insiden khusus yang mengharuskan kami bertemu seperti siang tadi. Namun, kali ini aku tidak sedang bersama Maya. Yah, niat awalku ke sini memang karena dia... tapi setelah pertemuan yang mengejutkan dengan Elma, aku malah berujung lanjut mengobrol berdua dengan cewek ini setelah Maya tiba – tiba memutuskan untuk pulang.
Mengobrol berduaan dengan seorang cewek seperti ini... hal yang bahkan tidak pernah terjadi sepanjang kehidupan pertamaku! Dua cewek dalam satu hari... rasanya rekor itu jauh melampaui tiga tahun masa SMA-ku dulu. Seakan seluruh energi kehidupanku telah tersedot habis. Jujur saja, aku ingin pulaaaang!
“Ooh iya, aku harus minta maaf padamu,” ucapku setelah sisa tawa kami mereda. Elma menatapku dengan raut heran dan terdiam.
“Ini tentang Maya yang tadi duduk di sini. Tadi...” Belum selesai aku merangkai kata, Elma sudah memotong.
“Aah, iya. Jadi... kalian berdua pacaran?” tanya Elma dengan senyum menggoda yang mengembang di wajahnya.
“Enggak!! Jangan mengatakan hal mengerikan seperti itu di saat seperti ini!!” jawabku dengan nada setengah membentak. Padahal, tadi sore aku dan Maya sudah membantahnya dengan tegas agar dia tidak salah paham hanya karena melihat kami berduaan di kafe.
“Ahaha, ya sudah sih. Emang kenapa dengan Maya?” tanyanya santai.
“Sebenarnya ini tentang kesukaanmu pada manga Rom-Kom (Romantis-Komedi). Karena ada alasan kuat, makanya aku terpaksa menceritakan rahasiamu ke Maya,” jawabku pelan. Aku mengatakannya dengan perasaan bersalah meski aku tetap berusaha memberi ekspresi datar keahlianku. Rasanya aku pasrah kalau dia mendadak marah lalu menghajarku di tempat.
“Dia orangnya bukan tipe mulut ember, jadi aku yakin dia tidak akan menusukmu dari belakang. Meski begitu, aku tetap merasa bersalah karena sudah membocorkan rahasiamu. Aku sungguh minta maaf,” ucapku tulus lalu aku membungkukkan badan.
Bukannya marah, Elma malah tertawa kecil. Reaksinya membuatku penasaran, hingga perlahan kuangkat kepalaku untuk menatap wajahnya.
“Hihihi, gitu ya. Kalau Raka percaya sama Maya, ya sudah, tidak apa-apa. Maya juga terlihat seperti cewek baik-baik,” timpal Elma enteng. Dia sama sekali tidak terlihat keberatan, bahkan memuji Maya seolah sudah mengenalnya lama.
...Padahal dia tidak tahu saja, Maya itu monster!...
“Tapi, kalian kan nyaris tidak saling kenal tadi?” sindirku.
Saat itu, Elma meletakkan kedua sikunya di atas meja, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan.
...Posenya cantik sekali....
“Dia gadis yang sangat imut. Aku sampai terkejut kamu datang ke sini sama dia,” timpalnya dengan rona merah tipis di pipi. Sepertinya Elma benar-benar mengagumi sosok Maya.
Mungkin gara-gara aku sudah terlalu sering melihat Maya dan berhadapan dengan sikap buruknya padaku, aku jadi mati rasa ketika membayangkan dia. Tapi, aku tetap harus mengakui kalau Maya memang gadis yang cantik. Wajah mungil, rambut wolf cut hitam, mata yang tajam, dan dagu lancip—dia sudah seperti karakter heroine di anime atau manga. Sampai detik ini pun aku masih tidak menyangka gadis seperti itu mau repot-repot memedulikan serigala penyendiri sepertiku. Pola pikirnya jelas di luar nalar manusia normal.
“Oh iya, nih bukumu,” celetukku, mengeluarkan manga milik Elma yang sebelumnya kuamankan di dalam tas. Elma menerimanya dengan mata berbinar dan segera memeluk komik itu erat-erat.
“Makasii~” ucapnya seraya melempar senyum manis.
“Kalau memang mau dirahasiakan, lain kali jangan bawa manga atau novel ke sekolah, oke? Aku tidak akan bisa menutupinya lagi kalau kejadian serupa terulang,” pesanku dengan peringatan keras yang jelas. Elma menghela napas panjang, seolah baru saja melepaskan karung beban dari pundaknya.
“Iya... lain kali aku akan lebih berhati-hati,” sesalnya pelan. Syukurlah, ternyata dia tipe cewek yang mudah untuk dinasihati.
“Ooh iya, Raka benaran sudah baca manga ini?!” serunya tiba-tiba. Suaranya yang melengking ceria sampai membuatku sedikit terperanjat. Perubahan emosinya begitu membahas hobi sungguh secepat kilat.
“Ooh, aah.. ya, sudah sih,” jawabku. Sebenarnya aku membacanya di kehidupan pertamaku, bukan di kehidupan yang sekarang.
“Cepatnya~” puji Elma kagum.
Ini pasti imbas dari omonganku siang tadi saat aku menyombongkan diri bisa menebak plot cerita sampai ending-nya ke Sari. Yah, aku tidak sepenuhnya berbohong tentang hal itu. Di kehidupan pertama aku memang sudah membacanya, walau jujur saja, aku agak lupa dengan perincian detail isinya.
“Kurasa begitu, lumayan cepatlah,” balasku dengan sedikit gaya sombong. Elma kontan tertawa.
“Apanya yang lumayan? Manga ini baru rilis kemarin pas kita ketemu di toko buku, tahu,” protes Elma geli. Ia lalu membalik beberapa lembar halaman manga itu untuk mencari-cari sesuatu.
Tak lama kemudian, Elma yang awalnya asyik menunduk, tiba-tiba mendongak menatapku. Rona merah menghiasi pipinya, dan raut wajahnya terlihat begitu antusias, persis seperti anak kecil yang baru dibelikan es krim oleh orang tuanya. Dengan ekspresi berbinar itu, dia bertanya...
“Hei..! Hei!! Menurutmu bagian mana yang paling bagus? Aku baru baca setengahnya, sih!” seru Elma, terdengar begitu bersemangat. Melihat antusiasmenya, energi remajaku yang sempat pudar seketika kembali. Rasa lelah akibat rentetan kejadian hari ini mendadak menguap.
Setelah itu, obrolan kami mengalir deras seputar manga yang sedang ia baca. Pembicaraan semakin meluas, menyentuh berbagai judul anime, manga, dan novel dengan genre yang sama: romantis komedi. Agak canggung memang membahas genre penuh cinta-cintaan dengan sedikit bumbu fans service ini bersama lawan jenis, tapi entah kenapa tidak ada yang terbawa perasaan berlebihan, dan obrolan itu mengalir begitu saja.
“Eeh... eeh, kalau Raka sendiri suka karakter cewek yang seperti apa?” tanya Elma penasaran.
Aku terdiam sejenak, mencoba menimbang-nimbang. Jujur saja, aku menyukai banyak karakter dengan desain dan sifat yang berbeda-beda, tergantung dari seberapa bagus plot ceritanya.
“Hmm... agak sulit memilih. Tapi kalau disuruh menunjuk satu, aku lebih suka heroine yang tenang dan pendiam, seperti Hinata di manga Naruto. Atau lebih spesifiknya, karakter yang suka menyendiri. Soalnya, itu seperti mencerminkan diriku sendiri, kan?” jawabku. Elma tampak terkejut, namun sedetik kemudian ia malah senyum-senyum sendiri.
“Heee~ mengejutkan juga, ya~” godanya. Aku mengerutkan dahi, bingung dengan reaksinya. Dalam hati aku protes, 'Apanya yang mengejutkan? Aku ini serigala penyendiri, sudah sewajarnya aku menyukai karakter yang sifatnya mirip denganku, kan?' apa yang sebenarnya bikin dia terkejut dari jawabanku?
“Mengejutkan? Kok bisa?” tanyaku heran.
“Iyaa~ soalnya kan, Maya itu orangnya periang banget,” jawab Elma telak. Sontak mataku melotot. Bisa-bisanya otak Elma menyambungkan hal itu ke sana?!
“Wooy!! Tunggu sebentar, kenapa tiba-tiba bawa-bawa dia?!” semburku kesal. Elma malah tertawa terbahak-bahak melihat kepanikanku.
“Habisnya~ emang normal ya, ada cowok sama cewek dekat banget tapi mereka cuma temanan aja? Hayooo~” goda Elma lagi. Aku sampai menggebrak meja saking kesalnya disandingkan sebagai pacar monster itu.
“Kau salah paham!! Tadi kan Maya juga sudah membantahnya mentah-mentah! Apalagi dia membantah dengan kata-kata yang menyakitkan begitu!!” bentakku. Bukannya kasihan, tawa Elma malah makin meledak.
“Ahahaha, iya, iya, maaf~ maaf~” ringis Elma. Aku mendeham canggung lalu menarik napas panjang, menetralkan suasana.
“Kembali ke pembahasan karakter. Selain yang pendiam, aku juga sangat suka karakter yang punya 'gap'. Menurutku, hal itu bikin karakternya terasa jauh lebih hidup dan menarik,” jelasku. Tawa Elma perlahan mereda, digantikan oleh kerutan bingung di dahinya.
“Apa itu 'gap'?” tanyanya.
“Misalnya begini, dia itu cewek pendiam dan agak pemalu. Tapi, saat dia sedang melakukan hobi kesukaannya, sifatnya langsung berubah jadi sangat bersemangat dan sedikit liar. Atau bisa juga, karakter yang dari luar kelihatan kalem, tapi kalau ngomong lidahnya tajam dan penuh sarkasme,” urutku, berusaha mendeskripsikan daya tarik 'gap' pada karakter fiksi. Elma menepuk kedua tangannya pelan, wajahnya berbinar tanda mengerti.
“Ooh~ aku paham! Seperti berandalan liar yang ternyata baik sama kucing, kan?!” serunya semangat. Aku meringis pelan mendengarnya, kiasan itu terasa sangat klise dan kuno.
“Uuh... itu kiasan yang agak ketinggalan zaman, sih. Dari zaman dahulu juga sudah banyak cerita yang mirip begitu. Tapi yah, intinya kamu benar. Nah, kalau trend yang akhir-akhir ini lagi hangat di kalangan para wibu, itu adalah cewek bandel yang ternyata bersikap baik ke cowok wibu. Sejujurnya... itu juga cukup kugemari belakangan ini.” Begitu kalimat itu meluncur dari mulutku, Elma mendadak terdiam kaku. Matanya sedikit membesar, dan rona merah di kedua pipinya merambat dengan sangat jelas.
“Hyaaa~ aah... he... ce-cewek bandel, ya... ja-jadi begitu...” gumam Elma terbata-bata. Tingkahnya mendadak jadi canggung tak karuan.
Ia menunduk sambil memainkan ujung rambut dengan jarinya. Tatapan matanya lari ke sana kemari, seolah berusaha keras menghindari kontak mata denganku. Di dalam kepala, alarm peringatan berbunyi keras. 'Ada apa ini? Apa aku salah bicara?' Namun, pertanyaan itu langsung terjawab telak saat pandanganku menyusuri sosok Elma dengan saksama—dari wajahnya yang memerah hingga seragam sekolah yang ia kenakan.
Astaga. Aku baru sadar. Cewek yang duduk di hadapanku ini adalah gambaran nyata dari 'cewek bandel' sungguhan di sekolah! Sedangkan aku... aku adalah definisi paling nyata dari 'cowok wibu' di sekolah yang sama!
Dulu, aku selalu mengira Elma sebagai cewek bandel yang menakutkan. Tapi seiring aku mengenalnya lebih jauh, ketakutan itu menguap tak bersisa tiap kali kami bertatapan. Kesanku terhadapnya kini jelas jauh lebih baik daripada saat kami pertama bertemu. Perlahan, Elma mulai memberanikan diri menatap mataku lagi. Gawat. Agar dia tidak membayangkan hal yang aneh-aneh dari perkataanku barusan yang besar mengakibatkan kesalahpahaman, aku harus segera meluruskannya sekarang juga!
“B-biar kuperjelas, oke?! A-aku sedang membicarakan karakter di anime, manga, atau novel!” sergahku cepat.
Elma tersentak. Wajahnya menampilkan raut kaget yang teramat lucu. Dia benar-benar salah tingkah! Aku ingin menertawakannya, tapi di saat yang bersamaan aku juga harus menahan rasa malu yang luar biasa. Jika dibiarkan, kesannya aku sedang membicarakan diriku dan Elma... si cowok wibu dan si cewek bandel dalam kehidupan nyata... Itu tidak mungkin banget!!!
“Eeh.. I-IYAAA!! Aku tahu kok kita cuma lagi bahas itu!!! Aku sama sekali nggak salah paham kok waktu kamu bilang kamu suka cewek bandel!!!” jerit Elma panik sambil melambaikan kedua tangannya heboh untuk mempertegas penolakan.
...Dilihat dari mana pun, dia jelas-jelas sempat salah paham tadi, kan?!...
“Aku sebenarnya... nggak bilang suka cewek bandel atau semacamnya, lho...” gumamku lirih, mencoba membela diri. Aku ini sedang membahas karakter fiksi... bukan manusia di dunia nyata...
...Tapi sumpah, rasanya... aku malah jadi ikut malu sendiri melihat Elma salah mengartikan kalimatku...
...Hening. Kami berdua tenggelam dalam kecanggungan...
“A... aku mau ke kamar mandi sebentar,” celetukku, memecahkan keheningan setelah sekian lama membeku.
“Aaah, haha... i-iya. Aku juga... mau isi ulang minumanku dan ambil beberapa camilan di bufet,” timpalnya canggung.
Setelah itu, kami bergantian kabur meninggalkan meja. Aku yakin Elma melakukan itu untuk mendinginkan wajah dan menata hatinya yang sudah telanjur malu akibat kesalahpahaman tadi. Begitu pula denganku... Percakapan yang tadinya mengalir ini mendadak menjadi kaku.
Syukurlah, saat kembali ke meja, kami berhasil mencairkan suasana. Pembicaraan yang seru dan hangat itu kembali terjalin saat kami melanjutkan pembahasan tentang anime, manga, dan novel dengan genre romantis komedi. Memang terasa sangat menyenangkan kalau kita bisa menghabiskan waktu berbicara dengan orang yang memiliki frekuensi yang sama.