"Wajahnya identik dengan Ali, pacar LDR-ku yang lembut. Tapi pria di depanku ini adalah Alistair, Pangeran Agung yang siap memenggal kepalaku jika aku berani kabur lagi!"
Lia terbangun di tubuh Aurellia, istri Pangeran Agung Ivalice yang dikenal kejam dan obsesif. Di novel aslinya, Aurellia tewas mengenaskan setelah mengkhianati Alistair demi Pangeran Yovan yang licik. Demi menghindari maut, Lia harus mengubah alur. Ia pun nekat mendekati Nenek Suri yang disegani dan mendadak jadi istri "penurut" yang membuat Alistair curiga sekaligus salah tingkah. Akankah strategi Lia menjinakkan sang tiran berhasil? Ataukah ia justru terjebak dalam obsesi gelap pria yang wajahnya terus mengingatkannya pada sang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Arena Tarung dan Alarm Bahaya Pelakor
Sambil menjinjing kantong belanjaan berisi baju kembaran mereka, Lia dan Alistair melanjutkan langkah menyusuri pusat kota.
Namun, langkah Lia mendadak terhenti ketika telinganya menangkap suara gemuruh sorak-sorai yang sangat ramai dari arah sebuah bangunan besar di pojok distrik dagang.
"Ada apa itu, Pangeran? Kenapa ramai sekali?" tanya Lia dengan mata berbinar penasaran.
Di sekitar mereka, beberapa warga mulai berbisik-bisik takjub.
"Lihat, bukankah itu Pangeran Agung? Beliau sudah bisa berjalan lagi!"
"Keajaiban sekali, aura militernya masih sama mengerikannya!"
Namun, semua bisikan itu sama sekali tidak Lia pedulikan. Rasa kepo-nya sebagai mantan netizen sudah mencapai ubun-ubun.
Secara refleks, Lia meraih lengan kokoh Alistair, menggenggamnya erat lalu menarik sang Pangeran Agung untuk ikut berjalan cepat ke arah kerumunan tersebut.
"Pelan-pelan, Aurellia. Kamu belum benar-benar pulih!"
Alistair memperingatkan dengan nada rendah, namun ia tetap melangkah pasrah mengikuti tarikan tangan istrinya.
Begitu sampai di pintu masuk bangunan yang ternyata adalah Arena Tarung Kerajaan, mereka dihadang oleh seorang petugas.
Untuk bisa masuk, setiap penonton diwajibkan membayar beberapa keping koin sebagai tanda izin masuk. Namun, begitu petugas itu mendongak dan mendapati sosok Alistair yang berdiri tegak dengan jubah hitamnya, wajah si petugas langsung pucat pasi.
BRUKK!
Petugas itu langsung menjatuhkan lututnya ke tanah, gemetaran.
"Ma-maafkan kelancangan saya, Pangeran Agung! Saya benar-benar buta hingga tidak mengenali Anda dan berani meminta bayaran masuk!" ucap petugas itu dengan suara bergetar ketakutan.
Lia menatapnya heran, lalu melirik suaminya.
Padahal pawang es gue kagak ngomong sepatah kata pun, mukanya juga lempeng-lempeng aja, tapi nih orang udah kayak mau pingsan. Memang aura dingin dan wibawa Pangeran Agung kalau di luar spek-nya nggak main-main!
"Sudah, tidak apa-apa. Berdirilah. Lagipula kamu bersikap seperti itu tadi kan karena hanya menaati peraturan pekerjaanmu saja," ucap Lia mengambil alih pembicaraan sambil memberikan senyum ramahnya.
Petugas itu mengangguk patuh dengan rasa lega yang luar biasa. Ia segera memerintahkan rekannya untuk mengantar Pangeran Agung dan sang permaisuri masuk melalui jalur khusus.
Mereka berdua diantar menuju lantai dua, sebuah area VIP yang mewah dengan kursi empuk yang sangat nyaman, berhadapan langsung dengan pemandangan seluruh arena di bawah.
Lia menyandarkan tubuhnya di kursi sambil bersedekap dada.
Beuh... memang ya, kalau punya privilege jalur orang dalam itu beda banget kasta-nya. Datang-datang langsung disambut hangat, duduk nyaman, kagak mesti berdiri desak-desakan di bawah sampai bau ketek. Hidup Aurellia emang se-enak ini kalau nggak cari gara-gara! batin Lia kegirangan.
Tidak lama kemudian, gong besar berbunyi, menandakan pertarungan akan segera dimulai.
Pembawa acara mengumumkan bahwa sesi kali ini adalah babak eliminasi massal, di mana ada seratus keping koin tembaga yang diperebutkan di tengah arena untuk tiap sesi. Para penonton di sekitar juga bisa memasang taruhan untuk mendapatkan uang tambahan.
Saat melihat para petarung mulai memasuki area pasir di bawah, otak Lia mendadak berdenyut. Sebuah ingatan tentang alur asli novel ini mendadak terkunci di kepalanya.
Tunggu... tunggu dulu... Mata Lia membelalak horor.
Arena tarung ini... babak eliminasi ini... Oh no! Gue ingat bab ini!
Di arena inilah, dalam plot asli novel, Alistair akan pertama kali bertemu dengan seorang pendekar wanita berbakat dari kalangan rakyat jelata. Pendekar wanita itulah yang nantinya berhasil memikat hati Alistair dengan ketangguhan dan kesucian hatinya.
Dan melalui pertemuan sialan itulah awal petaka Aurellia dimulai, di mana Aurellia yang jahat dan kejam akhirnya disingkirkan dan dicampakkan oleh sang pendekar sakti demi keadilan.
Lia patah leher seketika, menoleh dengan kaku ke arah Alistair yang duduk di sampingnya. Alistair yang merasa diperhatikan, balas menatap Lia dengan dahi berkerut heran.
Aduh, habis gue! Kayaknya gue salah tempat deh ngajak nih pangeran jalan-jalan! Kenapa gue malah nganterin suami gue ke pelukan masa depannya?! jerit Lia dalam hati, mulai panik seada-adanya.
Gusti... istri Pangeran yang imut ini masih mau menikmati harta dan emas-emas istana mas! Kagak mau gue dicampakkan ke desa terpencil gara-gara pelakor sakti!
"Ada apa?" tanya Alistair datar melihat ekspresi Lia yang mendadak berubah seperti orang sembelit.
"Ha? Ah... n-nggak apa-apa, Pangeran! Hehe, itu pertarungannya udah mulai, seru banget ya!" jawab Lia cepat dengan tawa garing yang dipaksakan. Ia segera membuang muka kembali ke arah arena.
Namun, fokus Lia kini sudah tidak ada pada jalannya pertandingan. Matanya bergerak liar, menelusuri satu per satu petarung di bawah dengan tingkat kewaspadaan level maksimal. Ia mencari di mana keberadaan sosok pendekar wanita cantik yang ada di deskripsi novel itu.
Mana si pendekar cantik itu? Pokoknya kalau sampai ketemu sebelum Alistair lihat, gue harus cari cara buat sabotase duluan! Entah gue taburin bubuk gatal ke bajunya atau gue culik sekalian! Pokoknya demi mengamankan status istri kaya di masa depan, gue kagak boleh kehilangan suami ganteng nan tajir melintir ini sekarang! tekad Lia dalam hati, menatap arena dengan pandangan berapi-api layaknya manajer tim perang.
Sementara itu, Alistair yang duduk di sampingnya hanya bisa memperhatikan profil samping wajah Lia dengan tatapan bingung.
Tadi dia ketakutan, sekarang kenapa matanya tajam begitu seperti mau menerkam mangsa di bawah? Wanita ini... benar-benar sulit ditebak.