Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara di balik salju
Perjalanan menuju Berlin ditempuh menggunakan kereta api kompartemen pribadi yang disewa Nikolai melalui jalur logistik gelap. Di luar jendela, pemandangan hutan pinus Finlandia yang tertutup salju melesat cepat, menjadi latar belakang putih yang monoton. Di dalam gerbong kecil itu, suhu udara terasa jauh lebih panas, bukan karena pemanas ruangan, melainkan karena ketegangan yang kian menebal di antara dua manusia di dalamnya.
Nikolai Brine tidak bisa tenang. Meski mereka sudah melewati perbatasan dengan selamat setelah baku tembak singkat di atas danau beku, instingnya tetap waspada. Ia duduk di kursi beludru sempit, namun matanya tidak sedetik pun lepas dari Clara Marine yang sedang mencoba tidur di sofa kecil di depannya.
Setiap kali kereta berguncang, tangan Nikolai secara refleks bergerak menuju senjata di pinggangnya, sebelum akhirnya ia menyadari bahwa satu-satunya ancaman di ruangan itu adalah perasaannya sendiri yang mulai tidak terkendali.
Kelemahan Sang Predator
Tengah malam, Clara terbangun karena mimpi buruk tentang ledakan kapal. Ia tersentak, napasnya memburu, dan keringat dingin membasahi dahinya. Dalam sekejap, Nikolai sudah berada di sampingnya. Pria itu berlutut di lantai gerbong yang sempit, memegang kedua tangan Clara dengan kekuatan yang menenangkan.
"Kau aman. Aku di sini," bisik Nikolai. Suaranya tidak lagi memiliki nada perintah yang tajam; suaranya rendah, hampir seperti sebuah pengakuan.
Clara menatap mata biru Nikolai. Di bawah temaram lampu temaram gerbong, Nikolai tampak sangat rapuh. Luka-luka di wajahnya mulai mengering, namun keletihan yang mendalam terlihat jelas di balik matanya. Untuk pertama kalinya, Clara melihat Nikolai bukan sebagai mafia yang kejam, melainkan sebagai pria yang memikul beban dunia demi menjaganya.
"Kau tidak tidur sama sekali sejak kita berangkat dari Moskow," ucap Clara pelan. Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh rahang Nikolai yang kasar karena belum bercukur.
Sentuhan itu membuat Nikolai membeku. Ia adalah pria yang terbiasa dengan kekerasan, pengkhianatan, dan sentuhan yang bersifat transaksional. Namun, kelembutan tangan Clara terasa seperti sengatan listrik yang meruntuhkan tembok pertahanannya.
Momen yang Mengunci Takdir
Nikolai memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Clara di wajahnya. Ia menarik tangan wanita itu dan mencium telapak tangannya dengan lembut—sebuah tindakan yang jauh lebih intim daripada sekadar ciuman biasa.
"Aku tidak bisa tidur, Clara," gumam Nikolai, suaranya parau. "Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat kapal itu meledak lagi. Aku melihatmu hilang di kegelapan air. Pikiran bahwa aku bisa kehilanganmu... itu lebih menakutkan daripada seluruh tentara Silas yang mengejarku."
Nikolai bangkit dan duduk di samping Clara, menarik tubuh wanita itu masuk ke dalam dekapannya. Kali ini, ia tidak melakukannya dengan kasar atau posesif. Ia memeluk Clara seolah wanita itu adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya tidak hanyut dalam kegelapan hidupnya.
"Aku menjatuhkan segalanya demi kau," lanjut Nikolai. "Kapalku, bisnisku di Dubai, reputasiku di Rusia. Dan anehnya, aku tidak menyesalinya sedikit pun. Aku lebih suka hidup sebagai buronan bersamamu daripada menjadi raja tanpa dirimu."
Clara mendongak, menatap mata Nikolai yang kini basah oleh emosi yang tertahan. "Nikolai..."
"Jangan katakan apa pun," potong Nikolai. Ia menangkup wajah Clara dengan kedua tangannya yang besar. "Aku sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada hati wanita Belanda yang keras kepala ini. Dan aku bersumpah, mulai detik ini, tidak akan ada maut, tidak akan ada saudara, dan tidak akan ada Tuhan yang bisa mengambilmu dariku."
Nikolai mencium Clara. Bukan ciuman yang menuntut seperti sebelumnya, melainkan ciuman yang penuh dengan janji kesetiaan yang gelap dan mendalam. Dalam momen intim di dalam kereta yang terus melaju itu, Nikolai benar-benar menyerahkan hatinya. Ia bukan lagi hanya seorang pemilik yang menjaga miliknya; ia adalah seorang pria yang telah menjadi budak dari cintanya sendiri.
Obsesi yang Menjadi Nyata
Setelah momen itu, Nikolai menjadi jauh lebih protektif, namun dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi memperlakukan Clara seperti sandera berharga, melainkan seperti sesuatu yang sakral.
Saat kereta berhenti di stasiun pinggiran Berlin untuk berganti kendaraan, Nikolai tidak membiarkan kaki Clara menyentuh salju yang kotor. Ia menggendongnya menuju mobil yang menunggu, mengabaikan tatapan heran dari anak buahnya yang belum pernah melihat bos mereka bersikap sedemikian "lemah".
Namun bagi Nikolai, ini bukan kelemahan. Ini adalah kekuatan baru. Ia tahu bahwa tujuannya ke Amsterdam bukan lagi hanya untuk balas dendam atau harta. Ia akan menghancurkan Silas Marine karena Silas telah berani menyakiti wanita yang kini menjadi napas bagi Nikolai.
"Kita akan sampai di Amsterdam dalam dua hari," bisik Nikolai saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju perbatasan Jerman-Belanda. Ia menggenggam tangan Clara erat-erat, seolah takut jika ia melepaskannya, wanita itu akan menguap seperti embun. "Bersiaplah, Clara. Kita akan mengambil kembali semua yang seharusnya milikmu, dan aku akan memastikan Silas berlutut di depanmu sebelum aku mengakhiri hidupnya."
Clara menyandarkan kepalanya di bahu Nikolai. Ia tahu, perjalanan ini akan berakhir dengan pertumpahan darah. Namun di samping Nikolai, di tengah obsesi pria itu yang kini telah berubah menjadi cinta yang buta, Clara merasa ia telah menemukan rumah yang selama ini ia cari—rumah yang dibangun dari api dan kesetiaan mutlak.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...