Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Detak Gengsi dan Sudut Kamar yang Panas
Tuan Adrian Mahendra baru saja melangkah keluar dengan ketukan tongkat peraknya yang berat, disusul Bianca yang mukanya merah padam menahan malu karena gertakan Vaxerion. Tapi begitu pintu jati ganda itu menutup dengan desis halus, hawa di dalam ruangan lantai empat puluh lima ini tidak mendadak adem. Sebaliknya, atmosfernya malah makin tegang karena Keyra Atmadewa masih tertinggal, berdiri santai di dekat sofa sambil memainkan gantungan kunci mobilnya.
Gadis berambut pendek itu melangkah mendekati Vaxerion dengan gaya santai yang kelewat akrab. Tanpa permisi, Keyra menepuk-nepuk dada bidang Vaxerion yang dibungkus kemeja formal hitam.
"Gila ya, Bang. Lu kalau lagi ngamuk demi cewek ternyata serem juga. Kakek sampai nggak berkutik tadi," cerocos Keyra sambil tertawa renyah, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Dia lalu menoleh ke arah Kirei dengan kedipan mata jahil. "Nona Kirei, jangan heran ya sama si Abang ini. Dari dulu dia emang hobi pasang badan kalau ada orang yang dia sayang diusik."
Kirei yang masih berdiri di belakang meja marmer Carrara langsung merasakan dadanya berdenyut tidak keruan. Panggilan "Bang" yang meluncur santai dan gerakan tangan Keyra di dada tegap Vaxerion seketika menyulut rasa panas yang naik dari ulu hatinya langsung menuju tenggorokan.
Itu rasa cemburu yang sangat nyata, manusiawi, egois, dan meletup hebat di balik kemeja sutra champagne miliknya. Kirei langsung menarik tangan kanan yang sejak tadi digenggam erat oleh Vaxerion, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan gerakan yang sangat ketus.
Topeng Ratu Es Jakarta kembali dia pasang sekeras karang, walau di dalam hatinya dia sedang mengumpat habis-habisan karena merasa harga dirinya terusik oleh kehadiran gadis baru ini.
"Tuan Mahendra," suara Kirei mengalun sangat datar, dingin, dan kaku—sejenis nada suara tanpa emosi yang biasa dia pakai saat ingin mendepak vendor bermasalah. "Urusan keluarga Anda sepertinya sudah selesai di ruangan ini. Dan untuk Anda, Nona Atmadewa... terima kasih atas pujiannya tadi, tapi jam kerja saya terlalu mahal untuk sekadar mendengarkan obrolan santai."
Vaxerion yang menyadari perubahan intonasi suara Kirei dan bagaimana wanita itu mendadak menarik tangannya, tidak langsung panik. Pria itu justru menatap Kirei dengan pandangan yang jernih dan tajam—sejenis tatapan dalam, lembut yang langsung bisa membaca bahwa wanita di depannya ini sedang cemburu buta namun terhalang gengsi tingkat dewa.
Sudut bibir tegas Vaxerion terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang membuat wajah tampannya kelihatan jauh lebih memikat. Dia menoleh ke arah Keyra dengan kilat mata yang tegas.
"Keyra, keluar sekarang. Temani Kakek ke mobil bawah," perintah Vaxerion, suaranya berat dan tidak menerima bantahan.
Keyra yang peka melihat situasi langsung menahan tawa gilanya agar tidak pecah di dalam ruangan. Dia mengangkat kedua tangannya dengan pasrah. "Oke, oke, gua keluar. Aduh... ada yang hawanya mendadak berubah jadi musim kutub nih. Dah, Nona Kirei cantik, jangan galak-galak ya sama Abang gua!" seloroh Keyra sebelum melangkah cepat keluar ruangan, menutup pintu jati ganda dengan rapat.
Begitu pintu tertutup, Kirei langsung berbalik membelakangi Vaxerion, berjalan cepat menuju dinding kaca besar untuk menatap jalanan Sudirman di bawah sana. Dia meremas jemarinya sendiri, mencoba meredakan rasa sesak di dadanya. Dia kesal karena merasa tidak berdaya menghadapi pesona pria di belakangnya, dan dia lebih kesal lagi karena dia harus merasakan emosi kekanak-kanakan seperti cemburu.
Sret.
Suara langkah kaki Vaxerion yang tenang mendekat terdengar di atas lantai marmer. Tanpa suara, tubuh tegap raksasa pria itu sudah berdiri tepat di belakang Kirei. Vaxerion tidak menyentuh Kirei secara agresif. Dia justru mengulurkan kedua tangan hangatnya dari belakang, perlahan menyelusupkan jemarinya untuk melonggarkan lipatan tangan Kirei yang menegang di dada.
Aroma parfum kayu cendana dan wangi maskulin yang akrab dari tubuh Vaxerion langsung membungkus seluruh kesadaran Kirei.
"Keyra itu sepupu angkatku, Kirei. Ibunya adalah adik dari ibuku," suara berat Vaxerion mengalun lembut, sangat dekat di belakang telinga Kirei, mengirimkan getaran romantis yang bikin seluruh tubuh Kirei meremang. Vaxerion mencondongkan tubuh bidangnya sedikit, hingga Kirei bisa merasakan kehangatan dada pria itu menempel di punggungnya. "Dia sudah kayak adik perempuanku sendiri sejak kami kecil di London. Jadi, berhenti memasang duri tajam itu padaku."
Kirei menahan napasnya, jantungnya sudah berdegup gila di dalam dadanya. Tapi gengsinya tetap menolak untuk kalah begitu saja. "Aku nggak peduli dia siapa, Vaxerion. Aku cuma nggak suka ada orang asing yang bertingkah tidak sopan dan terlalu akrab di ruang kerjaku."
Vaxerion terkekeh rendah, suara tawa yang begitu serak, seksi, dan menenangkan di telinga Kirei. Dia memutar tubuh Kirei dengan sangat lembut agar wanita itu menghadapnya langsung. Di bawah terik matahari pagi yang menembus kaca, Vaxerion menatap lurus ke dalam manik mata jernih Kirei dengan ketulusan dan kelembutan.
"Kirei, tatap aku," bisik Vaxerion romantis. Jemari besarnya yang kokoh bergerak naik, dengan sangat telaten menyelipkan seuntai rambut Kirei yang berantakan ke belakang telinga. Sentuhan kulit yang membuat Kirei tidak bisa berkutik. "Seluruh fokus hidupku, mataku, dan hatiku... semuanya sudah terkunci padamu sejak lima tahun lalu di halte stasiun itu. Nggak akan ada wanita lain yang bisa merubah tatanan itu, termasuk Keyra atau Bianca. Kamu paham?"
Mendengar rayuan romantis yang dibungkus dengan ketegasan seorang pria matang di depannya, seluruh pertahanan es di hati Kirei benar-benar runtuh seutuhnya. Rasa haru menyergap tenggorokannya, membuat matanya berkaca-kaca kembali. Gengsinya hilang, digantikan oleh rasa hangat yang luar biasa aman karena menyadari bahwa dia adalah satu-satunya wanita di dalam dunia Vaxerion.
Kirei akhirnya menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang merona merah di dada bidang kemeja Vaxerion, membiarkan tangan besar pria itu memeluk pinggangnya dengan sangat protektif di lantai empat puluh lima.