Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kantor polisi
Mobil terus melaju, tapi suasana di dalamnya terasa berat.
Raisa menatap keluar jendela, suaranya pelan.
"Kalau memang seberat itu… berarti selama ini aku benar-benar nggak pernah tahu siapa suamiku sendiri."
Evan menelan ludah, lalu menjawab hati-hati.
"Bukan kamu yang salah, Sa…"
Raisa langsung memotong.
"Aku tahu kamu selalu bilang itu. Tapi tetap aja… aku yang jalanin semuanya."
Evan meliriknya sekilas.
"Apa pun yang terjadi dulu… sekarang kamu sudah keluar dari itu."
Raisa tersenyum tipis, tapi matanya kosong.
"Keluar… atau pindah ke masalah yang lain?"
Evan menghela napas.
"Masalah ini nggak akan selama itu, Sa. Mas janji bakal beresin."
Raisa menoleh, menatapnya dalam.
"Mulai dari mana? Dari kebohongan kita soal hamil?" tanyanya pelan.
Evan terdiam.
Raisa melanjutkan,
"Aku ngerti kamu mau lindungi aku. Tapi cara kita sekarang… makin lama makin dalam."
Evan mengangguk pelan.
"Iya… mas juga tahu."
Raisa meremas tangannya sendiri.
"Aku takut, mas. Kalau semua ini kebuka… aku yang paling disalahin."
Evan langsung menggenggam tangannya.
"Nggak akan. Mas yang tanggung jawab."
Raisa menatap genggaman itu.
"Semua orang selalu bilang tanggung jawab… tapi ujungnya tetap perempuan yang disalahin."
Ucapan itu membuat Evan terdiam.
Beberapa detik berlalu, lalu ia berkata pelan,
"Kalau kamu mau… kita bisa berhenti sampai sini."
Raisa terkejut.
"Maksudnya?"
Evan menatap ke depan.
"Kita nggak usah lanjut. Nggak usah nikah. Kamu bisa mulai hidup baru tanpa semua ini."
Raisa langsung menoleh, kaget.
"Kamu yakin?" tanyanya pelan.
Evan mengangguk.
"Aku yakin. Memaksa kamu buat tetap sama aku… nggak akan bikin kamu bahagia."
Raisa terdiam, mencoba mencerna ucapannya.
Evan melanjutkan, kali ini lebih serius.
"Dan… mas juga akan jelasin semuanya ke kamu."
Raisa menatapnya lagi.
"Tentang… Mas Aditya?" suaranya hampir berbisik.
Evan mengangguk pelan.
"Iya. Kenapa dia selama ini nggak pernah menyentuh kamu… kamu berhak tahu."
Raisa menggigit bibirnya, perasaannya campur aduk.
"Kenapa sekarang kamu baru mau ngomong?" tanyanya lirih.
Evan menghela napas panjang, suaranya terdengar lebih berat.
"Mas nggak mau kamu ngerasa dibohongi lagi, Sa…"
Raisa menatap ke luar jendela, lalu mulai sadar arah mobil berubah.
"Mas… ini bukan jalan ke rumahku," ucapnya bingung.
Evan tetap fokus ke depan.
"Iya… memang bukan."
Raisa langsung menoleh.
"Kita mau ke mana?"
Evan menarik napas, lalu menjawab pelan.
"Mas mau nunjukin sesuatu ke kamu."
Raisa mengernyit.
"Nunjukin apa?"
Evan melirik sekilas, ekspresinya serius.
"Sesuatu yang harus kamu lihat sendiri… biar kamu benar-benar paham semuanya."
Raisa terdiam.
Perasaannya mulai tidak enak—
seolah apa pun yang akan ia lihat nanti.
Mobil terus melaju, meninggalkan keramaian kota. Jalanan mulai sepi.
Raisa menggenggam ujung bajunya.
"Mas… ini ke mana sebenarnya?" suaranya mulai tidak tenang.
Evan tidak langsung menjawab.
"Sebentar lagi sampai."
Raisa menatap ke depan, lalu ke samping.
"Mas, aku jadi nggak enak…"
Evan akhirnya meliriknya.
"Kamu percaya sama mas?"
Raisa terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
"Percaya…"
Evan menghela napas.
"Kalau gitu… tahan dulu. Setelah ini, kamu bakal ngerti kenapa mas selama ini diam."
Tak lama kemudian mobil berhenti di depan sebuah tempat yang terlihat asing bagi Raisa.
Ia mengernyit.
"Ini… tempat apa?"
Evan mematikan mesin, lalu menoleh.
"Tempat terakhir Aditya sering datang."
Raisa langsung menegang.
"Mas Aditya…?" suaranya melemah.
Evan mengangguk.
"Iya. Dan di sini… kamu bakal tahu semuanya."
Evan mengangguk pelan.
"Iya. Dan di sini… kamu bakal tahu semuanya."
Raisa menelan ludah, tangannya mulai dingin.
"Mas… aku takut…"
Evan menatapnya serius, lalu mengulurkan tangan.
"Ponselnya Aditya mana?"
Raisa segera mengambil dari tasnya.
"Ini, mas…"
Evan menerimanya, lalu membuka pintu mobil.
"Ayo, turun."
Mereka turun dari mobil. Raisa menatap bangunan di depan mereka, wajahnya langsung berubah tegang.
"Mas… ini… sel tahanan narapidana?" tanyanya pelan.
Evan mengangguk singkat.
"Iya. Ayo."
Raisa ragu sejenak, tapi akhirnya mengikuti langkah Evan masuk ke dalam.
Di dalam, mereka mendekati petugas.
"Permisi, Pak… kami mau bertemu dengan Marcelino," ucap Evan.
Petugas itu menatap mereka.
"Maaf, Bapak siapa?" tanyanya formal.
Evan menjawab tegas.
"Saya kakak dari korban. Dan ini… istri korban yang ditusuk oleh Marcelino."
Raisa langsung menoleh cepat, wajahnya pucat.
"Korban maksudnya apa, mas?" suaranya bergetar. "Dia… yang menusuk Mas Aditya?"
Petugas mengangguk singkat.
"Baik, silakan tunggu di ruang tunggu dulu."
Evan mengangguk.
"Terima kasih."
Mereka berjalan menuju ruang tunggu. Begitu sampai, Raisa langsung berhenti dan menatap Evan penuh emosi.
"Mas, jawab aku!" suaranya mulai meninggi. "Jadi benar dia yang membunuh Mas Aditya?"
Evan terdiam sejenak.
Raisa mendekat, matanya berkaca-kaca.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang ke aku selama ini?" tanyanya kecewa.
Evan menghela napas panjang.
"Mas sengaja nggak bilang… karena kamu belum siap."
Raisa menggeleng cepat.
"Nggak siap bagaimana? Aku istrinya, mas! Aku berhak tahu!"
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya