Lunara Angelita selalu percaya bahwa pernikahannya dengan Halden Nathaniel—pelukis jenius yang menjadi kebanggaan kota kecil mereka—adalah rumah paling aman yang pernah dimilikinya. Lima tahun bersama, lima tahun bahagia… atau setidaknya begitu yang ia yakini.
Hingga pada malam hujan yang sunyi, saat listrik padam, Luna tanpa sengaja menemukan sebuah kanvas tersembunyi di gudang. Dan di balik kain putihnya terpampang wajah perempuan yang seharusnya telah lama hilang dari hidup mereka—Karina, mantan kekasih Halden. Dilukis dengan detail yang hanya diberikan oleh seorang pria pada seseorang yang masih memenuhi hatinya.
Lukisan itu baru. Sangat baru.
Saat Luna menuntut kebenaran, Halden tidak berbohong—tetapi jawabannya jauh lebih menyakitkan dari pengkhianatan.
Melukis, katanya, bukan tentang siapa yang menemani hari-harinya.
Melainkan tentang siapa yang tak pernah benar-benar pergi dari hatinya.
Seketika dunia Luna runtuh.
Apakah selama ini ia hanya menjadi istri di ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mga_haothe8, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Hari-Hari yang Melambat"
Keputusan itu akhirnya diambil dengan berat hati.
Bukan rawat inap penuh, bukan juga kembali pada rutinitas lama—melainkan **rawat jalan dengan perawatan intensif di rumah**. Dokter menyetujui dengan catatan ketat: kontrol rutin, obat teratur, istirahat total, dan satu hal yang ditekankan berulang kali—
Nathan **tidak boleh bekerja**.
Hari pertama Nathan resmi mengambil cuti terasa aneh.
Pagi itu, tidak ada suara kancing kemeja yang ditutup tergesa-gesa. Tidak ada aroma kopi yang diseduh sambil setengah sadar. Tidak ada langkah cepat menuju pintu.
Nathan duduk di sofa ruang tengah, mengenakan kaus rumah yang longgar. Tubuhnya terlihat lebih kecil dari biasanya—lebih rapuh. Luna memperhatikannya dari dapur, perutnya besar, satu tangan bertumpu di meja saat ia memotong buah.
“Obat jam delapan,” katanya lembut.
Nathan mengangguk. Ia menelan pil-pil itu dengan air hangat, wajahnya sedikit meringis.
“Kamu mual?” tanya Luna.
“Sedikit.”
Luna segera mendekat, menyodorkan handuk kecil dan memijat punggung Nathan pelan. Gerakannya hati-hati, seolah takut salah tekanan.
Nathan memejamkan mata.
Dan di situlah rasa itu datang—perasaan yang membuat dadanya lebih sesak daripada penyakit itu sendiri.
Ia membuka mata dan melihat Luna dari dekat: wajahnya pucat, keringat tipis di pelipis, perutnya yang membulat besar. Ia bergerak lebih lambat sekarang, napasnya kadang tertahan sebentar sebelum melanjutkan langkah.
*Dia seharusnya dijaga,* pikir Nathan. *Bukan menjaga.*
“Aku bisa sendiri,” katanya pelan.
Luna tersenyum kecil. “Aku tahu. Tapi aku memilih di sini.”
Hari-hari setelah itu berjalan dengan ritme yang berbeda—lebih lambat, lebih sunyi.
Nathan banyak tidur. Kadang terlalu lama, kadang terbangun hanya untuk duduk terdiam menatap jendela. Obat-obatan membantunya menahan gejala, tapi tidak mengembalikan tenaga. Nafsu makannya naik turun. Ada hari-hari ketika ia hanya sanggup menghabiskan beberapa sendok sup.
Luna selalu ada.
Ia menyiapkan makanan kecil tapi sering. Ia mengingatkan jadwal obat. Ia mencatat keluhan Nathan di buku kecil—pusing, nyeri, mual—semua ditulis rapi untuk kontrol berikutnya.
Nathan melihat semua itu dengan campuran syukur dan rasa bersalah.
Suatu sore, ketika Luna berusaha mengambil selimut tambahan dari lemari atas, Nathan berdiri refleks.
“Luna, jangan—”
Terlambat.
Luna mengerang kecil saat berdiri terlalu cepat. Tangannya spontan menahan pinggang.
Nathan berlari—atau setidaknya berusaha berlari—dan menangkapnya.
“Kenapa kamu tidak panggil aku?” suaranya tinggi, panik.
Luna tersenyum menenangkan. “Aku cuma berdiri terlalu cepat.”
Nathan menurunkannya pelan ke sofa. Dadanya naik turun, bukan karena kelelahan fisik semata.
“Aku seharusnya yang melakukan itu,” katanya lirih.
Luna duduk, mengusap perutnya. “Sekarang aku yang bisa.”
Nathan memalingkan wajahnya. Rahangnya mengeras.
Malam-malam adalah bagian tersulit.
Ketika rumah sunyi, Amara sudah tidur, dan lampu hanya menyisakan cahaya temaram—pikiran Nathan menjadi terlalu keras.
Ada malam ketika obat membuatnya mual dan ia harus berlutut di kamar mandi. Luna selalu menyusul, membawa air dan handuk, meski langkahnya berat.
Suatu malam, Nathan muntah lebih lama dari biasanya. Saat akhirnya bersandar di dinding kamar mandi, napasnya tersengal, Luna berlutut di sampingnya—mengabaikan perut besarnya.
“Nathan, lihat aku,” katanya pelan.
Nathan mengangkat wajahnya.
Dan di situlah ia pecah.
“Aku benci ini,” katanya serak. “Aku benci tubuhku sendiri.”
Air mata jatuh, tak tertahan.
“Aku seharusnya kerja. Aku seharusnya jaga kalian. Bukan begini.”
Luna mengusap rambutnya. “Kamu masih menjaga kami. Dengan bertahan.”
Nathan menggeleng keras. “Tidak. Lihat kamu. Kamu hamil besar. Kamu capek. Tapi kamu masih merawat aku.”
Tangisnya semakin berat. “Aku nggak tega.”
Luna menarik napas dalam, menahan emosinya sendiri.
“Dengar aku,” katanya tegas namun lembut. “Aku melakukan ini bukan karena kamu lemah. Aku melakukan ini karena aku cinta.”
Nathan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar.
“Aku kesal sama diriku sendiri,” katanya terputus-putus. “Kenapa harus aku? Kenapa sekarang? Kenapa saat kamu hamil?”
Luna menempelkan dahinya ke bahu Nathan. “Aku juga pernah bertanya begitu,” bisiknya. “Tapi jawabannya tidak akan mengubah apa pun.”
Ia menarik wajah Nathan agar menatapnya. “Yang bisa kita pilih cuma satu hal: bagaimana kita melewati ini.”
Hari demi hari, Nathan belajar sesuatu yang selama ini ia hindari—**diam dan menerima**.
Menerima bahwa ia tidak selalu bisa bangun sendiri.
Menerima bahwa ia perlu dibantu ke kamar mandi.
Menerima bahwa Luna akan memotongkan buah dan menyuapinya di hari-hari terburuk.
Dan setiap penerimaan itu terasa seperti kegagalan kecil baginya.
Suatu siang, saat Luna tertidur di sofa karena kelelahan, Nathan terbangun lebih dulu. Ia melihat Luna tidur dengan posisi setengah miring, tangan di perutnya, wajahnya damai tapi lelah.
Nathan bangkit perlahan, duduk di lantai di depan sofa.
Ia menangis tanpa suara.
“Aku minta maaf,” bisiknya. “Seharusnya aku yang jaga kamu.”
Tangannya gemetar saat menyentuh perut Luna dengan sangat hati-hati.
“Maaf Papa belum kuat,” lanjutnya lirih. “Tapi Papa akan berusaha.”
Luna terbangun oleh isakan itu.
“Nathan?” katanya terkejut.
Nathan cepat-cepat mengusap wajahnya. “Maaf. Aku nggak mau bangunin kamu.”
Luna duduk perlahan, lalu menarik kepala Nathan ke dadanya—sebisa yang ia lakukan.
“Kamu boleh menangis,” katanya. “Aku malah khawatir kalau kamu tidak.”
Nathan terisak, akhirnya membiarkan semua itu keluar.
“Aku takut kamu capek,” katanya. “Aku takut kamu jatuh sakit karena aku.”
Luna mengusap punggungnya pelan. “Aku akan bilang kalau aku lelah. Aku janji.”
Ia tersenyum kecil. “Dan kamu harus janji satu hal juga.”
“Apa?”
“Berhenti menyalahkan diri sendiri,” kata Luna. “Penyakit ini bukan pilihanmu.”
Nathan mengangguk pelan, meski air mata masih mengalir.
Sore itu, mereka duduk berdampingan di sofa. Luna menyandarkan punggungnya, Nathan bersandar pelan di bahunya.
“Lucu ya,” kata Nathan lirih. “Dulu aku pikir kuat itu kerja terus, nggak ngeluh.”
Luna tersenyum. “Sekarang kamu belajar versi kuat yang lain.”
“Versi yang lebih sulit,” gumam Nathan.
“Tapi lebih jujur,” jawab Luna.
Di rumah itu, hari-hari memang melambat. Tidak ada lagi target kantor, tidak ada rapat, tidak ada jam pulang.
Yang ada hanya napas yang dijaga.
Obat yang diminum tepat waktu.
Dan cinta yang diuji dengan cara paling sunyi.
Nathan belum sembuh.
Luna masih hamil besar.
Dan masa depan masih penuh tanda tanya.
Namun setiap pagi ketika Nathan membuka mata dan melihat Luna masih ada di sana—lelah tapi bertahan—ia tahu satu hal dengan pasti:
Ia boleh membenci keadaannya.
Ia boleh marah pada tubuhnya sendiri.
Ia boleh menangis karena merasa tak berguna.
Tapi ia **tidak boleh menyerah**.
Karena di rumah kecil itu, ada seseorang yang memilihnya setiap hari—bahkan ketika ia sendiri hampir tidak bisa memilih dirinya sendiri.
sekarang Nathan juga pergi menghadap Tuhan....kasian Luna
dan akhirnya pria baik, penuh cinta dan kasih sayang itu telah pergi untuk selama lamanya
Nathan, pria yg selalu memberi kekuatan utknya. kini tlh meninggalkannya selama-lamanya