Leora Alinje, istri sah dari seorang CEO tampan dan konglomerat terkenal. Pernikahan yang lahir bukan dari cinta, melainkan dari perjanjian orang tua. Di awal, Leora dianggap tidak penting dan tidak diinginkan. Namun dengan ketenangannya, kecerdasannya, dan martabat yang ia jaga, Leora perlahan membuktikan bahwa ia memang pantas berdiri di samping pria itu, bukan karena perjanjian keluarga, tetapi karena dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Siang itu, area sekitar Menara Eiffel mulai ramai. Deretan toko kecil penjual pernak-pernik khas Prancis berjejer rapi gelang handmade, kalung perak, tas kulit, syal sutra, sampai barang edisi terbatas yang jelas bukan kelas souvenir turis biasa.
Leora berhenti di satu etalase.
“Lucu ya gelang ini,” katanya sambil mengambil satu.
“Tapi mahal.”
Leonard melirik label harga sekilas.
“Masuk.”
“Hah?”
Leora menoleh. “Leonard, ini cuma buat aku.”
Leonard sudah mengambil satu gelang lagi.
“Ambil dua.”
“Ngapain dua?”
“Satu buat kamu,” jawab Leonard santai,
“satu buat kamu juga kalau yang pertama hilang.”
Leora mendengus.
“Kamu tuh nggak pernah mikir harga.”
Leonard mengangkat bahu.
“Aku mikirnya kamu suka atau nggak.”
Leora pindah ke rak lain. Ia memegang kalung kecil dengan liontin sederhana.
“Ini bagus,” gumamnya.
“Tapi… ah, nanti aja.”
Belum selesai kalimatnya, Leonard sudah memberi isyarat ke penjaga toko.
“Yang itu. Bungkus.”
Leora langsung menoleh tajam.
“Leonard!”
“Apa?”
“Aku belum bilang mau beli.”
“Kamu pegangnya lama,” jawab Leonard datar.
“Berarti mau.”
Leora tertawa setengah gemas.
“Logika CEO tuh aneh.”
Mereka lanjut ke toko tas kulit asli Prancis. Leora hanya melihat-lihat.
“Ini mahal,” katanya pelan.
“Aku nggak butuh.”
Leonard meraih tas yang sama, lalu satu warna lain.
“Yang ini juga.”
“Leonard,” Leora mulai serius,
“aku nggak mau boros. Aku punya uang, tapi bukan berarti harus dihambur-hamburkan. Apalagi ini uang kamu.”
Leonard berhenti. Menoleh padanya.
“Kamu istriku,” katanya tenang.
“Dan uang yang aku punya… memang untuk dipakai. Bukan disimpan sampai lupa rasanya.”
Leora menghela napas, lalu tersenyum kecil.
“Dasar.”
Giliran Leora memilih untuk keluarga.
“Ini buat ayah aku,” katanya sambil mengambil jam meja kecil.
“Kalau ini… buat Claura.”
Leonard mengangguk.
“Tambah dua.”
“Kenapa dua lagi?”
“Cadangan,” jawab Leonard tanpa ekspresi.
Leora tertawa.
“Keluarga kita bakal mikir kita habis rampok bank.”
Leonard mengeluarkan black card-nya.
“Kita punya bank.”
Leora menepuk lengannya pelan.
“Sombong.”
“Fakta.”
Leora berhenti di rak berisi syal sutra dan parfum mini khas Prancis.
“Ini lucu,” gumamnya. “Cocok buat Ibu Minjae.”
Leonard mendekat, melirik sebentar.
“Ambil.”
“Satu aja,” kata Leora cepat.
Leonard mengambil dua warna.
“Dua.”
Leora mendesah.
“Kenapa selalu dua?”
“Satu dipakai, satu disimpan,” jawab Leonard cuek.
“Ibu suka begitu.”
Leora menoleh, senyum kecil muncul.
“Kamu hafal banget soal ibu kamu.”
“Karena aku sering dimarahin,” jawabnya ringan.
Mereka bergeser ke rak lain cokelat artisan, teh eksklusif, dan biskuit handmade.
“Ini buat Dimas sama Arga,” kata Leora sambil membaca label.
“Makanan aman.”
Leonard langsung menambahkan dua kotak lagi.
“Tambah.”
“Leonard.”
“Mereka kelihatan tipe yang makannya banyak.”
Leora tertawa.
“Kamu belum kenal mereka.”
“Tipe kantor itu universal.”
Leora lalu mengambil lilin aromaterapi dan pouch kecil.
“Ini buat Selin sama Riani. Yang simpel tapi kepake.”
Leonard mengangguk.
“Bagus.”
Ia menambah satu set lagi.
“Buat Claura.”
“Oh iya,” Leora manggut-manggut. “Dia pasti suka.”
Mereka berhenti di sudut toko berisi selimut rajut kecil dan keranjang hadiah.
“Ini buat bibi dan asisten di rumah,” kata Leora pelan.
“Mereka pasti senang walau sederhana.”
Leonard menatapnya sebentar.
“Kamu selalu mikirin semua orang.”
Leora tersenyum tipis.
“Mereka bagian dari rumah.”
Leonard mengambil keranjang terbesar.
“Isi sekalian.”
Leora melotot.
“Leonard!”
“Kualitas bagus,” katanya datar. “Biar awet.”
Leora berjalan ke bagian tas kulit lagi, kali ini hanya menyentuh ujungnya sebentar.
“Ini mahal. Aku nggak butuh.”
Leonard sudah mengambil dua.
“Yang ini sama yang cokelat.”
“Leonard, serius,” Leora menahan lengannya.
“Aku nggak mau boros plissss"
Leonard berhenti. Menatap Leora, suaranya tetap tenang.
“Justru karena kamu nggak sembarangan, aku nggak keberatan.”
Ia menoleh ke penjaga toko.
“Tambahin.”
Leora menghela napas, lalu tertawa kecil.
“Kamu keras kepala.”
“Kita impas,” jawab Leonard. “Kamu terlalu hemat.”
Akhirnya mereka sampai di kasir.
Meja penuh kotak, tas, dan keranjang hadiah.
Penjaga toko menghitung lama, lalu menyebut totalnya.
670 juta rupiah.
Leora refleks menoleh ke Leonard.
“…Leonard.”
Leonard sudah mengeluarkan black card hitam legam, khas CEO Alastair Group.
Ia menyerahkannya tanpa ragu.
Mesin berbunyi.
Approved.
Leonard mengambil struk, memasukkannya ke saku jas.
“Sudah.”
Leora masih menatap paper bag yang berjajar.
“Ini… banyak banget.”
Leonard mengangkat bahu.
“Bukan apa-apa.”
Leora mendelik.
“Kamu serius?”
Leonard meliriknya santai.
“Masih kurang?”
Leora tertawa kecil, menyerah.
“Ya Tuhan… kamu ini.”
Leonard mengangkat beberapa tas.
“Mau ke mana lagi?”
Leora menggeleng sambil tersenyum.
“Cukup. Hari ini aku kalah telak.”
Leonard mulai melangkah.
“Kamu senang?”
Leora menyusul di sampingnya.
“Iya.”
Leonard mengangguk kecil.
“Berarti belanjanya berhasil.”
Leora menatap Leonard
bukan ke tas mahalnya,
tapi ke caranya memberi tanpa ragu, tanpa hitung-hitungan,
seolah dunia memang sekadar angka yang bisa dilewati…
asal orang di sampingnya bahagia.
Mereka keluar dari toko dengan paper bag menumpuk. Leonard sudah membawa banyak, tapi Leora tetap ngotot ambil bagian.
“Aku bisa bawa ini,” kata Leora sambil mengambil dua paper bag besar.
Baru beberapa langkah
Langkahnya melambat. Bahunya turun sedikit.
Leonard berhenti. Menoleh.
Leora senyum maksa.
“Nggak berat kok.”
Satu paper bag hampir jatuh.
Leonard langsung berhenti total.
Ia meletakkan barang-barang di lantai dengan rapi, lalu mengeluarkan ponsel. Begitu panggilan tersambung, nadanya tenang… tapi dinginnya bikin merinding.
“Kamu ke Prancis buat apa?”
Jeda.
“Liburan sama aku, atau cuma numpang jalan-jalan pakai gaji?”
Leora refleks mendekat.
“Leonard—”
Leonard mengangkat tangan, tanpa menoleh.
“Aku berdiri di depan toko, istri aku hampir jatuhin belanjaan,” lanjutnya pelan tapi tajam.
“Dan kamu nggak kelihatan sama sekali. Jadi sekarang aku mau tahu kamu nggak peka… atau memang nggak kerja?”
Hening di seberang.
Leonard melanjutkan, nadanya makin datar.
“Kalau dalam lima menit nggak ada orang di depan aku, anggap perjalanan kamu ke sini cuma liburan terakhir sebelum aku ganti orang.”
Ia mematikan telepon.
Leora menelan ludah.
“Kamu kejam.”
Leonard menoleh.
“Aku adil.”
Belum sempat Leora membalas, tiga bodyguard muncul cepat, wajah mereka tegang.
“Maaf, Tuan,” kata salah satunya.
Tanpa banyak bicara, mereka langsung mengambil semua paper bag.
Leora refleks mengangkat tangan.
“Eh—nggak usah, nggak usah! Aku bisa—”
Leonard langsung memotong, nadanya rendah.
“Udah diem aja, lo.”
Leora langsung terdiam.
“…ih.”
Leonard meliriknya sekilas.
“Kamu itu liburan. Bukan pindahan.”
Leora mendengus kecil, tapi senyumnya nggak hilang.
“Iya, Bos Besar.”
Leonard membenarkan jasnya, lalu berjalan di samping Leora, langkahnya otomatis menyesuaikan.
“Lain kali,” katanya cuek,
“kalau kamu mau sok kuat, ingetin aku.”
“Biar kamu marah lagi?”
“Biar aku siap,” jawab Leonard singkat.
Leora menatapnya sambil tertawa kecil.
“Cielah… protektif.”
Leonard tidak menjawab.
Tapi langkahnya tetap sedikit lebih lambat, memastikan Leora nyaman di sisinya.
Di depan mereka, tiga bodyguard membawa belanjaan bernilai ratusan juta seolah cuma map kantor.
Leonard melirik sekilas.
“Sekarang rapi.”
Leora mengangguk.
“Enak hidup sama orang galak.”
Leonard menoleh tipis.
“Yang penting kamu nggak jatuh.”
Leora tersenyum
dan untuk pertama kalinya hari itu,
ia membiarkan dirinya nggak kuat,
karena tahu…
Leonard akan selalu berdiri di depan duluan.
...----------------...
Keramaian di sekitar Menara Eiffel makin padat. Turis lalu-lalang, kamera di mana-mana.
Leora sedang berdiri agak ke samping, dekat bodyguard, sibuk melihat gantungan kunci kecil di kios pinggir jalan. Saat itulah dua turis perempuan lewat salah satunya berhenti.
Perempuan itu memang mencolok. Wajahnya cantik, gaya Eropa, pakaiannya berani dengan potongan terbuka yang langsung menarik perhatian. Ia tersenyum lebar ke arah Leonard, lalu mengangkat ponsel.
Leonard refleks menoleh.
Pandangan itu terlalu lama untuk ukuran Leonard.
Leora yang dari tadi santai, tanpa sadar mengangkat kepala. Matanya mengikuti arah pandang Leonard… dan berhenti di perempuan itu.
Alis Leora naik sedikit.
Bukan marah.
Lebih ke “oh… jadi seleranya begitu?”
Perempuan itu mendekat, berbicara dengan aksen asing yang ramah.
“Excuse me, can I take a photo with you?”
Leonard belum langsung menjawab. Ia melirik Leora sekilas yang sekarang sudah melipat tangan di dada, ekspresinya datar tapi jelas nggak senang.
Perempuan itu tertawa kecil, melanjutkan bujukannya.
“Just one photo.”
Leonard menghela napas pelan. Lalu berkata dengan nada tenang tapi tegas, dalam bahasa Inggris yang rapi:
“Maaf,” katanya.
“Adik saya mungkin terlalu kecil untuk melihat hal seperti itu.”
Sambil berkata begitu, tatapannya bergeser ke arah Leora yang berdiri di samping bodyguard jelas, sengaja.
Leora langsung terdiam sepersekian detik.
Lalu menyipitkan mata.
“…kecil?” gumamnya pelan.
Perempuan itu tampak bingung, lalu tertawa canggung dan mundur.
“Oh—sorry.”
Begitu turis itu pergi, Leora melangkah mendekat.
“Oh jadi aku adik kecil sekarang?” katanya ringan, tapi nadanya nyeletuk.
“Kecil di bagian mana?”
Leonard berjalan lebih dulu, memasukkan tangan ke saku jasnya.
“Di bagian sabar kamu.”
Leora mendengus.
“Cielah. Padahal tadi matanya lama banget.”
Leonard berhenti sebentar, menoleh.
“Kamu ngitung?”
Leora tersenyum tipis, miring.
“Nggak. Tapi kelihatan.”
"Gimana seger ngak?" Ucap Leora
Leonard mendekat sedikit, suaranya direndahkan.
“Kalau aku mau lihat, aku nggak perlu sejauh itu.”
Leora terdiam.
“Yaudah. Jalan.”