NovelToon NovelToon
Langit Jingga Setelah Hujan

Langit Jingga Setelah Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Keluarga / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Chicklit / Fantasi Wanita
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: R²_Chair

Jingga seorang gadis cantik yang hidupnya berubah drastis ketika keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi orang pertama yang melemparkannya keluar dari hidup mereoka. Dibuang oleh ayah kandungnya sendiri karena fitnah ibu tiri dan adik tirinya, Jingga harus belajar bertahan di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin.

Awalnya, hidup Jingga penuh warna. Ia tumbuh di rumah yang hangat bersama ibu dan ayah yang penuh kasih. Namun setelah sang ibu meninggal, Ayah menikahi Ratna, wanita yang perlahan menghapus keberadaan Jingga dari kehidupan keluarga. Davin, adik tirinya, turut memperkeruh keadaan dengan sikap kasar dan iri.

Bagaimanakan kehidupan Jingga kedepannya?
Akankan badai dan hujannya reda ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku datang untuk mu..

Keesokan paginya,Jingga masih terdiam di kamarnya,ia menatap langit dari jendela kamar. Awan menggantung rendah, abu-abu, seperti perasaannya. Ponselnya ada di tangan, menampilkan pesan terakhir dari Ibu Nadira semalam.

Kondisinya masih stabil, tapi belum boleh banyak rangsangan.

Jingga menghela napas panjang,terlihat sedang tidak baik-baik saja. Dan Jingga tahu, ia tidak akan bisa tenang kalau hanya menunggu kabar dari kejauhan.

Ia harus ke kota..Sekarang.

Jingga turun ke dapur, menemukan Kakek Arga sedang duduk sambil menyeruput kopi.

“Kek,” kata Jingga pelan.

Kakek menoleh. Dari wajah Jingga saja, ia sudah bisa menebak.

“Kamu mau ke kota,” ujar Kakek tanpa bertanya.

Jingga mengangguk. “Aku harus lihat Ka Juna.”

Kakek Arga meletakkan cangkirnya perlahan. “Kapan berangkat?”

“Hari ini.”

Tidak ada drama. Tidak ada larangan.

Kakek hanya menghela napas, lalu berdiri dan menepuk bahu Jingga.

“Kalau hati kamu sudah di sana, tubuh kamu nggak akan tenang kalau tetap di sini.”

Mata Jingga berkaca-kaca. “Kebun gimana?”

“Ada Pa Damar,” jawab Kakek. “Lagi pula, kamu juga manusia. Bukan mesin.”

Jingga tersenyum kecil, lega.

Ia menyiapkan tas sederhana.Beberapa pakaian,laptop,buku catatan. Dan satu hal yang tidak ia tinggalkan yaitu kamera kecil pemberian Arjuna.

Sebelum berangkat, Jingga pergi ke perkebunan sebentar.Ia berdiri di depan kebun sebentar di temani Pa Damar.

"Aku titip sebentar ya Pak."

Pak Damar tersenyum dengan mata menatap lurus para pekerja yang sedang bekerja membersihkan sawit.

"Jingga,kamu butuh istirahat.Anggap saja ini liburan mu setelah beberapa bulan kamu bekerja keras untuk perkebunan ini."

"Tapi aku sudah nyaman dengan semua ini,rasanya sedikit berat"

"Tidak apa,kamu harus belajar mengelola dari jauh karena kelak jika kamu menikah dengan Pak.Arjuna pasti kamu akan ikut dia ke kota."

Jingga mengangguk menyetujui nya.

"Nanti ada sopir yang akan mengantarmu hingga tempat Pak.Arjuna."

"Tidak usah Pak,biar aku naik bis."

"Jingga,kamu itu pemilik perkebunan ini.Sudah menjadi hak kamu menggunakan semua fasilitas yang di sediakan perusahaan."

Akhirnya Jingga setuju,

Ia kembali menatap kembali ke arah depan,menghirup udara,menatap pohon-pohon yang kini terasa seperti rumah.

“Aku pergi,” Lirihnya “Tunggu aku kembali.”

Perjalanan ke kota terasa panjang.Jingga duduk di belakang, memandang pemandangan yang berubah perlahan dari hijau ke beton,dari sunyi ke ramai.

Pikirannya melayang ke banyak hal.Wajah Arjuna yang tersenyum.Suara Arjuna di telepon.Janji-janji kecil yang belum sempat ditepati.

Tangannya menggenggam ponsel erat.

“Tolong jangan kenapa-kenapa,” bisiknya berulang kali.

Kota menyambutnya dengan hiruk-pikuk.

Klakson. Lampu. Orang-orang yang berjalan cepat.

Jingga sempat berhenti sejenak di parkiran, menarik napas. Kota ini tidak lah asing,tempat yang telah menorehkan luka yang begitu besar.Tapi satu nama membuat langkahnya terus maju.

Arjuna.

Rumah sakit besar berwarna putih ,yang terasa sunyi di dalam, kontras dengan jalanan di luar yang terlihat ramai.

Langkah Jingga sedikit ragu saat masuk ke lobi.

Ia bertanya pada petugas, menyebut nama Arjuna dengan dada berdebar.

“Ruang perawatan intensif, lantai tiga,” jawab petugas.

Lift terasa bergerak terlalu lambat.Setiap detik seperti menekan dadanya.

Di depan ruang perawatan, Jingga melihat Ibu Nadira dan Nayya.

Ibu Nadira langsung berdiri saat melihat Jingga.

“Kamu Jingga, ya?”

Jingga mengangguk. “Iya, Bu.”

Tanpa banyak kata, Ibu Nadira memeluk Jingga.

Pelukan itu hangat. Penuh emosi yang tertahan.

“Terima kasih sudah datang,” kata Ibu Nadira lirih.

Jingga hampir menangis. “Terima kasih sudah izinin saya ke sini.”

Nayya tersenyum kecil. “Bang Arjuna sering nyebut nama kamu, tau.”

Jantung Jingga berdegup kencang. "Ka Juna sudah pulih?”

“Belum sepenuhnya,” jawab Nayya. “Tapi kami yakin dia kuat.”

Jingga berdiri di depan pintu ruang perawatan.Tangannya sedikit gemetar saat akan membuka pintu.

Di baliknya, Arjuna terbaring dengan banyak alat medis. Wajahnya pucat, jauh dari sosok kuat yang selalu ia kenal.

Jingga menutup mulut, menahan tangis.

“Ka…” bisiknya.

Ibu Nadira menepuk pundaknya. “Kamu boleh masuk sebentar.”

Ruangan itu terasa dingin.Suara alat medis menjadi satu-satunya yang bersuara.

Jingga melangkah pelan, takut suaranya mengganggu.Ia duduk di sisi tempat tidur.

Melihat Arjuna lebih dekat.Air mata jatuh tanpa bisa dicegah.

“Aku di sini,” kata Jingga pelan. “Kamu nggak sendirian lagi.”

Tangannya ragu-ragu, lalu perlahan menggenggam tangan Arjuna terasa hangat.

Jingga memejamkan mata, menarik napas.

“Aku datang, Ka. Seperti janji kamu dulu. Sekarang giliran aku.”

Arjuna yang masih belum bangun akibat pengarus obat.Namun tak lama ia membuka mata saat merasakan rasa dingin di tangannya.

Jingga tersentak, menahan napas.

“Ka?” suaranya bergetar.

Tak ada jawaban. Tapi genggaman itu terasa sedikit lebih kuat.Jingga tersenyum di balik air mata.

Rasa pusing yang teramat membuat Arjuna kembali menutup mata dan kembali tertidur.

Malam menjelang,Jingga duduk di ruang tunggu bersama Ibu Nadira dan Nayya.

Lelah, tapi hatinya sedikit lebih tenang.

“Kamu bisa nginep di rumah kami,” kata Ibu Nadira. “Nggak usah sungkan.”

Jingga mengangguk. “Terima kasih, Bu.”

Sebelum meninggalkan rumah sakit, Jingga menoleh sekali lagi ke arah ruang perawatan.

“Aku di sini,” bisiknya dalam hati. “Dan aku nggak akan ke mana-mana.”

Di kota yang dulu terasa menyakitkan dan dingin, kini Jingga berdiri dengan satu tujuan yang jelas.

Bukan hanya menunggu.

Tapi menemani.

°°°

Arjuna terbangun dengan kesadaran yang mulai membaik.

Cahaya putih menembus kelopak matanya. Bau antiseptik masih sama. Tapi hari itu terasa… berbeda.

Lebih hangat.

Ia menggerakkan jari perlahan. Kali ini tubuhnya terasa lebih ringan dari hari-hari sebelumnya. Suara langkah terdengar, lalu suara yang sangat ia kenal.

“Ka Juna, kamu jangan maksa bangun dulu ya,” suara itu lembut, tapi tegas.

Arjuna membuka mata sedikit lebih lebar.

Jingga.

Ia duduk di kursi samping ranjang, rambutnya terikat sederhana, wajahnya lelah tapi matanya penuh perhatian.

Bibir Arjuna bergerak, suaranya nyaris tak terdengar. “Kamu… di sini?”

Jingga langsung mendekat. “Iya. Aku datang.”

Senyum kecil muncul di wajah Arjuna.Senyum yang membuat Ibu Nadira dan Nayya yang berdiri tak jauh saling pandang dengan lega.

“Dokter bilang dia udah boleh diajak ngobrol sebentar,” bisik Nayya.

Arjuna melirik ke arah mereka. “Ibu… Nayya…”

Ibu Nadira mendekat, menggenggam tangan Arjuna. “Kamu bikin ibu khawatir setengah mati.”

“Maaf,” jawab Arjuna lirih.

Ibu Nadira menggeleng. “Yang penting kamu balik.”

Matanya kemudian beralih ke Jingga. Tatapannya berubah lembut.

“Terima kasih sudah menemani dia,” katanya tulus.

Jingga mengangguk. “Saya cuma… melakukan yang seharusnya.”

Arjuna menatap mereka bergantian. Ada sesuatu yang hangat mengalir di dadanya. Dua dunia yang ia sayangi, kini berada di ruangan yang sama tanpa jarak, tanpa canggung.

Siang harinya, dokter mengizinkan Arjuna dipindahkan ke ruang perawatan biasa.

Jingga membantu membereskan barang-barang kecil. Ibu Nadira mengajaknya bicara di koridor.

“Kamu kelihatan capek,” kata Ibu Nadira.

“Sedikit,” jawab Jingga jujur.

Ibu Nadira tersenyum. “Kamu mau makan dulu? Kita makan bareng.”

Jingga sempat ragu. Tapi Nayya langsung menyelipkan tangan ke lengannya.

“Ayolah, Kak. Aku laper.”

Cara Nayya bicara tanpa jarak, tanpa formal membuat Jingga tersenyum.

Mereka makan di kafe kecil dekat rumah sakit. Obrolannya ringan. Tentang kebun, tentang foto, tentang kuliah Nayya.

“Jadi Kak Jingga yang ngajarin Kak Arjuna soal foto?” tanya Nayya penasaran.

Jingga tertawa kecil. “Kebalik. Dia yang ngajarin aku.”

“Pantesan,” kata Nayya sambil nyengir.

“Dia jarang tertarik sama orang, loh.”

Ibu Nadira menatap Jingga lebih lama. “Arjuna berubah sejak kenal kamu.”

Jingga terdiam. “Ke arah yang baik?”

“Lebih hidup,” jawab Ibu Nadira. “Dan lebih berani jujur sama perasaannya.”

Jingga menunduk, tersenyum malu.

Hari-hari berikutnya, keakraban itu tumbuh begitu alami.Jingga sering menemani Arjuna di rumah sakit. Ibu Nadira kadang datang membawa makanan rumah. Nayya sibuk mengobrol, bercerita hal-hal kecil yang membuat suasana hidup.

Sore itu Nayya menarik Jingga ke luar kamar.

“Kak Jingga,” katanya sambil menurunkan suara. “Makasih ya.”

“Makasih kenapa?”

“Karena Bang Arjuna kelihatan bahagia sekarang,” jawab Nayya jujur. “Sejak Ayah meninggal, dia kayak… menahan semuanya sendiri.”

Jingga terdiam. “Dia jarang cerita.”

“Iya,” Nayya mengangguk. “Tapi waktu dia sebut nama kamu pas belum sadar penuh, aku tahu kamu penting.”

Jingga menelan ludah, dadanya menghangat.

Malamnya Arjuna sudah lebih kuat, Jingga, Ibu Nadira, dan Nayya duduk bersama di ruang perawatan.

Obrolan mengalir ringan.

“Abang cocok banget sama Jingga,” kata Nayya tiba-tiba.

Arjuna tersenyum kecil. “Aku tahu.”

Jingga memukul lengannya pelan. “Ge-er.”

Ibu Nadira tertawa. “Dari cara kamu bicara sama dia, kelihatan kamu nyaman.”

Arjuna menatap Jingga lama. “Aku ngerasa punya tujuan hidup.”

Kalimat itu sederhana. Tapi membuat ruangan terasa hangat.

Beberapa saat kemudian Jingga pamit keluar sebentar, Ibu Nadira duduk lebih dekat ke Arjuna.

“Kamu serius sama dia?” tanya Ibu Nadira pelan.

Arjuna mengangguk tanpa ragu. “Iya.”

Ibu Nadira tersenyum. “Ibu senang.”

Arjuna terdiam. “Ibu… nggak keberatan dengan latar belakang Jingga?”

Ibu Nadira menghela napas. “Justru karena latar belakangnya, ibu lihat dia kuat.”

Ia menggenggam tangan Arjuna. “Keluarga bukan cuma soal darah. Tapi siapa yang memilih bertahan.”

Arjuna mengangguk. Matanya berkaca-kaca.Tak lama Jingga kembali, ia melihat Arjuna tersenyum aneh.

“Kamu ngomongin apa?” tanya Jingga curiga.

“Rahasia,” jawab Arjuna santai.

Nayya menyeringai. “Rahasia keluarga.”

Jingga tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa tidak sedang berdiri sendiri di dunia orang lain.

Malam makin larut.Jingga duduk di kursi samping ranjang. Arjuna sudah terlelap.

Ibu Nadira menghampiri Jingga.

“Kamu istirahat ya,” katanya lembut.“Besok masih panjang.”

Jingga mengangguk. “Terima kasih, Bu.”

Sebelum pergi, Ibu Nadira menepuk bahu Jingga. “Jaga dia. Tapi jangan lupa jaga diri kamu juga.”

Jingga tersenyum. “Iya.”

Tengah malam Arjuna terbangun,Ia melihat Jingga tertidur di kursi, kamera kecil ada di pangkuannya.

Ia tersenyum lemah.

Ia kembali teringan saat tadi di luar kamar, ia mendengar tawa Ibu Nadira dan Nayya berbincang dengan Jingga.

Suara itu seperti kebahagiaan yang tak bisa ternilai.

Arjuna menutup mata sebentar.Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa tenang.

Karena orang-orang yang ia sayangi kini saling mengenal, saling menerima, dan berdiri di sisi yang sama.Dan itu lebih dari obat apa pun membuatnya ingin segera pulih.

...🍀🍀🍀...

...🍃Langit Jingga Setelah Hujan🍃...

1
Nurgusnawati Nunung
lanjut Thor.. semangat
Nurgusnawati Nunung
Nayya kalau hadir cuma sebentar ya.
Nurgusnawati Nunung
Berjalan bersama kalian akan lebih kuat.
Nurgusnawati Nunung
Arjuna sudah tidak sabar untuk menikah..
Satri Eka Yandri
Tata Bahasa bagus,rapi,ceritanya simple tapi menarik
Nurgusnawati Nunung
Dimana mana selalu saja ada orang yang berhati serakah.. semangat thor. lanjut
Nurgusnawati Nunung
Semangat... semoga masalah kalian segera selesai... lanjut Thor.
Nurgusnawati Nunung
Jangan lari Jingga.. karena bukan kamu yang mencari, mereka yang akan mencarimu. masa lalu akan hadir.
Puji Hastuti
Jingga kamu tidak sendiri, jangan takut lagi 💪
Nurgusnawati Nunung
jangan sampai harta Jingga diambil sama ayahnya
SecretChair
MasyaAllah Tabarakallah terimakasih🥰🙏
Arlis Wahyuningsih
jangan lari tetaplah ditempatmu..biarkan masa lalu menghampirimu dgn sendirinya.
seiring dgn kebenaran yg coba dihapuskan.
SecretChair: MasyaAllah Tabarakallah terimakasih🥰🙏
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
Semangat Pak CEO Arjuna.. ungkap kebenarannya..
SecretChair: MasyaAllah Tabarakallah terimakasih🥰🙏
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
Liat saja nanti ayah Jingga pasti ada balasannya. Davin itu dari kecil sudah kelihatan karakternya.
Nurgusnawati Nunung
Pantas kakek bahagia ada Jingga, rupanya cucunya..
Nurgusnawati Nunung
Banyaknya obat bahagia untuk Arjuna.. ibu yang perhatian dan adik yang menggemaskan.. hehehe. semangat
Nurgusnawati Nunung
Akhirnya dihati Jingga ada kepastian.. kepastian ada yang mencintainya.
semangat
Nurgusnawati Nunung
Ada yang menunduk malu, mendengar kata sayang.. 😄
Nurgusnawati Nunung
Masih menunggu lagi ya, belum ada kata sepakat ni.. hihi
Nurgusnawati Nunung
semangat untuk cinta.. 😍😍😍
Arjuna.. Jingga
SecretChair: MasyaAllah Tabarakallah terimakasih🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!