🔥"Tanaya — Jiwa dari Zaman Purba”
Tanaya, gadis modern yang hidup biasa-biasa saja, tiba-tiba terbangun di tubuh asing—berkulit gelap, gemuk, dan berasal dari zaman purba yang tak pernah ia kenal.
Dunia ini bukan tempat yang ramah.
Di sini, roh leluhur disembah, hukum suku ditegakkan dengan darah, dan perempuan hanya dianggap pelengkap.
Namun anehnya, semua orang memanggilnya Naya, gadis manja dari keluarga pemburu terkuat di lembah itu.
>“Apa... ini bukan mimpi buruk, kan? Siapa gue sebenarnya?”
Tanaya tak tahu kenapa jiwanya dipindahkan.
Mampukah ia bertahan dalam tubuh yang bukan miliknya, di antara kepercayaan kuno dan hukum suku yang mengikat?
Di dalam tubuh baru dan dunia yang liar,
ia harus belajar bertahan hidup, mengenali siapa musuh dan siapa yang akan melindunginya.
Sebab, di balik setiap legenda purba...
selalu ada jiwa asing yang ditarik oleh waktu untuk menuntaskan kisah yang belum selesai.
📚 Happy reading 📚
⚠️ DILARANG JIPLAK!! KARYA ASLI AUTHOR!!⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyx Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Proses Pembuatan Kristal Putih...
Di pantai…
Debur ombak bergemuruh pelan, berkejaran dengan pasir basah. Terik matahari memantulkan kilau keperakan di permukaan laut, sementara angin asin berembus sejuk, membawa aroma garam dan rumput laut yang khas.
“Naya!” seru Zuam dengan raut masam di kejauhan.“Sebenarnya kau ingin membuat apa, sih? Kenapa kita harus melakukan semua ini?”
Di tangannya, sebuah cangkang kerang besar penuh air laut ia pegang. Baju kulitnya sudah basah kuyup, menempel di tubuhnya akibat ombak yang beberapa kali menyapu kakinya. Tak jauh berbeda dengan Liran, yang tampak sama lelahnya.
Tanaya berdiri di bawah pohon kelapa, berteduh dari sengatan matahari. Ia memandangi kedua pemuda itu dengan mata tenang, seolah semuanya berjalan sesuai rencana.
Sejak tadi, Tanaya memang menyuruh mereka menunggu air surut—menimba air laut itu yang jernih, bukan yang keruh bercampur pasir. Air itu lalu dituangkan ke dalam tempurung-tempurung kelapa yang telah ia siapkan dan berjejer rapi di pasir.
“Sudah cukup,” ujar Tanaya akhirnya ketika mereka mendekat. “Yang itu saja.”
Ia membantu menuangkan air laut ke beberapa wadah kosong, tangannya cekatan dan terlatih.
Liran menyeka keringat di dahinya, menatap tempurung kelapa penuh air asin itu dengan bingung.
“Kau ingin menggunakan air laut ini untuk apa, Naya?” tanyanya ragu. “Jangan bilang kau ingin meminumnya…”
Zuam yang sudah menjatuhkan diri di rerumputan langsung bangkit setengah duduk.
“Hah? Untuk diminum?” serunya tak percaya.“Kau ingin meminum air ini?!”
Melihat ekspresi mereka, Tanaya tak kuasa menahan tawa kecilnya. Ia menggeleng pelan, rambutnya tertiup angin pantai.
“Bukan,” katanya lembut.“Air ini tidak akan kita minum.”
Ia menatap tempurung-tempurung kelapa itu sejenak, lalu mengangkat wajahnya—mata gelapnya berkilat, penuh keyakinan.
“Tapi… kita akan menggunakannya untuk membuat kristal putih.”
Keduanya seketika mengerjap.
“K—kristal putih?!” seru mereka hampir bersamaan.
Tanaya tersenyum kecil, mata cokelatnya memantulkan cahaya laut—seseorang yang tahu rahasia dunia.
“Ya. Garam atau lebih tepatnya kristal putih.”ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.“Sumber kekayaan… dan kunci musim dingin. Kita akan membuatnya!”.”
Angin laut berembus lebih kencang, membawa ombak kecil ke tepi pasir—seolah alam sendiri ikut menjadi saksi.
Liran tersentak kecil. Ia berdeham pelan, mencoba menata nada suaranya agar tidak terdengar kasar.
“E–ekhem… Naya, tunggu dulu.”Ia melirik ke arah tempurung-tempurung kelapa berisi air laut itu. “Kau ingin membuat kristal putih sendiri?”
Nada suaranya sengaja diturunkan—hati-hati, agar tidak membuat hati gadis itu tersinggung.
“Kau tahu kan… suku kita pernah mencobanya. Dan gagal berkali-kali. Kau yakin ingin melakukannya?”lanjutnya pelan.
“Yakin,” jawab Tanaya mantap tanpa ragu.“Tenang saja. Aku sudah memikirkannya sejak semalam. Jadi… aku rasa ini tidak akan gagal.”
Zuam yang sejak tadi diam, perlahan mendekat selangkah. Matanya menyipit, meneliti Tanaya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Naya…” katanya pelan.“Aku jujur, Akhir-akhir ini kau terlihat berbeda.”
Tanaya tersentak kecil.
“Kau jadi lebih pintar bahkan aku yakin, kepintaran mu itu bisa mengalahkan kak Moel dan Kak Rua.” lanjut Zuam jujur. “Dan kau berubah. Lebih tenang… Lebih berani… dan tidak ceroboh seperti dulu.”
Ia mencondongkan badan sedikit.“Kau… masih Naya yang dulu, kan?”
Jantung Tanaya seketika mencelos.
“Bukan…”Tiba-tiba suara Liran memotong cepat.“Dia bukan Naya.”
Tanaya langsung menoleh, matanya membelalak. Zuam pun ikut tersentak.
“Hah?”
“Apa maksudmu?” suara Tanaya sedikit gugup. “A–aku Naya. Kenapa kalian menatapku seperti itu?"
Pikirannya mulai kacau.
Oh tidak… apakah sikapku terlalu mencolok akhir-akhir ini?
Liran menyipitkan matanya, wajahnya tetap serius bahkan terlalu serius untuk ukuran pelawak seperti Liran.
“Kau bukan Naya,” ulangnya sedikit menekan."Kau berubah sejak hari kau menghilang… dan aku menemukanmu di pantai.”
Zuam menelan ludahnya lirih. “A–ah? Benarkah…?”
Liran melangkah mendekat. Tanaya refleks membelalak, dan jantungnya berdegup lebih cepat.
“Naya, apa kau—” Liran terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada cepat dan serius.
“Apa kau kerasukan roh jahat?! Atau roh penjaga pantai memberimu kekuatan? Katakan padaku... Sekarang!”desaknya cepat… nyaris panik.
Keheningan sesaat.
Tanaya terpaku beberapa detik. Hingga tak lama ia menghela napasnya panjang, sangat panjang sambil menatap mereka berdua lega
“Haaaah…”
Kedua bahunya mengendur.
“Liran,”katanya sambil menutup wajah sebentar.“Kau hampir membuatku jantungan tahu enggak!”
Zuam berkedip pelan, ia menatap keduanya.“Jadi… bukan roh jahat yah?”
“Bukan.”Tanaya memotong tegas, ia hampir tertawa kecil“Kalau aku kerasukan roh jahat, apa menurut kalian aku masih sibuk memikirkan makanan dan kristal putih?”
Angin laut berdesir pelan, membawa aroma asin. Ketegangan itu belum sepenuhnya hilang.
Tanaya menatap mereka bergantian, lalu terkekeh kecil—lelah tapi jujur.“Aku cuma… berpikir lebih keras dari biasanya. Itu saja.”
Ia menggeleng pelan, lalu menatap kristal-kristal putih yang belum terbentuk itu, sorot matanya kembali tenang.
“Kalian tahu, alam di sini suka membantu orang yang sabar.”lanjutnya pelan.
Zuam saling pandang dengan Liran.“…Tapi, itu tetap menyeramkan.”gumam nya.
Tanaya tersenyum kecil.
Liran terdiam beberapa detik… lalu menggaruk belakang kepalanya, canggung.
“…Oh. Syukurlah kalo begitu. Aku tadi sudah hampir lari memanggil tetuah Ganhe agar mendoakan mu.”celetuknya membuat Tanaya mendelik tak terima.
“Hei.”
Senyum kecil perlahan muncul di wajahnya.“Hah… sudahlah. Ayo bantu aku membawa semua ini ke tengah pantai.”
Ia mulai mengangkat tempurung-tempurung kelapa itu satu per satu, menyusunnya di atas pasir kering yang hangat—cukup jauh dari jangkauan ombak. Zuam dan Liran mengikutinya, ikut memindahkan wadah-wadah itu dengan hati-hati.
Tanaya memilih tempat yang disinari matahari penuh, tanahnya tinggi dan keras, agar air laut tidak cepat tercampur dengan pasir. Ia berlutut, mencoba mengganjal setiap tempurung dengan batu-batu pipih, memastikan wadah itu tak terguling saat angin pantai berhembus.
Tangannya bergerak merapikan jarak antar wadah, memastikan tidak ada yang terlalu berdekatan.
“Jangan taruh di dekat bayangan,” ucapnya pelan.“Airnya harus benar-benar di jemur agar bertemu panas.”lanjutnya membuat Liran mengangguk mengerti.
Setelah selesai, Liran memperhatikannya dengan dahi sedikit berkerut.“Kau benar-benar yakin… air ini bisa berubah jadi kristal putih?”
“Bukan berubah,” jawab Tanaya tanpa menoleh."Tapi airnya akan pergi.”
“Panas akan mengusir airnya perlahan. Yang tertinggal… hanya rasa.”lanjutnya.
Zuam menautkan kedua alisnya bingung.“Rasa?”
“Asin.”
Tanaya akhirnya menoleh, senyum tipis terlukis di wajahnya.
Ia kembali menepuk pasir di sekeliling tempurung itu, lalu mengamati pantulan cahaya matahari di permukaan air asin itu—seolah menunggu sesuatu yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di pantai itu sebelumnya.
Zuam berdiri, ia menatap tempurung-tempurung itu lama, sekitar ada 10-15 tempurung kelapa disana sebelum akhirnya berbalik menatap laut di hadapannya.
"Sekarang kita harus apa lagi?"tanya nya bingung.
“Biarkan saja,” jawab Tanaya ikut berdiri.
Zuam menaikan alisnya.
“Hanya… dibiarkan begitu saja?”
Tanaya mengangguk. “Biarkan matahari bekerja dan kita tinggal menunggunya 3 sampai 5 hari lalu setelah itu kristal putih akan siap di buat."
Liran menatap nya dengan mata berbinar. Pikirannya mulai paham dengan apa yang di pikirkan Tanaya.
"Dan kalau ini berhasil… ini bukan cuma soal kuat, kan?"tanya nya sama semangat.
Tanaya mengangguk antusias.“Ya! ini juga bukan soal kuat tapi bisa jadi awal kemandirian kita.”
"Dengan ini, kita tidak perlu menukar hasil buruan mahal hanya untuk mendapatkan kristal putih yang sedikit. Kita bisa membuatnya sendiri.”lanjut Tanaya
Ia perlahan menutup beberapa tempurung itu dengan daun kelapa—hati-hati.
“Dan ini baru awal.”
Liran dan Zuam saling pandang, mata mereka mulai berbinar.
Di bawah terik matahari, Angin laut berembus pelan, membawa aroma asin yang kini terasa berbeda. Sesuatu yang sederhana sedang dipersiapkan—sesuatu yang akan mengubah cara suku Nahara bertahan hidup.
Seolah dunia purba itu sendiri sedang belajar sesuatu yang baru.
...>>>>...
“Ketua Sao… aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Usai pembelajaran pembuatan senjata, Tien melangkah maju menghampiri Ketua Sao dan para tetua yang masih berkumpul. Langkahnya mantap, namun wajahnya menyimpan kegelisahan yang tak biasa.
Percakapan di sekitar mereka perlahan mereda. Tharen dan Yanka yang tengah berbicara serius ikut menoleh.
Ketua Sao mengernyit.“Ada apa, Tien? Tidak biasanya kau datang langsung seperti ini.”
Tien menarik napasnya panjang, dadanya terasa naik turun seolah menahan beban berat.
“Ketua Sao… aku tidak ingin mengarang cerita, apalagi menjatuhkan suku lain. Tapi apa yang akan ku sampaikan ini terlalu berbahaya untuk dipendam.”
“Bicaralah,” sahut Tharen dari kejauhan, suaranya tenang namun tegas. “Aku tahu kau bukan orang yang menyebar kabar tanpa dasar.”
Tien terdiam sesaat, ia menatap satu per satu wajah para tetua—seolah menimbang konsekuensi dari setiap kata yang akan keluar. Lalu ia pun bicara.
“Ketua Sao… Kemarin aku tidak sengaja mendengar desas-desus dari beberapa suku yang menerima kristal putih dari suku Selakra.”
Ia menelan ludahnya—lirih.“Sebagian dari mereka perlahan jatuh sakit setelah menggunakannya. Beberapa… bahkan tidak selamat.”
Balai seketika membeku.
Wajah Ketua Sao menegang. Para tetua saling pandang, napas mereka tertahan.
“Itu tidak masuk akal,” dengus Tetuah Hanle.“Bukankah kau sendiri melihat saat kita mencoba menukar kristal putih dengan suku-suku lain di lembah? Mereka baik-baik saja."
“Mereka tampak baik-baik saja karena kepala suku mereka menutupinya,” jawab Tien tanpa meninggikan suara.
Tatapannya kembali pada Ketua Sao.“Penyakit itu tidak langsung terlihat. Perut mereka melilit, tubuh mereka jadi melemah… lalu perlahan terlambat.”
Keheningan semakin pekat.
“Ketua Sao,” lanjut Tien lirih, kali ini nadanya lebih personal. “Aku memohon… utuslah orang untuk menjemput Yaren dan Chengbao dari Selakra.”
Suaranya sedikit bergetar tipis saat menyebut nama putranya.
“Istriku sedang mengandung,” katanya pelan.“Aku tidak sanggup membayangkan jika putraku—Chengbao terjadi sesuatu karena kristal putih yang tercemar.”
Tatapan Tharen mengeras. Para tetua terdiam, menyadari satu hal yang sama.
Jika kabar ini benar… maka kristal putih bukan lagi sekadar alat tukar—melainkan senjata sunyi yang diam-diam dapat menghancurkan.
...>>>>To Be Continued....
tapi kak, pembacamu ini sepertinya semakin serakah deh karena KURANG BANYAK UPDATENYAA HUHUHUHU bisakah meminta update lagi xixixixixi
terima kasih sudah updateee, semangat trs ya update ceritanyaa selalu ditunggu kelanjutannya
lanjuuuuuuuuut Mak 🙏🙏
update banyal banyakkk gak sabarnyaaaaaa lihat si haters terdiam melihat naya berhasillllllllllll. aishh ikut deg deg an sampe kristal putih jadiii