Luna terjebak dalam pernikahan kakaknya dengan william, pria itu kerap disapa Tuan Liam. Liam adalah suami kakak perempuan Luna, bagaimana ceritanya? bagaimana nasib Luna?
silahkan dibaca....
jangan lupa like, komen dan vote
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33.
Luna melangkah cepat menyusuri lorong yang remang, jantungnya berdegup kencang hingga ia menemukan Dion yang berdiri mematung dalam kegelapan.
Tatapan mata pria itu masih sama, kosong dan penuh luka.
"Dion," panggil Luna lirih.
Pria itu menoleh, tersenyum getir melihat kemeja Liam di pinggang Luna, sebuah tanda kepemilikan yang nyata.
Sementara dia? selama ini bahkan tidak berani menyentuh Luna dengan cintanya, dia ingin memiliki Luna dengan cara yang layak dan status yang jelas.
"Kamu terlihat... cantik dengan kemeja itu, Lun." Sindirnya cemburu.
"Berhenti Dion. aku ke sini bukan untuk mendengar pujianmu," potong Luna dengan suara bergetar.
Ia menarik napas dalam, memantapkan hatinya.
"Dion, aku sudah menikah. aku adalah istri Tuan Liam."
Dion terdiam, seolah kata-kata itu adalah sembilu yang menyayat jantungnya.
"Aku bukan lagi wanita baik yang pantas untuk masa depanmu," lanjut Luna dengan mata berkaca-kaca.
"Lupakan aku Dion. cari wanita lain yang bisa mendampingimu tanpa beban aib seperti yang kupikul sekarang."
Keheningan menyelimuti lorong itu selama beberapa saat. dion tidak marah, ia justru melangkah mendekat.
Perlahan, ia mengangkat tangannya dan membelai lembut pipi Luna.
Sebuah senyuman paksa terukir di wajahnya, meski binar matanya tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang luar biasa.
"Kamu tahu Luna? Aku sedang mengerjakan sebuah proyek besar dengan suamimu, Liam."
ucap Dion tenang, jemarinya masih mengusap pipi Luna.
"Rencananya, setelah proyek itu selesai, aku akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. begitu besar hingga aku bisa membiayai pernikahan paling megah yang pernah ada... untuk kita." Luna terkesiap, tangisnya nyaris pecah mendengar impian Dion yang kini hancur berkeping-keping karena dirinya.
"Awalnya aku ingin menggunakan uang itu untuk membahagiakanmu selamanya," lanjut Dion dengan suara parau.
"Tapi takdir justru sedang mempermainkan kita. sekarang uang itu tidak ada artinya lagi, karena kita tidak akan pernah bisa bersatu."
Luna hanya bisa tertunduk, membiarkan air matanya jatuh membasahi kemeja Liam yang ia kenakan. Ia tahu, mulai malam ini, impian indah mereka telah resmi menjadi sejarah.
Dion menatap Luna dengan sorot mata yang begitu dalam, seolah ingin merekam setiap inci wajah wanita itu untuk terakhir kalinya.
Perlahan, ia melepaskan belaiannya namun tetap berdiri cukup dekat untuk merasakan getaran kesedihan dari tubuh Luna.
"Aku mencintaimu Luna. sangat mencintaimu," bisik Dion dengan ketulusan yang menyayat hati.
"Dan karena aku mencintaimu, aku ingin kamu bebas. aku ingin kamu memilih jalan hidupmu sendiri. bukan karena paksaan, utang, atau tuntutan keluarga. jika tetap bersama Liam adalah keputusanmu, aku akan mundur. tapi jika kamu ingin lari, ingatlah aku selalu ada."
Luna tertegun, air matanya kini mengalir deras membasahi pipi. Ia tidak menyangka di tengah luka yang ia berikan, Dion masih memikirkan kebahagiaannya.
"Betapa baiknya kamu, Dion..." suara Luna parau karena tangis.
"Kamu pria yang luar biasa. siapa pun wanita yang memilikimu di masa depan, dia pasti akan menjadi wanita paling beruntung di dunia. kamu pantas mendapatkan cinta yang utuh, bukan sisa-sisa seperti yang aku miliki sekarang."
"Tapi aku bahkan tidak bisa memikirkan wanita lain."
Dion tersenyum tipis, lalu ekspresinya berubah menjadi lebih serius. ada satu hal yang mengganjal di hatinya sejak ia tahu Luna telah menjadi milik orang lain.
"Lalu... bagaimana dengan Reina?" tanya Dion pelan.
"Gadis kecil kita di panti asuhan itu? dia selalu menunggu kita bersama untuk menjemputnya. dia menganggap kita adalah dunianya."
Mendengar nama Reina, Luna terdiam sejenak. bayangan gadis kecil yatim piatu yang selama ini mereka sayangi bersama di panti asuhan melintas di benaknya.
Reina adalah ikatan emosional terkuat yang pernah mereka miliki.
Karena kejadian tragis orang tua Reina masih teringat jelas, penuh darah dan penuh luka pasca kecelakaan itu hanya menyisakan Reina sewaktu bayi, Ia dan Dion yang menyelamatkan nyawa gadis mungil itu.
"Aku akan mempertimbangkan masa depan Reina dengan sangat matang, Dion," jawab Luna dengan nada yang jauh lebih tenang.
"Aku akan bicara pada Tuan Liam atau mencari cara agar dia tetap mendapatkan kasih sayang yang layak, meski keadaan kita sudah tidak lagi sama." Kata Luna.
Dion menarik napas panjang, mencoba menelan pahitnya kenyataan yang menghimpit dada. Ia mundur selangkah, menciptakan jarak yang seharusnya sudah ada.
"Luna," panggilnya lembut, suaranya kini terdengar jauh lebih stabil meski matanya masih berkaca-kaca.
"Jika suatu saat dunia terasa terlalu berat untukmu, ingatlah satu hal. aku tidak akan pernah menyesal telah mencintaimu. jangan merasa berutang maaf padaku, karena melihatmu mencoba bertahan hidup saja sudah cukup bagiku."
Dion tersenyum untuk terakhir kalinya, sebuah senyum perpisahan yang jujur.
"Hiduplah untuk dirimu sendiri. bukan untuk membayar utang ayahmu, bukan untuk menggantikan posisi kakakmu dan bukan untuk menyenangkan Liam. temukan alasanmu sendiri untuk bangun di pagi hari. jika bukan untukku setidaknya lakukan itu untuk kebahagiaan mu."
Tanpa menunggu balasan, Dion berbalik. langkah kakinya terdengar mantap di lorong sunyi itu meninggalkan Luna yang mematung dengan hati yang hancur sekaligus merasa dikuatkan.
"Aku hanya ingin mengucapkan perpisahan Tuan Liam. terima kasih telah memberikan waktu." Ucap Dion pada Liam yang sedari tadi sudah mengintip mereka.
Liam melangkah maju, cahaya lampu kristal dari lorong berbeda dengan Luna. kini menyinari wajahnya yang keras.
"Aku mengizinkanmu bertemu untuk berbicara Dion. hanya berbicara,"
Liam berhenti tepat di depan Dion, aura kepemimpinannya menekan udara di sekitar mereka.
"Tapi kau malah menyentuh pipinya," suara Liam mendadak tajam.
"Kau melanggar batasanmu."
BUUGH!
Satu pukulan mentah mendarat telak di pipi kanan Dion.
Dion tersungkur ke samping, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan sedikit darah. Ia tidak membalas, hanya mengusap luka itu sambil menatap Liam yang kini sedang merapikan lengan kemejanya yang sedikit berantakan.
"Ini karena aku cemburu padamu," kata Liam tanpa ekspresi, namun ada penekanan yang dalam pada setiap katanya.
"Kau memiliki masa lalu dengannya yang tidak bisa aku beli dengan uang. tapi mulai detik ini, jangan pernah lancang lagi. dia milikku seutuhnya."
"Luna milik dirinya sendiri, bukan milikmu ataupun milik ku dan milik siapapun!" Tekan Dion.
Liam berbalik tanpa membalas ucapan Dion, meninggalkan mantan kekasih istrinya dengan rasa sakit di pipi dan hati yang semakin hancur.
"Kau salah! bahkan jika kau menganggap Luna adalah milik kehidupan, maka akulah kehidupan itu sendiri." Senyum smirk Liam benar-benar tidak ingin kalah pada siapapun.
"Tapi Tuan, selain Dion masih ada yang lain yang bisa merebut Nona." Kata Dimitri mengikuti jejak langkah Liam.
"Siapa?" Tanya Liam menghentikan langkahnya sambil menatap Dimitri, dia sungguh penasaran siapa lagi yang akan mengganggunya kali ini.
"Tuhan kita." Balas Dimitri.
"Kau menyumpahi istriku untuk segera mati!" Kata Liam dengan luapan emosi.
"Bukan begitu... tapi,"
"Gajimu bulan ini dipotong."
"Baik Tuan." Dimitri menyesal telah mengatakan sesuatu yang tidak penting, seharusnya dia diam saja.
Bersambung...