Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. MEMBERI ALASAN
" Aku tidak mengerti kak, tetapi bukankah itu untuk..." Hanna ragu, dia takut dengan jawaban yang akan Halil katakan.
" Dibutuhkan untuk kondisi tertentu Hanna, kamu tidak perlu takut, semuanya akan baik baik saja, percayalah". Pria itu mencoba meyakinkan Hanna , agar rasa takutnya berkurang.
Sebenarnya semenjak memeriksa Hanna di Mansion yang lalu, Halil sudah melihat beberapa gejala awal yang sering muncul pada pasiennya. Tetapi pria itu ingin meyakinkan sesuatu agar tidak salah dalam mendiagnosa.
" Baiklah habiskan makananmu dulu, sebentar lagi aku akan memanggilmu untuk tes terakhir". Halil beranjak, Pria itu sepertinya memang sangat sibuk.
" Ayo mbak semangat, tidak ada yang perlu ditakutkan". Sarah berusaha menghibur Hanna, wanita itu merasa ada yang tidak beres, setelah mendengar penjelasan dr. Halil.
" Oh iya mbak, apa mbak tidak menelepon suamimu, sepertinya kita akan pulang lebih sore?" Hanna menggeleng, dia tahu Murat tidak suka diganggu saat sedang bekerja.
" tidak usah, sepertinya dia sedang sibuk".
Sarah Heran, Dia saja sejak tadi dihubungi oleh suaminya, apa iya suaminya tidak menghubunginya, padahal wanita itu membawa putri mereka.
Ya sudah lah itu bukan urusan Sarah untuk mengetahui urusan rumah tangga orang lain.
Setelah melalui berbagai rangkaian tes, akhirnya Hanna dan Sarah bisa pulang. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang. sayangnya hasil tes tidak bisa keluar hari itu juga, dia harus menunggu lagi kurang lebih 2 minggu.
" Hanna aku harap kamu bersabar, hasil tes kesehatanmu akan keluar kurang lebih 2 minggu, aku pastikan akan mengabarimu langsung, ah iya kamu juga harus menjaga pola makanmu dari sekarang"
" Kenapa lama sekali, yah?" wanita itu pikir hasilnya akan keluar paling lama 3 hari ternyata lebih lama dari yang dia duga.
" Yah wajar saja lama mbak, namanya juga memeriksa seluruh tubuh". Hanna mengangguk, dia membenarkan ucapan sahabatnya.
" Mbak tidak mau mengabari suami mbak gituh, sepertinya kita akan sampai, ..hmmm mungkin sekitar jam 7 malam"
Hanna melihat jam tangannya, tadi siang dia sudah menghubungi ibu mertuanya kalau akan pulang terlambat. Tetapi untuk suaminya dia masih ragu menghubunginya. Karena pasti ibu mertuanya sudah mengabari putranya.
Hanna akhirnya mengeluarkan ponselnya. Matanya melotot tak percaya. 14 panggilan tidak terjawab dari suaminya.
" Kenapa mbak?"
Wanita itu menggeleng, dia menelan ludahnya. Hanna bingung antara harus menghubungi atau mengabaikan. Dia takut akan kemarahan suaminya.
" Apa suami mbak menelepon?". Hanna menggangguk, wajahnya tampak tegang.
" Yah telepon balik saja lah mbak" Sarah heran kenapa wajah Hanna begitu tegang.
Akhirnya ibu cantik itu menghubungi suaminya. Belum lama berdering, panggilannya sudah langsung diangkat, seolah Murat memang menunggu telepon darinya.
" Kenapa sejak tadi aku hubungi kau tidak mengangkatnya?" terdengar suara Murat yang begitu kesal.
" Maaf kak, ponselku dalam mode silence, a..ku akan sampai sekitar jam 7 malam"
" suruh temanmu mengantar sampai Mansion" tegasnya.
" Baiklah kak".
...****************...
Hanna tiba di Mansion sekitar pukul 18.36 malam lebih cepat dari perkiraan awal. Setelah memastikan kepergian Sarah, wanita itu lalu masuk kedalam Mansion.
" Apa ponselmu rusak" Tiba tiba saja Suara Murat mengejutkannya. Pria itu seperti menunggunya sejak tadi. Dia berdiri dengan melipat tangannya didada.
" Tidak kak, maaf aku tidak membuka ponselku sejak tadi". Hanna merasa menyesal sejak tadi dia sama sekali tidak membuka ponselnya.
"Kamu seorang Ibu bagaimana bisa kamu tidak ingat dengan Keanu? Dan bagaimana bisa menjenguk seseorang sampai malam begini?" Pria itu memberondong pertanyaan dengan penuh intimidasi.
" aku..aku sudah menghubungi mamah kak, aku juga sudah bilang akan pulang terlambat" Hanna menunduk seperti seorang murid yang sedang di hukum oleh gurunya.
" Lalu aku? Bagaimana denganku kenapa kau tidak menghubungiku?" Ada perasaan kecewa dihati pria itu, bagaimana bisa istrinya lebih memilih mengabari ibunya dibanding dirinya.
" Maaf kak aku hanya takut mengganggu pekerjaanmu".
DEG...
Hati Murat bagaikan diperas, dia teringat kata kata kata kasar dari mulutnya.
" Tante..." Suara panggilan Keanu, membuat suasana tegang tadi berubah cair. Bocah itu berlari mendekati ibu sambungnya, dia memeluk pinggang Hanna.
Murat berinisiatif mengambil baby Malika dari gendongan ibunya, lalu Hanna berjongkok untuk memeluk bocah tampan tadi.
" Tante lama sekali sih". Bocah itu melayangkan protesnya.
" Maaf yah sayang, Rumah Sakitnya jauh, jadi tante kelamaan pulangnya" Hanna membelai sayang rambut Keanu.
" Hey kalian sedang apa, Oh Hanna kau sudah kembali, ayo kemari, makan malam sebentar lagi siap". Akhirnya Murat mengalah, pria itu hanya diam untuk menetralisir emosinya.
Mereka pun mengikuti Azra keruang makan.
...****************...
Setelah makan malam, Murat tampak melamun di balkon kamar. Pria itu memutuskan untuk menginap dirumah ibunya karena dirasa tidak mungkin membawa pulang keluarganya malam malam begini.
suara pintu kamar dibuka dan ditutup, sama sekali tidak mengusik lamunan pria itu. Hanna datang membawa secangkir kopi dan sepiring cemilan yang sengaja dia buat untuk suaminya.
Suara benda diletakan diatas meja akhirnya mengusik lamunan pria itu. Murat menoleh tetapi dia mengacuhkannya pria itu kembali meluruskan pandangannya pada langit malam.
" Maaf kak, aku bukan bermaksud tidak menghubungimu, aku hanya tidak mau pekerjaan mu terganggu, itu saja...ehmm aku membuatkanmu makanan ringan, aku lihat tadi makanmu sedikit ".
Kalau dulu mungkin pria itu akan sangat marah pada istrinya. Tetapi sekarang karena memiliki rasa yang berbeda pria itu hanya mengangguk. Tanpa mengeluarkan kata kata pedas seperti biasanya.
Ditambah istrinya sangat perhatian, bagaimana mungkin Murat tidak luluh, meskipun masih menjunjung tinggi gengsinya pria itu tidak bisa marah terlalu lama pada istrinya.
Setelah Hanna masuk kedalam kamar. Murat pun duduk dan mulai memakan cemilan kecil yang dibuatkan oleh istrinya sampai tandas.
Murat masuk kedalam kamar karena udara malam yang semakin dingin, dia menutup pintu balkon.
Sepertinya Hanna sudah terlelap, wanita itu tampak kelelahan entah kemana saja dia tadi dengan temannya.
Pria itu berjongkok dihadapan Hanna yang sedang tertidur, karena memang posisi Hanna yang berada di pinggir.
Tangannya membelai rambut bergelombang Hanna. Dia membelai sayang pipi itu. " Maaf, aku selalu membuatmu takut" suaranya berbisik takut membangunkan istrinya. lalu dia mencium pipi istrinya dengan sayang.