"Tuan Putri, maaf.. saya hanya memberikan pesan terakhir dari Putra Mahkota untuk anda"
Pria di depan Camilla memberikan sebilah belati dengan lambang kerajaan yang ujungnya terlihat begitu tajam.
.
"Apa katanya?" Tanya Camilla yang tangannya sudah bebas dari ikatan yang beberapa hari belakangan ini telah membelenggunya.
"Putra Mahkota Arthur berpesan, 'biarkan dia memilih, meminum racun di depan banyak orang, atau meninggal sendiri di dalam sel' "
.
Camilla tertawa sedih sebelum mengambil belati itu, kemudian dia berkata, "jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan membiarkan Arthur mati di tangan Annette!"
Pria di depannya bingung dengan maksud perkataan Camilla.
"Tunggu! Apa maksud anda?"
.
Camilla tidak peduli, detik itu juga dia menusuk begitu dalam pada bagian dada sebelah kiri tepat dimana jantungnya berada, pada helaan nafas terakhirnya, dia ingat bagaimana keluarga Annette berencana untuk membunuh Arthur.
"Ya.. lain kali aku akan membiarkannya.."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Bab 33
Malam semakin larut, namun semangat rakyat tak kunjung surut. Alun-alun dipenuhi cahaya lampu minyak dan lentera warna-warni yang digantung di sepanjang jalan. Orkestra rakyat memainkan musik riang, mengiringi tarian pemuda dan pemudi desa yang berputar dengan pakaian sederhana namun penuh warna.
Camilla berdiri di panggung utama bersama Seraphina dan Annette. Senyumnya tetap lembut, meski ia lelah setelah seharian berkeliling. Ia tidak menampakkan kelemahan; ia tahu semua mata menatapnya, menilai setiap gerak-geriknya.
“Yang Mulia Putri Mahkota,” seorang anak laki-laki mendekat dengan malu-malu, membawa nampan kecil berisi kue sederhana. “Ini.. ibuku membuatnya. Katanya, Anda harus mencicipinya agar kuat.”
Camilla berlutut dan menerima kue itu dengan kedua tangan. “Terima kasih. Aku akan memakannya, dan aku yakin kekuatanku akan bertambah karenanya.” Ia menggigit sepotong kecil, lalu tersenyum puas. “Enak sekali.”
Sorak-sorai rakyat kembali menggema. Suasana menjadi hangat, seolah mereka bukan lagi melihat seorang Putri Mahkota, melainkan seorang wanita muda yang benar-benar peduli pada mereka.
Seraphina menatap Camilla dengan penuh kekaguman. Ia tidak bisa menahan diri untuk berbisik, “Yang Mulia.. rakyat mencintai Anda. Aku bisa merasakannya.”
Camilla hanya menoleh sebentar, memberikan senyum kecil. “Aku hanya mendengarkan mereka, Seraphina. Sesederhana itu.”
Annette berdiri sedikit di belakang, tangannya terlipat di depan tubuh. Senyum manis masih menempel di wajahnya, tapi matanya tajam. Ia selalu berhasil… bahkan tanpa usaha keras. Kenapa semua orang selalu memujinya?
Ketika musik berhenti untuk jeda, seorang tetua desa maju ke depan, membawa tongkat kayu tua sebagai penopang. Dengan suara berat namun jelas, ia menyapa Camilla.
“Yang Mulia Putri Mahkota, atas nama seluruh rakyat di sini, izinkan kami mengucapkan terima kasih. Kehadiran Anda bukan hanya memberi kami kegembiraan, tetapi juga harapan.”
Camilla menundukkan kepala hormat. “Aku yang berterima kasih. Tanpa kalian, istana hanyalah bangunan kosong. Rakyatlah yang menjadikan kerajaan ini hidup.”
Kata-katanya disambut tepuk tangan riuh, hingga beberapa rakyat bersorak: “Hidup Putri Mahkota! Hidup Camilla!”
Di panggung, Annette mengeratkan genggamannya pada kipas sutra di tangan. Ia tahu, semakin lama festival berlangsung, semakin kuat posisi Camilla di hati rakyat. Dan itu membuatnya merasa tertinggal jauh.
Dari balkon istana yang menghadap ke alun-alun, Ibu Suri dan Permaisuri menyaksikan segalanya. Angin malam membawa aroma manisan madu, bercampur dengan sorak-sorai yang bergema di kejauhan.
Permaisuri tersenyum tipis. “Lihatlah mereka, Bu Suri. Rakyat bersorak, seolah-olah Camilla adalah cahaya yang mereka tunggu.”
Ibu Suri, yang duduk tegak dengan tangan terlipat, tidak langsung menjawab. Matanya menyoroti Camilla yang berdiri anggun di panggung, lalu melirik Annette dan Seraphina.
“Aku sudah memperhatikan mereka bertiga,” katanya akhirnya. “Camilla, Annette, dan Seraphina. Tiga gadis dengan jalan berbeda, tapi semuanya ingin mendapat tempat di hati kerajaan.”
“Dan tampaknya Camilla yang paling menonjol,” ujar Permaisuri lirih.
Ibu Suri mengangguk lambat. “Camilla.. ia memiliki sesuatu yang sulit diajarkan. Rakyat melihatnya bukan sebagai sosok yang jauh, melainkan sebagai seseorang yang ada di sisi mereka. Itu berbahaya sekaligus berharga. Jika ia menjaga ini dengan bijak, ia akan menjadi kekuatan besar bagi Putra Mahkota.”
Permaisuri menoleh pada Annette yang tampak manis tapi kaku di panggung. “Bagaimana dengan Annette?”
“Anak itu cerdas. Tapi terlalu banyak api iri dalam hatinya. Jika ia tidak mampu mengendalikan rasa itu, api itu akan membakar dirinya sendiri.”
“Dan Seraphina?”
“Ia lugu, tapi tulus. Hatinya bersih, dan itu bisa jadi kekuatan yang tidak kalah penting. Namun, ia belum siap untuk panggung besar. Ia akan bersinar jika berada di sisi yang tepat.”
Permaisuri menghela napas. “Tiga bunga dengan warna berbeda.. tapi hanya satu yang tampaknya benar-benar dipandang rakyat.”
“Benar,” jawab Ibu Suri, matanya masih tertuju pada Camilla. “Dan itu membuatku penasaran… apakah Putra Mahkota akan menyadari betapa berharganya Camilla ketika ia kembali dari perang?”
Festival akhirnya mencapai puncaknya. Langit malam dipenuhi kembang api sederhana buatan rakyat, menyinari wajah-wajah penuh tawa dan harapan.
Camilla berdiri tegak, memandang ke atas, lalu ke arah kerumunan yang bersorak di depannya. Di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Sejak menjadi Putri Mahkota, ia sering merasa terkurung di antara aturan, tatapan, dan intrik. Namun malam ini, di tengah rakyat, ia merasa bebas.
Inilah rumah yang sebenarnya, bukan tembok dingin istana, tapi hati rakyat yang percaya padaku.
Seraphina menatap kembang api dengan mata berbinar, lalu memegang lengan Camilla. “Malam ini akan kuingat selamanya, Yang Mulia.”
Camilla tersenyum lembut. “Aku juga, Seraphina.”
Annette ikut mendongak, wajahnya diterangi cahaya merah dan emas dari kembang api. Senyum tipis tetap menghiasi bibirnya, tapi pikirannya bergejolak. Jika Camilla terus bersinar seperti ini, aku akan lenyap dalam bayangannya. Tidak… aku harus menemukan caraku sendiri. Suatu hari nanti, sorakan itu akan memanggil namaku, bukan namanya.
Ketika festival berakhir, rakyat perlahan kembali ke rumah masing-masing. Namun semangat dan cerita tentang malam itu akan terus menyebar. Dari desa ke desa, dari pasar ke pasar.
Nama Camilla akan menjadi bahan perbincangan sebagai Putri Mahkota yang mendengar, yang peduli, yang menerima boneka kain dari anak kecil, dan yang berjanji memperjuangkan rakyatnya.
Di balkon, Ibu Suri berdiri tegak, lalu berbisik seolah pada dirinya sendiri.
“Camilla… kau bukan hanya sekadar bayangan Putra Mahkota. Kau mulai menulis takdirmu sendiri.”
Permaisuri menoleh, menatap wajah tua itu dengan heran. “Apakah itu pertanda baik atau buruk, Bu Suri?”
Ibu Suri tidak menjawab. Hanya matanya yang memandang jauh, seolah menembus kegelapan malam, mencari jawaban yang belum ada.