Handi harus meregang nyawa akibat kecelakaan, meninggalkan Lisa dan kedua anak mereka.
Haris yang hidupnya diselamatkan Handi dan menyaksikan kematian Handi secara tragis mengalami trauma dan hampir gila. Dia menutup diri selama 1 tahun sejak kepergian sahabatnya.
Dini dan Bu Nani sudah kehilangan akal untuk memaksa Haris mendapatkan perawatan. Hingga akhirnya, Dokter Van Heerdt memberikan ide kepada Dini untuk mendekatkan Lisa dan anak-anaknya kepada Haris.
Di sela-sela usaha Lisa membantu Haris mendapatkan pengobatan atas traumanya, Arga hadir dengan menjanjikan cinta tulus kepada Lisa dan anak-anaknya. Saat itulah Haris menyadari bahwa dia jatuh hati kepada Lisa.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Akankah usaha Lisa membantu Haris berhasil?
Apakah Haris tega mengkhianati Dini dan beralih hati kepada Lisa?
Baca sampai tamat ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FOTO
Suara pintu terdengar saat Lisa berada di ruang tengah sedang menjahit sesuatu. Lisa otomatis menghentikan kegiatannya dan bertanya-tanya siapa yang datang. Dia berjalan mendekat ke arah pintu. Sebelum dia sempat menjangkau dapur untuk mengambil penggorengan, Haris sudah masuk dengan tas besar di tangan kanannya.
" Haris?" Lisa terbelalak kaget. Dia sudah takut yang datang tadi penipu atau perampok, walaupun kemungkinannya kecil. " Kok kamu sudah pulang?"
" Aku merindukanmu," jawab Haris dengan senyum jahil. Kentara sekali dia hanya bercanda mengatakannya.
Lisa tersenyum mencibir. Dia mengalihkan pandangannya ke tas besar di tangan Haris. " Apa yang kamu bawa?"
" Ah, aku habis mampir ke supermarket dan berbelanja." Haris membawanya ke dapur. Dia meletakkan barang bawaannya di atas meja dapur.
Lagi-lagi Lisa terbelalak. " Kamu? Berbelanja?," tanya Lisa tidak percaya. Dia mendekat ke meja dapur tempat Haris sedang mengeluarkan semua barang belanjaannya. Ada lima kaleng sarden besar, lima kaleng besar kornet, tiga pack sosis merah, dua kilogram daging cincang, cumi-cumi, ikan laut, sayur-sayuran segar, cabai merah, cabai rawit dan masih banyak lagi. Mata Lisa mengikuti setiap gerakan tangan Haris yang sedang mengeluarkan barang belanjaan. Mulut Lisa menganga lebar.
" Ternyata ada lagi laki-laki doyan belanja selain Handi," kata Lisa, memandang Haris dengan tak percaya.
Haris nyengir kuda. Dia tampak menyebalkan. Lisa membalas dengan senyum kecut. Handi memang pintar sekali belanja melebihi Lisa. Kemampuannya dalam menawar barang luar biasa, mengalahkan emak-emak. Sebagai informasi, kamu harus siap capek bila Handi mengajak belanja, sebab dia sangat pemilih. Lisa sampai pegal menungguinya memilih barang, padahal itu hanya memilih kopi. Rupanya Haris juga begitu. Melihat banyaknya barang belanjaan yang dia bawa, Haris pasti tipe orang yang sama dengan Handi.
" Aku dan Handi kan punya selera dan kebiasaan yang sama. Tak ada bedanya antara aku dan dia," jawab Haris enteng.
" Untunglah, kalau begitu aku ngga akan mau belanja bersamamu. Kakiku bisa copot seperti waktu dulu menemani Handi belanja," keluh Lisa.
Haris tertawa bahagia. Lisa sedang memilah barang belanjaan ketika Haris memeluknya dari belakang dan menciumi lehernya. Haris mengecup bawah telinga Lisa, membuat Lisa kegelian. Dia lalu membenamkan hidungnya di bahu Lisa.
" Aku merindukanmu. Aku benar-benar merindukanmu," kata Haris.
Lisa tidak menjawabnya.
" Aku bermimpi bertemu Handi lagi. Sosoknya Lebih mengerikan dari sebelumnya. Tapi sekarang ada yang berbeda," cerita Haris.
" Apa yang berbeda?," tanya Lisa.
" Sekarang ada Hana yang membantuku. Dia datang menggandeng tanganku, mengajakku pergi meninggalkan Handi yang menakutkan."
" Sejak kapan mimpimu jadi seperti itu?," tanya Lisa.
" Sejak aku dirawat di Rumah Sakit," jawab Haris.
Lisa diam sejenak. Dia tampak berpikir keras. Pasti ada pertanda di balik mimpi Haris tersebut. Kenapa Hana? Apakah ini pengaruh karena Haris sudah bertemu Hana dan Hamza waktu itu?
Lisa membelai rambut Haris. " Semoga mimpi itu menjadi pertanda baik untukmu. Apa kamu masih ketakutan akan mimpimu?"
Lisa merasakan hidung Haris menggesek bahunya, artinya Haris sedang menggeleng.
" Bagaimana reaksi tubuhmu melihat foto Hana dan Hamza? Apakah dia muncul bila kamu melihat foto anak-anak?"
Haris kembali menggeleng. " Aku hanya menangis."
" Kenapa?"
" Melihat foto anak-anak, aku jadi mengingat semua hal tentang Handi, apalagi ketika melihat Hana. Dadaku rasanya sesak, kepalaku sakit."
" Baiklah. Kita lakukan pelan-pelan," kata Lisa sambil mengelus rambut Haris dengan lembut. Haris merasa terbuai dibuatnya. " Ayo lepaskan tanganmu dulu! Aku akan menata semua bahan makanan ini."
" Biarkan aku seperti ini dulu! Sudah semalaman aku ngga memelukmu," ucap Haris. Dia malah mengeratkan dekapan tangannya ke tubuh Lisa.
****
Lisa masih belum selesai menata semua hasil perburuan Haris di supermarket. Haris sedang duduk menonton televisi di ruang tengah. Kebetulan anak-anak Lisa sedang tidur siang. Jadi ruang tengah akan kosong sampai sore nanti. Haris menemukan kain yang sedang dijahit Lisa. Dia mengambilnya dan memperhatikannya. Kain itu sangat lembut, kemungkinan kain katun, berwarna hitam dengan motif buah cherry. Kain itu lebar dan besar. Dilihat dari bentuknya, Lisa sedang menjahit sebuah seprai secara manual alias dijahit tangan.
" Tadi kamu bilang minta dimasakkan apa?," teriak Lisa dari balik meja dapur.
Haris diam saja. Dia sedang membolak balikkan kain yang dijahit Lisa. Dia tidak mendengar Lisa yang bertanya. Lisa menghampirinya, lalu duduk di sebelah Haris.
" Hei, tadi kamu minta dimasakkan apa?," tanya Lisa sambil mencolek bahu Haris.
" Oh,...," Haris baru saja menyadari kehadiran Lisa di sampingnya. " Aku minta ikan sarden bumbu rujak yang waktu itu pernah kamu masakkan. Lisa, kamu sedang menjahit seprai ya?"
" Iya," jawab Lisa.
" Ini kamu buat untuk siapa?," tanya Haris.
" Tentu saja untuk tempat tidurku."
" Buatkan untukku juga ya," kata Haris.
" Baiklah," jawab Lisa. " Sekarang aku buatkan dulu makanan yang kamu minta." Kemudian, Lisa kembali bekerja ke dapur.
" Apa sih yang ngga bisa kamu lakukan, Sa?," teriak Haris. Tangannya masih membolak-balikkan seprai yang sedang dijahit Lisa.
" Menjahit itu kemampuan dasar perempuan. Apanya yang susah?," teriak Lisa dari dapur.
" Dini ngga bisa menjahit," gumam Haris tanpa bisa didengar Lisa.
Lisa sedang mulai memasak, sementara Haris membereskan semua pekerjaan menjahit Lisa dan memasukkannya ke dalam kotak. Haris meletakkan kotaknya di atas meja di depan televisi.
" Biasanya anak-anak bangun jam berapa?," tanya Haris.
" Jam tiga sore," jawab Lisa.
Haris memandang jam dinding. Masih ada waktu satu jam lagi sampai anak-anak bangun dari tidur siang mereka. Mendadak Haris berjalan ke arah kamar Lisa. Dia hendak mencoba melihat anak-anak. Dia tidak akan mendekat. Hanya melihat dari pintu saja, supaya dia bisa segera menutupnya lagi ketika si monster Handi ada di sana. Haris sudah sampai di depan pintu kamar Lisa. Dia sudah menjangkau pintu. Dia memegang gagang pintu dengan hati berdebar. Dia berusaha menstabilkan pernapasannya. Dia menghirup oksigen banyak-banyak sebelum akhirnya dia membuka pintu pelan-pelan sedikit demi sedikit.
Haris menyembulkan kepalanya ke dalam. Dekorasi kamar itu masih tidak berubah dari penataan awalnya. Hanya sebuah bingkau foto kecil di atas nakas yang membuatnya berbeda. Hamza tidur di sebelah kanan, sedangkan Hana tidur di sebelah kiri. Mereka memakai selimut sampai ke pinggang saja dan wajah mereka terlihat sangat damai ketika tidur.
Nah itu dia! Ada si monster Handi di sebelah Hana. Berpenampilan sangat mengerikan seperti biasa. Tak mau berlama-lama melihat si monster, Haris segera menutup pintu kamar, bersamaan dengan Lisa yang menangkap pinggangnya, membuatnya berteriak keras karena terkejut. Tangan Haris menampar-nampar tangan Lisa.
" Aduh...duh..duh...," Lisa terteriak kesakitan.
" Oh maaf...maaf....," seru Haris. Dia meraih tangan Lisa yang dia pukuli tadi, lalu mengusapnya. " Aku kaget sekali tadi."
" Apa yang kamu lakukan? Buat apa kamu masuk ke kamar? Anak-anak kan di dalam," tanya Lisa. Dahinya berkerut. Wajahnya tampak khawatir.
Haris menggaruk kepalanya. " Aku tahu. Aku memang sengaja. Aku mau mencoba melihat anak-anak."
" Lalu?," potong Lisa.
" Ya, langsung ku tutup lagi pintunya. Ada dia di sana," jawab Haris.
" Haris, kita akan melakukan semuanya pelan-pelan. Jangan paksakan dirimu!," ujar Lisa dengan nada marah.
" Kenapa kamu marah?," tanya Haris.
" Karena kamu bandel. Tubuhmu belum siap, tapi kamu mau coba-coba seenaknya seperti itu. Iya, kalau cuma pingsan, kalau kejang-kejang lagi seperti kemarin, gimana? Pingsan saja sudah buat aku repot, apalagi kalau sampe kejang-kejang. Itu sangat berbahaya! Kamu bisa membahayakan dirimu sendiri," kata Lisa.
" Iya...iya...baiklah! Aku ngga akan mengulanginya lagi!," kata Haris.
" Memang sebaiknya ngga boleh kamu lakukan lagi. Kamu akan bertemu dengan anak-anak ketika kamu sudah siap. Tolong turuti kata-kataku! Entah apa yang aku katakan kepada Dini dan ibuku kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu! Aku ngga bisa memaafkan diriku sendiri kalau kamu kenapa-kenapa?" Mata Lisa berkaca-kaca.
Haris memeluk Lisa. " Lisa, jangan marah lagi! Aku ngga akan melakukannya lagi. Aku akan menurutimu. Oke?"
Lisa memeluk punggung Haris. " Jangan diulangi lagi! Janji?"
" Iya, aku janji," sahut Haris. Dia melepas pelukannya. " Apakah masakannya sudah matang?"
" Sebentar lagi. Aku langsung berlari kemari saat melihatmu mau masuk ke dalam kamar."
" Ah....ya ampun, ayo selesaikan, lalu kita makan. Aku sudah sangat lapar," ucap Haris mencoba mengalihkan pembicaraan.
****
" Aku sudah memberikan pengertian kepada anak-anak tentang kondisimu," kata Lisa.
Haris otomatis menoleh kepada Lisa. Dia bahkan lupa bila dirinya sedang mengunyah. " Bagaimana kamu menceritakannya kepada anak-anak? Bagaimana mereka bisa paham?"
" Aku bilang bahwa kamu mengalami trauma karena melihat kejadian kecelakaan yang dialami ayah mereka. Aku bilang bahwa kamu sering membayangkan bertemu ayah mereka dengan kondisi yang menakutkan. Kamu tahu apa kata Hamza?"
" Apa?"
" Katanya kamu melihat ayahnya jadi zombi."
Haris benar-benar tersedak. Dia batuk-batuk terus sampai Lisa buru-buru mengambilkan segelas air padanya. Haris meraih gelas itu dari tangan Lisa dan meminumnya.
Haris sekarang tertawa. " Hahahaha....Zombi? Pemahamannya memang luar biasa. Begitulah tampilan ayahnya yang mendatangiku."
" Hehehe.... Aku dan Hana sampai tertawa gara-gara Hamza mengatakan hal-hal lucu. Tapi, Hana memahami situasi yang kamu hadapi."
" Hana memang bisa berpikiran dewasa," puji Haris.
" Yah....," tambah Lisa," Untunglah dia bisa memahami kata-kataku. Dia paham bahwa kondisimu ini adalah penyakit."
" Oh ya?"
" Ya. Sebelumnya aku selalu bilang bahwa kamu capek bekerja, kamu pusing karena banyak pekerjaan. Melihatmu kejang-kejang tempo hari, dia merasa bahwa kamu bukan sekedar sakit kepala biasa."
Haris mengangguk-angguk. " Hana persis sekali dengan Handi. Instingnya sangat tajam."
" Iya, kamu betul," kata Lisa.
" Aku menangis waktu aku memandangi foto Hana. Aku seperti kembali ke ingatan masa kecilku bersama Handi karena melihat wajahnya yang mirip sekali dengan Handi. Sifat dasar Hana dan Handi sama. Aku ngga pernah mengalami kesulitan menghadapinya. Tapi saat ini aku bahkan ngga bisa melihat wajahnya dari dekat. Aku sungguh kesal."
" Suatu saat nanti kamu akan bisa memandangi Hana sampai puas. Kita harus sabar dulu sampai saat itu tiba."
" Ya, kamu betul." Haris mengakhiri makan siangnya dan dia minum air putih banyak-banyak.
" Tolong kirimi foto anak-anakmu dan fotomu kepadaku! Kalau bisa semua foto mereka dari mereka kecil sampai dengan sekarang. Aku mau membiasakan diri melihat foto mereka," pinta Haris.
" Memangnya harus sebanyak itu?," tanya Lisa.
" Yahhh....Mereka anak-anak Handi kan? Anak-anak Handi adalah anakku juga. Tidak mungkin seorang ayah ngga bisa melihat wajah anaknya sendiri."
Lisa melongo.
Haris tersenyum kecil. " Aku akan berusaha. Tolong ya!"
" Iya," jawab Lisa singkat.
" Sudah jam tiga lebih. Sudah saatnya anak-anak bangun. Biarkan mereka keluar kamar dan bermain. Aku akan ada di kamarku sampai nanti malam," kata Haris. Dia bangkit dan berjalan ke kamarnya.
" Haris...," panggil Lisa.
Haris berhenti dan menoleh ke arah Lisa yang masih duduk di sofa. " Hmm?"
Lisa tersenyum tulus. " Terimakasih."
Haris membalasnya tersenyum, lalu dia berjalan lagi masuk ke kamarnya.
/Angry//Angry/
kadang kondisi kesehatan ga memungkinkan buat up tiap hari 😄
terimakasih sudah setia membaca 🥰