Proses Revisi.
Sebelum membaca jangan lupa di Favoritin ❤️ dulu ya Kakak.
"Mas. Sebenarnya cinta kamu itu sebanyak apa sih sama aku, sampai sekarang aku belum percaya punya suami sebaik kamu." Puji Kanaya menatap dalam manik mata Rangga penuh gemas.
"Yang jelas selama kamu bernafas, maka selama itu aku candu padamu sayang. Bahkan ketika alam semesta merebut mu paksa, aku akan tetap hanya candu pada satu nama yaitu Kanaya Herazille, kamu adalah Canduku, cinta mati ku, apapun akan ku lakukan demi kebahagian mu sayang. Aku sangat beruntung, sekalinya aku jatuh cinta, cintaku jatuh di orang yang tepat seperti kamu......" ucap Rasa penuh cinta memandangi wajah istrinya.
.
.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Selalu ikuti dan dukung cerita Kamu adalah Canduku ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hertati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-33
Rangga mendekati Kanaya yang sudah terbaring disalah satu kamar di apartemen Rangga, lengkap dengan alat-alat medis yang terpasang ditubuhnya.
Rangga duduk ditepi kasur Kanaya dan menggengam erat tangan Kanaya. Menatap wajah yang memucat, terlihat dari raut wajah Kanaya seperti menahan rasa sakit. Iya, Rangga tahu cobaan yang didapatkan Kanaya itu memang sangat tragis dan menyedihkan. Dalam sehari dia mendapatkan luka-luka yang menyiksa tubuhnya habis-habisan. Kanaya bisa bertahan sampai saat ini sungguh memang membuat orang takjub.
Vino yang selama ini tak pernah ketinggalan berita tentang bosnya, menatap bingung, melihat apa yang dilakukannya, sedangkan Rania yang berada disamping Vino menatap sendu melihat sepasang kekasih yang menurutnya itu. Tak tahan ingin meneteskan air mata karena terharu, ia pun mencari sosok yang dia rindukan yang tidak ada dikamar Kanaya. Lalu dia bertanya pada Vino yang disebelahnya.
“Dimana Rian” ucapnya
Vino yang juga baru datang bersama mereka sebenarnya juga tidak tahu dimana, namun dia menjawab seenaknya,
“Mungkin sedang istirahat dikamar sebelah,” jawab Vino santai tetapi masih memandangi bosnya yang selalu menggengam tangan Kanaya lalu mencium punggung tangannya berulang kali.
Rania mendapati dr.Rian yang sedang tertidur dikamar sebelah Kanaya. Memang laki-laki itu kurang tidur selama dirumah sakit. Paling lama dia hanya tertidur 3 jam sehari, takut-takut terjadi kembali hal buruk pada adik barunya itu. Raut wajah lelah jelas terlihat diwajahnya. Rania begitu kasihan pada kekasihnya itu. Dielusnya wajah tampan kekasihnya itu, Rania begitu rindu padanya.
Merasa ada yang menyentuh, dr.Rian terbangun dari tidurnya.
“Eh, sayang” ucapnya sambil tersenyum setengah sadar, namun langsung tersadar total mengingat sepengetahuannya kekasihnya itu sedang di Negara B.
“Kamu kok bisa disini.” Tanya dr.Rian heran dan duduk diranjang, bersebelahan dengan Rania yang sudah duduk diranjangnya.
“Ini kan apartemen kakak aku, yah suka-suka dong” ucap Rania usil.
“Iya aku tahu, yang aku maksud sayang kenapa bisa disini tiba-tiba, tanpa kasih tahu aku dulu” ucap Rian menggengam tangan kekasihnya itu, dan bermain dengan jemari tangannya.
“Ya, aku mau kasih surprise. Kenapa? Sayang gak suka?” tanya Rania dengan cemberut.
“Siapa bilang aku gak suka, suka kok, terus kesini sama siapa?”
“Sama kak Rangga, sayang mau aku kenalin?”
“Em, boleh, kakak kamu dimana sekarang?”
“Tuh, dikamar Kanaya. Ayo” ajak Rania menarik tangan kekasihnya. Merekapun keluar dari kamar dan melangkah menuju kamar Kanaya.
dr.Rian dan Rania masuk, dan mendekati Rangga yang masih duduk disamping Kanaya.
“Kak, kenalin ini Rian pacarku,” ucap Rania dengan menggandeng lengan dr.Rian dengan manja. Rangga menoleh dan menatap pria yang disebelah Rania.
“Halo dokter,” ucap Rangga yang sudah tahu sebelumnya.
dr.Rian yang mengetahui Rangga yang pernah bertemu dengannya sewaktu membawa Kanaya dan Kaisar kerumah sakit Adi Cipta, sempat terkejut, karena mengetahui Rangga ternyata kakak kekasihnya.
“Loh, jadi anda itu adalah kakaknya Rania?” tanya dr.Rian sopan
“Iya, benar” jawab Rangga, menukar pandangannya pada Kanaya kembali.
Rania heran melihat kedua laki-laki itu sudah saling mengenal.
“Sayang apa kalian sudah saling mengenal” bisik Rania pada dr.Rian
“Iya, kakak kamu yang sebelumnya membawa Kanaya kerumah sakit setelah mendapati kecelakaan mobil itu.” jelas dr.Rian
“Ternyata dunia ini begitu sempit yah.” gumam Rania.
dr.Rian mengamati pemandangan yang ada didepannya. Ia bisa melihat dari sorot mata Rangga terpancar cinta pada adik barunya, “Ada hubungan apa Kanaya dengan Rangga,” batin dr.Rian
“Dokter bisakah kita bicara berdua saja” ucap Rangga memecahkan keheningan itu sambil menatap dr.Rian
“Bisa” jawab dr.Rian mengangguk mantap,dia juga memiliki hal penting yang ingin ditanyakan pada Rangga. Vino, Rania dan kedua perawat yang berjaga didalam kamar Kanaya langsung melangkah pergi mendengar permintaan Rangga. Kini tinggallah mereka berdua didalam ruangan itu.
dr.Rian menarik kursi untuk bisa duduk lebih dekat dengan Rangga yang sedang duduk disebelah Kanaya.
“Apa yang ingin anda tanyakan”ucap dr.Rian memulai pembicaraan
“Ah, tolong jangan terlalu formal, sepertinya kita seumuran, dan kamu juga berpacaran dengan adik ku, panggil saja aku Rangga.” ucap Rangga
“Baiklah, kamu juga bisa panggil aku Rian saja.” Jawab Rian tak mau kalah.
“Iya Rian. Bisakah kamu ceritakan bagaimana bisa Kanaya bersamamu, sedangkan kami sibuk mencarinya dirumah sakit Adi Cipta.” Tanya Rangga mengkorek-korek informasi, walau sebenarnya dia sudah tahu dari Rania namun dia merasa belum puas kalau bukan Rian yang berbicara.
Rian menceritakan semuanya dari awal pertemuannya dengan Kanaya, ternyata hampir sama dengan yang dikatakan Rania.
“Kamu tahu Ga, sebelum dia tak sadarkan diri dia mengucapkan kalimat terakhir yang buat aku sangat kasihan padanya” ucap Rian kembali membayangkan kalimat terakhir Kanaya yang begitu jelas ditelinganya.
“Apa yang dikatakannya”
“Adikku ini mengata,,,” ucapan Rian terputus karena dipotong Rangga
“Apa adik? Sejak kapan dia menjadi adik mu?” protes Rangga
“Sejak hari dimana aku menemukannya, aku mengangkatnya menjadi adikku, kau tahu sewaktu aku mengatakan dia menjadi adikku, layar EKGnya itu (sambil menunjuk monitor yang disebelah atas kepala Kanaya) naik drastis, itu artinya dia merespon dengan detak jantungnya.” Jawab Rian sangat antusias.
“Ah baiklah, sekarang lanjutkan yang tadi” ucap Rangga sudah tak sabar. Dia begitu tak memperdulikan Rian yang mengangkat Kanaya sebagai adiknya, selama itu masih baik bagi Kanaya dia tak keberatan.
“Dia mengatakan, tolong jangan selamatkan aku, biarkan aku mati, karena kalau aku hidup, sepupuku akan membunuhku kembali, itu yang dikatakannya” tutur Rian geram. Wajah Rian memerah menahan emosi, dia yang sudah terlajur sayang pada adik barunya itu begitu ingin membalas orang yang sudah menyakitinya. “Kau tahu Rangga, aku akan berusaha membalas setiap perlakuan yang tidak adil yang diterima Kanaya, terutama pada sepupunya itu.” tandas Rian, wajah keluarga William yang muncul dibenaknya, karena sepengetahuannya sepupu Kanaya adalah Kaisar.
Rangga terkejut mendengar ucapan Rian. “Apa sebegitu frustasinya Kanaya sampai dia ingin mati karena ketakutan” pikir Rangga emosi. Mereka diam sibuk dengan pikiran masing-masing yang sekarang sedang emosi.
Tiba-tiba layar EKG menunjukkan detak jantung Kanaya yang melemah, tit, tit, tit, tit
Rangga dan Rian saling tatap, mereka panik, terlebih lagi Rangga yang buta dengan alat-alat medis.
“Dia kenapa” ucap Rangga gusar memegangi tubuh Kanaya.
“Tekanan darahnya rendah” jawab Rian, lalu berteriak memanggil para perawat, mendengar suara teriakan, semua orang yang diluar berlari masuk.
“Cepat hubungi dr.James” perintah Rian dengan suara yang kuat.
Perawat itu segera menghubungi dr.James, namun nomornya diluar jangkauan.
“Arghhhhhh” teriak Rian meremas rambutnya, kemudian dia mendekati tubuh Kanaya, dan meneriaki para perawat itu “Cepat ambilkan defibrillator” para perawat segera melaksanakannya.
"Kau mau apa." bentak Rangga karena paniknya menepis tangan Rian yang mendekati bagian dada Kanaya.
“Diamlah. Aku ini dokter aku tahu apa yang harus aku lakukan.” Bentak Rian yang tak kalah panik.
Rangga tidak terima dibentak, hingga dia memberontak pada Rian. Rian begitu terganggu dengan suara Rangga. Dia memerintahkan Rania dan Vino untuk membawanya keluar dari ruangan itu.
jangan lupa untuk kunjungi karyaku juga ya : When I Meet You
terima kasih😊
jangan lupa untuk kunjungi karyaku juga ya : When I Meet You
terima kasih😊