pengalaman pahit serta terburuk nya saat orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya bahkan membawa beserta buah hati mereka.
kecelakaan yang menimpa keluarganya menyebabkan seorang Stella menjadi janda muda yang cantik yang di incar banyak pria.
kehidupan nya berubah ketika tak sengaja bertemu dengan Aiden, pria kecil yang mengingatkan dirinya dengan mendiang putranya.
siapa sangka Aiden adalah anak dari seorang miliarder ternama bernama Sandyaga Van Houten. seorang duda yang memiliki wajah bak dewa yunani, digandrungi banyak wanita.
>>ini karya pertama ku, ada juga di wattpad dengan akun yang sama "saskavirby"
Selamat membaca, jangan lupa vote and coment ✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saskavirby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 33
Terlihat seorang gadis dengan celana jeans putih, kaus hitam ketat dibungkus jaket kulit serta sneaker senada dengan celananya tengah berdiri di depan rumah dengan gaya minimalis. Bolak balik gadis itu membidik rumah menggunakan ponselnya, mencari sudut yang bagus untuk gambarnya agar sempurna. Setelah mendapatkan beberapa gambar yang dirasa bagus, dia memposting foto itu ke dalam akun sosial medianya, dengan judul yang ditulis dengan huruf kapital serta bold "RUMAH DI JUAL". Dia tersenyum melihat hasil karyanya.
...***...
Mobil sejuta umat berwarna silver melaju pelan memasuki pekarangan rumah. Seorang perempuan turun dari sisi kemudi. "Jihan?" ucapnya terkejut. "Ada perlu apa? Kenapa tidak masuk ke rumah?" Perempuan itu adalah Stella, yang baru saja pulang dari butiknya, dan melihat Jihan —mantan adik ipar. yang berdiri di depan rumahnya.
Jihan menggeleng, masih memperhatikan ponselnya.
"Ayo masuk ke dalam," ajak Stella kemudian.
Stella menuntun Jihan untuk masuk ke dalam rumahnya. "Duduk dulu, Mbak buatkan minuman."
"Iya, Mbak."
Sepeninggalan Stella, Jihan mulai membuka aplikasi kamera di ponselnya untuk mengambil beberapa gambar di dalam rumah itu.
"Untuk apa kamu memotret semua ruangan di sini, Jihan?" Stella yang datang dengan nampan di tangannya merasa curiga dengan tingkah Jihan.
Jihan menatap Stella sejenak, kemudian kembali fokus pada ponselnya. "Jihan lagi foto kondisi rumah ini, Mbak, Jihan lagi promosi di sosmed."
"Promosi?" ulang Stella tak paham.
Jihan mengangguk. "Iya, biar cepet laku kalau jualan lewat sosmed."
Stella tertegun. "Maksud kamu?"
Jihan memperlihatkan layar ponselnya pada Stella.
Stella tercekat, menutup mulutnya setelah membaca kalimat yang tertera pada postingan Jihan. "Apa maksud kamu, Jihan? Mbak nggak akan pernah menjual rumah ini," tolaknya.
"Kenapa, Mbak? Ini rumah Mas Hari, bukan rumah Mbak, jadi bebas dong orangtuaku menjual rumah peninggalan anaknya," bantah Jihan acuh.
Stella menatap Jihan tajam. "Sampai kapanpun aku tidak akan menjual rumah ini."
Jihan balas menatap Stella. "Apa Mbak tahu yang aku dan keluarga alami setelah mas Hari meninggal? Mas Hari tulang punggung di keluarga kami kalau Mbak lupa, dan setelah Mas Hari meninggal bagaimana kabar kami, Mbak?" Mata Jihan mulai berkaca-kaca. "Sepeninggalan Mas Hari, cuma Ayah satu-satunya yang bekerja memenuhi kebutuhan kami, dan setahun yang lalu Ayah di diagnosis menderita kanker."
Tes.
Stella menatap Jihan yang perlahan meneteskan air matanya.
"Ibu beralih menjadi tulang punggung menggantikan Ayah, penyakit Ayah semakin parah dan membutuhkan banyak biaya, bolak balik masuk rumah sakit untuk operasi dan kemoterapi. Hingga semua aset terjual untuk pengobatan Ayah, bahkan tiap hari kami didatangi rentenir, kami tidak pernah hidup tenang selama setahun terakhir," ungkap Jihan putus asa. Ia menghapus air matanya, mengambil nafas dalam. "Kemudian, Ibu teringat dengan rumah ini, aku tahu Mbak Stella ikut andil dalam membeli rumah ini, tapi kami butuh uang untuk pengobatan Ayah, Mbak, untuk menyambung kehidupan kami selanjutnya." Jihan menjeda kalimatnya. "Hanya rumah ini satu-satunya harapan kami, karena rumah ini atas nama Mas Hari, kami bermaksud menjualnya dan membeli yang lebih kecil."
Jihan menatap sinis pada Stella yang terdiam. "Bukankah Mbak Stella akan menikah sebentar lagi, pasti Mbak nggak akan menempati rumah ini lagi 'kan?" tanyanya lebih mirip seperti cibiran. "Lagipula calon suami Mbak 'kan orang kaya, dia bisa memberikan mbak rumah yang lebih besar dari ini," imbuhnya layaknya sebuah sindirian.
Stella terkesiap. "Bagaimana kamu tahu tentang calon suamiku?" selidiknya.
Jihan tersenyum sinis, dia teringat waktu teman SMPnya yang bernama Lira mengirimkan video Stella yang membicarakan tentang Sandy. Lira adalah salah satu sahabat Jihan di Bandung, setelah lulus SMP dia pindah ke Jakarta, dia bahkan kenal dengan Stella, karena dulu sering main ke rumah Jihan dan juga yang waktu itu Stella baru saja menikah dengan kakak Jihan —Hari.
Jihan sempat mengatakan tentang tujuannya ke Jakarta dan juga tentang kakak iparnya yang akan menikah lagi. Kebetulan setelah berbicara dengan Jihan tak sengaja Lira melihat Stella yang berada satu restoran yang sama dengannya. Dengan segera dia mengeluarkan ponsel dan memvideo kemudian mengirimkan pada Jihan.
"Mbak tidak perlu tahu, yang terpenting aku sudah mengetahui siapa calon suami Mbak."
Stella menghela nafas lelah. "Tapi —"
"Jihan mohon, Mbak, izinkan kami menjual rumah ini," Jihan menggenggam tangan Stella sambil terisak. "Mbak tidak tahu bagaimana susahnya kami mencari pinjaman ke sana kemari, dikejar-kejar rentenir tiap waktu, dikucilkan orang-orang, bahkan kuliahku terancam putus karena tidak adanya biaya."
Stella tersentak, sebegitu menyedihkannya kah kehidupan Jihan dan keluarganya.
"Bahkan sekarang aku dan Ibu harus menumpang tidur di rumah sakit, karena tidak tahu harus tinggal dimana," ungkap Jihan tertunduk lesu.
"Kenapa kamu tidak tinggal di sini, Jihan? Ini juga rumahmu, rumah Mas Hari," ucap Stella.
Jihan menggeleng. "Tidak perlu, Mbak, aku cuma pengen rumah ini cepat terjual biar bisa beli rumah baru, meskipun lebih kecil dari ini, yang penting ada sisa untuk pengobatan Ayah," jawabnya menghapus airmata yang kembali mengalir.
Stella meraih tubuh Jihan dan memeluknya.
"Jihan berharap Mbak mau membantu keluarga kami. Jihan tahu Mbak Stella orang baik, Mbak Stella sebentar lagi akan jadi orang kaya, rumah ini tidak akan ada artinya lagi untuk Mbak."
Stella memejamkan mata berusaha meredam emosi, bukan itu alasannya mempertahankan rumah, namun karena di situlah kenangannya bersama mendiang suami dan anaknya, dia berat untuk menjualnya.
Jihan melepas pelukan. "Tolong pikirkan ini baik-baik, Mbak, tolong keluarga kami," pintanya memohon. Jihan berdiri. "Jihan permisi, Mbak," pamitnya kemudian.
Jihan melangkah ke luar rumah Stella dengan gontai, bahkan minumannya belum disentuh sama sekali.
Sedangkan Stella termenung memperhatikan Jihan yang perlahan keluar meninggalkan rumahnya. Pikirannya dipenuhi ucapan Jihan tadi. Dia bingung harus bagaimana, harus menerima atau menolak permintaan Jihan, namun hatinya tidak tega melihat keluarga mantan suaminya sengsara seperti itu. Dia membayangkan berada di posisi Jihan, bagaimana jika hal itu menimpa ayahnya, apa dia juga akan melakukan seperti apa yang dilakukan Jihan? Tengah bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba ponselnya berdering.
Stella berdehem menetralkan suaranya, kemudian menggeser tombol hijau. "Assalamualaikum," ucapnya tersenyum.
"Wa'alaikumsalam, Sayang, Apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik," Stella berbohong.
Terlihat Sandy yang mengangguk di ujung sana. "Aku ada kabar baik," ucapnya sumringah.
"Apa?"
"Seminggu lagi aku pulang," terlihat wajah Sandy yang bersemu.
"Sudah selesai semua pekerjaannya?"
"Belum."
Stella menyernyit.
"Bisa ditinggal, sudah ada yang mengurusnya di sini."
Stella membulatkan mulutnya.
"Kau tidak senang?" tanya Sandy yang tak melihat wajah Stella bahagia.
"Ah, tidak, aku senang kok," jawab Stella memaksakan senyum.
"Ada masalah?"
Stella menggeleng cepat. "Ti-dak," jawabnya ragu.
Sandy menghela nafasnya. "Baiklah kalau kau tidak ingin cerita, aku akan terbang ke Indonesia sekarang juga," ancamnya.
"Jangan," cegah Stella panik, dia menggigit bibir bawahnya. "Cuma masalah kecil," akunya.
Sandy terdiam menatap lekat wajah Stella.
Stella merasa terintimidasi oleh tatapan Sandy, dia menghela nafas lelah. "Butik lagi ramai banyak pesanan baju pengantin, aku lagi kepikiran buat desainnya," bohongnya.
"Yakin?"
"I-ya, yakin," Stella mengangguk-angguk.
Sandy menghembuskan nafas pelan. "Baiklah aku percaya, jangan terlalu lelah, ingat, sebentar lagi kita akan menikah."
"Iya, Tuan Sandy yang terhormat, saya ingat itu," goda Stella terkekeh.
Sandy mengacak rambutnya frustasi. "Huh, kenapa seminggu lama sekali," keluhnya.
"Kenapa?"
"Aku ingin memakanmu sekarang juga, Stella," desisnya menggeram.
"Silahkan saja, kalau bisa," goda Stella menampilkan smirknya.
"Kau meremehkanku, Nona?" wajah Sandy berubah serius.
Stella tertawa. "Sudah-sudah, jangan tampilkan wajahmu itu."
Sandy selalu terpesona melihat Stella yang tertawa lepas, uh, gara-gara pekerjaan sialan ini, dirinya harus rela menahan rindu kepada Stella selama berminggu-minggu. "Ste?"
Stella berdehem. "Apa?"
Terlihat wajah Sandy berubah serius, Stella menelan salivanya. Apa Sandy tahu kalau dirinya berbohong.
"I love you."
Hufftt...
Stella menghembuskan nafas lega, dia pikir Sandy akan mengatakan kalau dia berbohong, tapi.. apa tadi kata Sandy? I love you? astagaaa. Tiba-tiba pipinya merona, dia menunduk menggigit bibirnya.
"Ste?" panggil Sandy.
Stella mendongak menatap Sandy dari layar ponsel. "Ap-a?" tanyanya tergagap.
Sandy hampir tertawa melihat wajah Stella yang berubah merah serta gugup. "I love you," ulangnya semakin gencar menggoda.
Stella memejamkan matanya, tidak tahukah Sandy wajahnya sudah memerah, kenapa dia terus berucap seperti itu.
"Ste?"
"Apa lagi?" geram Stella mulai kesal, kesal karena Sandy terus saja menggodanya, tidak tahukah bahwa wajahnya sekarang seperti kepiting rebus.
"Kau tidak membalas ucapanku," protes Sandy.
"I love you too," ucap Stella lirih.
"Apa? Aku tidak dengar."
"I love you too." ulang Stella cepat.
"Stella, aku tidak mendengarmu," rengek Sandy menggoda.
"I LOVE YOU TOO, SANDYAGA VAN HOUTEN," teriak Stella kesal.
Tawa Sandy pecah melihat tingkah lucu calon istrinya. Andai dia ada di dekatnya sudah dipastikan Sandy akan menghujani Stella dengan ciuman di seluruh wajahnya, dia benar-benar gemas dengan wanitanya itu.
"Puas?!" ketus Stella, bibirnya sudah maju beberapa senti.
"Kau tahu nama panjangku, eh? Sepertinya sudah siap menjadi Nyonya Sandyaga sepenuhnya," goda Sandy terkekeh.
Stella memutar bola matanya, tiba-tiba pikiran untuk mengerjai Sandy muncul. "Sepertinya begitu," balasnya menaik turunkan alisnya. "Akan menyenangkan kalau aku bisa menjadi Nyonya Sandyaga Van Houten secepatnya," imbuhnya. Stella mengubah mimik wajahnya menjadi sedih. "Aku merindukanmu," ucapnya serius.
Sandy terkesiap di tempatnya. Apa benar itu Stellanya?
"Sandy, aku kangen," rengek Stella.
Sandy menyernyit, kedua alisnya menukik tajam.
"Sandyyy," Stella mengeluarkan puppy eyesnya.
Astaga, Sandy bisa gila. "Stella, stop."
"Sandyyy?"
"Stellaaa" peringat Sandy, namun Stella justru berkedip manja.
Sandy mengusap wajahnya, melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. "Huh, persetan dengan semua ini, aku akan pulang sekarang juga," geramnya merasa sangat frustasi.
Hal itu justru membuat tawa Stella berderai-derai. "Jangan, aku bercanda, Sandy," cegahnya di sela tawanya.
"Kau mengerjaiku, eh?"
Stella mengangguk-angguk. "Maaf," balasnya terkikik.
"Tunggu pembalasanku, Stella."
"Hei, kau dendam?"
"Tidak."
"Iya, kau dendam."
"Kata siapa?"
"Aku."
"Aku bilang apa?"
"Tunggu pembalasanku," ulang Stella.
"Iya, aku juga kangen sama kamu," goda Sandy menaik turunkan alisnya.
"Haishh, gombal."
"Hahaha."
.
.
.
tbc
...Aduhhh kenapa gue yang baper coba 😆...
...Sesuai janji, Gue beneran update kannn 😚😚...
...Jangan lupa follow....
...Semakin banyak vote and coment, semakin cepat ngetik dan up nya 💪😍😍...
...28 Januari 2020...
...Saskavirby...
kok milih perempuan kasar bgt nganggep cocok to dia
aneh sich
tp bnyak kok orang yg ga paham dng pilihannya