NovelToon NovelToon
Cinta Kembarku

Cinta Kembarku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Badboy / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sanny Rama

Sequel DUREN MANIS...

Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.

Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.

Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?

Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.

Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.

Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?

Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Pura-pura sakit

Rava ingin menjelaskan lagi pada Reva karena

sepertinya kembarannya itu sudah salah paham. Tapi melihat Diva sibuk menghapus

bekas riasannya sendiri, membuat Rava mengabaikan Reva.

“Halo?!! *****, gue dicuekin. Woi, bro lo blum mati

kan?”

“Sialan lo. Ntar gue telpon lagi.”kata Reva cepat

menutup telponnya.

Reva menatap horor ponselnya, sambungan telpon dengan

Rava sudah terputus. Reva ingin mengumpat tapi ia sudah lelah habis berkelahi.

Sudah cukup lama tidak berlatih membuat kedua tangannya sedikit kebas. Sebuah

ide terlintas di kepalanya, Reva menelpon Rio.

“Kak, aku habis dikeroyok nich. Ijin pulang

ya.”kata Reva setelah Rio mengangkat telponnya.

“Hah??!! Dikeroyok siapa?”tanya Rio kaget. Alex dan

Romi sampai menghentikan pembicaraan mereka ketika mendengar kata-kata Rio. Reva

menyuruh Rio bertanya pada Rava. Preman yang datang tadi menyebut nama Rava.

Reva segera menutup ponselnya lalu menjalankan motornya ke arah rumah Alex.

Sampai di rumah, Mia sudah berkacak pinggang di

depan rumah menunggu kedatangan Reva yang tiba dalam keadaan segar bugar. Ia

nyengir lebar di depan mamanya, tapi saat Flora muncul di belakang Mia, Reva

langsung pasang aksi pura-pura kesakitan.

“A-aduduuhh...”rintih Reva memegangi perutnya.

“Kamu nggak apa-apa?”tanya Flora kuatir. Flora

berjalan cepat mendekati Reva yang berjongkok di dekat motornya. Mia memutar

bola matanya malas, melihat tingkah putranya.

“Flora, cepat bawa Reva ke kamarnya. Mama masih

butuh penjelasan, Revaldo Putra Pratama.”titah Mia galak.

Reva menahan senyumnya ketika Flora merangkul

pinggangnya. Ia kegelian di bagian itu tapi mengaduh untuk mengelabui Flora.

“Maaf, sakit ya. Kamu kenapa berantem sich?”tanya

Flora. “Bisa naik tangga?”tanya Flora lagi.

Reva menari kegirangan dalam hati, Flora sangat

perhatian padanya. Reva merangkul pundak Flora, mengeluh bagian mana saja yang

sakit. Keduanya berjalan menaiki tangga perlahan sampai tiba di depan kamar

Reva.

Flora membuka pintu, lalu menuntun pria itu masuk. Setelah

mendudukkan Reva di pinggir tempat tidurnya, Flora mulai memperhatikan wajah

Reva yang bahkan tidak memar sama sekali.

“Kok nggak ada lukanya?”tanya Flora bingung.

“Dibadanmu ada yang luka?”tanya Flora tambah bingung setelah membuka kancing

kemeja Reva dan tidak menemukan lebam atau luka disana.

“Sayang, kalo kamu bisa sabar, aku mau mandi dulu.

Tapi kalo nggak, aku dah siap nich.”bisik Reva di telinga Flora.

Flora baru sadar karena saking kuatirnya, ia sampai

melucuti kemeja Reva tanpa sadar. Rona merah muncul di wajah Flora. Ia menunduk

menutupi wajahnya, “A-aku nggak maksud gitu. Aku cuma kuatir. Tapi kayaknya

kamu sehat-sehat aja ya!”kata Flora sebal.

Reva menarik tangan Flora, ia juga kena pukulan dan

tendangan di tubuhnya tadi. Reva menoleh mencoba melihat punggungnya. Flora

melongok melihat punggung Reva ada lebam kebiruan. Ia menekan lebam itu, “Auch.

Sss. Sakit juga ya.”kata Reva cengengesan.

“Kamu ini serius sakit apa bercanda sich? Nggak

jelas tau.”kata Flora memukul lengan Reva.

“Aaoowww... sakit, Flo. Aku kan pria sejati, harus

bisa tahan dong.”kata Reva meringis.

Flora berjalan keluar dari kamar Reva, ia mengambil

obat untuk lebam di kotak P3K. Mia yang baru naik ke lantai 2, melihat Flora

masuk ke kamar Reva lagi dengan obat di tangannya. Pintu kamar itu tidak

tertutup sempurna. Tampak Flora sudah duduk di atas tempat tidur Reva. Mia

mengintip dari celah pintu yang terbuka.

“Auch, jangan di teken, Flo.”kata Reva meringis

lagi. “Yang disebelahnya juga sakit. Pijitin sekalian.”pinta Reva manja. Flora

menekan lebam Reva dengan sadis, ia kesal sekaligus kasihan pada pacarnya itu.

Reva menjerit kesakitan, hampir mengumpat. “Sakit, sayang.”

“Sayang. Sayang. Cepetan cerita kenapa bisa gini?

Kamu berkelahi kenapa sich?”tanya Flora beneran memijat pundak Reva.

Reva menceritakan dari dia mau balik ke kantor

lagi, tiba-tiba ada lima preman yang mendatanginya dan memanggilnya Rava. Reva

sedikit berlebihan bercerita agar Flora bangga padanya. Tapi ekspresi wajah

Flora masih lempeng aja kayak jalan tol.

“Rava bilang kalau dia suka sama pacarnya Akbar.

Makanya Akbar ngirim preman buat mukulin dia. Eh, malah aku yang kena.”keluh

Reva mencari perhatian Flora.

“Salah sendiri mukamu lebih nyebelin.”balas Flora

hampir membuat Mia keceplosan ketawa. “Ada lagi nggak yang sakit?”tanya Flora

meneliti tubuh Reva. Flora melihat tangan Reva memar memerah. Gadis itu

mengobati tangan Reva dengan hati-hati.

Setelah semua lebam Reva diobati, Flora duduk di

samping Reva. “Jangan berkelahi lagi. Kalau sampai kamu kenapa-napa, aku

gimana?” Reva melayang tinggi mendengar kata-kata manis Flora.

“Kamu segitu kuatirnya sama aku. Kamu cinta banget

ya sama aku.”saut Reva geer.

Flora langsung menggeleng masih dengan raut wajah

sedih, “Kalo kamu kenapa-napa, ntar siapa yang ngajarin aku Matematika, Fisika.

Siapa yang nunjukin soal yang keluar sebelum ulangan? Hayo, siapa?”kata Flora

tetap lempeng aja.

“Hummpp... hihihi...”Mia membekap mulutnya sendiri

menahan tawanya.

Reva merangkul leher Flora, ia menciumi tengkuk

Flora sampai gadis itu tertawa geli. Flora menatap Reva dengan senyum

mengembang. Keduanya saling mendekat terbawa suasana kamar yang sepi. Mata

Flora terpejam saat Reva mulai menciumnya.

Mia masih betah mengintip keduanya. Keningnya

mengkerut saat tangan Reva mulai aktif ke tubuh Flora.

“Aheemm...!!”dehem Mia sambil mengetuk pintu kamar

dengan keras. Flora terlonjak kaget, ia terpana melihat Mia berdiri di pintu

kamar Reva. “Kalian ngapain malah berduaan disini.”tegur Mia.

“Kalian tau kan kalo cuma berduaan, yang ketiga

itu...”

“Setan, mah. Iya tahu, mah.”saut Reva nyengir.

Mia ikutan duduk di samping Reva, ia curhat pada

Reva dan Flora tentang gadis yang Rava sukai. “Hadeh, gimana ini kalau beneran

Rava jadi perebut pacar orang. Dari tadi Rava nggak bisa dihubungi lagi. Coba

kamu yang telpon, Va.”pinta Mia.

Reva mengelak kalau tadi Rava menutup telponnya dan

meminta Mia menunggu saja sampai Rava pulang sendiri. Orang yang dicemaskan

sudah nongol di depan pintu kamar Reva. Rava segera masuk mengecek keadaan

kembarannya itu.

“Lo nggak apa-apa kan?!”tanya Rava menepuk pipi

Reva.

“Duduk, lo. Banyak penjelasan yang harus lo jelasin

ke gue. Apa-apaan preman itu? Kalo lo yang diposisi gue gimana nasib lo?”tanya

Reva kesal. Masalahnya Rava tidak terlalu bisa bela diri seperti dirinya. Kalau

tadi yang ketemu dengan preman itu adalah Rava, bisa dipastikan kembarannya itu

akan pulang dalam keadaan babak belur.

“Bro, gue juga sering kena masalah gara-gara lo.”balas

Rava yang sering di labrak cewek yang kesal pada Reva.

Reva merangsek mendekati Rava, menarik kerah kemeja

pria itu sampai wajah mereka sangat dekat. “Itu preman, sialan lo! Lo mau

mati?!”bentak Reva dengan mata berkaca-kaca.

Rava mengulurkan tangannya memeluk adik kembarnya

itu. Seberapa seringnya mereka bertengkar, keduanya tetap saudara yang saling

mengkhawatirkan satu sama lain.

*****

Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu

rate bintang 5, like, komen, dan yang paling penting vote, vote, vote. Ty.

1
Eka Sari Agustina
👍👍👍👍👍
G
lanjut
Mella Soplantila Tentua Mella
dasar Reva mesuuum... ha ha hahaaa ketangkap basah sm ibu negara
Martini
di tunggu kelanjutannya Thor kan flora hamil
Martini
wah dapat mantu Sekai 2 mama jelita god
Martini
anaknya mami jelita gresek semua
Martini
bakal kena semprot tu jeny
Martini
gawangnya udah gol ya reva
Martini
selalu seru aja Thor karyamu
Martini
hahaha camer sama menantu klop geseknya
Martini
pembantu ganjen di pecat aja Thor bisng kerok itu
Martini
iya Reva itu kan bucin
Martini
jangan bikin aq baper donk Thor kasihan ravanya
Martini
aq sampai ikut nangis Thor kasihan rava perjuanganya tidak ada artinya di depan diva
Martini
diva kok sadis tadi aja berharap sekarang malah bikin rava hanjur
Martini
semoga Frank ya thor
Martini
aq setuju kalau Roger sama jeny
Martini
mungkin lagi berhai hai Thor Reva sama flo
Martini
kayaknya dapat lampu hijau dech Juan Ama devina 👍👍👍
Martini
Devina kok hadi gadis bar bar sich
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!