Sequel DUREN MANIS...
Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.
Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.
Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?
Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.
Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.
Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?
Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Pura-pura sakit
Rava ingin menjelaskan lagi pada Reva karena
sepertinya kembarannya itu sudah salah paham. Tapi melihat Diva sibuk menghapus
bekas riasannya sendiri, membuat Rava mengabaikan Reva.
“Halo?!! *****, gue dicuekin. Woi, bro lo blum mati
kan?”
“Sialan lo. Ntar gue telpon lagi.”kata Reva cepat
menutup telponnya.
Reva menatap horor ponselnya, sambungan telpon dengan
Rava sudah terputus. Reva ingin mengumpat tapi ia sudah lelah habis berkelahi.
Sudah cukup lama tidak berlatih membuat kedua tangannya sedikit kebas. Sebuah
ide terlintas di kepalanya, Reva menelpon Rio.
“Kak, aku habis dikeroyok nich. Ijin pulang
ya.”kata Reva setelah Rio mengangkat telponnya.
“Hah??!! Dikeroyok siapa?”tanya Rio kaget. Alex dan
Romi sampai menghentikan pembicaraan mereka ketika mendengar kata-kata Rio. Reva
menyuruh Rio bertanya pada Rava. Preman yang datang tadi menyebut nama Rava.
Reva segera menutup ponselnya lalu menjalankan motornya ke arah rumah Alex.
Sampai di rumah, Mia sudah berkacak pinggang di
depan rumah menunggu kedatangan Reva yang tiba dalam keadaan segar bugar. Ia
nyengir lebar di depan mamanya, tapi saat Flora muncul di belakang Mia, Reva
langsung pasang aksi pura-pura kesakitan.
“A-aduduuhh...”rintih Reva memegangi perutnya.
“Kamu nggak apa-apa?”tanya Flora kuatir. Flora
berjalan cepat mendekati Reva yang berjongkok di dekat motornya. Mia memutar
bola matanya malas, melihat tingkah putranya.
“Flora, cepat bawa Reva ke kamarnya. Mama masih
butuh penjelasan, Revaldo Putra Pratama.”titah Mia galak.
Reva menahan senyumnya ketika Flora merangkul
pinggangnya. Ia kegelian di bagian itu tapi mengaduh untuk mengelabui Flora.
“Maaf, sakit ya. Kamu kenapa berantem sich?”tanya
Flora. “Bisa naik tangga?”tanya Flora lagi.
Reva menari kegirangan dalam hati, Flora sangat
perhatian padanya. Reva merangkul pundak Flora, mengeluh bagian mana saja yang
sakit. Keduanya berjalan menaiki tangga perlahan sampai tiba di depan kamar
Reva.
Flora membuka pintu, lalu menuntun pria itu masuk. Setelah
mendudukkan Reva di pinggir tempat tidurnya, Flora mulai memperhatikan wajah
Reva yang bahkan tidak memar sama sekali.
“Kok nggak ada lukanya?”tanya Flora bingung.
“Dibadanmu ada yang luka?”tanya Flora tambah bingung setelah membuka kancing
kemeja Reva dan tidak menemukan lebam atau luka disana.
“Sayang, kalo kamu bisa sabar, aku mau mandi dulu.
Tapi kalo nggak, aku dah siap nich.”bisik Reva di telinga Flora.
Flora baru sadar karena saking kuatirnya, ia sampai
melucuti kemeja Reva tanpa sadar. Rona merah muncul di wajah Flora. Ia menunduk
menutupi wajahnya, “A-aku nggak maksud gitu. Aku cuma kuatir. Tapi kayaknya
kamu sehat-sehat aja ya!”kata Flora sebal.
Reva menarik tangan Flora, ia juga kena pukulan dan
tendangan di tubuhnya tadi. Reva menoleh mencoba melihat punggungnya. Flora
melongok melihat punggung Reva ada lebam kebiruan. Ia menekan lebam itu, “Auch.
Sss. Sakit juga ya.”kata Reva cengengesan.
“Kamu ini serius sakit apa bercanda sich? Nggak
jelas tau.”kata Flora memukul lengan Reva.
“Aaoowww... sakit, Flo. Aku kan pria sejati, harus
bisa tahan dong.”kata Reva meringis.
Flora berjalan keluar dari kamar Reva, ia mengambil
obat untuk lebam di kotak P3K. Mia yang baru naik ke lantai 2, melihat Flora
masuk ke kamar Reva lagi dengan obat di tangannya. Pintu kamar itu tidak
tertutup sempurna. Tampak Flora sudah duduk di atas tempat tidur Reva. Mia
mengintip dari celah pintu yang terbuka.
“Auch, jangan di teken, Flo.”kata Reva meringis
lagi. “Yang disebelahnya juga sakit. Pijitin sekalian.”pinta Reva manja. Flora
menekan lebam Reva dengan sadis, ia kesal sekaligus kasihan pada pacarnya itu.
Reva menjerit kesakitan, hampir mengumpat. “Sakit, sayang.”
“Sayang. Sayang. Cepetan cerita kenapa bisa gini?
Kamu berkelahi kenapa sich?”tanya Flora beneran memijat pundak Reva.
Reva menceritakan dari dia mau balik ke kantor
lagi, tiba-tiba ada lima preman yang mendatanginya dan memanggilnya Rava. Reva
sedikit berlebihan bercerita agar Flora bangga padanya. Tapi ekspresi wajah
Flora masih lempeng aja kayak jalan tol.
“Rava bilang kalau dia suka sama pacarnya Akbar.
Makanya Akbar ngirim preman buat mukulin dia. Eh, malah aku yang kena.”keluh
Reva mencari perhatian Flora.
“Salah sendiri mukamu lebih nyebelin.”balas Flora
hampir membuat Mia keceplosan ketawa. “Ada lagi nggak yang sakit?”tanya Flora
meneliti tubuh Reva. Flora melihat tangan Reva memar memerah. Gadis itu
mengobati tangan Reva dengan hati-hati.
Setelah semua lebam Reva diobati, Flora duduk di
samping Reva. “Jangan berkelahi lagi. Kalau sampai kamu kenapa-napa, aku
gimana?” Reva melayang tinggi mendengar kata-kata manis Flora.
“Kamu segitu kuatirnya sama aku. Kamu cinta banget
ya sama aku.”saut Reva geer.
Flora langsung menggeleng masih dengan raut wajah
sedih, “Kalo kamu kenapa-napa, ntar siapa yang ngajarin aku Matematika, Fisika.
Siapa yang nunjukin soal yang keluar sebelum ulangan? Hayo, siapa?”kata Flora
tetap lempeng aja.
“Hummpp... hihihi...”Mia membekap mulutnya sendiri
menahan tawanya.
Reva merangkul leher Flora, ia menciumi tengkuk
Flora sampai gadis itu tertawa geli. Flora menatap Reva dengan senyum
mengembang. Keduanya saling mendekat terbawa suasana kamar yang sepi. Mata
Flora terpejam saat Reva mulai menciumnya.
Mia masih betah mengintip keduanya. Keningnya
mengkerut saat tangan Reva mulai aktif ke tubuh Flora.
“Aheemm...!!”dehem Mia sambil mengetuk pintu kamar
dengan keras. Flora terlonjak kaget, ia terpana melihat Mia berdiri di pintu
kamar Reva. “Kalian ngapain malah berduaan disini.”tegur Mia.
“Kalian tau kan kalo cuma berduaan, yang ketiga
itu...”
“Setan, mah. Iya tahu, mah.”saut Reva nyengir.
Mia ikutan duduk di samping Reva, ia curhat pada
Reva dan Flora tentang gadis yang Rava sukai. “Hadeh, gimana ini kalau beneran
Rava jadi perebut pacar orang. Dari tadi Rava nggak bisa dihubungi lagi. Coba
kamu yang telpon, Va.”pinta Mia.
Reva mengelak kalau tadi Rava menutup telponnya dan
meminta Mia menunggu saja sampai Rava pulang sendiri. Orang yang dicemaskan
sudah nongol di depan pintu kamar Reva. Rava segera masuk mengecek keadaan
kembarannya itu.
“Lo nggak apa-apa kan?!”tanya Rava menepuk pipi
Reva.
“Duduk, lo. Banyak penjelasan yang harus lo jelasin
ke gue. Apa-apaan preman itu? Kalo lo yang diposisi gue gimana nasib lo?”tanya
Reva kesal. Masalahnya Rava tidak terlalu bisa bela diri seperti dirinya. Kalau
tadi yang ketemu dengan preman itu adalah Rava, bisa dipastikan kembarannya itu
akan pulang dalam keadaan babak belur.
“Bro, gue juga sering kena masalah gara-gara lo.”balas
Rava yang sering di labrak cewek yang kesal pada Reva.
Reva merangsek mendekati Rava, menarik kerah kemeja
pria itu sampai wajah mereka sangat dekat. “Itu preman, sialan lo! Lo mau
mati?!”bentak Reva dengan mata berkaca-kaca.
Rava mengulurkan tangannya memeluk adik kembarnya
itu. Seberapa seringnya mereka bertengkar, keduanya tetap saudara yang saling
mengkhawatirkan satu sama lain.
*****
Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu
rate bintang 5, like, komen, dan yang paling penting vote, vote, vote. Ty.