Jika ada yang bertanya apa yang membuatku menyesal dalam menjalankan rumah tangga? maka akan aku jawab, yaitu melakukan poligami atas dasar kemauan dari orang tua yang menginginkan cucu laki-laki. Hingga membuat istri dan anakku perlahan pergi dari kehidupanku. Andai saja aku tidak melakukan poligami, mungkin anak dan istriku masih bersamaku hingga maut memisahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minami Itsuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 APAKAH ITU ANAK REZA?
"Jika Ayah perhatikan kembali, sepertinya anak itu mirip sekali denganmu, Za," kata ayah Aku menatap ayah dengan terkejut. Apa benar bayi itu mirip denganku?
"Reza, lihat baik-baik," kata ayah dengan suara serius. "Bayi itu punya mata yang sama sepertimu saat kecil."
Aku mengingat-ingat kembali wajah bayi yang digendong Aisyah tadi. Benarkah?
Aku mengepalkan tanganku. Aku harus memastikan sendiri.
"Ayah yakin, bayi itu pasti laki-laki."
Aku terdiam. Jika itu benar, kemungkinan bayi itu adalah anakku semakin besar.
Ibu mendengus kesal. "Jangan ngawur, Yah! Bisa saja itu anak orang lain. Lagipula, Aisyah sudah bukan bagian dari keluarga kita lagi. Untuk apa dipikirkan?"
"Tapi, Bu..." Ayah menatap ibu tajam. "Kamu sendiri yang selalu ingin cucu laki-laki, kan? Kalau memang benar bayi itu anak Reza, berarti permintaanmu sudah terkabul."
Aku menelan ludah. "Aku harus bicara dengan Aisyah." Tanpa membuang waktu, aku bergegas keluar dari rumah sakit, berusaha mencari Aisyah sebelum terlambat
Aku terus berlari, menyusuri lorong rumah sakit dengan napas terengah. Aku tidak peduli teriakan ibu yang memanggilku dari belakang. Yang ada di pikiranku sekarang hanya satu: menemukan Aisyah dan mendapatkan jawaban.
Saat aku sampai di parkiran, mataku langsung mencari sosok Aisyah. Aku melihatnya berjalan cepat menuju sebuah mobil. Tanpa pikir panjang, aku mempercepat langkahku. "Aisyah! Tunggu!"
Aisyah yang hendak membuka pintu mobil itu terhenti. Dia menoleh, tapi wajahnya tampak ragu. Safira dan Rani berdiri di sampingnya, menatapku dengan bingung. Dan di dalam gendongannya, bayi itu tertidur pulas.
Aku berdiri di depannya, mengatur napas. "Jawab aku, Aisyah. Siapa bayi ini?" tanyaku dengan suara yang hampir bergetar.
Aisyah mengalihkan pandangannya, menghindari tatapanku. "Ini bukan urusanmu, Reza."
Aku mengepalkan tangan. "Jangan bohong. Aku ingin tahu yang sebenarnya." Aku menatapnya tajam. "Bayi ini... apakah dia anakku?"
Aisyah masih diam. Aku bisa melihat ada sesuatu dalam sorot matanya, seolah dia sedang menimbang sesuatu. Aku hanya berharap kali ini, dia tidak memilih pergi begitu saja.
Tepat saat aku menunggu jawaban dari Aisyah, pintu mobil di sampingnya terbuka. Sosok yang begitu kukenal muncul—mantan mertuaku. Wajahnya dingin, tatapannya tajam menusuk langsung ke arahku. Aku bisa merasakan ketegasan dan ketidaksetujuan yang terpancar dari sorot matanya.
"Aisyah, bawa anak-anak masuk," ucapnya dengan suara tegas, tanpa sedikit pun melepaskan tatapannya dariku.
Aisyah tampak ragu sejenak, menoleh padaku dengan ekspresi yang sulit kubaca. Tapi aku bisa merasakan bahwa dia berada di bawah tekanan. Dengan perlahan, dia menggenggam tangan Safira dan Rani, lalu mulai memandu mereka masuk ke dalam mobil sambil tetap menggendong bayi itu.
Aku melangkah maju, mencoba menghentikannya. "Ayah, aku cuma ingin tahu yang sebenarnya. Aku berhak tahu, kan?" suaraku bergetar, campuran antara kemarahan dan keputusasaan.
Mantan mertuaku mengangkat tangannya, menyuruhku berhenti. "Berhenti di situ, Reza. Kamu sudah cukup menyakiti Aisyah. Jangan ganggu kehidupannya lagi," ucapnya tajam.
Aku menatapnya dengan tidak percaya. "Menyakiti? Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi! Jika bayi itu anakku, aku punya hak untuk tahu dan bertanggung jawab!"
"Hak?" Dia tersenyum sinis. "Di mana rasa tanggung jawabmu saat kau memilih meninggalkan Aisyah dan mengejar hidupmu sendiri? Kamu tidak pantas tahu apa pun tentang anak ini."
Aku terdiam, kata-katanya terasa menamparku keras. Aku tahu aku bukan pria sempurna, tapi aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan kehilangan hakku untuk mengetahui kebenaran seperti ini.
Sebelum aku bisa membalas, pintu mobil tertutup. Mobil itu melaju perlahan, meninggalkanku berdiri di tengah parkiran dengan hati yang penuh pertanyaan yang belum terjawab.
Apakah bayi itu benar-benar anakku? Dan jika benar, kenapa mereka menyembunyikannya dariku?
Aku berdiri terpaku, melihat mobil itu semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandanganku. Dadaku sesak. Ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiranku, tapi tak satu pun yang mendapat jawaban.
Aku mengepalkan tangan, menahan amarah dan kebingungan yang bercampur menjadi satu. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus mencari tahu kebenarannya.
Tanpa pikir panjang, aku meraih ponsel dari saku celana dan mencoba menghubungi Aisyah. Namun, seperti yang kuduga, panggilanku langsung dialihkan ke voicemail. Aku mencoba lagi, dan lagi, tapi hasilnya tetap sama.
"Sial!" gerutuku, meremas rambutku frustasi.
Tiba-tiba, suara ibu terdengar dari belakangku. "Reza, jangan gegabah!"
Aku berbalik, menatap ibu yang berjalan mendekat bersama ayah. Wajahnya masih menunjukkan ekspresi kecewa yang tadi sempat kulihat saat kami membahas kondisi bayiku dengan Laras.
"Ibu aku lihat sendiri dengan jelas tadi. Bayi itu laki-laki," suaraku serak, penuh emosi. "Dan kalau dihitung dari waktu kami berpisah, kemungkinan besar itu anakku! Wajah bayi itu… aku merasa dia mirip denganku. Ayah juga melihatnya, kan?"
Aku mengepalkan tangan. "Aku tidak peduli! Jika benar bayi itu anakku, aku berhak tahu! Aku tidak akan tinggal diam!"
Tanpa mendengarkan protes dari ibu dan ayah, aku segera melangkah pergi. Aku harus mencari cara untuk bertemu Aisyah. Jika dia tidak mau bicara denganku, aku akan mencari orang lain yang bisa memberiku jawaban.
Karena satu hal yang kutahu pasti—aku tidak bisa membiarkan anakku tumbuh tanpa kehadiranku, jika benar dia adalah darah dagingku.
...****************...
"Mas, kamu dari mana saja? Aku dari tadi menunggu di sini." tanyanya dengan nada cemas.
Aku tersentak saat mendengar suara Laras. Baru kusadari, aku sudah kembali ke rumah sakit tanpa benar-benar menyadarinya. Laras duduk di ranjang pasien dengan wajah lelah, menatapku penuh tanda tanya.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikiranku yang masih berantakan. Aku melangkah mendekatinya, lalu duduk di kursi samping ranjangnya.
"Aku tadi keluar sebentar," jawabku singkat, mencoba menutupi kegelisahanku.
Laras mengernyit. "Keluar ke mana? Wajahmu tegang sekali. Ada apa, Mas?"
Aku terdiam sejenak. Haruskah aku menceritakan apa yang baru saja terjadi? Tentang Aisyah yang tiba-tiba muncul dengan seorang bayi? Tentang kemungkinan besar bayi itu adalah anakku?
Aku mengusap wajahku kasar. "Nggak ada apa-apa, cuma ada urusan mendadak."
Laras menatapku lekat-lekat, seolah menelusuri ekspresiku. Aku tahu dia tidak sepenuhnya percaya dengan jawabanku.
"Mas, aku istrimu. Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, aku ingin tahu." Nada suaranya lebih lembut sekarang, tapi tetap menyiratkan ketegasan.
Aku mengalihkan pandangan, lalu menarik napas dalam-dalam. "Nanti aku ceritakan, Laras. Sekarang kamu harus istirahat. Fokus dulu ke kesehatanmu dan bayi kita."
Laras masih menatapku, ragu. Tapi akhirnya dia mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi kalau ada yang mengganggumu, jangan dipendam sendiri, ya?"
Aku hanya mengangguk tanpa menjawab.
Dalam hatiku, aku tahu… ini belum selesai. Aku harus mencari tahu kebenarannya. Jika benar bayi yang digendong Aisyah adalah anakku, aku tidak bisa tinggal diam.
Reza menyesal seumur hidup, thor
terutama Reza yg menjadi wayang...
semangat Aisyah
kehidupan baru mu
akan datang