Karya ini menceritakan tentang seorang karakter utama yang di reinkarnasi menjadi semut di dunia fantasy.
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HZ77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir dari Sebuah Kisah
Sudah dua tahun berlalu sejak Ryzef dan Livia terjebak di dunia asing yang penuh misteri. Setahun pertama mereka habiskan dengan mencari jawaban—tentang cara keluar, tentang lingkaran sihir raksasa yang membingungkan, tentang dunia yang tak tertulis ini.
Namun, tidak satu pun petunjuk mereka temukan.
Yang mereka lihat justru hal yang tak biasa: dunia ini tumbuh. Bukan dalam arti berkembang seperti dunia pada umumnya, tetapi secara harfiah *bertambah*.
Pada malam pertama, rerumputan mulai menjalar lebih jauh, dan ketika fajar menyingsing, pohon-pohon yang sebelumnya tak ada, kini tumbuh di cakrawala. Malam berikutnya, hutan kecil muncul di kejauhan, lengkap dengan suara burung dan binatang yang entah datang dari mana.
Seolah-olah dunia itu menyesuaikan diri dengan mereka.
Dan pada tahun kedua, mereka berhenti mencari jalan keluar. Sebaliknya, mereka mulai membangun hidup. Membuat rumah kecil dari kayu dan batu, menanam sayuran, berburu hewan kecil, dan mulai hidup seperti manusia biasa—bahkan di dunia yang luar biasa.
Kini, mereka bukan hanya dua orang yang terperangkap. Mereka adalah sebuah keluarga.
“Papah… Papah…” suara kecil memanggil, diselingi suara langkah kaki mungil yang belum sempurna.
Ryzef menoleh dan melihat Luke, anak lelaki mereka, berjalan terhuyung ke arahnya. Senyuman hangat langsung merekah di wajahnya.
“Wah… Anak papah sudah besar, dan juga sudah bisa berjalan ya…” Ryzef berjongkok, membuka kedua tangannya. “Pasti mamah senang kalau lihat kamu begini.”
Dari dapur kecil, Livia tersenyum sambil terus mengaduk sup di atas tungku. Ia berdiri, mengeringkan tangannya di celemek dan berseru, “Semalam aku juga terkejut, loh! Baru beberapa hari dia merangkak, sekarang sudah bisa jalan!”
“Wah begitu ya…” Ryzef mengangkat Luke tinggi-tinggi. “Ayah bangga padamu, Luke. Ayah… sangat bangga.”
Gelak tawa anak itu memenuhi ruangan, dua lengan mungilnya mencoba meraih wajah ayahnya.
Rumah mereka kecil, terbuat dari bahan seadanya. Tapi di dalamnya ada kehangatan yang tak bisa dibeli dengan kekuatan, sihir, atau harta. Kehangatan dari tawa kecil, pertengkaran manja, dan cinta yang tumbuh perlahan.
—✦—
Pesan dari Penulis:
Tak ada yang tahu bagaimana hari esok tiba. Bahkan jika kau berharap kebahagiaan atau takut pada kemalangan, keduanya tetap akan datang di luar kendalimu. Maka dari itu, jangan terlalu tenggelam dalam penyesalan atau harapan semu. Hiduplah rukun, karena sesama manusia saling menguatkan di saat dunia tak bisa memberi kepastian.
—✦—
Sore itu, Ryzef menghampiri Livia yang tengah menjemur kain.
“Sayang, besok kita jalan-jalan, yuk? Aku tahu tempat yang bagus untuk momen spesial.”
Livia mengerjapkan mata, lalu tersenyum. “Mau-mau saja sih. Tapi jangan terlalu jauh, ya?”
“Tenang saja... tempatnya gak sejauh itu. Tapi aku yakin kamu bakal suka.”
Keesokan harinya, mereka bersiap. Livia menggendong Luke dengan kain yang diikat kuat ke punggungnya. Di tangannya ada keranjang berisi makanan dan air minum. Ryzef membawa tikar dan selimut tipis, serta sedikit bumbu untuk membakar ikan di sana nanti.
Saat mereka menyusuri padang rumput, angin berhembus lembut, menyapu dedaunan muda dan bunga liar yang bermekaran. Matahari bersinar hangat, langit biru terbentang tanpa awan.
Di tengah perjalanan, Ryzef mencoba menawarkan diri untuk menggendong Luke.
“Nggak usah,” Livia menolak sambil tersenyum. “Aku ingin terus dekat dengannya.”
“Baiklah... tapi keranjangnya aku yang bawa, ya.”
“Silakan, suamiku.”
Hati Ryzef bergetar mendengar panggilan itu. Suatu hal yang tak pernah ia bayangkan saat pertama kali bangun sebagai semut. Dunia boleh berubah, tapi ada hal-hal yang tetap bermakna.
Setelah melewati beberapa bukit kecil, mereka tiba di tempat tinggi yang penuh bunga liar. Dari sana, terlihat rumah mereka kecil seperti miniatur, dikelilingi sungai kecil dan padang luas yang membentang.
Mereka menggelar tikar, menyantap makanan sederhana: roti hangat, buah liar, dan sup dari sayuran yang mereka tanam sendiri.
Setelah makan, mereka berbaring berdampingan, Livia memeluk Luke yang tertidur dengan damai.
Angin senja membelai rambut mereka. Warna oranye dan merah muda menyelimuti langit, menciptakan langit senja paling indah yang pernah mereka lihat.
Ryzef meraih tangan Livia. Ia menggenggamnya erat.
“Aku tidak tahu apakah ini akhir dari kisah kita... atau justru awal yang baru,” bisiknya.
Livia menatap langit dan mengangguk pelan. “Kalau ini memang akhir... maka ini akhir yang bahagia.”
Mereka terdiam. Menatap cakrawala. Hanya suara angin yang tersisa, dan napas lembut Luke di pelukan ibunya.
Lalu matahari perlahan tenggelam… dan senja pun menutup tirai kisah mereka.
Tamat