Di negara barat, menyewa rahim sudah menjadi hal lumrah dan sering didapatkan.
Yuliana adalah sosok ibu tunggal satu anak. Demi pengobatan sang anak, ia mendaftarkan diri sebagai ibu yang menyewa rahimnya, hingga ia dipilih oleh satu pasangan.
Dengan bantuan alat medis canggih, tanpa hubungan badan ia berhasil hamil.
Bagaimana, Yuliana menjalani kehamilan tersebut? Akankah pihak pasangan itu menyenangkan hatinya agar anak tumbuh baik, atau justru ia tertekan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kadang Manis, Kadang Ketus.
Hari terus berlalu perut yang semula rata, kini mulai terlihat buncit di balik pakaian Yuliana.
Clara yang kembali pergi mengisi waktu liburan bulanannya, membuat Sean tidak lagi hanya menemui Yuliana di tengah malam.
Pria itu secara terang-terangan dan suka sekali mengganggu wanita itu. Tidak menganggu sehari rasanya terlalu aneh bagi Sean.
Keduanya sedang bersama di ruang tengah dan menonton tv.
"Tadi pagi periksa kan? Bagaimana anakku?" tanya Sean sembari mengusap lembut perut keras dan buncit itu.
"Baik. Semuanya baik. Makanya ikut kalau mau tau," tanggap Yuliana sembari mengunyah buah apel yang menjadi favoritnya.
"Apa jenis kelaminnya sudah diketahui?" tanya Sean semakin penasaran.
Tangannya terus bergerak mengusap perut Yuliana, dan senyuman seketika mengembang saat merasakan gerakan halus di sana.
"Belum, dia masih menelungkup tubuhnya," jawab Yuliana menatap Sean, ingin melihat apakah ada kekecewaan di sana.
"Kalau mau tau jenis kelaminnya, harus tunggu usia 7 bulan untuk USG lagi. Soalnya nggak boleh sering-sering USG," ucapnya yang dibalas anggukan ringan Sean.
"Tidak apa. Laki-laki atau perempuan sama saja."
Mendengar suara tulus dari pria itu, membuat Yuliana merasakan kehangatan yang luar biasa. "Terus seperti ini ya Sean. Tidak perlu padaku, tapi teruslah sehangat ini pada anakmu," batinnya memandang tulus pada pria yang begitu banyak perubahan sikap padanya.
Sean menunduk memberikan kecupan pelan pada perut Yuliana.
Saat tengah menikmati, suara deheman membuat keduanya menoleh, dan melihat Evan dan Alex datang mendekat.
Yuliana langsung menatap Alex dengan tatapan melebar, dan Alex mengerjapkan mata mengkodenya untuk diam.
"Nah ini dokumen pengajuan kerja sama perusahaan X," ucap Evan menyerahkan sebuah map biru pada Sean lalu melirik pada Yuliana yang terus mencuri pandang pada Alex.
"Kalian sudah periksa?" tanya Sean menerimanya, dan mulai membuka isi dokumen itu.
"Sudah, menurutku ini sangat menarik," jawab Evan sembari melirik Alex yang tampak berusaha mengabaikan Yuliana.
"Punya apa lagi mereka?" batin Evan cukup tau keduanya dekat.
"Hm, ya sudah ayo bahas di ruang kerjaku saja," ucap Sean bangkit lebih dulu. Ia hanya melirik Yuliana sekilas, lalu pergi tanpa mengatakan apapun.
Setelah Sean berbalik, Alex pun segera mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya.
"Ingat makan sewajarnya, jangan membuatku dalam masalah," ucap Alex menyerahkan bumbu instan yang sudah ditunggu Yuliana. Tanpa menunggu jawaban Yuliana pria itu sudah menyusul Sean.
"Makasih," ucap Yuliana menerima dengan senyum lebar, meski Alex tidak mendengarnya.
Evan yang masih di sana pun tersenyum kecil dengan kelakuan keduanya. Ia lalu menumpu tubuhnya dengan kedua lengan bersandar di sandaran sofa.
Dengan tatapan tenang dan datarnya ia berucap. "Apa kamu tidak takut Sean tau?"
Yuliana mendengkus pelan. "Jangan ikut campur! Jangan memberitahunya!"
Evan menyinggung senyumnya. Ia menunduk mendekatkan wajahnya pada Yuliana, membuat Wanita itu sedikit memundurkan kepalanya, menatapnya tajam dan penuh peringatan.
"Sean melarangmu makan ini dan itu, karena takut kehilangan anaknya kembali. Harusnya kamu mengerti dan mematuhi larangannya kan?" ucapnya dengan tegas membuat Yuliana menatapnya jengkel.
"Ini masih aman!" ucapnya dengan tegas.
Evan bersedekap dada. "Baiklah, terserah. Aku hanya tidak ingin sahabatku kembali sedih," ucapnya melirik perut Yuliana.
"Jaga kandunganmu ya," ucapnya kemudian meninggalkan Yuliana seorang diri.
Yuliana mendengkus, tangannya bergerak mengusap perut. "Tanpa di suruh, akan ku lakukan!" ucapnya dengan tegas.
****
Clara yang rutin liburan tiap bulan satu hingga dua Minggu memang membuat Sean selalu kesepian, namun adanya Yuliana membuatnya melupakan rasa sepi itu.
Sama seperti sebelumnya, jika Clara sudah kembali, maka Sean tidak akan menghabiskan waktunya lagi hanya bersama Yuliana. Bertemu pun hanya di malam hari.
Ya, Sean tau dirinya salah, namun layaknya sebuah ruangan terkunci, ia sudah sulit keluar dari hal itu. Ia selalu merasakan sebuah kerinduan pada Yuliana ataupun anak dalam kandungannya.
Selain menjalani keinginannya itu. Sean yakin dan bertekad akan hatinya, jika ia hanya mencintai Clara, dan Yuliana tetaplah dalam statusnya.
Itu sebabnya kerap kali sikap Sean jadi manis, namun juga kadang ketus dan ucapannya pedas.
Yuliana menghela nafas kasar, melihat Sean yang tengah memakai pakaiannya. "Sudah ku bilang kan, kalau Clara ada di rumah, jangan ke sini. Habiskan saja malammu dengan istrimu."
Sean yang tengah memasang celananya pun menanggapi. "Sudahlah, jangan protes, lagi pula kamu menikmatinya," tanggapnya dengan santai.
Yuliana menghela nafas kasar. "Masalahnya di sini sudah ada istrimu, kenapa masih memakaiku? Memangnya kamu tidak puas dengan istrimu?"
Sontak Sean langsung menatapnya tajam, tangannya terulur menyentil kuat kening Yuliana.
"Anna, aku menidurimu bukan tidak puas dengan istriku! Tapi, sangat disayangkan jika mengangguri wanita yang bisa ku pakai gratis sepertimu," ucapnya dengan ketus.
Perkataannya itu langsung membuat Yuliana melotot tidak terima. Ia langsung mengangkat bantal dan melemparkannya pada Sean.
"Dasar jahat!" Pekiknya yang dibalas kekehan Sean.
"Aku membencimu Sean!" teriak Yuliana memandang emosi, dengan nafasnya yang ikut naik turun.
Sean mengulum senyum, sembari memasang kemejanya kembali. "Makanya jangan mengira dirimu akan setara istriku. Kau tetaplah ibu pengganti, dan teman ranjangku, sampai kamu melahirkan!" ucapnya dengan tegas, membuat Yuliana hanya bisa diam memandang tajam.
"Terima kasih malam ini," ucap Sean mengulum senyum manis, sebelum ia berbalik meninggalkan Yuliana.
"Ih!" Yuliana geram, memukul-mukul bantal setelah Sean hilang dari pandangan.
"Rebut suami orang bisa tidak sih? Aku mau membuat pria menyebalkan itu bertekuk lutut!" Pekiknya dengan jari tangan membengkok, seolah ingin mencakar sesuatu.
Namun, sesaat ekspresi geramnya pun berubah. "Aish, apasih Yuliana. Kamu dan Clara itu bagaikan langit dan bumi. Clara nyaris sempurna sedangkan kamu jauh di bawahnya. Bagaimana bisa kamu merebut posisinya? Tidak akan bisa Yuliana, tidak akan, sadarlah!" ucapnya kesal sendiri pada dirinya itu, yang terlalu banyak berkhayal.
Yuliana menghela nafas kasar. "Harusnya cowok kayak Sean yang harus dimusnahkan di muka bumi ini."
"Sifatnya kek bunglon, berubah di situasi tertentu," gumamnya menggerutu pelan.
Semangat bikin kelanjutan ceritanya kak🔥💪
lanjut
Semangat kak Bikin ceritanya! 💪🏻🔥
kapan ya part sean tau clara berkhianat sama anak yg di kandung clara bukan anak sean, biar menyesal seumur hidup sean,