Clarissa Atmaja yang baru kembali dari studinya disambut dengan tanggal pernikahan untuk menikahi laki-laki yang sudah menjadi tunangannya, laki-laki pilihan papanya. Namun, saat kembalinya ia dipertemukan dengan laki-laki yang menggetarkan hatinya, dan membuatnya jatuh cinta.
Angga yang dulunya pria yang hangat, berubah jadi dingin dan tak ingin lagi mengenal dengan yang namanya perempuan karena sakit hati dengan perempuan masa lalunya. Sehingga, membuat orang-orang berpikir dan menganggapnya laki-laki yang tidak normal atau tidak menyukai perempuan. Tetapi, Rissa bertekad untuk mengejar cintanya, dan menaklukkan laki-laki yang ia sukai. Tidak peduli dengan statusnya yang sudah bertunangan, dan tentang isu mengenai laki-laki yang ia sukai.
Mampukah Rissa menaklukkan hati Angga Wijaya atau ia akan menikahi laki-laki pilihan papanya yang sudah menjadi tunangannya?
oh ya kak jika berkenan follow Instagram aku mamika759
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Erik
"Nak, kenapa kalian berdua nggak bersama aja? Asistennya Rafi tidak punya pacar, kamu juga sampai sekarang tidak pernah punya pacar," Rissa membulatkan matanya mendengar ucapan Maminya Angga, dan ikut membenarkan ucapan Maminya Angga di dalam hatinya.
"Mi," Angga menghentikan ucapan maminya.
"Apa?" Mami menoleh melihat putranya. "Kenapa? Apa Mami salah? Kamu itu sudah dewasa, dan lagian kamu sibuk terus ngurusin pekerjaan kamu. Kapan lagi, waktu kamu untuk mencari pasangan? Jadi, apa salahnya kamu pacaran sama karyawan kamu sendiri," jelas Mami Angga.
"Tan."
"Kenapa? Apa kamu nggak suka sama Angga?" Dengan cepat Rissa menggelengkan kepalanya. Mami Herti tersenyum melihat jawaban Rissa.
"Bu-bukan itu maksud Saya, Tan," jawab Rissa cepat. Rissa melirik Angga, ia takut Angga salah paham padanya. Walaupun, ia senang mendengar apa yang diucapkan Maminya Angga, tapi ia tidak ingin memanfaatkan situasi, kecuali Angga menyetujuinya.
"Mi, sudah dong, Mi. Mami itu masih sakit, sebaiknya Mami istirahat saja di kamar. Angga sama Rissa mau ke kantor," ucap Angga.
"Kalo kamu mau ke kantor, kamu ke kantor saja! Rissa biar di sini aja dulu, temenin Mami," tegas Mami. Rissa terdiam mendengar ucapan Mami Angga.
Angga menghela nafasnya, "Mi, Mami nggak bisa maksain kehendak Mami, meminta Rissa menyetujui permintaan Mami. Lagian, Rissa itu...." ucap Angga terpotong karena suara Rissa yang terbatuk.
"Rissa, kamu nggak apa-apa?" Mami Herti mengusap punggung Rissa.
"Saya nggak apa-apa, Tan!" Rissa meraih tangan Mami Angga yang mengusap punggungnya.
Aduh, apa yang mau dikatakan sama Si Homreng ini? Apa dia mau bilang, kalo gue udah punya tunangan? ucap Rissa dalam hati, sambil menatap Angga.
"Mi, Angga sama Rissa pamit dulu! Kami mau ke kantor," Angga beranjak dari duduknya.
"Ngga, biarin Rissa di sini saja sebentar. Lagian kan rencana kalian tadi mau ke Palembang. Mami pengen ngobrol-ngobrol sama Rissa," pinta Mami.
Rissa melirik Angga, begitupun Angga. Kedua mata mereka saling bertemu. "Tan, Rissa minta maaf sama Tante. Hari ini, Rissa ngga bisa nemenin Tante ngobrol, karena masih ada kerjaan yang belum diselesaikan. Lain kali, Rissa nemenin Tante buat ngobrol," jelas Rissa yang tahu maksud dari tatapan Angga padanya tadi. Raut wajah mami Herti pun terlihat kecewa mendengar penolakan Rissa.
"Udah Mi, mereka mau ke kantor. Nanti, kalo Mami mau ngobrol sama Rissa, Mami tinggal ke kantornya Angga aja!" Angga menggelengkan kepalanya mendengar ucapan papinya.
Mami menghela nafasnya, "Kamu janji, yah! Nanti, temenin Tante ngobrol." Rissa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. "Iya, Tan. Rissa janji."
**
Mereka berdua meninggalkan kediaman rumah orang tua Angga. Mereka pun masuk ke dalam mobil.
"Pak, jadi kita ngantor, nih?" tanya Rissa.
"Iya, janji sama Pak Agus sudah di cancel," jelas Angga.
"Bukan itu maksud Saya. Kenapa Bapak nggak nemenin orang tua Bapak saja? Mami-nya Bapak kan sedang sakit," jelas Rissa.
"Apa kamu lihat Mami Saya tadi seperti orang sakit?" tanya Angga sambil melirik Rissa. Angga tau Maminya tidak sakit, maminya hanya berpura-pura.
Rissa terdiam, melihat dari yang dia lihat, maminya Angga terlihat sehat, dan malah terlihat begitu bersemangat. Apalagi saat akan menjodohkan dirinya dengan Angga.
"Mami Saya sudah sehat," terang Angga.
"Syukurlah!" jawab Rissa.
"Pak, kenapa kita nggak berangkat aja ke Palembang?" ajak Rissa. Rissa memikirkan malam ini dirinya akan tidur di mana, jika ia tidak berangkat ke Palembang. Setidaknya selama beberapa hari dirinya bisa menghindar dari Papanya atau pun Erik.
"Kita udah mengcancelnya," jawab Angga.
"Nanti biar saya ngubungin lagi sekretarisnya Pak Agus, kalau kita jadi berangkat," ucap Rissa.
"Tidak perlu. Saya tidak ingin di cap sebagai orang yang plin-plan," tolak Angga. Rissa menghela nafasnya.
***
Jam pulang kantor pun tiba, Rissa masih duduk di dalam ruangannya menunggu Angga pulang, sambil memikirkan dirinya akan pulang kemana? Kembali ke apartemen? Ia tidak ingin melibatkan kedua sahabatnya. Ke rumah? Itu sama saja dengan bunuh diri, pikir Rissa. Mencari apartemen, tidak mudah untuk mencari apartemen. Ke rumah Angga, ia yakin Angga tidak akan mengizinkan lagi dirinya menginap di rumahnya.
Tak lama suara pintu ruangan Angga terbuka. Rissa melihat Angga keluar dari ruangannya. Rissa pun bergegas beranjak dari duduknya, dan mengambil tasnya keluar dari ruangannya.
Rissa berjalan sedikit cepat mengejar Angga yang sedang menunggu liftnya terbuka, "Pak, tunggu!" teriak Rissa saat Angga masuk ke dalam lift. Angga menoleh, dan memencet tombol lift, menunggu Rissa.
"Terima kasih, Pak!" ucap Rissa sambil mengatur nafasnya.
"Pak, Saya ikut mobil Bapak lagi, yah!" ucap Rissa yang sedikit lancang di telinganya. Rissa tak menghiraukan Angga akan berpikir dirinya lancang. Angga hanya diam, tidak menjawab ucapan Rissa. "Pak, koper Saya kan, ada di mobil Bapak," sambung Rissa.
Angga menghela nafasnya, "Kamu pikirkan dari sekarang, Saya akan antar kamu kemana? Saya tidak mau, jalan muter-muter ngga jelas!" tegas Angga.
Pintu lift terbuka, mereka berdua keluar dari lift. Banyak pasang mata melihat ke arah mereka. Karyawan yang melihat, merasa sedikit aneh melihat Angga sekarang. Biasanya Angga enggan berhubungan dengan perempuan, tapi tidak sekarang. Rissa selalu mengintil di belakang Angga. Bahkan, pulang pun mereka bersama.
"Rissa!" Rissa terkejut mendengar suara yang memanggil namanya. Apalagi tangannya dipegang oleh laki-laki yang tidak ingin ia temui saat ini.
"E-erik," ucap Rissa terbata, dengan mata yang membulat. Begitupun Angga, ia menghentikan langkahnya, dan menoleh mendengar suara Rissa.