Arya dan Rania dipaksa menikah oleh kedua orang tua masing masing karena tidak ingin wanita lain yang merawat bayi yang dilahirkan oleh Ayumi yang tidak lain dari kakak dari Rania sendiri. Arumi meninggal dunia tak lama setelah melahirkan anak keduanya.
Ternyata menjadi ibu sambung untuk anak yang terbiasa memanggil dirinya Tante dan menjadi istri dari laki laki yang terbiasa dia panggil kakak ipar adalah hal yang paling sulit dalam hidupnya. Sofia, putri pertama Arya dan Arumi yang sudah berusia sepuluh tahun tidak menerima Rania sebagai ibu sambung. Kata kata hinaan dan kata kata tuduhan dari Sofia menjadi santapan Rania di awal pernikahannya dengan Arya. Bukan hanya Sofia yang menolak kehadirannya. Arya yang seharusnya memberikan perlindungan kepada Rania. Laki laki itu juga sangat jelas menunjukkan kebenciannya pada Rania.
Lalu, sanggupkah Rania bertahan. Apakah Rania tega meninggalkan Rio yang mengenal dirinya sebagai ibunya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Arya memikirkan kata kata Rania. Kata kata yang jelas menunjukkan jika Rania tidak anti perhiasan. Dan memang itu terlihat dari penampilan Rania. Rania memakai perhiasan tipis tipis di leher, telinga dan jarinya.
Perhiasan tipis tipis itu membuat penampilan Rania semakin menarik. Jika diperhatikan. Rania itu cantik dan modis. Tidak salah jika Randy sangat mencintai wanita itu.
Selama menjadi adik ipar. Rania juga menunjukkan sikap yang sangat sopan kepadanya. Menghargai dirinya sebagai kakak ipar dan juga terlihat menyayangi Sofia.
Meskipun Rania adalah adik dari Ayumi. Jika berkunjung ke rumah itu. Rania bisa menjaga sikap. Dan tidak pernah seingat Arya. Rania menyusahkan dirinya dan Ayumi. Baik secara materi maupun hal lainnya.
Satu persatu sikap baik Rania terlintas di kepalanya. Tentang perhiasan itu. Arya bisa melihat jika Rania dan Ayumi mempunyai sifat yang sama. Di masa hidupnya, Ayumi juga tidak mau menerima sesuatu yang bukan haknya.
Seketika, Arya merasa bersalah. Dia pernah menilai jika Rania bersedia menikah dengannya hanya demi kenyamanan hidup. Wanita mana yang tidak ingin seperti Ayumi. Wanita yang sangat dicintai dan dimanja oleh suaminya. Arya pernah berpikir jika menjadi istrinya adalah momen yang paling ditunggu oleh Rania mengingat kekasihnya hanya seorang mahasiswa.
Makin kesini. Keputusan menikahkan mereka berdua adalah keputusan yang paling tepat. Arya tidak bisa membayangkan mempunyai pengganti Ayumi yang hanya mencintai dirinya dan hartanya.
Tapi sayang, meskipun Arya kini merasa bersalah dan bisa melihat ketulusan Rania. Entah mengapa getaran asmara itu belum terasa di dadanya. Apakah dengan sering sering bersentuhan dengan Rania akan bisa menumbuhkan getaran asmara itu?"
Pertanyaan itu terlintas di pikiran Arya. Jujur, untuk tidur di ranjang yang sama. Mungkin bisa saja. Dan Arya ingin membiasakan hal itu. Tapi untuk mengulang hal intim dengan keadaan yang sadar. Rasanya Arya tidak bisa melakukan hal itu. Dia melakukan malam pertama dengan Rania karena pengaruh alkohol.
"Ran, terima kasih karena sudah mau menjadi istriku dan bunda dari anak anakku," kata Arya setelah beberapa saat terdiam.
Meskipun belum ada getar asmara itu. Arya sudah berjanji dalam hati untuk memperlakukan Rania dengan baik. Sama seperti Rania memperlakukan anak anaknya dengan baik.
Rania membalas perkataan Arya itu dengan senyuman manis. Dia tahu bahwa suaminya belum ada rasa cinta untuk dirinya. Andaikan rasa itu ada. Cara Arya berterima kasih pasti akan berbeda. Tapi tidak apa apa. Rania ingin hidup damai tanpa kebencian. Itu sudah cukup. Masalah cinta. Biarlah waktu yang akan menumbuhkan rasa itu di hati mereka berdua.
"Kak, aku adalah wanita yang belum berpengalaman mengurus rumah tangga. Aku juga banyak kekurangan. Beritahu aku, jika ada sesuatu yang kurang berkenan atas sikap dan pekerjaanku di rumah ini."
Meskipun tersenyum dengan ucapan terima kasih dari Arya. Tidak langsung membuat Rania melambung tinggi. Dia sengaja mengutarakan kekurangannya supaya Arya sadar bahwa dirinya adalah istri yang perlu bimbingan suami.
Perkataan Rania membuat Arya semakin melihat ketulusan hati Rania. Perkataan itu jelas menunjukkan jika Rania memang ingin benar benar belajar berbuat yang terbaik. Demi apapun, Arya bersyukur karena menjadi suami dari wanita tulus itu.
"Pasti Ran. Kamu juga. Kalau ada sikapku yang membuat kamu tersinggung. Jangan segan segan mengkritik aku ya."
"Yakin mau dikritik, Kak?" tanya Rania sambil tersenyum.
"Yakin donk. Apalagi dikritik oleh istri sendiri."
"Yee, syukurlah sudah diakui sebagai istri. Selama ini kemana bung?" canda Rania membuat Arya tertawa. Tak sadar laki laki itu mengulurkan tangannya untuk mencubit pelan pipi istrinya.
"Kok dicubit sih, kak. Di cium donk."
"Ishh. Bundanya Sofia sudah mulai nakal ternyata."
Rania cepat beranjak dari duduknya. Dan melangkah cepat menuju pintu kamar.
"Nakal sama suami sendiri kan tidak apa apa," kata Rania lagi sebelum melewati pintu. Wanita itu berjalan cepat menuruni tangga karena suara tangisan Rio memanggil dirinya untuk segera ke kamar bayi itu.
Ditinggal Rania di kamarnya. Arya tersenyum sendiri. Pembicaraan mereka beberapa detik yang lalu mengalami perkembangan. Rania berhasil membuat pembicaraan mereka tidak kaku lagi. Tak sadar, mereka saling mengakui sebagai suami dan sebagai istri.
Di kamar Rio. Rania langsung memeriksa tubuh Rio. Layaknya sebagai ibu yang baik. Rania langsung mengurus bayi itu mulai dari mengganti diapers hingga memberikan susu.
Tak lupa, Rania bersyukur atas apa yang dia rasakan saat ini. Sikap Arya berubah drastis itu sudah seperti berkah untuk dirinya. Apapun yang menjadikan alasan pernikahan mereka terjadi. Tetap saja, Rania menginginkan kedamaian dalam menjalani pernikahan itu.
"Ran, kamu belum sarapan. Ayo, sarapan!"
Wajah Arya tiba tiba menyembul di depan pintu membuat Rio menangis.
"Sapa dulu putramu, kak. Biar aku yang menyiapkan sarapan," kata Rania sambil meletakkan ponselnya. Wanita itu menghampiri boks kemudian mengambil Rio.
Arya mengajak putranya berbicara. Meskipun Rio belum bisa menjawab kata katanya. Gerak gerik Rio sudah membuat Arya senang.
Suara notifikasi pesan dari ponsel Rania menarik perhatian Arya. Laki laki itu mengambil ponsel itu. Sejenak dia ragu untuk melihat isinya. Rasa penasarannya menjadi jadi kala teringat pertemuan Rania dan Randy di depan kafe saat itu. Arya ingin melihat sejauh mana hubungan istrinya dengan Randy.
Arya dengan mudah membuka ponsel istrinya itu karena tidak dilengkapi sandi pengaman. Sasarannya langsung ke aplikasi berwarna hijau untuk mengetahui komunikasi terakhir antara istrinya dan Randy.
Chating teratas di aplikasi itu membuat Arya mengerutkan keningnya. Foto profil pengirim pesan jelas terlihat disana dan Arya mengenali foto profil itu. Foto yang menunjukkan logo perusahaan tempatnya bekerja. Dan pengirim chat itu adalah tenaga personalia yang biasanya mengirimkan informasi kepada calon pegawai.
Dengan hati yang tidak tenang. Akhirnya Arya membuka pesan itu. Benar dugaannya, ternyata Rania adalah salah satu calon pegawai yang telah lulus test dan interview. Jika dihubungi seperti ini. Itu artinya Rania sudah diterima dan tinggal menandatangani kontrak kerja.
Yang membuat kepala Arya mendadak pusing. Karena perusahaan membutuhkan pegawai bukan di kantor pusat melainkan di kantor cabang di luar provinsi.
Arya memukul kepalanya karena kesal pada dirinya sendiri. Dia sudah mendengar dari Hanin sebelumnya jika Rania sedang wawancara kerja untuk di luar kota. Dia tidak menyangka jika perusahaan yang dilamar oleh Rania adalah perusahaan tempatnya mencari rejeki. Dan ini semua terjadi karena kebodohannya sendiri. Andaikan dirinya tidak mengijinkan Rania pergi saat itu. Kenyataannya tidak serumit ini.
Mendadak Arya ketakutan. Dia takut istrinya tergiur dengan gaji besar yang ditawarkan oleh perusahaan. Kasih sayang Rania pada anak anaknya memang tidak diragukan lagi. Yang membuat Arya takut. Rania ingin menjadi wanita mandiri. Rania baru saja tamat kuliah. Bisa dipastikan jika mahasiswa yang baru tamat pasti penasaran dengan dunia kerja.
pantes dr kmrn cek riceknko gk update 😁