Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Kado Terindah untuk Sang Tuan
Malam mewah di hotel bintang lima itu berlalu dengan begitu sempurna. Kinanti, dengan keanggunan alaminya yang bersahaja namun memikat, telah berhasil memukau seluruh rekan bisnis Baskara. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis desa yang ada hanyalah seorang Nyonya Dirgantara yang cerdas, santun, dan penuh percaya diri saat mendampingi suaminya. Baskara sendiri sepanjang malam tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari jemari Kinanti, seolah ingin menegaskan kepada dunia bahwa wanita di sebelahnya adalah harta paling berharga yang ia miliki.
Semenjak malam pertemuan bisnis itu, hari-hari di kediaman Dirgantara berjalan dengan ritme yang penuh kehangatan. Hubungan suami istri antara Baskara dan Kinanti kian hari kian harmonis dan romantis. Baskara, yang di luar dikenal sebagai pria berdarah dingin dan bertangan besi dalam dunia bisnis, selalu berubah menjadi sosok suami yang teramat hangat, protektif, dan posesif saat berada di kamar mereka. Dia kerap kali memanjakan Kinanti dengan perhatian-perhatian kecil yang tak terduga, seperti menyisir rambut panjang istrinya setelah mandi atau sengaja pulang lebih awal hanya untuk menikmati makan malam berdua di taman belakang rumah.
Namun, memasuki bulan kedua setelah genap satu tahun pernikahan mereka, sebuah perubahan kecil mulai terjadi pada kondisi fisik Kinanti.
Pagi itu, mentari baru saja memancarkan sinar keemasannya menembus jendela kamar yang luas. Kinanti terbangun dengan rasa mual yang teramat hebat yang mendera dadanya. Sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya, dia sudah melompat dari atas ranjang king size dan berlari terburu-buru menuju kamar mandi.
“Hoeeekk… hoeeekk…”
Kinanti bertumpu pada wastafel marmer, memuntahkan cairan bening dari tenggorokannya yang terasa kering. Wajahnya seketika memucat, dan pelipisnya dipenuhi keringat dingin.
Mendengar suara gaduh dari kamar mandi, Baskara yang baru saja selesai memakai kemeja kerjanya langsung menyusul dengan langkah lebar. Wajah tegas pria itu langsung dipenuhi kilat kepanikan yang jarang sekali diperlihatkannya. Dengan sigap, Baskara memijat tengkuk Kinanti dengan lembut, sementara tangan satunya mendekap pinggang istrinya agar tidak limbung.
"Ada apa, Kinan? Kamu sakit?" tanya Baskara, suaranya terdengar sangat khawatir. Dia mengambil selembar tisu, mengusap bibir Kinanti, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi sang istri. "Badanmu tidak demam. Apakah kamu salah makan di kafe kemarin?"
Kinanti menggeleng lemah, menyandarkan kepalanya yang terasa berputar ke dada bidang Baskara. "Tidak tahu, Mas. Akhir-akhir ini aku memang sering merasa lelah dan mual, terutama di pagi hari. Mungkin hanya maag biasa karena beberapa hari ini aku melewatkan sarapan saat menyiapkan pesanan kue baru."
Baskara mengernyitkan alisnya tajam, tidak menyukai jawaban istrinya yang terkesan menyepelekan kesehatan. "Aku sudah berulang kali katakan, jangan terlalu memaksakan diri di kafe itu. Hari ini kamu tidak boleh ke mana-mana. Istirahat di rumah, aku akan memanggil dokter pribadi keluarga untuk memeriksa—"
"Tidak usah sampai memanggil dokter, Mas," potong Kinanti lembut, mencoba menenangkan suaminya yang bersikap terlalu protektif. "Aku hanya butuh istirahat sebentar dan minum teh hangat. Nanti juga sembuh sendiri."
Baskara menghela napas berat, namun akhirnya mengalah setelah melihat tatapan memohon dari mata jernih istrinya. Pria itu mengecup puncak kepala Kinanti dengan dalam sebelum menuntunnya kembali ke ranjang. Sebelum berangkat ke kantor, Baskara memberikan instruksi ketat kepada Bi Asih, kepala pelayan rumah, untuk mengawasi Kinanti dan memastikan istrinya tidak menyentuh pekerjaan apa pun hari ini.
Siang harinya, setelah Baskara berangkat kerja dan Natasha masih berada di sekolah, Kinanti duduk di sofa ruang tengah sambil menikmati teh jahe hangat buatan Bi Asih. Rasa mualnya sudah sedikit berkurang, namun rasa kantuk dan lemas yang luar biasa masih menggelayuti tubuhnya.
Bi Asih berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam. Wanita paruh baya yang sudah mengabdi puluhan tahun di keluarga Dirgantara itu menatap Kinanti dengan senyuman misterius yang sarat akan pengalaman hidup.
"Non Kinan... maaf kalau Bibi keliru ya," ucap Bi Asih pelan seraya meletakkan mangkuk bubur di atas meja. "Bibi perhatikan, belakangan ini Non Kinan tidak hanya mual-mual, tapi juga jadi lebih suka tidur dan wajahnya terlihat berbeda. Lebih bercahaya, seperti... aura wanita yang sedang berbadan dua."
Kinanti seketika terpaku. Cangkir teh di tangannya hampir saja terguncang. "Berbadan dua? Maksud Bibi... hamil?"
"Iya, Non. Apakah Non Kinan ingat kapan terakhir kali datang bulan?" tanya Bi Asih lembut.
Kinanti mencoba mengingat-ingat, dan sedetik kemudian matanya melebar sempurna. Dia menyadari bahwa siklus bulanannya sudah terlambat lebih dari dua minggu. Selama ini dia terlalu sibuk mengurus pembukaan menu baru di kafenya hingga tidak memperhatikan hal itu.
Melihat ekspresi terkejut di wajah nyonya mudanya, Bi Asih tersenyum lebar. Dia merogoh kantong celemeknya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berlogo apotek yang ternyata sudah dia siapkan sejak pagi. "Ini, Non. Tadi Bibi sempat meminta satpam depan untuk membelikannya di apotek seberang kompleks. Lebih baik Non Kinan coba periksa sekarang di kamar mandi, biar hatinya tenang."
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa gugup yang tiba-tiba membuncah, Kinanti menerima alat tes kehamilan (testpack) tersebut. Dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan jantung yang berdegup kencang bak marawis.
Menunggu beberapa menit terasa bagaikan berjam-jam bagi Kinanti. Dia meletakkan alat pipih itu di atas meja wastafel dan memejamkan matanya rapat-rapat, merapalkan doa di dalam hati. Ketika dia memberanikan diri untuk membuka mata dan melihat hasilnya, air mata Kinanti seketika luruh tanpa bisa ditahan.
Di atas alat putih kecil itu, tertera dua garis merah tegas yang sangat jelas.
Positif. Dia sedang mengandung anak Baskara. Anak mereka.
Kinanti keluar dari kamar mandi dengan menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata kebahagiaan. Bi Asih yang menunggu di luar langsung tahu jawabannya begitu melihat binar di mata Kinanti. Wanita tua itu langsung memeluk erat sang nyonya muda dengan rasa syukur yang teramat sangat.
Sore harinya, kepulangan Baskara disambut dengan suasana rumah yang sedikit berbeda. Ruang tengah tampak sunyi, namun aroma masakan yang teramat lezat merebak dari arah dapur. Pria itu meletakkan tas kerjanya dan langsung melangkah menuju dapur, di mana dia menemukan Kinanti sedang menata beberapa hidangan di atas meja makan.
"Kinan, bukankah sudah kukatakan untuk istirahat?" tegur Baskara dengan nada beratnya yang khas, namun matanya memancarkan kelembutan saat dia berjalan mendekat dan memeluk Kinanti dari belakang, menenggelamkan wajahnya di leher harum istrinya.
Kinanti berbalik di dalam dekapan Baskara, menatap lurus ke dalam mata elang suaminya. Senyumnya sore ini begitu indah, hingga membuat Baskara sempat tertegun.
"Aku sudah sehat, Mas. Lagipula, hari ini aku memasak makanan kesukaan Mas karena ada kado spesial yang ingin kuberikan," bisik Kinanti manis.
"Kado? Hari ini bukan hari ulang tahunku, dan hari jadi pernikahan kita sudah lewat dua bulan lalu," ujar Baskara, alisnya bertaut heran.
Tanpa menjawab, Kinanti meraih tangan besar Baskara, menuntunnya, lalu meletakkan alat testpack bergaris dua itu tepat di atas telapak tangan suaminya.
Baskara menatap benda kecil di tangannya. Detik pertama, pria perkasa yang biasanya sangat cepat tanggap dalam mengambil keputusan bisnis itu mendadak kaku. Dia menatap alat itu, lalu menatap perut rata Kinanti, kemudian kembali menatap alat itu berulang kali. Matanya yang biasanya tajam dan dingin seketika berkaca-kaca, memancarkan ketidakpercayaan yang teramat besar.
"Ini... ini sungguhan, Sayang?" suara Baskara bergetar hebat, sesuatu yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya.
Kinanti mengangguk kuat dengan air mata yang kembali menetes. "Iya, Mas. Umurnya baru jalan beberapa minggu. Aku positif hamil."
Seketika itu juga, pertahanan pria matang itu runtuh total. Baskara langsung merengkuh tubuh Kinanti ke dalam pelukannya dengan teramat erat, seolah-olah ingin menyatukan tubuh wanita itu ke dalam dirinya sendiri. Dekapan itu begitu kuat namun penuh dengan kehati-hatian yang luar biasa, seakan takut jika sedikit saja dia kasar, kebahagiaan ini akan luruh dan menghilang. Baskara mengecup seluruh wajah Kinanti, menyalurkan rasa syukur dan cinta gila yang teramat membuncah di dalam dadanya.
"Terima kasih... terima kasih banyak, Sanyang. Kamu memberikan kado paling indah dalam hidupku," bisik Baskara parau,
Kebahagiaan itu kian bertambah lengkap ketika Natasha pulang sekolah tak lama kemudian. Begitu diberi tahu bahwa dia akan segera memiliki seorang adik, remaja perempuan yang biasanya jaim dan manja itu langsung berteriak kegirangan. Natasha bahkan langsung memeluk perut Kinanti dengan heboh.
"Tante Kinan serius?! Wah, akhirnya aku punya adik! Papi, awas ya, jangan sampai membuat Tante Kinan stres. Mulai hari ini, biar aku yang menjaga Tante Kinan dari Papi yang galak!" seru Natasha dengan sifat manjanya yang kini berbaur dengan rasa sayang yang protektif kepada ibu tirinya.
Kabar gembira itu pun malam itu juga langsung disampaikan kepada Juragan Ramli dan orang tua Kinanti di desa melalui sambungan telepon. Tangis haru dan tawa bahagia pecah di seberang sana. Juragan Ramli yang teramat bahagia langsung mengumumkan bahwa esok hari dia akan mengadakan acara syukuran besar-besaran di pabrik beras desa Sukamaju dengan membagikan sembako dan menyantuni seluruh anak yatim di kecamatan sebagai bentuk rasa syukur atas kehamilan menantunya.
Malam itu, keluarga Dirgantara berkumpul di ruang keluarga. Baskara duduk di sofa dengan Kinanti yang bersandar nyaman di dada bidangnya, sementara tangan kekar Baskara terus mengusap lembut perut istrinya yang masih rata. Di karpet bawah, Natasha sibuk memegang iPad-nya, dengan heboh membacakan deretan nama-nama bayi modern yang dia cari dari internet.
Suasana ruangan itu dipenuhi oleh tawa, kehangatan, dan cinta yang begitu melimpah. Segalanya tampak teramat sempurna, sebuah puncak kebahagiaan tertinggi yang dirasakan oleh Kinanti semenjak dia menapakkan kakinya di rumah ini. Namun, di balik tawa dan ketenangan malam yang indah itu, takdir sedang perlahan memutar rodanya di kegelapan. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa kebahagiaan yang teramat pekat ini adalah ketenangan terakhir yang diberikan semesta, sebelum sebuah badai konflik baru yang jauh lebih kejam dan tak terduga mulai mengintai, siap menghantam kehidupan rumah tangga mereka tepat setelah tangisan bayi pertama Kinanti lahir ke dunia nanti.