NovelToon NovelToon
Dendam Kesumat : Kasyaf

Dendam Kesumat : Kasyaf

Status: tamat
Genre:Poligami / Spiritual / Matabatin / Showbiz / Horor / Tamat
Popularitas:105.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Dharris S

Dendam kesumat yang terselubung, mengintai sebuah keluarga. Tak ada yang sadar kalau mereka tengah diincar ajalnya. Sampai saat sang anak sulung pulang dari merantau.

Takdir membuatnya mewarisi kekuatan gaib dari leluhurnya. Namun takdir itu juga memaksanya untuk menjadi tameng hidup bagi keluarganya. Santet dan sihir keji silih berganti menimpanya.

Siapa sebenarnya yang menyimpan dendam kesumat itu? Dan akankah si anak sulung ini bertahan?

stay tune!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Dharris S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dijenguk para sahabat

Lama-lama, Icha tak tahan dengan rasa kantuknya. Dia tidak bisa berbohong lagi kalau sebenarnya tubuhnya sangat lelah. Tanpa bisa ditahan, diapun tertidur di kursi rodanya.

Dia terjaga saat merasakan elusan di kepalanya. Saat matanya terbuka, senyum ibunya langsung menyambut. Dan sinar lampu di atasnya, kini telah berganti dengan sinar mentari.

   “Ya Alloh. Udah pagi?”

Icha terkejut, karena ketinggalan waktu subuh. Ibunya tergelak saat melihat Icha mengaduh. Dia bangga dengan putri sulungnya, yang masih taat menjalankan kewajibannya.

   “Hari ini kamu udah boleh pulang, mbak”

Sebuah sapaan mengalihkan perhatian Icha. Ternyata adalah istri kedua bapaknya. Sedangkan bapaknya ada di belakangnya, berdiri menyuapi ibunya.

   “Kamu istirahat ya, di rumah” saran bu Sari.

   “Nggak mau” jawab Icha tegas. Terdengar ketus di telinga.

   “Icha nggak mau pulang sebelum ibu sembuh” lanjut Icha.

   “Kan ada bapak, yang jagain ibu. Ada bulek Rini juga”

   “Nggak mau. Jagain apanya? Jaga tuh di sini, bukan di luar. Untung aja semalem ibu nggak kenapa-kenapa” jawab Icha. Semuanya terkesiap.

   “Semalem kamu di gangguin lagi, nduk?” tanya pak Sigit.

   “Telat. Mendingan Tika, langsung tanggap. Ngaji di sini. Bisa jadi benteng buat ibu” jawab Icha ketus.

Bu Maryati mengelus tangan Icha. Mencoba meredakan kemarahan putri sulungnya itu. Bu Sari terdiam tak tahu harus menjawab apa. Sedangkan suaminya sendiri juga tak berkutik.

   “Ya udah. Sekarang kamu sarapan dulu, ya!” kata pak Sigit.

   “Tika kemana, pak?” tanya Icha.

Dia memutar kursi rodanya, jadi menghadap ke ranjang ibunya.

   “Di ruang tunggu. Lagi sarapan sama bulekmu” jawab pak Sigit.

Icha terdiam melihat makanan ibunya sangat encer. Itu berarti tenggorokan ibunya masih belum bisa menelan makanan kasar.

   “Semalem ibu sesek lagi, nggak?” tanya Icha.

Bu Maryati menggeleng sambil tersenyum. Icha mencium jemari tangan ibunya. Di dalam hati dia mengucap syukur, tidak ada yang mengganggu ibunya, malam tadi.

   “Sarapan, ya!” pinta bu Maryati. Suaranya masih serak, hampir tak terdengar.

Icha tersenyum. Dia tidak bisa menolak kalau ibunya yang memberi perintah. Dia memutar kursi rodanya kembali, menghadap bapaknya.

   “Aku suapin, ya?” seru bu Sari. Dia berjalan menuju meja, tempat makanan itu diletakkan.

   “Enggak” jawab Icha.

Sontak bu Sari terhenti langkahnya. Dia menatap Icha, mencari penjelasan. Tapi Ichanya sendiri malah menatap tajam ke arah tembok. Sedikit di atas makannya berada. Semua mata teralihkan ke makanan itu.

   “Kalo sampe aku tahu, kamu jilatin makanan ibuku, demi apapun aku akan bikin perhitungan sama kamu” kata Icha lirih tapi penuh aura kemarahan.

   “Kamu ngeliat apa, nduk?” tanya bu Maryati.

Icha tidak segera menjawab. Dia mengalihkan pandangannya, seperti mengikuti larinya seekor kucing. Dia sampai mendongak dan berputar arah. Seolah yang dia lihat itu bisa memanjat dan berjalan di atap beton.

   “Icha nggak tahu, bu. Icha baru lihat” kata Icha menjawab pertanyaan ibunya. Bu maryati tampak bingung.

   “Kaya babi, tapi juga kaya Anjing. Bulunya kaya beruang, tapi bisa manjat kaya kera” lanjut Icha.

   “Mau bubur ayam?” tanya bu Sari. Perhatian semuanya teralihkan.

   “Tadi bulekmu bawa banyakan” lanjut bu Sari.

Icha memutar kursi rodanya. Dia memandang ke arah bu Sari. Lalu dia mengangguk, tanda memberikan persetujuan. Bu Sari tersenyum dan berlalu pergi mengambil buburnya. Tapi tak lama kemudian, yang muncul justru Tika. Dia yang membawakan bubur untuk Icha, seolah tak ingin sang kakak disentuh sama bu Sari.

   “Kamu nggak boleh gitu, dek” kata Icha, saat Tika memposisikan diri di depannya.

   “Bubur sumsum apa bubur ayam?”

Tika malah bertanya, tanpa menghiraukan teguran kakaknya. Icha menghela nafas.

   “Sumsum aja” jawab Icha.

Tikapun menyuapi kakaknya. Terasa nikmat bubur itu bagi Icha. Sudah lama dia tidak menikmati bubur sumsum. Rasa lapar di perutnya membuat makannya lahap. Tika tergelak melihat kakaknya sampai merem-merem, seolah bubur itu sekelas buatan restoran.

    Tok tok tok

   “Assalamu’alaikum”

Terdengar ketukan pintu dan salam dari luar ruangan. Sontak Tika berdiri dan membukakan pintu.

   “Wa’alaikum salam” jawab Tika. Dia tidak membuka sepenuhnya pintu itu.

   “Apa benar saudari Icha Rahayu Santi dirawat di sini?”

Suara lirih itu membuat Icha tersenyum. Dia tampak mengenal suara itu.

   “Iya, betul” jawab Tika.

   “Kaya nggak asing” gumamnya.

   “ Mas ini, siapa?” tanya Tika.

   “Kami teman kerjanya Icha. Kami dengar Icha dirawat, makanya kita ke sini”

   “Masya Alloh. Monggo, monggo, silakan” seru Tika. Dia membukakan pintu lebih lebar, dan mempersilakan tamu itu masuk.

   “Icha” gumam tamu itu.

   “A’ Farhan” gumam Icha.

   “Assalamu’alaikum om, tante”

Ada dua suara lain yang memberikan salam.

   “Wa’alaikum salam” jawab pak Sigit dan bu Maryati.

 Icha dan tamu yang dipanggil Farhan itu tersentak.

   “Masuk, masuk” kata pak Sigit mempersilakan.

   “Nova, Rita” seru Icha.

Yang dipanggil langsung menghambur ke arah Icha. Keduanya berlutut dan memeluk Icha.

   “Lu kenapa, Cha?” tanya si Nova. Air matanya tampak mengalir.

   “Masya Alloh. Senengnya, dijenguk kalian. Kok bisa tahu, sih?” sahut Icha.

   “Tuh” jawab Rita, menunjuk ke Farhan.

Yang ditunjuk jadi salah tingkah. Terlebih, saat tatapan matanya beradu dengan tatapan mata Icha.

   “Va. Kita belum salim sama om, sama tante” kata Rita mengingatkan.

   “Oh, iya”

Merekapun beranjak menuju pak Sigit dan bu Maryati. Bergantian mereka menyalami keduanya.

   “Tante. Gimana kondisinya, udah baikan?” tanya Nova.

   “Alhamdulillah” jawab bu Maryati, masih dengan suara serak.

   “Ibunya Icha abis operasi di tenggorokan. Jadi suaranya masih serak” kata pak Sigit.

   “Ya Alloh. Semoga Alloh cepet kasih kesembuhan buat ibu, ya. Kita hanya bisa mendoakan, bu” kata Nova.

   “Amiin. Terimakasih ya, nduk. Udah berkenan jauh-jauh nengokin Icha” kata bu Maryati.

   “Sama-sama, bu. Kita emang udah punya rencana buat main, bu. Eh, keduluan dapet kabar kalo Icha sakit. Ya sudah, kita majukan” jawab Nova.

Dibelakang mereka, Farhan terliat salim sama pak Sigit. Lalu nova dan Rita bergeser, memberikan ruang bagi Farhan untuk salim ke bu Maryati.

Saat akan beranjak, Farhan sempat melihat makanan ransum dari rumah sakit. Melihat Icha disuapi bubur, Farhan jadi beratanya-tanya.

   “Ini, ransum siapa, Cha?” tanya Farhan lirih.

   “Ransum aku” jawab Icha.

Farhan seperti terkejut. Dia seperti menyimpan kehawatiran jika Icha sampai memakan makanan itu.

   “Kenapa?” tanya Ica.

   “Udah kamu makan?” tanya Farhan.

   “Belum. Aku nggak makan itu”

   “Kenapa?”

   “Eeem”

   “Farhan” tegur Rita. Farhan tersentak

   “Aa’ tahulah, jawabannya” jawab Icha.

   “Huufff. Syukurlah” kata Farhan sambil mengucap syukur.

Merekapun lantas saling bertukar cerita. Tentang kabar masing-masing, tentang pekerjaan, tak ketinggalan tentang sebab Icha sampai masuk rumah sakit. Walau Icha belum menceritakan seutuhnya. Ada yang masih dia simpan.

   “Assalamu’alaikum”

Terdengar suara salam lagi dari arah luar ruangan. Mereka yang sedang asyik berbincang jadi teralihkan perhatiannya.

   “Wa’alaikum salam” Jawab mereka. Dan masuklah dua orang yang datang menjenguk.

   “Mita” sapa Icha.

   “Icha. Sori banget, aku baru bisa nengokin” kata Mita, sambil menyalami Icha.

   “Eh. Ada tamu juga, nih?” kata Mita berbasa-basi.

   “Ini sahabat-sahabatku juga, Mit. Ini Nova, dan ini Rita”

   “Loh. Mirip nama kita, mbak” komentar Mita sambil menyalami Rita.

   “He he. Iya. Kebetulan banget, ya. Salam kenal mbak Mita” sahut Rita.

   “Salam kenal juga, mbak” balas Mita.

  “Kalau yang ini?”

   “Aku Farhan”

   “Oh. Salam kenal”

   “Gimana lukanya, Cha?” sebuah suara tenor mengalihkan perhatian mereka.

   “Eh, iya. Ya Alloh. Sampai begini, Cha” timpal Mita.

   “Udah sembuh kok, mas Hasan. Tinggal nunggu kering aja” jawab Ica sambil tersenyum manis.

Sontak senyum manisnya mengundang perasaan lain di hati Farhan. Tampak dia kurang suka melihat Icha memberikan senyum indahnya untuk Hasan.

   “San. Kita keluar dulu, yuk! Maksimal cuman tiga orang yang boleh nengok. Entar gantian, abis Mita” ajak pak Sigit.

   “Oh. Iya. Baik, pak” sahut Hasan.

   “Aku di luar dulu, ya?” pamit Hasan.

   “Iya” jawab Icha. Lagi-lagi dia tesenyum manis pada Hasan.

   “Mit. Buah tangannya kasihin!” kata Hasan pelan.

   “Loh. Bukannya mas Hasan yang bawa?”

   “Enggak”

   “Yaah. Ketinggalan di motor, dong?”

   “Haduuh”

   “Ha ha ha. Aku ambil dulu” kata Mita sambil tertawa. Dia keluar untuk mengambil buah tangan yang tertinggal.

Yang lain ikut tergelak, tapi tidak dengan Farhan. Wajahnya tampak datar tanpa senyum. Sampai-sampai Icha disenggol bu Maryati, karena ada tamunya yang tidak tersenyum.

   “Kenapa, a’?” tegur Icha.

   “Hem? Enggak” jawab Farhan.

   “Itu tadi, suaminya Mita, ya?” tanya Farhan. Icha tersenyum.

   “Bukan. Itu kakaknya” jawab Icha.

Tambah menjadilah, rasa cemburu di hati Farhan. Tampak sekali di wajahnya.

   “Maneh kumaha atuh, Han? Baheula ditinggalan, ayuena dicemburuan” komentar Rita.

Farhan terkesiap. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Rita. Sempat dia beradu pandang dengan Icha. Ichapun seperti masih ada rasa dengan Farhan.

   “Iya, Icha ngerti, kok. Sekarang Icha paham, kenapa aa’ pergi. Kalo aja aa’ nggak pergi, dan aa’ ngebantuin Icha buat tetep bertahan di sana, mungkin Icha bakal nyesel seumur hidup” kata Icha sambil mencium jemari tangan bu Maryati.

   “Kok bisa? Nggak ngerti deh” tanya Nova. Icha tersenyum.

   “Tapi, “ Farhan ingin mengatakan sesuatu, tapi keberaniannya tersendat.

   “Ya kamu harus berusaha lagi kaya dulu lah, Han! Sekarang Icha punya hak penuh buat milih” sahut Nova.

   “Bener kan, bu?” tanya Nova pada bu Maryati.

Farhan melotot pada Nova, sedangkan Bu Maryati tersenyum padanya. Icha jadi tergelak melihat kelakuan sahabatnya.

    Aku masih di sini, di atas bumi ini....

1
Mulyati Wahyuni
ga smua org bs BHS Jawa EN inggris jdi biasa kan gunakan terjemahan di bwh nya agar pembaca novel LBH paham lgi
Dharris Tio: siap kakak. makasih masukannya
total 1 replies
Haidar Nurfadhillah
/Drool/
Dharris Tio: makasih kak. tunggu kelanjutannya ya
total 1 replies
Zayn at Thoriq
dah baca Ampe selesai... ZERUUU SEKALI.


ada kelanjutan nya gak????
Dharris Tio: makasih kak, udah baca karyaku. maaf nih, baru r5espon. aku lagi bikin lanjutannya kak. ditunggu ya!
total 1 replies
Kustri
widiiiih... tirtonadi, kota kelahiranqu
💪💪💪
Dharris Tio: deket dong. stay solo apa merantau kak
total 3 replies
Dony Ahmad Dony
ceritan sangat seru
Neni Afriani
bagus bgt
Ira_87
Menegangkan 😱😱😱😱
Dharris Tio: lanjutkan kak
total 1 replies
Chichie Spn
keren thor... bener2 menguras esmoni😂
Dharris Tio: makasih kak, udah ngikutin sampe akhir. mampir juga dong di karyaku yang lain
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
nahhhh kan tamat... katanya jgn kwatir masih bnyk lagi.. lha ini tiba2 dah tamat aja kk thor.. 😭😭😭😭😭😭
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : woalah gono tah its ok lah klo begitu
total 2 replies
Ayu KaWa
cerita yg sgt bagus.. 👌
Dharris Tio: terimakasih kak.

mampir juga dong, di judul yang lain.
total 1 replies
Afri
syukur lah berakhir bahagia .. walau ada amanah yg akan Icha jalani .. semoga ada kelanjutannya ya Thor
makasih atas cerita HEBAT mu
see u next time
😍😍😍👍👍👍👍
Dharris Tio: terimakasih kakak udah setia sampai akhir. aku lagi ngerjain terusannya kak. doain ya kak, semoga cepet kelar dan bisa post lagi
total 1 replies
Afri
itu s bulek Rini .. udah mati tetap ngeselin yaa , GK bisa legowo ..
makanya nyawanya d tahan SM demit sembahannya ..
jahat
Dharris Tio: iya. emang gitu dia. ngeselin
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
gasken coy.. hayuk cha.. para raider g nyiapin amplop soanya mendadak gtu sih.. wkwkwkwkkk
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : klo g di terobos kapan sampainya
total 4 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
waduhhhhhhh gitu jg kali
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : lha iyakah
total 4 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
hayok.. kira2 bakal gmb knjuanya yah....
Erlina Arlena
tamat thor??
Dharris Tio: belum kak
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
waghh ending nya ok nieh... kira2 ada flashback g buat rini knp bs gosong dan hasan bisa gila... hayok kk thor bisa g ada partnya gtu...
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : wuoke2.. sip wis
total 2 replies
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
tak kiraiin segitu saktinya itu sekutu rini ehhh ternyata lebih hebat nyai.. hanya saja nyai biasa2 aja g di sombongkan kehebatanya.. sekarang gimana si rini.. apakah masih akan berlanjut utk membinasakan maryati atau hasan sndri... ahhh gmn yah
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ : wis jan nek gono iku wis payah... jan2
total 2 replies
Dharris Tio
aduh. malem tahun baru malah ditodong
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wah makin seru ini bacanya tegang ampe giman peraasan gtu.. ngeriw sedap deh yakin...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!