Bagaimana jika seorang pemuda yang setiap harinya hanya menjadi anak seorang supir didalam keluarga kaya dan dia harus menerima untuk dinikahkan dengan Nona Muda mereka yang tidak bisa bicara.
"Nak, Ibu dan Bapak ingin berbicara serius dengan kamu" ucap Pak Budi pada putranya.
"Bicara apa Pak? Bicara saja" tanya Adji yang sudah duduk dihadapan kedua orang tuanya.
"Begini nak, tadi siang Bapak dan Ibu diundang kerumah Tuan Nadi dan kami disana membahas masalah perjodohan untuk kamu. Bapak tidak bisa memutuskan nya sendiri, karena Bapak tidak mungkin memutuskan. Bapak ingin membicarakan ini dengan kamu dan jika kamu menerimanya, Bapak dan Ibu akan membalasnya lebih dalam lagi dengan keluarga beliau" jelas Pak Budi dengan panjang lebar.
Penasaran apa jawaban Adji pada kedua orang tuanya???
Yuk baca dan ramaikan setiap babnya dengan like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Jangan lupa subscribe juga pollow akun Othor ya...
Terimakasih dan selamat membaca 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atikah syarif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The wedding
"Selamat menempuh hidup baru Nona Clarissa Jane Wigunadi" ucap Varaz mengulurkan tangan nya pada Clarissa.
"Terimakasih" jawab Clarissa tanpa suara dan dia juga mengangguk pada Varaz.
"Selamat untuk anda Tuan Adji" ucap Varaz juga pada Adji.
"Terimakasih Tuan Muda Tomlinson atas kehadiran anda" jawab Adji yang menunduk dan merasakan jika genggaman tangan Varaz mengeras pada tangan nya.
Varaz melepaskan tangan nya pada tangan Adji. Dia akan pergi dari hadapan Clarissa dan Adji, tapi dia menoleh kepada Clarissa dan dia tersenyum padanya.
Hati Clarissa berdenyut nyeri saat melihat Varaz benar-benar datang keacara pernikahan yang sangat tidak dia harapkan sama sekali. Ingin rasanya Clarissa memeluk dan mengatakan jika dia tidak ingin berada disituasi yang membuatnya semakin tidak bisa bertahan.
'Aku sangat merindukan kamu AL, aku ingin memeluk kamu dan bersama dengan kamu' ucap Clarissa dalam hati sambil menahan air matanya yang akan menetes.
'Maafkan aku, aku terpaksa untuk mengundang kamu kesini dan melihat ini semua supaya kamu tahu, jika aku sangat tersiksa dengan semua ini' lanjut Clarissa menatap pada punggung Varaz.
Setelah selesai dari sana dan menyalami kedua mempelai. Varaz langsung pergi dari sana untuk menyalurkan semua kemarahan juga kekesalan dan kesedihan nya melihat wanita yang dia cintai malah bersanding dengan pria lain.
"Huh, gue memang harus bersabar menunggunya menjadi janda. Eh, jahat banget nggak sih gue do'ain dia jadi janda? Bodo, yang penting gue bisa milikin dia seutuhnya" gumam Varaz didalam mobil.
Sepeninggalnya Varaz, semua tamu undangan juga sudah pulang. Karena memang tidak ada pesta atau apapun lagi. Jadi semua orang membubarkan diri mereka sendiri.
"Kalian istirahat saja dulu. Karena nanti malam kalian akan honeymoon ke Amerika. Jadi supaya didalam perjalanan kalian tetap fit" ucap Papa Nadi menjelaskan pada Clarissa dan Adji.
"Ia Tuan" jawab Adji yang melirik Clarissa yang tidak mengatakan apa-apa pada mereka semua.
"Eh, kenapa masih panggil Tuan? Panggil saja Papa dan Mama, seperti Clarissa juga. Kalian kan sudah menikah, jadi kalian berdua sama. Yaitu anak kami" ucap Mama Dania pada Adji yang mengangguk saja.
"Ya sudah, istirahat gih" lanjut Mama Dania setelah mengatakan itu pada pasangan pengantin baru itu.
"Nona, kenapa anda masih tetap diam saja sampai sekarang? Setidaknya berikan isyarat anda pada saya, supaya saya mengerti. Dengan anda selalu diam saja seperti ini semakin menyakiti perasaan anda sendiri. Tolong Nona, maaf jika saya lancang mengatakan ini pada anda" tanya Adji yang sudah sangat frustasi dan dia kesal pada dirinya sendiri yang tidak berdaya sama sekali.
"Apa jika saya mengatakan sesuatu akan merubah segalanya? Tidak bukan. Jadi silent lebih baik" jawab Clarissa yang menggunakan bahasa isyaratnya, lalu dia segera masuk kedalam kamar mandi dan berganti pakaian.
"Sebaiknya kau istirahat juga. Saya sedang malas berdebat dan marah-marah" ucap Clarissa yang segera berbaring diatas ranjang dengan perasaan yang berkecamuk dalam dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang. Kenapa Amerika yang dipilih? Apa mungkin ini jalan yang Engkau berikan padaku Ya Allah, supaya aku bisa bertemu dengan nya dan bisa melihatnya secara langsung?" gumam Adji sambil memejamkan matanya dan dia sudah sangat lelah hati juga badan.
Rasanya memang tidak dapat bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata saja. Baik Clarissa maupun Adji sama-sama menderita dan tersiksa akan keputusan yang mereka buat sendiri.
Tepat pukul delapan malam, Clarissa dan Adji bertolak menuju bandara. Karena pesawat mereka akan lepas landas pukul delapan tigapuluh malam. Jadi mereka berdua memiliki waktu tigapuluh menit untuk datang tepat waktu.
"Kalian hati-hati disana dan jangan lupa bawa kabar baik setelah dari sana" ucap Mama Dania dan diangguki oleh Papa Nadi juga.
"Kami pamit dulu Tuan. Emm, maksud saya Pa, Ma. Kami pergi dulu" ucap Adji yang meralat ucapan nya.
"Iya, hati-hati" jawab Papa Nadi dan Mama Dania bersamaan.
"Apa kau senang akan bertemu dengan seseorang yang kau rindukan selama ini?" tanya Clarissa setelah duduk didalam pesawat.
"Tidak juga Nona. Justru saya merasa takut dengan khawatir, karena saya sudah mengkhianatinya" jawab Adji yang merasa sesak saat mengatakan nya.
"Kenapa? Bukankah pernikahan ini hanya formalitas saja? Kenapa harus merasa bersalah juga mengkhianatinya, kau bisa selalu menghabiskan waktu mu berdua dengan nya. Saya akan melakukan apa yang saya inginkan disana" tanya Clarissa sambil tersenyum sinis saat mengatakan nya pada Adji menggunakan bahasa isyaratnya.
"Walau ini pernikahan formalitas atau apapun menurut anda. Dimata hukum dan negara kita adalah suami istri yang sah, jadi anda jangan melupakan itu Nona" ucap Adji yang merasa jika Clarissa tidak bisa menjaga satu hubungan dengan baik.
"Whatever, yang jelas itu bukan keinginan saya dan saya tidak perduli" jawab Clarissa yang segera memejamkan matanya untuk istirahat.
Dia malas jika harus selalu berdebat dengan Adji setiap saat. Karena bisa-bisa dia darah tinggi karena selalu marah-marah padanya. Clarissa berharap liburan nya kali ini memang menyenangkan, walau tidak ada Varaz disampingnya.
'Apa aku salah jika aku berharap Alvaraz ada disana juga untuk menemaniku disaat dia berduaan dengan kekasihnya itu? Apa aku salah jika aku meminta kebahagiaan ku sendiri Tuhan? Apa aku ini tidak boleh merasakan kebahagiaan ku sendiri?' ucap Clarissa dalam hati sambil menahan sesak yang mendera dalam dadanya.
'Andai saja waktu bisa diputar kembali, mungkin akan aku putar kembali dan mengatakan jika aku tidak setuju dengan semua ini. Aku tidak perduli jika memang aku dibuang kembali, yang pasti aku akan mendapatkan kebahagiaan ku sendiri. Jika sudah seperti ini, akan sulit untuk melakukan semuanya menjadi sediakala' gumamnya lagi yang langsung bangkit berdiri tanpa mengatakan apa-apa pada Adji.
Adji hanya diam saja saat melihat Clarissa pergi dari duduknya. Dia tidak ingin ikut campur dalam urusan pribadi Clarissa, mungkin saja Clarissa ingin ke toilet.
"Apa aku sanggup untuk bertahan dengan pernikahan yang tidak sehat ini? Ini belum satu hari pernikahan, tapi sudah terasa sangat lama. Bagaimana jika menjalaninya selama setahun penuh. Apa aku sanggup?" gumam Adji menghela nafasnya berulang-ulang hingga merasa sedikit tenang.
Setelah menempuh perjalanan belasan jam lamanya. Pesawat yang ditumpangi oleh Clarissa dan Adji sudah sampai di bandara international Amerika. Disana mereka berdua disambut oleh petugas hotel yang akan mengantarkan mereka berdua kemanapun mereka inginkan.
Clarissa seperti biasa melakukan apa yang sudah biasa dia lakukan. Dia tidak pernah mau membawa kopernya sendiri, dia memang sudah biasa menjadi seorang putri yang dilayani oleh orang lain saat melakukan apapun. Jadi tidak heran dia bersikap seperti itu, dengan sabar Adji mengikuti langkah Clarissa menuju mobil yang sudah disiapkan.
.
.
.
Hai... Hai.... Othor kasih visual mereka ya... Jika tidak suka bisa bayangkan sendiri visualnya sesuai dengan imajenasi kalian semua...
Yuk, cekidot...
Visualnya Clarissa Jane Wigunadi. Gimana itu tatapan sama wajah judesnya...
Visualnya Babang Dude Adji, yang cool dan kalem itu bikin Othor susah merem liatin nya🙈
Visualnya Babang Varaz, Alvaraz Malik Tomlinson. Yang kelakuan nya sama seperti Pipi David, playboy kagak laku-laku😁😁
Visualnya sicantik Fania Putri...
dan semoga sehat selalu buat penulis nya❤️
gk tahu krn sikapmu membuat ortumu khawatir n km jg jd menderita di luar sana
ortu mu pasti akan mengerti keputusan mu