Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.
Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.
Tidakk!!
Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?
Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!
Katakan padaku ini tidak nyata!
- Carissa Amalina -
Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.
Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.
Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?
- Raka Putra Wibawa -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TTM 33
Tak ada yang lebih membahagiakan lagi selain ketika membuka mata, yang pertama kali di lihat adalah senyuman orang yang paling di cintai.
Hal itu sama dengan apa yang di rasakan oleh Rissa saat ini. Dia tersenyum lega ketika dia membuka mata, Raka masih berada di dekatnya dan tengah menatapnya dengan senyuman lembut.
Kebersamaannya dengan Raka bukanlah sebuah mimpi.
"Selamat siang, sayang. Nyenyak banget tidurnya," sapa Raka yang terlihat berkali-kali lipat lebih tampan saat mengenakan baju koko dan sarung. Raka menyelipkan rambut Rissa ke belakang telinga Rissa.
"Jam berapa ini?"
"Sudah jam setengah satu. Bangun dulu, sholat dhuhur."
"Ya ampun... Udah siang ternyata." Rissa bangun dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
"Capek banget, ya, sampai tidurnya nyenyak banget."
Rissa tersipu mendengat ucapan Raka.
"Tau, sih. Udah berapa lama, ya?" Raka justru terus menggoda Rissa.
"Apaan, sih? Udah, ah." Rissa berpura-pura ketus untuk menutupi rasa malunya. Sayangnya, rona di wajahnya tak bisa menutupinya.
"Ibu hamil emang gitu, ya?"
Rissa mengernyit mendengar pertanyaan Raka. Jantungnya berdegup kencang saat Raka mendekat dan berbisik di telinganya. "Hot banget," ucap Raka yang di balas cubitan kecil di perut Raka.
"Aduh, yang. Sakit, aduh," keluh Raka.
"Udah, ah. Aku mau sholat dulu."
Rissa beranjak dan segera berjalan menuju kamar mandi. Namun sebelum Rissa masuk ke kamar mandi, Raka kembali memanggilnya.
"Ada apa?" Rissa bertanya dengan kesal.
"Jangan lupa mandi dulu," ucap Raka yang membuat Rissa menutup pintunya dengan sedikit keras.
"Raka nyebelin!!!!"
Teriak Rissa dari dalam kamar mandi. Sedangkan di dalam kamar, Raka tertawa senang bisa menggoda istrinya.
❤️❤️❤️
Keduanya menikmati makan siang dengan lauk yang sempat Raka beli setelah pulang dari masjid setelah menunaikan sholat dhuhur.
Raka tidak membiarkan Rissa memasak dalam keadaan lelah. Apalagi aktivitas keduanya, dalam tanda kutip, benar-benar menguras tenaga.
"Habis ini ke rumah bapak sama ibu, ya," ucap Raka sambil menyodorkan sepiring buah mangga yang sudah di potong.
"Oke," jawab Rissa sambil mencomot potongan buah mangga.
Raka dan Rissa di sambut hangat oleh kedua orangtua Raka.
Mereka tersenyum senang dan tentu saja merasa lega melihat Raka dan Rissa sudah berbaikan.
"Ibu senang melihat kalian seperti ini," ucap Widi sambil memeluk hangat menantunya.
"Doakan kami ya, Bu." Rissa berucap pelan.
"Pasti. Doa ibu dan bapak tidak pernah putus buat anak-anak ibu."
Widi mengajak Raka dan Rissa untuk makan siang. Walaupun sebelum berangkat mereka sudah makan siang, namun saat melihat berbagai macam masakan Widi yang terhidang di atas meja membuat keduanya merasa lapar kembali.
"Padahal kami baru saja makan, Bu. Tapi lihat masakan ibu jadi lapar lagi," ucap Raka yang di sambut tawa oleh kedua orangtuanya dan juga Rissa.
"Ya Ndak apa-apa. Lagipula Rissa juga harus makan yang banyak," sahut ayahnya.
"Ya sudah, ayo makan sekarang. Rissa, sayur sama cumi-cuminya yang banyak, nak." Widi menyendokkan cumi bumbu asam manis ke atas piring Rissa.
"Kamu pasti paham, to, kalau cumi-cumi dan ikan lainnya banyak mengandung protein dan sangat bagus untuk perkembangan otak janin? Jadi setiap hari harus makan yang kayak gini, ya? Atau ibu yang masakin kamu, biar nanti Raka yang ambil kesini."
"Enggak usah repot, Bu. Kadang Rissa juga masak, kok." Rissa merasa tersanjung dengan perhatian kedua mertuanya. Dia benar-benar merasa beruntung mendapatkan mertua yang luar biasa baiknya seperti orangtua Raka.
"Ibu nggak repot sama sekali. Justru ibu senang. Dulu pas Tya hamil juga begitu, ibu yang masak. Lagipula kamu juga nggak boleh kecapekan. Pulang kerja bisa langsung istirahat."
Rissa memandang Raka yang juga tengah memandangnya untuk meminta pendapat. Rissa tersenyum saat melihat Raka menganggukkan kepala yang berarti menyuruhnya untuk menyetujui permintaan ibunya.
"Ya sudah nggak apa-apa kalau ibu memang tidak repot. Tapi ibu juga harus jaga kesehatan, ya. Kalau ibu capek, jangan dipaksakan untuk mengerjakan sesuatu. Ibu juga harus banyak istirahat," ucap Rissa pada akhirnya. Membuat Widi tersenyum senang saat mendengarnya. Senyum bahagianya pun menular ke semua orang.
🌹🌹🌹
"Ciyee... Baikan ni yeee... Ciyeee... Nempel mulu kek hidung sama upil."
Raka memutar bola matanya, jengah. Tya yang baru saja keluar kamar begitu gencar menggodanya. Saat keduanya datang, memang Tya sedang berada di kamar karena sedang menyusui anaknya.
"Iri? Bilang, bosss..." Raka membalas godaan Tya. Pasalnya, Tya harus rela LDR dengan sang suami yang bekerja di pelayaran.
"Nggak usah gitu, dua bulan lagi suamiku pulang," balas Tya dengan ketus. Dia memang merasa iri dengan kebersamaan adik-adiknya itu. Dia juga ingin berada di dekat suaminya setiap saat. Namun, Tya tak punya pilihan lain. Suaminya sedang berjuang untuk dirinya dan anak mereka.
"Nggak tanya weee..."
"Ih...." Niatnya menggoda Raka dan Rissa, kini justru Tya yang merasa kesal karena adiknya.
"Raka... Jangan kayak gitu. Kasian mbak Tya." Tya tersenyum senang mendengar pembelaan Rissa. Sedangan Raka sendiri terlihat tak terima karena sang istri lebih membela kakaknya daripada dirinya.
Rissa mendekatkan bibirnya ke telinga Raka. "Kita nggak punya balon atau permen buat diemin mbak Tya kalau mbak Tya sampai nangis," bisik Rissa namun masih bisa di dengar oleh Tya.
"Kalian sama aja! Rese' banget, emang."
Kemudian mereka tertawa. Semua di anggap hanya candaan semata. Hal-hal seperti itu yang membuat hubungan kakak adik diantara mereka semakin kuat.
Setelah dari rumah orangtua Raka, keduanya kini berkunjung kerumah kedua orangtua Rissa.
Hal yang sama di tunjukkan oleh orangtua Rissa saat melihat keduanya datang dalam keadaan bahagia.
"Jadi udah baikan, makanya kemarin tiba-tiba bilang mau pulang ke rumah kalian," ucap Nurina yang baru saja keluar untuk menyambut kedua kakaknya.
"Rin..." Tegur Kurnia.
"Ih, Mama. Mama ingat nggak pas nangis-nangis kemarin siapa yang repot? Kita, kan? Giliran udah baikan aja tiba-tiba pamit, cuma lewat hp lagi. Yang sopan gitu loh. Datang baik-baik, bilang mau pulang ke rumah, syukur-syukur bawa hp baru buat ucapan terimakasih."
Semua tertawa mendengar penuturan Nurina yang tidak ada remnya. Rissa hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tidak Tya, tidak Nurina. Semuanya sama saja.
Mereka lantas bersiap menunaikan ibadah sholat maghrib karena adzan Maghrib sudah berkumandang.
Biasanya, para laki-laki akan sholat berjamaah di masjid. Tapi kali ini mereka sholat berjamaah di musholla kecil di dalam rumah kedua orangtua Rissa.
🌹🌹🌹
"Papa sama Mama senang lihat kalian sudah akur begini," ucap Rahardi yang di setujui dengan anggukan oleh Kurnia.
"Papa minta maaf ya, Raka, kemarin sudah mukulin kamu."
"Hah? Papa pukulin Raka? Kapan?" Rissa merasa kaget mendengarnya. Dia baru tahu kalau papanya sempat memukuli Raka.
"Iya. Pagi, setelah kamu di masuk rumah sakit kemarin. Makanya Papa minta maaf sama Raka."
Rissa menatap sedih suaminya seraya berkata, "tapi kamu nggak apa-apa, kan? Masih ada yang sakit nggak?"
Mendengar kekhawatiran Rissa, Raka tertawa pelan. "Udah enggak apa-apa, yang." Kini Raka beralih menatap sang mertua. "Raka nggak apa-apa, Pa. Papa nggak perlu minta maaf. Semua salah Raka, dan Raka paham kalau Papa melakukan itu karena papa sayang sama Rissa," ucapnya.
"Kalian kalau ada masalah selesaikan dengan kepala dingin, ya. Setiap rumah tangga memang ada ujiannya masing-masing. Tidak selamanya rumah tangga kalian akan adem ayem tanpa masalah. Justru akan ada banyak masalah lagi ke depannya," sambung Kurnia.
"Iya, Ma. Doain kita terus ya, Ma, Pa," sahut Rissa.
"Doa kami tidak pernah putus untuk anak-anak papa dan Mama."
Jawaban mereka, sama dengan jawaban orangtua Raka. Tentu saja mereka sebagai orangtua akan terus mendoakan anak-anaknya.
"Eh, Mbak." Nurina yang sejak tadi diam kini membuka suara. Semua orang tertuju padanya meskipun Nurina sendiri sedang fokus pada layar televisi.
"Apa?" Jawab Rissa dengan malas.
"Baru kali ini, loh, aku liat Mbak Rissa nangis-nangis kayak kemarin," ucapnya dramatis sambil memasukkan keripik talas ke mulutnya.
"Maksudnya?" Perasaan Rissa mulai tak enak.
"Sumpah, itu bucin banget. Seorang Rissa, bisa nangis-nangis begitu. Dia bilangnya, cuma kangen sama Mama, sama Papa, kok. Ehh, ternyata lagi ribut."
Semua orang tertawa kecuali Rissa, tentu saja.
"Rese' banget, sih." Rissa mengacak-acak jilbab Nurina. "Uang jajan dari Mbak bulan ini nggak turun, ya."
"Eeehhh.... Jangan, dong." Nurina sendiri mulai panik. Dia tidak bisa membiarkan uang jajannya berkurang.
"Enggak. Uang jajan kamu bulan ini nggak akan turun." Rissa masih bertampang galak meskipun dalam hati dia tertawa melihat adiknya yang terlihat nelangsa. Sedangkan Raka dan orangtuanya justru tertawa melihat tingkah keduanya.
"Mbak... Aku ada film drakor baru, loh." Hati Rissa mulai tak tenang mendengar drakor baru. Penasaran.
"Aku udah dapat file-nya. Bisa nonton berdua." Rissa mengulum bibirnya menahan senyuman.
"Malam ini, deh..." Nurina tak gentar melayangkan godaan agar Rissa memaafkannya.
"Ok_"
"No, sayang!" Raka memotong ucapan Rissa yang akan berkata "oke".
Kini gantian Rissa mendelik ke arah Raka. "Why?" Sahutnya tak terima.
"Kamu nggak boleh begadang, harus jaga kesehatan. Apalagi besok kamu kerja, kan?" Raka bertampang sok galak kalau sudah menyangkut Rissa dan kesehatannya. "Nurina tenang aja, tadi mbak-mu cuma bercanda."
Rissa mendesah kecewa.
"Yeeyyy!" Nurina memekik girang.
"Sudah, sudah. Nurina jangan seperti itu. Suatu saat kalau kamu sudah menikah, kamu juga akan merasakan apa yang mbak-mu rasakan. Maksudnya bagaimana rasanya jika sedang ada masalah. Jangan sampai masalahnya berat kayak masalah mbak-mu sama Mas-mu kemarin," ucap sang Mama.
"Iya, Ma. Maaf."
Setelahnya, mereka kembali bercengkrama. Sesekali menertawakan kepolosan Rissa juga usilnya Nurina yang tidak ada habisnya.
Rissa bersyukur dengan apa yang ada di dalam hidupnya. Hidupnya terasa begitu sempurna. Memiliki pekerjaan yang mapan, keluarga yang harmonis, suami yang luar biasa hebat, sangat menyayanginya, dan juga memiliki mertua yang sangat baik kepadanya.
Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur.
🌹🌹🌹
ada yang nungguin nggak? 😂😂
mau tanya dulu, aku udah pernah bahas pekerjaan suaminya Tya belum ya? jujur aku lupa, dan aku lagi malas buat baca ulang. 🤣🤣
nikmati yang ada aja ya... 🙈🙈
btw, aku udah ada judul baru. part awal ada pak Angga walaupun cuma dikit. 😝😝 ramaikan!!! 💃💃
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.