Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.
Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.
Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Keesokan paginya, Jenaka terbangun mendapati dirinya sendirian di ranjang denga suasana kamar yang terang benderang, seolah memberitahunya pagi hampir usai.
Jenaka tidak cukup beruntung untuk melupakan kejadian tadi malam meski hanya sesaat. Tatapannya melayang melihat ke sekitar, ia tak melihat ada kursi roda Lingga di kamar, hal ini membuat Jenaka bertanya-tanya bagaimana Lingga bisa meninggalkan ranjang dan menggunakan kursi roda tapi tidak membuatnya terbangun, karena normalnya, Jenaka adalah tipe orang yang mudah terbangun jika mendengar bunyi. Tetapi, tadi malam ia sangat lelah… sekarang pun masih lelah, dan tubuhnya berat.
Jenaka turun dari ranjang, meringis saat merasakan nyeri di bagian sensitifnya. Mengapa ia bisa begitu bodoh membiarkan Lingga bercinta dengannya? Padahal ia mencoba melewati hari-hari terakhirnya bersama Lingga dengan kehancuran emosional seminim mungkin, tapi ia malah membuatnya rumit.
Ia tidak seharusnya mencoba membangkitkan gairah Lingga, ia tidak tahu cara menghadapi pria, atau menghadapi diri sendiri jika menyangkut bercinta. Lingga berkata, “Aku membutuhkanmu,” dan Jenaka langsung meleleh. Kau sungguh gampang dirayu, Jenaka mengejek diri sendiri dalam hati.
Selama bertahun-tahun ia berhasil mengendalikan diri, mencegah dirinya berkubang dalam kolam masa lalu, tapi mengapa tadi malam ia bergelayut pada Lingga sambil menangis dan merintih? Sungguh rasanya ia ingin mati saja karena malu, ia sudah terlalu banyak memperlihatkan sisi kelemahan dirinya kepada pria yang menyita siang dan malamnya selama berbulan-bulan.
Ia masuk kamar mandi lalau berpakaian seperti biasa, setelah itu langsung ke ruang olahraga, tempat ia tahu ia akan menemukan Lingga di sana. Tidak ada gunanya menghindari pertemuan dengan Lingga, karena toh pada akhirnya ia memang pasti akan bertemu dengannya, cara terbaik adalah menghadapi Lingga dan melupakan kejadian tadi malam.
Ketika Jenaka membuka pintu ruang olahraga, Lingga meliriknya sekilas tapi tidak berkata apa-apa. Pria itu telungkup, mengangkat beban dengan kaki sambil menghitung. Lingga sepenuhnya mencurahkan konsentrasi untuk memenuhi tuntutan yang dia tetapkan bagi tubuhnya. Dengan ritme lambat tapi teratur, dia mengangkat kaki bergantian.
“Sudah berapa lama kau melakukan itu?” tanya Jenaka dengan tegas, melupakan ketidaknyamanannya.
“Setengah… jam,” sahut Lingga kesal. “Cukup. Hentikan sekarang,” perintah Jenaka. “Kau latihan berlebihan. Tidak heran kakimu kram! kau ini selalu menghukum kakimu karena selama dua tahun tidak berfungsi.”
Lingga melemaskan otot sambil mengerang. “Aku ingin terbebas dari bantuan tongkat,” ucapnya. “Aku ingin bisa berjalan tanpa disangga apa pun.”
“Yang ada ototmu yang putus, dan itu justru akan memperlama proses berjalanmu!!" balas Jenaka dengan ketus. “Aku pernah melihatmu memaksa diri hingga melampaui batas yang tak masuk akal, tapi sekarang tidak akan lagi. Aku terapis, bukan penonton. Kalau kau tidak mematuhi instruksiku, tidak ada gunanya aku bertahan di sini lebih lama lagi.”
Kepala Lingga tersentak, matanya menggelap hingga seperti langit kala badai. “Apakah kau ingin bilang kau akan pergi?”
“Iya,” sahut Jenaka. “Kalau kau melakukan seperti yang kusuruh dan mematuhi program latihanmu, aku tetap di sini. Kalau kau bermaksud mengabaikan semua yang kukatakan dan melaksanakan keinginanmu, tak ada gunanya aku membuang waktu di sini.”
Wajah Lingga merah padam, pria itu mengatupkan rahang dan berkata ketus, “Baiklah, Nona, kau bosnya. Ada apa denganmu hari ini? Kau lebih galak dari ibu tiri, kau segalak ular berbisa sekarang.”
Jenaka begitu keras berusaha mengembalikan hubungan mereka sebagai terapis dan pasien sehingga sepanjang hari itu, ia tidak menanggapi candaan dan usaha Lingga bercanda dengannya, ia justru menyodorkan wajah dingin ke mata Lingga yang tertawa. Ketika latihan selesai, mereka menunjukkan sifat galak mereka satu sama lain seperti tikus dan kucing.
Jenaka, yang seharian tidak makan apa-apa, begitu kelaparan hingga hampir muntah, dan itu hanya menambah pekat sikap permusuhan darinya, tubuh Jenaka memberontak kakinya terasa lemas saat ia menuruni tangga, kepalanya berputar-putar karena mual sehingga harus memegang erat pegangan tangga.
Jenaka berhasil sampai ke ruang makan dan menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan perasaan lega karena tidak terkapar di lantai. Beberapa saat kemudian, Lingga melewatinya dan langsung ke dapur. Ia terlalu lemah untuk merasa heran tentang itu, meski ini pertama kalinya Jenaka melihat Lingga masuk dapur selama berbulan-bulan tinggal di sini.
Rani langsung keluar membawa semangkuk sup yang mengepulkan uap, yang dia letakkan di depan Jenaka. “Makanlah!"
Jenaka mulai makan pelan-pelan, hingga sup itu habis. Gemetar tubuhnya berkurang dan ia tidak pening lagi. Jenaka mengangkat kepala dan melihat Lingga duduk di seberangnya, memperhatikan pria itu makan diam-diam. Gelombang hawa panas membuat wajah Jenaka memerah, dan wanita itu meletakkan sendok, malu karena mulai makan tanpa menunggu Lingga.
“Nona,” ucap Lingga, suaranya datar, “kau memberi arti baru untuk kata keras kepala.”
Jenaka tak menghiraukan ucapan Lingga, ia berusaha melakukan gencatan senjata, ia tidak bisa ikut bicara dan tertawa bersama Lingga, sarafnya menegang terlalu ketat, emosinya terlalu rentan, ia banyak menghindari bertatapan dengan Lingga. Dengan cara seperti itu, Jenaka berhasil melewati malam dengan aman hingga tiba waktu tidur dan ia bisa berpamitan.
Jenaka sudah di ranjang, menatap langit-langit ketika mendengar Lingga memanggil. Kejadian itu seperti tayangan ulang kejadian kemarin malam dan Jenaka membeku, selapis keringat muncul di tubuhnya. Ia tidak bisa masuk kamar Lingga, tidak, setelah apa yang terjadi saat terakhir kali ia ke sana. Lingga tidak mungkin mengalami kram kaki karena Jenaka mendengarnya naik ke kamar tidak sampai lima menit lalu, dan bahkan sepertinya Lingga belum berbaring di ranjang.
Jenaka masih berbaring, dan dalam hati berkata tegas ia tidak akan datang ke kamar Lingga. Lalu Lingga memanggilnya lagi, Jenaka menghembuskan napasnya dan berpikir. Lingga adalah pasiennya, dan sekarang pria itu memanggilnya, sementara dirinya bisa sekadar mengecek dan memastikan Lingga baik-baik saja, setelah itu keluar lagi jika semua beres.
Dengan enggan Jenaka turun dari ranjang, kali ini ia meraih kimononya dan mengikatkan tali pinggang kuat-kuat. Ia takkan lagi masuk kamar Lingga hanya memakai baju tidur tipis, yang membuat Lingga memegang ***********.
Saat membuka pintu kamar Lingga, ia heran melihat Lingga sudah di ranjang. “Apa yang kau inginkan?” tanya Jenaka dengan dingin, tanpa beranjak dari posisinya di pintu.
Lingga mengembuskan napas dan duduk, menyangga bantal di punggung. “Kita harus bicara,” ucapnya.
Tubuh Jenaka membeku. “Kalau kau begitu suka bicara, mungkin sebaiknya kau masuk tim debat,” balasnya.
“Aku bercinta denganmu kemarin malam,” ucap Lingga blakblakan, langsung ke inti permasalahan dan memperhatikan saat Jenaka berjengit di pintu. “Kau mengalami masalah berat dengan mantan suamimu, dan aku bisa mengerti kau begitu ketakutan, tapi kemarin malam kita bercinta dengan penuh perasaan. Kau membalas ciumanku, dan kau membalas sentuhanku. Tapi mengapa hari ini sikapmu seolah aku memerk*samu?”