Raisya Putri jatuh cinta pada gurunya sendiri ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas, namun sang guru yang tampan rupawan ternyata mempunyai kekasih yang sangat dicintainya.
Ketika sang Ayah sakit keras Raisya diminta menikahi seorang Pria pilihan orang tuanya. Raisya ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian, alhasil Ia pun menerima lamaran itu.
Ikuti kisah kelanjutannya dalam karya cinta setelah menikah, semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setumpuk Sampah
Semenjak kepulangan Hasan, Sya menjadi gelisah. Ia tidak mengerti tentang apa yang terjadi padanya.
" Sudah Nak, biarkan saja dia pulang. Bukan kita yang membutuhkan dia tapi dia yang membutuhkan kita, enak saja. Dia yang sudah menyakiti kita masa kita yang harus minta maaf. "
Sya mencoba berbicara dengan dirinya sendiri dan juga pada bayinya kalau mereka akan baik baik saja, namun semakin Ia mengatakan tidak justru hatinya semakin berontak.
Keduanya ternyata memiliki masalah yang sama, tidak ada yang bisa tidur.
" Ah..... Lama-lama aku bisa gila kalau seperti ini. Kenapa juga punya sekretaris tidak bisa di andalkan, mengurus hal kecil saja tidak bisa. Bagaimana kalau Sya tetap tidak mau memaafkan ku dan justru membenciku karena menganggap aku tidak serius memperjuangkannya. "
Hasan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal, Ia benar-benar prustasi. Esok paginya Hasan bermalas-malasan, beberapa kali Ia mengecek ponselnya berharap ada sesuatu disana namun sampai saat ini tidak ada apapun yang berarti baginya.
Ada panggilan masuk namun bukan dari Sya melainkan dari orang kantornya yang terus menanyakan kapan Ia berangkat.
" Bisa diam nggak sih, baiklah aku berangkat sekarang. "
Hasan masih sempat memeriksa ponselnya, berharap Sya mengirim pesan untuk nya namun tidak ada. Akhirnya Ia memutuskan meninggalkan tempat itu walau berat hati.
Ketika membuka pintu, Hasan tiba-tiba berdiri mematung setelah melihat siapa yang sudah berdiri di depan rumahnya.
" Sayang, kamu disini. " Tanya Hasan setelah keterkejutan nya hilang.
" Iya, aku ingin numpang, tidak apa apa kan. "
Hasan sedikit terkejut, tadinya Ia berpikir kalau Sya ikut dengan nya karena ingin kembali padanya, namun ternyata dugaannya salah. Sya ternyata hanya ingin menumpang saja, ibarat jatuh dari ketinggian. Baru saja senang sudah harus patah hati.
" Oh tentu saja boleh, biar Mas yang angkat. Ini pasti berat, kamu duduklah yang tenang di dalam. "
Hasan membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Sya duduk di kursi depan. Sya enggan membantah, Ia ikut saja karena takut perutnya tidak nyaman lagi. Daripada dia melakukan sesuatu yang membuatnya malu nanti, lebih baik Ia manut saja.
Jantung Sya berdebar ketika wajah Hasan hampir bersentuhan dengan wajahnya, Ia hampir saja protes namun ternyata suaminya itu hanya mencoba membantu memasangkan sabuk pengaman padanya, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Sya mencoba memejamkan mata, sungguh Ia merasa tenang saat ini. Berbeda dengan malam tadi, Ia kesulitan untuk tidur.
Hasan menepikan mobilnya dan menurunkan sedikit tempat duduk Sya, agar Istrinya itu bisa istirahat dengan nyaman.
" Tidurlah sayang, kamu pasti lelah. Perjalanan kita masih jauh, nanti kalau sudah sampai aku bangunin. "
Sya memalingkan wajahnya dan mencari posisi yang nyaman untuk tidur, kebetulan malam tadi Ia tidak tidur jadi pagi ini rasa kantuknya benar-benar sudah tidak mampu Ia tahan.
Hasan tersenyum melihat sikap dingin Sya padanya, meskipun begitu Ia tetap bersyukur karena Sya ikut pulang bersamanya. Sepanjang jalan Hasan selalu memperhatikan kenyamanan Istrinya.
" Husttt, lagi tidur. " Hasan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya pada Umi.
Iya, Hasan memilih mengantarkan Istrinya ke rumah orang tuanya. Soal masalah mereka nanti akan Ia bicarakan perlahan-lahan nanti. Umi tersenyum melihat Putrinya yang masih tertidur lelap, apalagi melihat perutnya yang sudah nampak membesar.
Satu jam kemudian akhirnya Sya terbangun, Ia membuka matanya perlahan dan melihat Hasan tersenyum padanya.
" Sudah sampai ya, apa sudah lama. Kok aku nggak di bangunin sih. "
Hasan diam sesaat mencari alasan yang tepat, masih dengan senyum menghiasi bibirnya.
" Ah nggak kok sayang, kita baru saja sampai. Ayo masuk, biar Mas bantu. "
Sya ikut saja, mungkin bawaan janin dalam rahimnya yang selalu merasa nyaman berada di dekat Ayahnya.
" Assalamu'alaikum Umi, Sya pulang. " Panggil Sya.
Umi keluar dan langsung memberikan pelukan hangat pada Putri satu satunya yang Ia punya.
Mereka mengobrol banyak hal hingga akhirnya Hasan berpamitan pada Umi dan juga Sya karena ada pesan dari Umi nya.
" Umi, Hasan pulang dulu ya. Besok Hasan kembali lagi. "
Setelah kepergian Hasan Sya langsung pamit ke kamarnya, disana Ia mondar-mandir tidak jelas. Ada perasaan aneh kembali muncul yang membuatnya marah- marah tidak jelas.
Baru saja turun di parkiran, Hasan sudah bertemu dengan Lusi yang langsung memeluknya erat.
" Sayang, kamu kemana saja. Kenapa kamu begitu kejam padaku, kamu meninggalkan ku begitu saja. Sayang, aku mohon bicaralah. Maafkan aku, jangan tinggalkan aku. Kamu bisa kan menunggu sampai aku melahirkan anak ini dan kita akan menikah. Aku sangat mencintaimu, dan aku bisa pastikan kalau hanya aku wanita di dunia ini yang mencintaimu dengan tulus. Kamu akan menyesal karena sudah menyia- nyiakan aku. "
Hasan menepis tangan Lusi dengan kasar, Ia baru tau kalau ada wanita se memalukan ini yang Ia kenal.
" Iya benar, aku akan sangat menyesal. "
Lusi langsung tersenyum, Lagi-lagi Ia merasa menang karena masih bisa mengendalikan Hasan seperti dulu.
" Akhirnya kamu menyadarinya sayang, jadi tunggu apalagi. Menikahlah dengan ku setelah janin ini lahir. "
Lusi terkejut karena lagi-lagi Hasan menepis tangannya dengan keras.
" Benar Lusi, aku memang sangat menyesal. Menyesal mengapa aku mengenal perempuan tidak tau malu sepertimu. Menyesal karena aku bisa di bodohi oleh mu, menyesal mengapa aku tidak meninggalkan mu sejak dulu. Sebaiknya mulai sekarang jauhi aku, kejarlah Pria yang sudah menanamkan benihnya padamu. Jangan pernah menganggap kehadiran mu berarti bagiku, karena bagiku kamu itu tidak lain dari setumpuk sampah yang seharusnya di buang. "
Hasan langsung berlari meninggalkan Lusi yang terus mengejarnya.
" Tutup pintunya dan jangan biarkan wanita aneh itu masuk ke rumah ini. "
Hasan berpesan pada satpam yang menunggu pintu rumahnya, Ia terus masuk dan mencari keberadaan Umi nya yang sudah Ia tinggalkan selama berhari-hari.
bener Sya kamu harus tegas terhadap ulet keket macam Lusi biar kamu nggak selalu diremehkan