Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Kerempongan untuk Merugi
[ Ding! Sistem mendeteksi lonjakan reputasi sosial luar biasa dari pihak Pemerintah Daerah! ]
[ Mengkalkulasi dampak regulasi baru: Seluruh bus pariwisata lintas provinsi yang melewati jalur Pesisir Selatan per hari ini WAJIB singgah dan memborong produk di toko Pengguna sebelum menuju area wisata! ]
"Dan satu lagi bonusnya, Diman!" Koko Alung mengedipkan matanya dengan penuh rasa bangga.
"Sebagai mitra terbaik, Koko sudah daftarkan produk Mi Jengkol sama Kopi Petai ini ke Festival Kuliner Nasional besok pagi! Koko jamin, besok toko kau ini akan viral lagi! Hahaha, kita bisa jadi kaya raya, Man!"
Budiman merasakan pandangannya mendadak berputar pening. Bumi seolah berhenti berputar di bawah pijakan kakinya.
'Dua ratus lima puluh juta amblas buat pesta ... dipaksa utang seratus juta oleh Sistem sialan ... diserbu lima ratus dus barang terkutuk jenis baru ... dan sekarang toko ini malah resmi jadi pangkalan bus pariwisata Pemprov?!'
Belum sempat Budiman memproses semua kesialan berlapis itu, dari arah ujung jalan kampung, sebuah truk terbuka bermuatan tumpukan speaker raksasa berwarna hitam legam bergerak pelan. Di samping truk, Anto berdiri di atas bak sambil memegang mikrofon dengan gaya bak jenderal perang yang baru memenangkan pertempuran.
"Uda Budiman! Sound horeg pesanan Uda sudah dataaaang! Ayo kita tes sound-nya, Daaaa!" teriak Anto menggunakan pelantang suara, wajah jametnya bersinar penuh kemenangan.
Detik berikutnya, operator sound memutar intro instrumen musik Minang Timur yang viral jedag-jedug dengan volume maksimal.
DUMMM!!! GLERRR!!!
Getaran bass berkekuatan ribuan watt itu langsung menghantam udara. Kaca depan Budiman Mart bergetar hebat, mengeluarkan bunyi berderit ngeri seolah siap rontok kapan saja. Bahkan burung-burung di atas pohon kelapa sekitar toko langsung berterbangan panik karena mengira ada gempa bumi.
Di depan pintu kaca, di antara raungan musik jedag-jedug Anto yang memekakkan telinga, klakson nyaring truk Koko Alung, dan senyuman lebar para pejabat dinas, Budiman perlahan memegangi dadanya yang mendadak sesak.
Air mata frustrasinya luruh dengan sukses menghadapi takdir gaib ini.
‘Sistem ... Ko Alung ... Anto ... kalian semua beneran sekongkol mau bikin aku mati muda ya?! Bahkan, jodohku saja belum lahir, tapi udah mati duluan,’ jerit Budiman dalam hati, sebelum akhirnya pandangannya benar-benar buram dan gelap gulita.
.
.
Budiman merasa jiwanya melayang di antara awan-awan kelabu yang berbentuk gumpalan mi instan. Sayangnya, kedamaian fana itu tidak bertahan lama. Sebuah entakan bass yang luar biasa dahsyat menghantam dadanya, memaksa kesadarannya ditarik paksa kembali ke bumi.
DUMMM!!! GLERRR!!!
"Ondeh, Da! Jantung Ambo hampir copot!"
Suara lengkingan Elimar adalah hal pertama yang didengar Budiman saat kelopak matanya terbuka. Kepala Budiman terasa pening. Begitu dia duduk, dia baru sadar dirinya sedang berbaring di atas lantai minimarketnya, berbantalkan dua dus Mi Instan Rasa Gulai Jengkol Matang yang masih dingin.
"Uda sudah sadar? Alhamdulillah!" pekik Anto yang tiba-tiba muncul di depan wajah Budiman, masih dengan kacamata hitam yang sekarang posisinya agak miring.
"Hebat banget Uda ko, hah! Saking bahagianya dengar sound system pilihan Ambo, Uda sampai sujud syukur dan tiduran di lantai!"
Budiman memegangi pelipisnya, menatap Anto dengan pandangan membunuh. "Ketiduran katamu? Ambo itu pingsan, Anto! Pingsan!" ralatnya dengan gregetan.
"Ah, sama saja itu, Da. Yang penting sekarang Uda harus bangun!" Anto menarik lengan Budiman dengan penuh semangat, memaksanya berdiri tegak menghadap ke arah pintu kaca otomatis.
"Lihat ke luar, Da! Strategi marketing Uda memang selalu di luar prediksi BMKG!"
Budiman menoleh ke luar, dan sedetik kemudian, dia berharap bisa pingsan untuk kedua kalinya.
Di halaman parkir Budiman Mart yang baru saja dicor mulus, tidak hanya ada truk kontainer roda sepuluh milik Koko Alung. Di belakangnya, tiga unit bus pariwisata berukuran raksasa dengan stiker ‘PESONA NUSANTARA’ sudah terparkir rapi.
Ratusan penumpang yang mayoritas adalah emak-emak berseragam pengajian warna kuning cerah dan bapak-bapak bertopi pet, kini sedang berbaris rapi membentuk antrean ular naga di depan toko.
Beberapa dari mereka bahkan sudah menggedor-gedor kaca toko sambil memegang dompet.
"I-itu apa, Nto?" bisik Budiman, suaranya bergetar hebat.
"Lah, kan tadi orang dinas sudah bilang, Da," Elimar ikut menimpali sambil tersenyum lebar, memamerkan gigi gingsulnya.
"Toko kita sudah sah jadi Pusat Oleh-Oleh Resmi Pariwisata Sumbar! Itu bus rombongan dari Provinsi tetangga, baru pulang dari Pantai Carocok. Mereka diwajibkan singgah ke sini buat borong kuliner ekstrem buatan Uda!"
Tepat saat itu, anak buah Koko Alung masuk ke dalam toko sambil memikul dua dus besar di pundak kiri dan kanannya. Di belakang mereka, Koko Alung berjalan tegap memantau para pekerja bak juragan besar. Senyumnya tampak berkilauan Sekilau emas murni.
"Diman! Kau punya karyawan malas sekali, hah?! Ini orang di luar sudah ngamuk mau belanja! Ayo cepat potong lakban dus ini! Kita harus pajang Mi Jengkol sama Kopi Petai ini sekarang juga!" seru Koko Alung penuh gairah dagang.
[ Ding! ]
[ Protokol 'Darurat Stok Retail' mendeteksi kehadiran 150 konsumen potensial di area toko. ]
[ Misi Wajib: Jual habis 500 dus varian baru dalam waktu 3 hari. ]
[ Progress saat ini: 0 / 500 Dus. ]
[ Pengingat: Jika target tidak tercapai, hak kompensasi kerugian 25 miliar dari pernikahan Elimar akan DIHANGUSKAN dan Pengguna wajib membayar sisa utang talangan Rp100.000.000 secara tunai! ]
Mendengar ancaman Sistem yang super kejam itu, adrenalin Budiman langsung terpompa maksimal. Otak taktik bangkrutnya berputar dengan kecepatan penuh.
‘Ini tak bisa dibiarkan! Kalau emak-emak ini sampai borong semua mi jengkol ini, kedai awak ini bisa untung besar! Kalau toko untung, misi utama gagal, dan awak bakal miskin selamanya ditambah utang seratus juta pula!’ batin Budiman panik.
‘Awak harus bikin barang ini tak laku! Awak harus bikin mereka kapok dan lari dari toko ini!’
Budiman menarik napas dalam-dalam, lalu melompat ke atas meja kasir dengan wajah garang.
"Anto! Elimar! Koko Alung! Tolong dengarkan!" teriak Budiman lantang, mengabaikan tatapan bingung dari emak-emak di luar kaca.
"Iya, Da?!" sahut Anto tegak bersiap.
"Buka pintu tokonya sekarang! Tapi ingat, jangan ada yang berani melayani mereka dengan ramah! Pasang muka masam! Dan yang paling penting..." Budiman menunjuk ke arah truk terbuka milik Anto yang terparkir di pojok lapangan.
"Anto! Hidupkan sound system horreg-mu itu! Putar musik paling kencang, arahkan corong speakernya tepat ke antrean bus pariwisata!"
Anto melongo. "Lho? Nanti kuping mereka sakit dan marah-marah, gimana Da? Mereka bisa kabur dari sini."
[ bersambung ]