NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Mama

Jodoh Pilihan Mama

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rosma Sri Dewi

Renata seorang gadis miskin, terpaksa mau menikah dengan pria tampan yang lumpuh akibat kecelakaan,yang menimpanya. Pria itu bernama Arya Pramana Biantara, pewaris dari sebuah perusahaan besar. Renata mau menikah karena ibu dari pria itu menjanjikan akan membiayai pengobataan ibunya yang menderita kanker paru-paru.
Arya sangat membenci Renata, karena dia yakin kalau wanita miskin itu, mau menikah dengannya hanya karena harta, berhubung sebelum mereka menikah, mereka sebenarnya sudah lebih dulu saling mengenal, karena Renata adalah sahabat dari gadis yang dicintainya.
Tanpa sepengetahuan orang tua Arya, mereka berdua membuat perjanjian, kalau Renata akan pergi dari hidup Arya begitu pria itu nanti berhasil sembuh.Arya yang awalnya tidak memiliki semangat untuk sembuh karena patah hati pada sahabat Renata yang sudah menikah, begitu mendengar janji Renata langsung bersemangat untuk sembuh, karena dia benar-benar ingin lepas dari Renata.
Apakah Keduanya akan berpisah begitu Arya sembuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menggoda Renata

Matahari pagi kini kembali datang menyapa. Cahayanya membias masuk ke dalam kamar pasangan suami istri, Arya dan Renata, melalui celah-celah tirai tipis dari jendela kaca kamar itu.

Cahaya itu menerpa wajah Arya sehingga membuat pria itu seketika merasa terganggu. Pria itu pun mulai membuka matanya dan menutupnya kembali karena merasa silau. Kemudian, ia kembali membuka dan mengucek-ucek matanya untuk membuat matanya bisa cepat beradaptasi dengan cahaya yang baru saja masuk.

Setelah melakukan sedikit peregangan, Arya menoleh ke samping dan melihat kalau Renata masih tertidur dengan pulas. Hal itu tentu saja membuat pria itu heran sekaligus bingung, karena biasanya istrinya itu di jam segini sudah tidak ada di sampingnya lagi, dan sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan.

"Kenapa dia masih tidur? apa dia sakit?" Arya mengulurkan tangannya, dengan sangat perlahan menyentuh kening Renata.

"Sama sekali tidak panas. Tapi kenapa dia masih tidur?" bisik pria itu lagi pada dirinya sendiri.

Arya kemudian menatap intens wajah polos Renata cukup lama. Hingga tanpa sadar, pria itu merebahkan tubuhnya kembali dan menatap wajah istrinya itu sepuasnya. Karena, ini pertama kalinya dia bisa lebih leluasa menatap wajah gadis itu.

"Maaf, kalau selama ini kata-kataku selalu menyakitimu. Aku benar-benar tidak bisa mengontrolnya Dan aku sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa aku mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan seperti itu," bisik Arya pada dirinya sendiri.

Renata tampak mulai menggeliat, kelopak matanya mulai bergerak, pertanda kalau wanita itu sebentar lagi akan terjaga.

Benar saja, mata Renata perlahan-lahan mulai terbuka dan tentu saja, karena tidak ingin ketahuan, Arya langsung menutup matanya kembali seakan-akan masih tertidur pulas.

Seperti biasa, ketika mata bulat wanita itu terbuka, hal pertama yang dia lihat adalah wajah damai sang suami, yang selalu bisa membuat Renata tersenyum.

"Kalau lagi tidur seperti ini, tidak akan ada yang menyangka kalau mulut nya itu bisa mengeluarkan kata-kata yang sangat pedas," gumam Renata yang tentu saja masih bisa didengar oleh Arya.

Renata kembali menatap wajah Arya, seperti biasa yang dia lakukan setiap pagi. Tangan wanita itu hampir saja terulur hendak menyentuh pipi pria itu.

"Kamu sudah puas menatap wajahku?" tangan Renata yang nyaris menyentuh pipi suaminya itu, ia tarik kembali ke arahnya dengan cepat saking kagetnya.

"Ka-kamu sudah bangun?" gumam Renata di sela-sela rasa kagetnya.

"Kenapa? apa kamu berharap aku tidak bangun-bangun lagi?" sindir Arya dengan sudut bibir yang melengkung membentuk senyum sinis.

"Kalau boleh sih, maunya begitu. Karena kamu terlihat lebih baik kalau tidur dibandingkan terjaga seperti ini," sahut Renata, asal.

"Maksudmu?" Arya sontak bangun dan duduk dengan tetap menatap Renata.

"Ya, maksudku, kamu itu kalau tidur seperti malaikat, kalau sudah bangun, kamu tidak ada ubahnya dengan setan yang memiliki tanduk. Bukannya itu berarti lebih baik kamu tidur dibandingkan bangun?" jawab Renata, ketus tanpa ekspresi.

"Apa? kamu mengataiku, Setan!" pekik Arya, menggeram kesal.

"Sudahlah, Kak! kalau kamu tidak mau dikatain setan, tolong jangan marah-marah lagi! pagi-pagi itu seharusnya kamu menyapa, selamat pagi bukan ngajak ribut. Atau ... apa karena aku bukan Salena, wanita yang kamu inginkan makanya kamu enggan untuk menyapa?" entah kenapa, Renata kali ini kembali menyinggung nama Salena. Padahal, sudah cukup lama nama sahabatnya itu tidak pernah dia sebut lagi di depan suaminya itu.

Arya, bergeming, diam seribu bahasa. Pria itu memicingkan matanya, menatap penuh selidik ke arah raut wajah yang ditunjukkan oleh Renata sekarang. Dia bingung kenapa istrinya itu tiba-tiba menyinggung nama Salena, nama yang beberapa bulan ini, sudah terkikis dari dalam hatinya. Bahkan rasa sakit karena wanita itu lebih memilih laki-laki lain, juga sudah tidak dia rasakan lagi.

"Kenapa kamu__"

"Astaga, sudah jam berapa ini?" belum sempat Arya menyelesaikan pertanyaannya, Renata tiba-tiba berteriak dan melompat bangun dari tempat tidur.

"Kakak, kenapa tidak membangunkanku sih? lihatlah sudah jam sembilan. Mama dan Papa pasti berpikir macam-macam, karena aku tidak bangun-bangun. Bagaimana ini, Kak?" Renata kini sibuk mondar-mandir di depan Arya.

"Kamu kenapa harus panik seperti itu sih? Baru kali ini juga kan kita bangun jam segini? lagian kenapa kamu harus takut mama dan papa berpikir macam-macam? kita berdua kan suami istri, jadi orang-orang pasti maklum," tutur Arya, sembari menggeserkan tubuhnya agar bisa menyender ke sandaran sofa.

"Tapi, kenyataannya kan kita sama sekali tidak melakukan apa-apa, Kak!"

"Kamu mau kita melakukannya sekarang?" tiba-tiba timbul niat Arya untuk menggoda Renata. Pria itu bahkan mengerlingkan matanya dengan senyum me*sum

"Ihh, aku tidak mau!" Renata refleks menyilangkan tangan di dadanya.

"Kenapa tidak mau? bukannya kita ini suami istri? sini beb ... kita lakukan sekarang!" Arya menepuk-nepuk ranjang di sampingnya. Pria itu terlihat gencar menggoda.

Renata seketika bergidik, geli membayangkan apa yang diminta oleh Arya. Perempuan yang sudah 4 bulan menjadi seorang istri, tapi masih gadis itu, menghampiri ranjang, meraih bantal dan tanpa basa-basi langsung melemparkan bantal itu ke arah Arya.

"Noh, lakukan saja sama bantal!" pekik Renata sembari berlari masuk ke kamar mandi. Wajah wanita itu kini sudah memerah bak kepiting rebus yang baru saja diangkat dari dalam panci. Sementara itu, tawa Arya pecah melihat reaksi Renata.

"Ayolah, Beb! jangan malu-malu! ini yang minta suamimu, lho!" teriak Arya yang semakin gencar menggoda Renata.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka kembali dan Renata menyembulkan kepalanya ke luar.

"Kamu memang suamiku, tapi ingat hanya sementara sampai kamu bisa berjalan lagi! kamu tidak lupa itu kan? jadi stop menggodaku!" cetus Renata, sembari menutup pintu kembali.

Senyum mengembang yang tadinya menghiasi bibir Arya, seketika menyurut begitu mendengar ucapan istrinya yang memang benar adanya.

"Arghh, kenapa dia harus mengingatkan itu kembali sih? apa dia benar-benar mau sangat ingin berpisah, sampai-sampai hal seperti itu harus diungkit-ungkit lagi? bagaimana kalau dia tahu yang sebenarnya, kalau aku sudah bisa berjalan kembali? apa saat itu juga dia akan pergi? dan apa dia akan benar-benar pergi ke dokter Raka yang selalu bersikap manis padanya? apa dia benar-benar menginginkan pria yang seperti Dokter Raka? pria yang bersikap romantis, penuh kejutan? Arrghhh benar-benar menyebalkan!" Arya melemparkan bantal ke lantai dengan sangat keras saking kesalnya.

"Kenapa, emosiku selalu naik, kalau ingat pria brengsek itu?" Arya kembali mengumpat sembari mengacak-acak rambutnya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.

tbc

1
Kamaratih Basagita
Ceoat senbuh thor
Jika thor berkenan, minum madu assalamah
Suamiku sdh sampai dirawat di IGD krn gerd kambuh dan efek ke jantung.
Alhamdulillah cocok dan tdk kambuh lagi yg oenting jaga pola hidup
Semoga cocok dan lekas membaik yaa /Smile/
antha mom
Luar biasa
antha mom
makanya itu Arya kasih lah kepastian SE jelas jelas nya ke Renata, Kamu juga buat perjanjian konyol itu kalau udah sembuh Renata harus pergi dari hidupmu,lah sekarang udah sembuh gimana ceritanya ini lanjut atau pisah
Fe
mengandung bawang 😭😭
dahliya
bagus
Ari_nurin
katanya seorang dokter yg notabene nya berpendidikan tinggi dan pasti orang cerdas tp kok kenyataan kayak orang bodoh dan ga berpendidikan si Raka 😏🤨
Ari_nurin
yups keterlaluan sekali memang Arya manggil orang seenak jidat nya sendiri 😡😡
Swan Lake
Luar biasa
Sita Sit
hmm hmmm,
Sita Sit
makanya jangan marahin Renata Mulu,ntar. dia pergi kamu depresi ar
Sita Sit
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nah tuh jadi cowok kayak dr Raka gentle,
Sita Sit
mulai cemburu ya ar /Facepalm//Facepalm/
Sita Sit
kerjain terus tuh suami mu ren,/Facepalm//Facepalm/
Sita Sit
kerjain aja tuh si arya ren ,sok bgt jd cowok
eva murjani
Author yg sangat Luar biasa
Novelmu sll mudah di cerna dan tidak bertele-tele.
lupyuuu author 😘😘🌹🌹🌹🌹
eva murjani
satu kata buatmu Author
Novelmu Luar Biasa 😘👌
Bunda SalVa
luar biasa ceritanya
Esih Mulyasih
Luar biasa
Esih Mulyasih
karena obsesi dg Arya, malah berakhir mjd tindak kriminal...dan di penjara Kanaya... Kanaya...😤 kurang bersyukur dg keluarga yang sayang sama kamu 😑😞
Esih Mulyasih
hamil tuh Renata...
tapiii...kn Lom jebol gawang yaa... kumaha bs hamil euyy 🤔🤔... atau ini trik mama Tiara yaa 🤔🤭
lanjut Thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!