"Cintaku padamu tulus, aku sanggup meninggalkan semuanya untukmu." Bima.
"Tapi aku tidak bisa. Aku tidak mau mengambilmu dari Tuhanmu, dan juga keluargamu." Kayla.
Dua anak manusia bertemu tanpa sengaja dan akhirnya saling jatuh cinta.
Akankah keduanya dapat bersatu di tengah prinsip hidup yang mereka anut berbeda.
Yukk simak akhir kisah Bima dan Kayla...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikha dito, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cowok Gendeng
Bima mengayunkan langkah kakinya dengan lebar untuk menuju trans Jogja jalur 10 yang tengah berhenti di sebuah halte pemberhentian. Berjalan penuh semangat menuju bus umum berwarna biru itu dengan merapal harapan bahwa Kayla berada di dalam bus tersebut. Ada banyak hal yang harus ia selesaikan dengan gadis itu.
Bima tidak tahu bagaimana Kennan bisa tahu keberadaan Kayla, satu hal yang pasti ia akan berterima kasih pada kapten tim basket itu nantinya.
Degub jantung Bima berdetak tak beraturan entah karena apa. Sesaat sebelum kakinya menapak pada bus trans Jogja, cowok blasteran Jerman itu memegang dada kiri sambil menghirup kuat oksigen.
Sorot mata Bima tajam memindai satu persatu penumpang yang duduk di dalam bus. Penumpang di dalam bus lumayan penuh, hampir tidak ada kursi kosong yang tersisa. Pupil mata Bima menyisir satu persatu penumpang di dalam trans Jogja . Ada rasa kemenangan yang membuncah saat pupil matanya menangkap sosok gadis yang tengah dicarinya duduk pada deretan kursi tengah sendiri sembari mengarahkan wajah ke luar jendela kaca.
Cowok blasteran Jerman itu pun membingkai senyum di wajah tampannya. Sungguh beruntung Kayla duduk sendiri di dalam bus yang lumayan penuh tersebut.
Perlahan Bima mengayunkan langkah kakinya menuju kursi duduk Kayla, kemudian mengambil duduk di samping gadis itu perlahan agar tidak mengusiknya.
Bima diam tanpa mengucapkan satu patah katapun meski bus trans Jogja itu sudah kembali berjalan menyusuri jalan raya. Sedang Kayla masih saja nyaman dengan posisinya, tanpa menyadari jika yang duduk di sebelahnya adalah Bima.
Beberapa saat setelahnya, Kayla mengalihkan pandangan dari jendela kaca bus karena saatnya turun telah tiba.
"Maaf saya akan turun sebentar lagi." ucap Kayla tanpa memandang pada kursi di sebelahnya karena gadis itu tengah menyiapkan tas jinjing yang semula ia letakkan di dekat kaki.
Menyadari tidak ada sahutan ataupun respon memberinya ruang untuk keluar, Kayla pun mengarahkan pandangan pada kursi sebelahnya.
"Kam...mmu..." Kayla dengan kedua mata melebar sempurna saat mendapati wajah tampan blasteran yang telah ia hindari akhir akhir ini.
Bima hanya menampakkan wajah datar namun sorot matanya tajam menghujam manik hitam Kayla bak laser.
Kayla menegakkan badannya untuk mengambil langkah pergi meski mungkin akan kesusahan melewati kaki Bima yang mengalangi jalannya.
Sret... Buk...
Bima tanpa kata menahan satu pergelangan tangan Kayla dan membuat gadis itu terduduk kembali di tempatnya.
"Sebentar lagi saatnya saya turun." Kayla dengan berusaha melepaskan tangan kekar Bima dari pergelangan tangannya.
"Nanti saja. Kasih gue waktu buat ngomong sama lo."
Bima tanpa sedikitpun mengendurkan tangannya.
"Jangan memaksa Bim." Kayla berusaha mengucapkan kalimat penekanan.
"Kalau lo tidak nurut terpaksa gue akan lebih memaksa elo Kayla." Bima bertekad tidak akan melepaskan gadis itu. Apapun yang akan dilakukan Kayla nanti, meski gadis itu akan berteriak kencang menuduhnya mesum pun Bima tidak akan melepaskan gadis itu.
Kayla menunjukkan wajah tidak terima bahkan bibirnya mengerucut kesal. Dadanya bergemuruh antara kesal dan juga takut Bima nekat bakal membuat keributan di dalam bus.
Dengan sangat terpaksa Kayla pun menuruti keinginan lelaki yang telah ia hindari beberapa saat ini.
"Cepetan ngomong, waktuku nggak banyak." Ucap Kayla setelah beberapa saat Bima hanya diam saja tidak membuka mulutnya.
Bima yang masih menyusun kalimat untuk gadis di sampingnya masih saja membungkam mulut. Sungguh banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan hanya saja Bima bingung memulainya. Dia juga takut pertanyaannya akan terdengar oleh orang orang di dalam bus. Bukan tidak mungkin Bima tidak akan mengungkapkan tanya tentang aktivitas intim yang telah membakar gairah kelakiannya tersebut.
"Tidak bisa di sini, kita harus cari tempat yang nyaman buat ngobrol berdua." Bima akhirnya angkat bicara.
Sekilas Kayla melayangkan pandangan sinis pada Bima, dia berfikir jika itu hanyalah akal akalan Bima agar mendapatkan kesempatan untuk berdua dengannya. Dan kemungkinan besar akan melakukan sentuhan intim seperti pertemuan mereka beberapa waktu lalu.
"Ngomong di sini saja, tidak perlu mencari tempat khusus buat ngomong. Toh kita tidak memiliki hubungan yang special." Kayla dengan nada tidak ramah untuk di dengar, wajahnya sudah kembali menatap jendela kaca bus. Kayla bertekad untuk menjaga kewarasan agar tidak tergoda untuk duduk berdua dengan Bima. Apalagi bayangan tempat tempat sepi yang akan menjadi tempat tujuan Bima berulangkali melintas dalam benak Kayla. Tanpa sadar gadis itu pun bergidik ngeri.
Bima pun melayangkan tatapan tak terima namun sayang gadis di sebelahnya sudah mengalihkan pandangan darinya. Alhasil Bima hanya mampu mendengus kesal. Cowok blasteran Jerman itu merapatkan tubuh mendekatkan mulutnya pada telinga Kayla.
"Elo mau gue melontarkan kata kata yang akan menunjukkan aib kita berdua di sini..." Bima dengan sengaja dengan nada mengancam Kayla.
Kayla pun segera mengarahkan wajah protes pada Bima.
"Kamu punya dendam sama aku?"
"Bisa dikatakan begitu." Bima dengan santai.
"Seharusnya yang memiliki dendam itu aku, bukan kamu." kesal Kayla saat melihat wajah Bima terlihat santai.
Kening Bima mengerut.
"Elo dendam ke gue?! soal...??"
Pupil mata Kayla memindai sekitar.
"Tangan kamu grepe grepe, mulut kamu nyosor nyosor nggak sopan nggak beretika." Kayla tentu saja mengungkapkan kalimatnya sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh orang orang di sekitarnya. Gadis itu pun berbicara sambil menundukkan wajah untuk menyembunyikan rona malu yang pasti terpampang jelas di wajahnya saat ini. Kedua jari jemarinya bertaut mengerat pada rok gamis untuk mengurangi rasa malunya.
Bima menaikkan salah satu sudut bibirnya, ekor matanya melirik jemari Kayla yang mengerat pada rok gamisnya. Andai saja ia bisa melihat raut wajah gadis itu, sudah pasti akan dapat melihat rona merah malunya.
"Bukannya elo juga suka kalau tangan gue... Juga mulut gue..." Bima sengaja menjeda kalimatnya untuk menggoda Kayla.
Dengan cepat Kayla pun memprotes dengan mengarahkan wajahnya pada Bima. Benar saja wajah bulat putih dengan pipi chubby itu merona merah disertai dengan bibir yang mengerucut tanda kesal. Namun hal itu nampak lucu di mata Bima. Cowok blasteran Jerman itu pun semakin memanjangkan kedua sudut bibirnya.
"Kalau gue sih suka... Sangat sangat menyukainya." Bima dengan tatapan dalam pada pupil hitam Kayla yang semakin membulat sempurna.
"Dasar cowok gendeng... Edian..." gerutu Kayla semakin kesal pada tingkah Bima. Gadis itu pun beranjak berdiri dengan kesal. Bima pun mengiringi gerakan Kayla dengan menggandeng salah satu pergelangan tangan gadis itu. Mengambil langkah untuk menuruni bus trans Jogja yang tengah berhenti di sebuah halte. Meski kesal Kayla mau tak mau mengikuti langkah Bima karena dirinya tak mampu melepaskan diri dari cekalan tangan cowok blasteran Jerman tersebut.
🌷🌷🌷
awaaas loe
disaat Kayla senam jantung, eh... si Bimbim malah tidur 😁
smg ceritanya tdk bertele".....aku hdiahkn secangkir kopi buatmu thorrr mangatttt ....
si kay kan gk bs bohong