NovelToon NovelToon
Elang Mataram

Elang Mataram

Status: tamat
Genre:Petualangan / Fantasi Timur / Pendekar / Ahli Bela Diri Kuno / Action / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Dan budidaya abadi / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Fariz Pradipta

Setelah berhasil membantu kerabat Selo mengalahkan Arya Penangsang, Ki Wirojoyo seorang jagoan dari kerabat Selo hendak pulang untuk memboyong keluarganya pindah ke Alas Mentaok bersama kerabat Selo lainnya. Namun ketika sedang bersiap untuk pindah, rumahnya didatangi oleh kelompok Kelelawar Hitam yang hendak membantai Ki Wirojoyo beserta keluarganya. Ki Wirojoyo berusaha mempertahankan dirinya namun ia kalah kemudian terbunuh oleh pemimpin Kelelawar Hitam yang bernama adalah Ki Rono Tikusilo.

Putra Ki Wirojoyo yang bernama Surodipo berhasil diselamatkan oleh Ki Suryo Alam, seorang pertapa sakti dan aneh dari Gunung Sindoro dan diangkat murid olehnya. Setelah menurunkan seluruh ilmunya Ki Suryo Ngalam pun memerintahkan agar Surodipo untuk mengabdi di Mataram sebagai pemenuhan janjinya pada Ki Pemanahan karena ia sahabat Ki Pemanahan dan pernah berjanji untuk menggembleng seorang murid untuk menjadi abdi Mataram, dan menumpas Ki Rono Tikusilo yang ternyata adalah mantan muridnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33 – Ujian Dari Senopati (1)

Pada suatu pagi menjelang siang, kaki Surodipo telah sampai menyentuhkan kakinya di Kota Gede yang merupakan pusat pemerintahan Perdikan Mataram. Sesaat ia celingukan menatap keramaian di Ibukota perdikan ini, ternyata kota itu jauh lebih ramai dan lebih besar daripada yang ia bayangkan, bahkan kota itu terhitung sangat megah untuk ukuran tanah perdikan, belum lagi pembangunan tembok-tembok dan benteng-benteng kota sehingga kota ini nyaris menyerupai kota kadipaten yang dipimpin seorang adipati.

“Ah sungguh hebat luar biasa pembangunan Mataram ini, tidak seperti kata Guru yang mengatakan Mataram hanya sebuah perdikan kecil…” pikir Surodipo, pemuda yang baru turun gunung ini kemudian terus melangkahkan kakinya untuk mencari balai Kademangan Mataram guna menghadap Senopati dan Ki Juru Martani.

“Balai Kademangan itu pastilah ada di dekat alun-alun kota, tapi bagaimana aku bisa menghadap Senopati dan Ki Juru Mertani?” tanya Surodipo dalam hatinya. Surodipo kemudian melihat dua orang yang tampangnya seperti prajurit sedang mengawasi pasar di Kota Gede tersebut, kemudian ia pun menghampiri mereka.

Kedua orang prajurit itu nampak memperhatikan Surodipo dari atas kepala sampai ke bawah kakinya dengan tatapan penuh curiga. Kemudian barulah salah seorang dari mereka menjawab. “Oh tidak semudah itu bisa menghadap Gusti Senopati! Harus jelas dulu siapa kamu, dan untuk apa datang ke Mataram ini!” tegasnya.

Surodipo tersenyum, dengan sopan dan nada bicara yang menunjukan kerendahan hatinya ia menjawab. “Saya membawa pesan dari guru saya, dan guru saya adalah sahabat dari Almarhum Ki Ageng Mataram.”

“Mana pesannya?” tanya penjaga lainnya.

“Maaf Kisanak, pesan ini hanya bisa saya sampaikan pada Gusti Senopati atau Gusti Juru Mertani.” jawab Surodipo dengan tegas.

Kedua orang prajurit jaga itu kemudian saling berbisik, kemudian salah satu dari mereka kembali berbicara  “Baiklah kami akan mengantar Panjenengan kepada Gusti Juru Mertani. Ayo ikut!” Surodipo pun mengikuti kedua prajurit itu masuk ke dalam pendopo Balai Kademangan yang lagi-lagi sangat megah untuk ukuran perdikan, kembali pemuda ini berdecak kagum dalam hatinya melihat Balai Kademangan yang megahnya bagikan Balai Kadipaten ini.

Sesampainya di pendopo, Ki Juru Mertani langsung menemui tamunya ini setelah diberi kabar oleh satu prajurit yang mengantar Surodipo. Seulas senyum selalu nampak menghiasi wajah Ki Juru Mertani ketika melihat putra Almarhum Ki Wirojoyo tersebut. “Jadi tamuku itu putranya Almarhum Dimas Wirojoyo tho… Welehhh… Hehehe… Rupanya Dimas Wirojoyo telah mengirimkan penggantinya. Bagus! Tapi… Kenapa baru sekarang Le?” tanya Ki Juru.

Hati Surodipo merasa sedih ketika kembali teringat pada peristiwa kelam LIma tahun yang lalu tersebut, kemudian ia menjura hormat sebelum menjawab. “Maafkan saya Gusti. Setelah peristiwa naas LIma tahun yang lalu tersebut, saya yang terluka parah diselamatkan oleh Ki Suryo Alam dan diangkat murid oleh beliau, sampai akhirnya diamanatkan untuk mengabdikan diri saya di Mataram.”

“Oh jadi kamu juga muridnya Kakang Suryo Alam? Hehehe… Rupanya Kakang Suryo ingin memenuhi janjinya untuk menggembleng seorang murid untuk dijadikan prajurit Mataram… Bagus, bagus…” Ki Juru tersenyum lebar kemudian meminta dua orang prajurit yang mengantar Surodipo pergi.

“Kemari Surodipo…” Ki Juru meminta agar Surodipo mendekatinya, kemudian wajahnya berubah menjadi keruh ketika ia kembali berujar. “Sebenarnya kami para kerabat Selo sampai saat ini masih merasa tidak enak pada Almarhum adi Wirojoyo dan keluarganya yang sangat berjasa bagi kami. Kami… Tidak sempat berbuat apa-apa ketika mendengar kabar bahwa Adi Wirojoyo dan seluruh anggota keluarganya tewas dibantai Kelompok Kelelawar Hitam setelah beberapa hari sebelumnya menerima kabar dia membatalkan pernikahanmu dengan putranya Juragan yang ternyata perampok Serigala Kelabu itu.”

Ki Juru terdiam sejenak menatap Surodipo yang menundukan kepalanya ke bawah, setelah menghela nafas berat kembali sesepuh Selo ini berucap. “Saya dan Almarhum Kakang Pemanahan sangat terpukul, bahkan Angger Senopati pun sangat merasa kehilangan karena selama ini adi Wirojoyo selalu mendampinginya…”

“Kami bahkan mengira kamu pun sudah meninggal dalam peristiwa naas tersebut, sampai Kakang Suryo Alam mengirimi kami surat bahwa ia telah mengangkat seorang murid bernama Surodipo putranya almarhum Adi Wirojoyo.” lanjut Ki Juru Mertani dengan wajah yang kembali dipenuhi senyuman.

“Ah ternyata Ki Juru sudah mengetahui semuanya…” bisik Surodipo dalam hatinya.

"Weh... keasyikan mengobrol sampai lupa aku menanyakan bagaimana kabar kangmas Kyai Suryo Alam?" Tanya Ki Juru sambil menepuk keningnya.

"Beliau sudah wafat Gusti, sewaktu beliau melepas saya untuk mengabdi ke Mataram ini." Jawab Surodipo dengan lirih.

Alangkah terkejutnya Ki Juru mendengar jawaban dari Surodipo tersebut. "Inalillahi wainalillahi rojiun... " desahnya dengan wajah sedih. "Pantas aku mendapat firasat tidak enak... Dan mungkin Kangmas Kyai sudah mendapat firasat hingga ia mengirimkan muridnya kemari sebagai pemenuhan janjinya pada Almarhum Ki Pemanahan."

Hening untuk beberapa saat, sampai akhirnya Surodipo memberanikan dirinya untuk kembali bertabya  “Maaf Gusti… Jadi apakah saya diterima untuk mengabdi disini?” tanya Surodipo.

“Oh itu urusan nanti, segala sesuatunya disini harus mendapat persetujuan dari Angger Senopati. Tapi sebaiknya kamu beristirahat dulu, baru menghadap Angger Senopati besok.” jawab Ki Juru Mertani.

Surodipo pun kembali menghaturkan sembahnya. “Terima kasih Gusti.”

***

Malam harinya, saat Surodipo sedang terlelap seorang diri di sebuah kamar di keprajuritan Mataram.  Sesosok bayangan hitam nampak berkelebat melompat masuk melewati tembok keprjuritan yang tinggi tersebut dengan gerakan yang teramat ringan dan tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Surodipo langsung terjaga ketika orang berjubah hitam yang wajahnya ditutupi topeng wajah Bagong salah satu tokoh punakawan dalam wayang Mahabarata itu mengendap-endap tanpa suara menghampiri biliknya.

Si Topeng Bagong kemudian membuka pintu kamar Surodipo yang dikunci dari dalam, anehnya dia dapat membuka pintu itu tanpa bersuara apalagi mendobraknya! Ia membuka pintu tersebut seolah pintu itu tidak dikunci dari dalam!

Surodipo pun sengaja pura-pura maih terlelap ketika mengetahui si Topeng Bagong itu membuka pintu kamarnya dan berjalan menghampirinya tanpa suara sedikitpun, tapi diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya. Si Topeng Bagong terus menghampirinya dan ketika dekat, ia menghunus sebilah pisau belati untuk ditusukan pada Surodipo!

Tapi orang yang hendak dibokong itu langsung membuka matanya dan menyerang si Topeng Bagong! Si Penyerang gelap itu terkejut ketika Surodipo menendang lepas pisau belati di tangan kanannya, ia pun langsung melompat keluar kamar, Surodipo pun langsung melompat mengejarnya!

Ternyata ilmu lari cepat dan meringankan tubuh si Topeng Bagong itu sangat sempurna, dalam sekejap ia berhasil melompati tembok kerajuritan yang tinggi tersebut sehingga Surodipo pun harus benar-benar mengerahkan ilmu meringankan dirinya untuk mengejar si penyerang gelap tersebut.

Ketika jaraknya sudah agak dekat, Surodipo langsung menyerang si Topeng Bagong, si manusia bertopeng ini pun segera meladeninya. Surodipo agak terkejut karena ternyata ilmu lawannya ini sangat tinggi, tenaga dalamnya pun sungguh dahsyat, sehingga  ia pun harus menguras semua ilmu yang ia dapatkan dari almarhum ayah dan kakeknya serta gurunya.

Maka jual beli pukulan di antara kedua pria yang tidak saling mengenal ini terjadilah. Angin deras berseoran seiring gerakan-gerakan mereka yang dipenuhi oleh tenaga dalam itu. Diantara mereka tidak ada yang lebih unggul dalam kecepatan, tenaga dalam mereka pun sulit diukur karena sama-sama berada di tingkat tinggi, sehingga mereka pun saling berusaha untuk menghindari terjadinya kontak fisik karena pastilah akan menimbulkan luka luar dan dalam bagi mereka.

1
baca yg gue suka
kok muter2 gak karuan.
lawan jadi kawan, mau berantem gak jadi. maunya gmn nih?
baca yg gue suka
siapa yg terjebak?
kok malah macet gak nemu ujung pangkalnya
baca yg gue suka
niatnya memancing, knp justru terpancing?
mau mengusut perkara malah disudutkan.
ni namanya terperosok ke lubang sendiri🤣🤣
baca yg gue suka
dikasi hati minta jantung.
pantasnya ngadep laja nelaka😄
Cunomo Cucun
sudah masuk perangkap syetan.
baca yg gue suka
wedus gembel ikutan bantu perang
Feri Fernando
Aryo Pangiri memang kebelinger
Riszal Purbaya Abdi
kerennn
Thomas Andreas
bagus
Lilik Muliyadi
perang antar manusia
jin gak ngaruh Thor
bagi umat islam
Ulun Jhava
Jebak menjebak nmax inj😂
Ulun Jhava
Paham kan sekarang benowo??
Ulun Jhava
Laki laki mmg panembahan senopati👍👍
Ulun Jhava
Senopati panembahan mmg the legend selain sakti jg cerdik ditambah sang pama ki martani,.tambah kuat mataram
Ulun Jhava
Raden ronggo congkak egois tapi hatix lembut👍👍keren kau calon raja mataram selanjutx
Ignatius Sumardi
Luar biasa
FPS: Terima kasih 🙏😊
total 1 replies
Esther M
.matur nuwun mas fariz🙏🙏
FPS: Sama2 🙏😁
total 1 replies
Windy Veriyanti
waosan ingkang saè 👍👍👍
matur nuwun 🙏🌷
Windy Veriyanti: senang sekali membaca fiksi berlatar belakang sejarah kerajaan di Tanah Jawa 👍

semoga next ada cerita yang berlatar belakang Kerajaan Padjajaran di era Prabu Siliwangi atau Kerajaan Singhasari di era Prabu Kertanegara 🙏
total 2 replies
Dikjo Ucluk
buat sejarah bsru thor
wahyu hidayat
mantap thor, baru baca di 2024.
penggabungan sejarah dan drama nya mantap sekali
FPS: iya dari Babad Tanah Jawi & Serat Kanda
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!