Baca season pertama juga ya judulnya Akhir Yang Bahagia.
Cyra Alesia Wijaya gadis manis berjilbab yang cukup ceria, punya keluarga yang semuanya baik membuat Cyra merasa hidupnya sempurna.
Tapi suatu kejadian membuatnya berubah jadi gadis murung, kejadian yang gak bisa diceritakannya pada siapapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Karyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Cyra masih diam tidak bisa bicara, Cyra ikut masuk ke ruang UGD sambil masih memegang tangan suaminya.
Zahra meminta Cyra keluar dulu karna Dokter ingin menangani Geral, air mata Cyra terus menetes sambil ingin melepaskan tangan kanan Geral yang ternyata masih menggenggam sesuatu dibalik jari-jarinya.
Cyra mengambil kalung yang dipegang Geral dan memegang dahi Geral lalu berjalan keluar dengan langkah lambat.
Cyra keluar dan melihat Dinda yang juga sedang menitikkan air mata dengan tangan bergetar.
Zahra juga keluar dari ruangan karna memang bukan bagiannya.
"Kalau saja Cyra gak memaksanya pulang cepat, ini gak akan terjadi, Kak Geral gak akan ada di sini," ucap Cyra sambil perlahan duduk di bangku tunggu.
"Tidak boleh bicara seperti itu, ini Qadarullah," kata Rendy yang juga terlihat sangat khawatir.
Cyra membuka genggamannya dan melihat kalung dan cincin yang menyatu.
Cyra menatap agak lama dan langsung mulai menangis bersuara sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
Tidak berapa lama Hana dan Arka datang karna memang dari pagi sudah ada di apartemen Geral, mereka datang karena dapat kabar dari Rendy.
Hana melihat Cyra yang menangis sambil menunduk.
Perlahan Hana mendekat ingin menenangkan putrinya itu, Cyra mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Hana, Hana juga mulai menitikkan air mata.
Cyra memperlihatkan tangannya yang penuh dengan darah suaminya yang juga melekat di lengan-lengan baju.
"Ini darah Kak Geral," ucap Cyra pelan dengan suara bergetar.
Hana melihat ke arah tangan Cyra yang memang ada banyak darah, Hana langsung mengingat saat Vito kecelakaan dulu yang juga penuh dengan darah.
Hana langsung terkulai dan jatuh ke lantai tidak sadarkan diri, semuanya panik dan langsung bergegas mendekat.
"Bunda," panggil Cyra
Arka langsung mengangkat Hana, "Gak apa-apa sayang, Bunda cuma pingsan, kamu tetap di sini saja," ucap Arka yang langsung membawa Hana
Cyra yang juga khawatir masih melihat ke arah Ayah dan Bundanya.
Rendy mengikuti Arka untuk mengurus kamar untuk nanti Hana istirahat.
Dinda mendekati Cyra yang kembali menangis.
Dinda juga terus meneteskan air mata, Ia mengambil tangan Cyra dan menggenggam erat tangan Cyra.
Terlihat gelang mereka bersentuhan, Dinda dan Cyra sama-sama melihat gelang pemberian Geral.
Air mata mereka semakin deras keluarnya saat melihat gelang itu.
Zahra juga terlihat sedih melihat keduanya, dari tadi Zahra hanya diam.
Zahra kembali melihat ke dalam ruangan UGD saat Dokter masih menangani Geral.
*
Beberapa waktu berlalu Hana terbangun di kamar rawat.
"Bagaimana dengan Geral?" tanya Hana panik
"Bunda tenang saja, Geral sudah dipindahkan ke ruang rawat," ucap Alwi yang juga sudah ada.
"Cyra bagaimana?" tanya Hana
"Tadi Cyra juga pingsan tapi sekarang sudah ada di ruang rawat bersama suaminya," kata Alwi
Di luar Arka sedang membayar biaya administrasi ketiganya.
Arka memegang pelipisnya karna pusing memikirkan kedua wanita yang disayanginya pingsan, belum lagi menantunya yang entah kapan baru sadar.
*
Cyra tersadar dan langsung menatap ke arah Dinda yang bersamanya, Cyra melihat ke arah kanannya dan terlihat Geral yang belum sadar.
Dinda memegang Cyra yang akan turun dari ranjang pasien.
Cyra kembali memakai cadarnya dan langsung berjalan dengan langkah lambat mendekati Geral yang masih terbaring tidak sadar.
Cyra menyentuhkan dahinya ke dahi Geral dengan sedih.
Ia teringat sesuatu dan langsung melepaskan dahi yang menyentuh.
Ia melihat jam tangannya sudah jam 1 siang.
"Cyra belum shalat, Cyra keluar dulu," ucap Cyra
"Tadi Bang Rendy sudah beli sajadah jadi shalat di sini saja, di sebelah sana bersih," ucap Dinda sambil menunjuk sajadah.
Cyra melihatnya dan langsung mengangguk.
Setelah selesai shalat, keluarga Cyra masuk.
Cyra menoleh melihat ke arah keluarganya, Ia melihat Bundanya yang mulai menitikkan air mata.
Cyra kembali menitikkan air mata dan langsung memeluk Bundanya.
"Jangan nangis, dia sudah melewati masa kritisnya tinggal nunggu sadar," kata Hana menenangkan Cyra padahal Ia sendiri masih terus menangis.
Ya Allah semoga Cyra gak mengalami apa yang aku rasakan dulu, batin Hana sambil menepuk-nepuk pundak Cyra.
Arka juga memegang Cyra dan ikut memeluk keduanya.
*
Sore hari, Cyra masih duduk di kursi samping ranjang.
Cyra menggenggam tangan Geral sambil menatap wajah pucat Geral.
"Kata Dokter, bentar lagi akan sadar," kata Dinda
"Kalau Dinda mau pulang gak apa kok," ucap Cyra saat menatap Dinda yang terlihat lelah.
Dinda mengangguk, "Besok kami kesini lagi,"
Dinda pamit keluar sambil mengucap salam.
Dinda memutar rodanya lalu keluar menemui Rendy yang menunggunya di depan kamar rawat.
"Kita pulang dulu, besok baru kesini lagi, di sini sudah ada Cyra yang jaga," kata Dinda
Rendy mengangguk dan langsung mendorong kursi roda Dinda.
"Sudah gak sedih lagi kan?" tanya Rendy
Dinda mengangguk, "Setelah mendengar ucapan Dokter tadi jadinya lega, ditambah sekarang Kak Geral sudah ada yang jaga,"
Di ruang rawat Cyra membuka cadarnya dan menyimpannya di meja, Ia menjangkau makanan yang tadi Ayahnya belikan sebelum Ayahnya pulang.
Sebenarnya gak selera, tapi nanti kalau sakit gak bisa jaga Kak Geral, batin Cyra
Cyra membuka makanannya dan perlahan menyuap nasinya sedikit.
Ia melihat ke arah Geral yang belum sadar.
Cyra kembali melanjutkan makannya, Ia menghabiskan makanannya dan langsung meminum air putih.
"Alhamdulillah," ucap Cyra pelan
Cyra bangkit ingin membuang bekas makanannya ke tempat sampah di luar ruangan.
Cyra berjalan pelan membuka pintu kamar rawat, tapi langkahnya terhenti karna suara serak yang dikenalnya memanggilnya.
"Cyra," panggil Geral dengan nada lemah
Cyra berbalik dan melihat Geral sudah membuka matanya.
Cyra buru-buru membuang sampah dan kembali menutup pintu lagi.
Cyra berjalan cepat menuju Geral yang hanya membuka mata tanpa bergerak.
Cyra langsung memeluk pelan Geral yang lagi berbaring di ranjang pasien.
"Cyra takut banget, Cyra kira Kak Geral gak akan sadar, dan Cyra kira kalaupun Kak Geral sadar Kak Geral akan melupakan Cyra, tapi ternyata semua dugaan Cyra salah, Cyra berdosa sudah suudzon sama Allah," ucap Cyra tanpa henti.
Cyra melepaskan pelukannya dan langsung memegang wajah Geral dengan kedua tangannya.
"Tunggu di sini, Cyra cari Dokter dulu buat periksa Kak Geral," ucap Cyra
Geral mengangguk, Cyra melepaskan tangannya dari wajah suaminya.
Cyra memakai cadarnya kembali dan langsung berjalan keluar.
Geral melihat kepergian Cyra, setelah Cyra sepenuhnya tidak terlihat, Ia melihat ke arah kanannya, Geral ingin menjangkau minuman di meja tapi tangannya baru diangkat sudah jatuh lagi karna terlalu lemah.
Geral memiringkan tubuhnya dan kembali ingin menjangkau gelas itu tapi tetap tidak bisa.
Apa salah Alwi sampai ada musuh, penasaran🤔
like
sub
give
iklan
star
komen
paket lengkap tersemat
cya yo
😘😍😘😍😘😍
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
maka jadilah.
QS. al Baqoroh 216.
cha yo kk dwi nt k-2 mu stlh hana
😘😍😘😍😘😍😘😍😘😍