NovelToon NovelToon
Risalah Hati

Risalah Hati

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: ARyanna

WARNING!!
Cerita Dewasa, tak baik dibaca oleh anak dibawah umur!

"Menikahlah denganku," ucap Soraya memohon, berlutut di hadapan lelaki yang baru ditemuinya dalam waktu hitungan jari.

Ada apa dengan Soraya, hingga bertindak demikian? Kita ikuti saja kisahnya...




Tpe 23-12-2019

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

"Sampai kapan kamu di dalam sana?" teriak Rudi dari arah luar. Ia menunggu diluar kamar sekitar lima belas menit, curiga Soraya tak kunjung menampakkan diri, ia kembali masuk ke kamar. Dan nampaknya kamar mandi masih tertutup rapat. Kali ini ia berteriak sambil menggedor pintu kamar mandi.

Soraya mengantuk-antukan keningnya pada pintu kamar mandi sambil tangannya memukul-mukul pintu kamar mandi yang tak bersalah sama sekali. Ia merutuki peristiwa ini dengan menangis sedari tadi juga kesal pada dirinya sendiri.

"Jangan bertindak konyol, cepat keluar!" teriak Rudi lagi karena tak mendapati respon dari Soraya. Dari balik pintu ia menguping, terdengar didalam sana terdengar lamat, Soraya menangis sesegukan.

"Aku mau keluar, tapi kenapa kamu masih disitu!" sahut Soraya dengan nada kesal.

"Aku keluar sekarang, kopermu sudah aku letakkan di kamar," kata Rudi kemudian berlalu keluar kamar dan menutup pintu.

Soraya menghembuskan nafas panjang kemudian berdiri dan membuka pintu kamar mandi, melihat keadaan kamar yang kosong ia langsung saja keluar dan menemukan kopernya berada diatas ranjang. Segera ia mengambil pakaian dan memakainya sebab tubuhnya sudah sangat kedinginan, giginya bahkan terdengar saling bergemelutuk.

Usai berpakaian ia melangkah mendekati cermin, memandangi dirinya dengan tatapan sayu. Bibirnya tampak memucat. "Habis sudah," gumamnya pelan. Hal yang ia jaga dan bagian tubuhnya yang dibanggakan dan tersembunyi telah nampak di mata orang lain. Air matanya luruh, sedih malu bercampur jadi satu.

Ketukan pintu terdengar, sekali dua kali dari pelan sampai kencang. Mau tak mau Soraya mendekat ke arah pintu dan membukanya.

"Jangan bertindak bodoh, mau berapa lama mengurung diri di dalam kamar," kata Rudi, namun Soraya masih tetap menundukkan kepalanya enggan menatap wajah Rudi.

"Keluar," perintah Rudi terdengar datar.

Soraya menurut dan mengikuti Rudi berjalan dibelakang. Tujuan mereka adalah dapur, Rudi menyodorkan gelas yang berisi coklat hangat. "Minum itu," kata Rudi.

Soraya kemudian mendudukan diri di kursi makan lalu menyesap sedikit-sedikit minumannya.

"Apa yang kamu lakukan selama itu dikamar mandi?"

"...." Soraya terdiam masih memegangi cangkirnya.

"Kamu mau mati konyol!" bentak Rudi, membuat Soraya tak sengaja menjatuhkan cangkirnya, dan menimbulkan coklat hangat itu tumpah diatas meja.

'Kenapa dia yang marah, bukankah harusnya aku yang berbuat demikian. Akulah yang merasa dirugikan kenapa dia yang justru membentak,' batin Soraya. Ia berusaha menghalau air mata agar tak jatuh lagi.

"Aku gak seperti yang kamu tuduhkan," gumam Soraya enggan menatap wajah Rudi.

"Lalu?" kata Rudi butuh penjelasan.

"Aku hanya lupa tidak membawa handuk atau pakaian, makanya aku bingung. Tak tahu harus berbuat apa didalam sana."

"Harusnya kamu berteriak meminta bantuan. Untuk apa manusia mempunyai mulut kalau tidak digunakan," ucap Rudi terdengar sarkas.

"Mana aku tahu kalau dirumah ini ada orang. Dan bukannya kamu tadi pergi tapi kenapa tiba-tiba muncul. Dan kenapa juga tidak ketuk pintu, asal masuk saja!" ujar Soraya kesal, ingin memprotes menuntut keadilan kalau perlu pertanggungjawaban, sebab tubuhnya merasa ternodai oleh mata lelaki dihadapannya. Wajahnya, matanya tengkuknya rasanya sudah memanas.

Rudi mendegus, "Maaf, aku hanya berfikir kamu didalam kenapa-kenapa."

Soraya terdiam, tadinya dirinya ingin marah. Namun mendengar kata-kata Rudi barusan, ia merasa dirinya dipedulikan.

"Aku gak mau ada orang ditemukan mati konyol di apartmenku," sambung Rudi.

Kesal, satu kata yang mewakili hati Soraya. Mungkin orang dihadapannya ini memang benar adanya menjengkelkan, baru saja ia merasa dipedulikan beberapa detik kemudian ia terasa di hempaskan. "Dan kalau aku beneran mati, kamu lah orang pertama yang aku cari," kata Soraya sinis.

Rudi mendudukan diri di kursi tepatnya dihadapan Soraya. "Ada berapa banyak orang yang mengetahui alasan pernikahan kita?" tanyanya.

Soraya mengernyit. Secepat ini Rudi mengalihkan topik, bahkan sedang kesalpun orang dihadapannya tetap tak peduli, batin Soraya.

"Selain temanmu yang aku ketahui di hari resepsi," sambung Rudi.

"Jenny maksud kamu?" sahut Soraya. "Hanya aku, kamu dan Jenny."

"Usahakan temanmu menutup mulut agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Kita harus menyepakati beberapa hal selama tinggal bersama, ingat ini bukan pernikahan kontrak. Kita hanya menjalani komitmen, tinggal satu atap dan kamu harus mengerti aturan. Aku sebagai kepala keluarga disini berhak mengambil keputusan apabila ada permasalahan dan bertindak mengikuti arahan yang aku berikan."

"Lalu bagaimana dengan aku, apa aku harus tunduk dan patuh padamu. Itu gak adil," ucap Soraya membela diri. "Aku pikir suatu saat pasti berdampak dan membuat diriku rugi."

"Kita tetap menjalani kehidupan pribadi masing-masing, tanpa ada campur tangan satu sama lain. Namun tetap masing-masing dari kita perlu tahu apa yang dilakukan oleh pasangan, apa kamu mau orang luar curiga akan hubungan kita?"

"Maksudmu kita saling berbagi kabar dan cerita begitu?" tanya Soraya dengan alis bertaut.

"Aku akan memberitahu bila aku punya kepentingan mendesak, begitu juga kamu. Apa yang kamu lakukan aku perlu tahu."

"Termasuk pergi bekerja, lembur, shopping ke salon—"

"Iya," kata Rudi menyela.

"Dan kenapa kamu pulang, bukankah ada jadwal operasi?"

"Itu hanya alasan," jawab Rudi terdengar enteng ditelinga Soraya. Mata Soraya menajam menatap Rudi lurus. "Kenapa?" alis Rudi terangkat.

"Alasan kamu bilang?" nada Soraya meninggi.

"Kalau aku tidak berkata demikian, permintaan Kakek akan semakin menjadi."

"Lalu kenapa tadi tidak pulang sekalian, dan malah menurunkan aku di seberang jalan?" tanya Soraya mendesis.

Rudi berdecak, "Aku pikir lebih baik kamu pulang terlebih dahulu. Dan aku mampir ke supermarket membeli beberapa sayur untuk makan malam nanti," jawab Rudi sambil menunjuk bungkusan plastik yang berada di dekat kompor.

Soraya memutar kepalanya melihat bungkusan plastik berisi sayur. Kalau bisa, ingin waktu berputar kembali, salahnya ia tak bertanya kemana Rudi akan pergi. Harusnya ia ikut saja, agar harga dirinya masih bisa terselamatkan.

To be Continue

Yang suka sana ceritanya jangan lupa LIKE, KOMENTAR, VOTE, juga TANDA CINTANYA

Agar tak ketinggalan update an terbarunya 😘😘😘

1
Ruswa 123
kereeen thor
falea sezi
lebih senang karakter soraya daripada amaira yg kayak anak kecil soraya lebih dewasa
Pasikah CwElosbes
luarbiasa
Holid Heryadi
kok gitu sih cara kerjanya awalnya enak di baca kok jadi ada adegan gak enak yaah
Rohana Juhari
aku mampir ya
kafa ainshod
aku balik lagi... gara gara gak bisa move on... bolak balik profil ArRyana ga ada novel baru...
kafa ainshod
ihhh... pede banget... aku balik lagi thor... kangen sama bang Icang alias babang rudi... lupa sudah berapa kali saya baca ini
Ely
Hallo thor.....baru baca.....🙏
Nancy Sirapandji
bagus ceritanya..menarik tdk bertele2..tdk terlalu bnyk konflik yg tak berarti..eps jg pas ngga terlalu panjang bngt jd tdk membosankan..🙏🙏😋😋
Erni Fitriana
mampir thorr
Irawati Danubrata
watak soraya terlalu lemah,mungkin sekian lamanya ia di doktrin oleh ebgel n tantenya shg dia tdk bisa memenage dirinya sndiri😭😭
Irawati Danubrata
masa seorang dktr spesialis tdk ada alat medis n obat dirmhnya?wkwkwk
Irawati Danubrata
soraya n rudi malukah?sakting kedyanya🤭🤭
Muajidah Firdausi
wajah Indo lebih enak dipandang Thor.
Muajidah Firdausi
Kok yg periksa dokter lain. Rudi kan dokter juga.
Muajidah Firdausi
untung ada Jenny
Yus Gerin
knapa tidak di beri tahu siapa yg menjebak soraya sama produser itu......
Yus Gerin
oh ....ternyata kevn dan soraya satu bapak lain ibu....
Yus Gerin
p
Donna Armen
🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!