Penuh dengan Misteri. 👺👺
Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.
Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.
Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Rasa daging yang berbeda.
Vivana.” Panggil Barra lembut, tangan kanan membelai pipiku.
Aku yang tadinya berpura-pura tidur harus bangun setelah mendengar Barra memanggilku berulang kali. Melihat dirinya masih begitu lembut memanggil namaku, aku pun segera membuka kedua mata agar dirinya tak menghukum diriku lagi.
“Tuan Barra.”
“Ssstt! Kan aku sudah bilang jangan panggil aku tuan, panggil saja aku Barra atau terserah kamu mau panggil aku apa, asal kamu senang.” Sahut Barra, jari telunjuk tangan kanan menempel di bibirku.
“Baik.” Sahutku patuh.
‘Sekarang aku tahu, ternyata seperti ini cara menyikapi seorang psikopat. Tapi mau sampai kapan aku terus bertahan hidup bersama dengannya.’ Batinku.
Tok!tok!
“Masuk.” Sahut Barra.
Kedua kaki Santo melangkah masuk ke dalam kamar, bibir mengulas senyum tipis. “Tuan Barra, ini sup yang ada minta tadi.” Ucap Santo, kedua tangan memegang nampan berisi mangkok sup yang masih hangat.
“Bawa mendekat kepadaku.”
“Ini sup daging yang cukup gurih dan lezat, cocok buat istri Anda tuan.” Sahut Santo memberikan nampan berisi mangkok sup hangat.
“Kalau begitu kamu boleh pergi.” Ucap Barra datar.
“Baik tuan.” Santo melangkah pergi meninggalkan aku dan Barra, sesekali ia memandang ke belakang dengan sudut bibir atas menaik.
“Vivana, kamu harus banyak makan agar cepat sembuh.” Ucap Barra, tangan kanan memegang sendok berisi sup daging. “Ayo, buka mulut kamu yang lebar. AAA.”
Aku membuka mulut lebar dan membiarkan Barra menyuapi ku. Saat aku menguyah adalah aneh yang aku rasakan, rasa daging. Dagingnya sangat berbeda dengan daging pada umumnya. Aku memuntahkan daging di telapak tanganku.
“Uwek.”
“Ke-kenapa kamu?” Tanya Barra terdengar cemas, tangan kanannya segera meletakkan mangkuk sup di atas nampan yang di letakkan di pinggiran ranjang.
Aku segera turun dari ranjang, kedua kaki berlari cepat menuju kamar mandi. Aku masih merasa geli dan mual mengingat setiap gigitan yang aku rasakan, sup yang sudah masuk ke perut kembali keluar di depan kloset, setelah itu aku berdiri mendekati wastafel untuk mencuci wajah dan mulutku. Kemudian aku keluar, tangan kanan masih terus mengusap-usap lidah yang aku julur.
.
.
.
🍃🍃Di ruang tamu.🍃🍃
“Apa yang kamu masukkan ke dalam sup?” Tanya Barra kepada Santo.
“Aku hanya ingin membuat istri Anda cepat sembuh tuan.”
“Iya. Tapi daging apa yang kamu pakai?” Tanya Barra sekali lagi dengan nada suara meninggi.
Santo mendekatkan bibirnya di daun telinga Barra, kemudian menjawab pertanyaan Barra dengan berbisik. Barra membulatkan kedua bola matanya, tangan kanan mendorong tubuh Santo, jari telunjuk tangan kanan mengarah ke wajah Santo.
“Sudah gila kamu, ya. Kamu pikir dia itu seperti kita. Jika kamu ingin makan, makan saja sendiri, tidak perlu memberikannya kepada istriku.”
“Maaf, tuan.” Sahut Santo, kepala tertunduk penuh, kedua tangan di letakkan di depan perutnya.
Karena merasa perut dan mulut tidak enak, aku memutuskan untuk turun ke bawah. Saat kedua kaki perlahan menuruni anak tangga, kedua telingaku tak sengaja mendengarkan perdebatan Barra dan Santo. Mengetahui mereka tidak merasakan kedatanganku, aku segera berbalik badan, saat kaki kanan hendak melangkah, bahu kananku di tahan dari belakang.
“Mau kemana nona muda?”
Tidak ingin di curigai Santo, aku segera berbalik badan, tangan kanan mengulur ke koridor yang terhubung dengan kamar. “Anu….tadi aku ingin minum, tapi tidak jadi karena aku lupa membawa gelas milikku yang berada di kamar.” Sahutku. Sangking paniknya aku menjawab asal-asal membuat Santo bertambah curiga kepadaku.
“Bukannya di bawah banyak gelas?”
“Eh! Anu…tadi..aku.”
“Santo! Kenapa kamu terus bertanya seperti itu kepada istriku. Apa kamu tidak percaya kepadanya?” Teriak Barra dari bawah anak tangga.
“Barra. Tadi aku ingin minum karena bibirku merasa tidak enak, cuman aku lupa membawa cangkir jadi aku hendak balik ke kamar.” Sahutku berbohong dengan nada suara lembut agar Barra tidak curiga kepadaku, dan harus membela diriku.
“Kalau begitu cepat turun, dan segeralah minum agar kamu kembali beristirahat di dalam kamar.” Tegas Barra percaya padaku.
“Ba-baik.” Sahutku kaku, kedua kaki melangkah cepat menuruni anak tangga. Aku terus berlari menuju ruang makan. Ku tuang air di dalam gelas, tangan kanan memegang gelas berisi air mineral. “Gluk!gluk!” Aku terus menenggak habis minuman di dalam gelas, tangan kanan menyeka kasar air yang menetes di bawah bibir. “Hampir saja.” Gumamku pelan.
“Apanya yang hampir saja?” Tanya Santo yang berdiri di sisi kiriku.
“AH!” Aku berteriak karena Santo lagi-lagi muncul seperti hantu di dekatku. Kedua kaki terasa lemah, aku menarik kursi dan duduk, kedua tangan memijat lembut dengkulku yang masih terasa lemah. “Kenapa dengkulku bisa jadi lemah seperti ini sih.”
“Bagaimana jika saya buat kedua dengkul Anda lebih melemah? Apakah Anda mau nona muda?” Tanya Santo datar.
“Santo! Kenapa kamu terus mengganggu istriku.” Teriak Barra di depan pintu dapur.
“Barra.” Aku segera berdiri, kedua kaki yang tadi terasa lemah kini ku paksa lari mendekati Barra. Aku segera memeluk tangan kanan Barra, menyembunyikan tubuhku di belakang tubuh kekarnya. “Pria itu sangat mengerikan.” Bisikku pelan.
“Kamu tenang saja, Santo memang seperti itu.”
Ctaak!
Belum lagi rasa takut yang menyelimuti tubuhku hilang, kini aku harus di kejutkan oleh padamnya seluruh lampu di dalam rumah. Aku mengeratkan kedua tanganku di lengan kanan Barra.
“TAKUT.” Teriakku. Hal yang paling aku benci di dunia ini adalah kegelapan, karena di dalam gelap aku tidak bisa melihat apa pun sehingga membuat seluruh bulu kudukku merinding.
“Kenapa Anda harus takut nona muda.” Sahut Santo muncul di sisi kiriku dengan wajah diterangi cahaya lilin, membuat kesan horor saat menatapnya.
“Aaaa.” Teriakku kembali menyembunyikan wajah di balik tubuh kekar Barra.
“Santo.” Panggil Barra sedikit meninggikan suaranya.
“Maaf tuan.”
“HAHAHA…..HAHAHA. KEMBALIKAN.”
Terdengar suara setan tertawa dan berkata dari balik tubuh Barra.
Perlahan Barra melirik ke belakang, kedua matanya membesar setelah melihat diriku tak lagi menjadi diriku. Kedua bola mata putih, wajah pucat, jari-jemari kuku hitam dan panjang.
“SETAN.” Teriak Barra dan Santo bersamaan.
“Kemari kau SETAN.” Ucap Santo hendak meraih tangan kananku, namun tidak bisa karena aku sudah berjalan terlebih dahulu dengan kedua kaki dan tangan berputar arah kebelakang, tubuhku yang dirasukin setan menjadi lentur, aku merayap dengan cepat seperti laba-laba di dinding.
“Keluar kamu dari tubuh Vivana.” Teriak Barra, wajah mendongak ke langit-langit.
“Benar. Beraninya kamu bersembunyi di balik tubuh gadis itu. Dasar SETAN ja…lang.” Sambung Santo berkata kasar pada setan yang merasuki tubuhku.
“HAHA…..HAHAHA. BERANI SEKALI SEORANG MANUSIA LEMAH SEPERTI KALIAN MEMINTAKU UNTUK KELUAR DARI TUBUH INI.”
Bam!
Diriku yang dirasukin setan wanita terbang dan jatuh tepat di tubuh Barra, kedua tangan mencengkram erat jenjang leher Barra.
“KEMBALIKAN…KEMBALIKAN.” Ucapku yang dirasukin setan kepada Barra yang aku tindih, kedua tangan mencengkram erat jenjang leher Barra.
“Hiaak!” Santo berteriak sekuatnya, kedua tangan memegang Vas bunga dan melayang ke tengkukku.
Bam!
Brukk!!
Tubuhku terkulai lemas, dan jatuh di atas tubuh Barra.
“Vivana.”
“Nona muda.”
...Bersambung.......
makanya datang terus meneror
sereeeemmm