Riani, tak pernah berpikir kalau dia akan menjadi janda diusia 18 tahun. Seminggu setelah pernikahannya, ia ditinggalkan oleh sang suami yang kabur dengan wanita lain hanya karena ia anak kampung.
Riani pun bangkit dan melanjutkan hidupnya setelah ia melahirkan anaknya. Ia menutup hatinya untuk pria manapun sampai akhirnya ia ketemu dengan Jack Almond, pria asal Inggris yang melamarnya setelah dua minggu mereka bertemu.
Setelah mereka menikah dan pindah ke Inggris, rahasia kehidupan suaminya terungkap dan membuat Riani terkejut dan berpikir, apakah aku sudah salah menikah dengan orang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembelaaan Clark
Dewi terkejut saat melihat sepupunya itu ada di sana, menahan tangannya yang hendak menampar Riani.
"Clark, mau kamu apa sih? Jangan campuri urusan ku dengan perempuan pelakor ini." ujar Dewi masih dengan emosi yang memuncak.
"Pulang ke rumahmu, dan tanyakan pada suami tercintamu itu mengapa ia selalu mengejar Riani pada hal Riani sama sekali tak pernah peduli dengannya."
Dewi mengerutkan dahinya. "Memangnya kamu mengenal perempuan pelakor ini?"
"Kami bersahabat."
"Sejak kapan kau bersahabat dengan seorang perempuan kampung yang beruntung dinikahi oleh seorang bule?" Suara Dewi terdengar sedikit mengejek.
"Hati-hati dengan caramu berbicara, Dewi. Kau tidak tahu dengan siapa Riani menikah." Clark memperingati.
Dewi menatap dandanan Riani dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. "Mana mungkin dia menikah dengan bule tajir kalau dandanannya saja seperti ini? Makanya Daniel pergi meninggalkanmu dan tetap menikah denganku karena Daniel tahu kalau bersamamu ia akan sengsara."
Plak....!
Dewi terkejut. Ia merasakan satu tamparan yang sangat keras di pipinya. Riani dengan sangat cepat menampar pipi mulus perempuan itu.
"Bagiku tak masalah menikah dengan pria miskin namun mencintaiku dari pada menikah dengan lelaki kaya namun tak mencintaiku. Kenapa kau harus marah melihat ku? Itu karena kau tahu di hati Daniel hanya ada aku. Kalau aku mau, sangat muda bagiku merebut Daniel dari sisimu. Sayangnya Daniel hanyalah kisah masa lalu bagiku yang sudah lama aku lupakan. Sungguh kasihan nasib 7 tahun pernikahanmu, Dewi!" Riani segera membalikan badannya dan melangkah pergi.
"Aku akan membunuhmu!" teriak Dewi. Ia ingin mengejar Riani namun Clark dengan cepat memeluk sepupunya itu dan membawanya ke dalam mobil Dewi yang diparkir tak jauh dari sana.
"Lepaskan aku, Clark. Mengapa sih kamu membela perempuan itu?" Dewi nampak kesal. Ia mengusap tangannya yang sakit dan agak memerah karena Clark sangat kuat menahan tangannya.
"Aku tak membelanya, Dewi. Aku mengatakan kebenarannya. Daniel yang mengejar Riani. Sejak pertama Daniel melihat Riani di toko kue itu, ia tak berhenti mengejar mantannya itu. Apalagi saat ia tahu kebenaran cerita dibalik perpisahannya dengan Riani. Apakah kau tidak tahu, bagaimana marahnya Daniel sama orang tuanya karena sudah menceritakan kebohongan tentang Riani?"
Dewi bersandar pada pintu mobilnya. Air matanya mengalir dengan deras. "Daniel tak pernah mencintaiku, Clark. Kamu tahu, dalam sebulan, kadang ia hanya 3 atau 4 kali menyentuhku. Bagaimana aku bisa hamil? Aku sendiri sudah berulang kali konsultasi dengan dokter kandungan kata dokter tak ada masalah dengan kesuburan ku. Aku yakin Daniel juga tak bermasalah karena Riani dulu pernah hamil. Namun lihatlah diriku. 7 tahun berusaha sendiri. Aku takut kehilangan Daniel. Kamu tahu kan sejak kecil aku mencintainya."
Clark menepuk bahu sepupunya. "Lepaskan Daniel dan cari kebahagiaanmu sendiri. Kamu masih muda, cantik dan enerjik. Kamu punya masa depan yang cerah dengan bisnis keluargamu. Laku, kenapa harus tetap setia pada laki-laki yang hatinya bukan milikmu?"
Dewi memeluk Clark dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.
************
Sementara itu, Riani yang sudah ada di dalam taxi, memutuskan untuk menuju ke kota Manchester. Ia ingin jalan-jalan sendiri sambil menghilangkan rasa kesal di hati akibat pertengkarannya dengan Dewi.
Seumur hidup, Riani tak pernah menampar orang. Ini adalah kali pertama ia melakukannya. Harga dirinya sebagai perempuan bagaikan diinjak-injak karena perkataan Dewi yang sangat menyudutkannya. Seaioun dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang sederhana, Riani tak akan pernah membiarkan orang lain menghinanya.
Riani tiba di intu Trafford Centre. Ia tahu tempat ini dari internet. Jack memang belum pernah mengajak Riani ke sini karena Jack cenderung mengajak dirinya dan Cassie ke tempat yang tak banyak dikunjungi oleh orang. Jack lebih senang menikmati waktu berdua dengan suasana yang lebih privasi.
Pusat perbelanjaan ini adalah salah satu pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota ini. Riani tahu bahwa uang yang dimilikinya mungkin hanya bisa membeli barang yang kecil saja. Namun tujuannya ke sini bukan untuk belanja melainkan menghilangkan gundah di hatinya. Ia melirik jam tangannya yang menunjukan waktu pukul 2 siang. Masih ada 3 jam sebelum jam pulang kerja Jack.
Beberapa mobil mewah nampak berhenti di depan pintu masuk. Para kaum berduit turun dengan gaya dan penampilan mereka yang glamor. Demikian juga ada beberapa wisatawan yang turun dari bis yang membawa mereka. Entah mengapa, setiap kali melihat orang dengan wajah Asia, Riani selalu teringat dengan kampung halamannya.
Saat Riani sementara membetulkan letak rambutnya, dari balik kaca yang ada di depannya, Riani melihat ada seorang pria turun dari sebuah mobil mewah menggunakan sepasang jas mahal dengan sisiran rambut yang rapi menggunakan minyak rambut. Ia menggunakan kaca mata hitam.
Riani hampir saja tak mengenalinya sampai akhirnya sopir yang membukakan pintu untuknya memanggil pria itu.
"Tuan Jack, ponsel anda ketinggalan ."
Jantung Riani bagaikan berhenti berdetak melihat penampilan Jack yang sama persis dengan foto yang dilihatnya di internet.
Jack berjalan memasuki pintu utama yang memang terbuka secara otomatis. Ia memasukan tangannya di kantong celananya sambil menelepon seseorang.
Riani mengeluarkan ponselnya lalu menekan nomor suaminya, ia melihat Jack masih menelepon. Namun saat panggilan Riani tersambung, pria itu mengambil sesuatu dalam kantongnya. Ternyata sebuah ponsel yang lain. Ia mengahiri percakapannya dengan orang itu, lalu menerima panggilan Riani.
"Hallo sayang.....!" sapa Jack.
Riani menelan salivanya yang terasa pahit. Ini memang suaminya. Bukankah tadi pagi saat Jack berangkat kerja, ia hanya menggunakan celana jeans dan kemeja kotak-kotak?
"Hai..., apakah aku menganggu pekerjaanmu?"
'Sama sekali tidak sayang."
"Kamu ada di mana?"
"Aku sedang keluar sebentar. Ada hal yang harus aku kerjakan di luar perusahaan. Kamu di mana?"
"Eh, aku jalan-jalan ke toko Asia sambil belanja sedikit. Sumpek saja di rumah nggak tahu harus buat apa."
"Hati-hati jangan sampai si Daniel mengikuti mu."
"Nggak sayang. Aku masih sendirian sampai saat ini. Sebenarnya ingin mengajak kamu makan malam di luar namun kamu pasti sangat sibuk ya?"
"Tunggulah 2 jam lagi dan aku akan menjemputmu di sana."
"Eh, bagaimana jika kita ketemu di intu Trafford Centre? Aku ingin sekali mengunjungi tempat itu."
"Kamu kan tahu kalau aku nggak terlalu menyukai tempat yang ramai. Tunggulah di sekitar kompleks belanja itu. 2 jam lagi aku akan menjemputmu."
"Baiklah. Selamat bekerja ya."
"Ok sayang...!"
Riani merasakan hatinya sakit. Soal Jack berada di luar perusahaan itu benar. Namun soal dirinya yang adalah seorang CEO membuat Riani mulai merasakan minder. Apakah karena ia berasal dari desa dan perempuan sederhana sehingga Jack tak mau memperkenalkan dirinya dengan dunia Jack yang sebenarnya?
Riani tetap mengikuti langkah Jack dengan jarak yang aman. Sampai akhirnya ia melihat Jack memasuki sebuah restoran mewah. Ruangan restoran yang terbuat dari kaca membuat Riani bisa melihat ke dalam tanpa harus ikut masuk.
Langkah Riani terhenti saat dilihatnya seorang perempuan cantik menyambut Jack dan memeluknya erat. Jack bahkan mencium pipi kanan dan kirinya. Lalu keduanya duduk bersama di sebuah meja yang sepertinya sudah disiapkan karena sudah ada hidangan yang diatur.
Siapa perempuan itu? Mengapa mereka terlihat mesra. Jack bahkan menatap perempuan cantik itu mata yang berbinar bahagia.
Perlahan Riani membalikan badannya. Ia tak ingin melihat lagi karena hatinya pasti akan bertambah hancur. Riani mencoba menghubungi Jack lagi. Namun sayangnya panggilan Riani tak diangkat. Wanita itu pun memutuskan untuk meninggalkan pusat perbelanjaan itu dengan hati yang sedih.
"Butuh bahu untuk menangis?"
Riani menoleh dengan kaget. "Clark? Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu mengikuti aku ya?"
"Hei..., jangan menuduh orang dengan sembarangan. Aku baru saja tiba dan terkejut melihatmu ada di sini. Ada apa? Mengapa wajahmu terlihat sangat sedih?"
Riani menggeleng. "Sebaiknya aku pergi, Clark."
"Hei......!" Clark menahan tangan Riani. "Kau terlihat kacau. Ayo kita cari kedai kopi dekat sini dan bercerita."
"Kamu mau jujur tentang siapa Jack yang sebenarnya?" tanya Riani membuat Clark terkejut.
************
Clark mau jujur nggak ya?
Selamat pagi.
semangat di hari Selasa
jangan lupa dukung emak ya