Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Vania Mencium Hal Yang Aneh
"Iya, sama-sama, Mas," Anna tersenyum simpul ke arah Arya.
Mereka pun segera melanjutkan makan mereka kembali dengan lahap karena tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi.
Beberapa saat kemudian ....
Anna dan Arya sudah berada di depan pintu gerbang rumah kontrakan Anna.
Hari ini mobil Arya sengaja tidak ikut masuk ke dalam gerbang karena dia tidak akan mampir seperti hari-hari biasanya sebab ada satu misi lagi yang harus dia kerjakan di rumahnya nanti.
Khusus untuk hari ini mereka memang pulang lebih awal karena Arya harus memergoki istrinya yang sedang tidur bersama dengan laki-laki lain.
"Aku pulang dulu ya," pamit Arya.
"Hati-hati di jalan, Mas." dadah Anna.
Arya pun pulang ke rumah, akan tetapi jadwal kepulangannya memang disesuaikan dengan kepulangan anak keduanya yang bernama Vania.
Hal itu sengaja dilakukan agar saat ada ribut-ribut nanti, sang anak bisa menjadi saksi dan sekaligus menjadi pukulan telak bagi Nisa agar semua anak mereka benci terhadapnya.
"Lho kok Papa sudah pulang?" heran Vania yang sama-sama baru sampai di rumah mewah ini.
Mobil keduanya memang sempat beriringan saat akan masuk ke dalam gerbang pintu rumah ini.
"Papa lagi pusing banget, Nak. Makanya Papa pulang lebih awal," bohong Arya.
Vania langsung terlihat begitu khawatir dengan keadaan ayahnya itu yang memang terlihat seperti orang pusing beneran di hadapan gadis remaja itu.
"Vania papah ya, Pah," tawar gadis itu berniat baik ingin menolong ayahnya.
"Makasih ya, Sayang," cakap Arya.
Semua kejadian memang sudah diatur sedemikian rupa oleh lelaki itu agar semua yang terjadi hari ini terlihat sangat natural dan tidak kelihatan ada kejanggalan sedikit pun.
Dengan berpura-puranya Arya sakit yang berefek dipapah oleh Vania, maka anaknya nanti akan memergoki ibunya tidur dengan laki-laki lain secara alami.
Suasana rumah terlihat sepi karena para pekerja masih sibuk mengerjakan tugas yang tadi diberikan oleh Alin dengan embel-embel nama Nisa.
Yang terlihat saat ini hanyalah Alin dan Nurul yang langsung bersandiwara seperti orang yang gelagapan saat melihat kedatangan Arya dan Vania.
"Kok Bapak pulangnya cepet banget?" tanya Alin yang terlihat gugup.
"Non Vania juga kenapa pulangnya cepat?" tanya Nurul yang berpura-pura bodoh.
"Aku lagi pusing banget," jawab Arya sembari memegang kepalanya yang pasti tidak terasa sakit.
Sedangkan Vania terlihat kebingungan dan merasa curiga dengan tingkah kedua asisten rumah tangga itu.
"Kalian kenapa terlihat aneh sekali?" tanya Vania heran. "Oh iya, aku tidak pulang cepat. Jam jam segini memang sudah waktunya aku pulang kan seperti hari biasanya," jelas gadis remaja itu.
"Hehe, iyakah, kami nggak ngeh, Non," tawa kaku Nurul dan juga Alin.
"Kenapa pertanyaanku nggak dijawab?" tuntut Vania.
"Pertanyaan yang mana, Non?" sahut Alin pura-pura bego.
"Kalian kenapa terlihat aneh sekali?" ulang Vania. "Seolah sedang menyembunyikan sesuatu yang buruk," tebak gadis remaja itu.
"Ah, tidak ada yang kami sembunyikan kok," gugup keduanya yang memang masih dalam keadaan akting.
Vania tidak serta merta percaya dengan ucapan kedua ART-nya itu. Picingan matanya pun memancarkan aura penuh kecurigaan.
"Sebenarnya sedang ada apa sih?" batin Vania curiga. "Kayaknya ada yang lagi ditutup-tutupin nih sama kedua ART itu. Awas saja nanti kalau udah ketahuan."