NovelToon NovelToon
I'M Pregnant

I'M Pregnant

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Balas Dendam / Badboy / Tamat
Popularitas:153k
Nilai: 4.8
Nama Author: Lee Junhee

Bagaimana jadinya kalau kau yang menjadi pelampiasan dendam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lee Junhee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

USG

Lisa membuka matanya pagi itu dan sosok yang pertama dilihatnya---lagi-lagi adalah Rayhan. Pria itu menaruh kepalanya di sisi tempat tidur dan tangannya menggenggam tangan Lisa. Wanita itu tidak menepis tangan Rayhan sebab takut pria ini akan terbangun. Rayhan telah menjaganya semalaman, pasti membutuhkan istirahat.

Tanpa aba-aba, kejadian kemarin kembali berputar di otaknya. Rayhan  datang tepat waktu dan melarikannya ke rumah sakit. Pria itu tidak peduli dengan berat tubuhnya dan hujan lebat yang mengguyur. Rayhan benar-benar berubah menjadi pria yang lebih baik.

Lisa menggigit bibirnya. Apakah ia mulai luluh? Apakah rasa bencinya telah berubah menjadi cinta?

Menyadari pertahanannya yang mulai goyah, Lisa bergegas menepis tangan Rayhan. Tidak terlalu kencang, tetapi cukup membuat Rayhan tersentak. Pria berambut hitam itu menegakkan kepalanya sambil membuka mata perlahan.

Lisa mengalihkan pandangannya.

"Oh, kau sudah bangun?" gumam Rayhan. Lisa tidak menjawab.

"Lisa, aku akan mengambilkan sarapanmu. Tunggu sebentar!" ucap Rayhan lagi, lalu beranjak dari kamar. Lisa menatap punggung pria yang berjalan meninggalkan kamar itu. Ia menghela napas.

"Apa yang harus aku lakukan? Aku membiarkannya berbuat sesuka hati terhadap perasaanku," gumam Lisa.

Tidak lama kemudian, Rayhan kembali dengan satu nampan berisi penuh dengan makanan serta buah. Senyum lebar mengembang di wajahnya yang tampan. Ia meletakkan nampan tersebut di meja dorong yang tersedia di kamar itu. Selanjutnya, pria itu membantu Lisa duduk dari tidurnya dan menggeser tiang infus agar selangnya tidak meregang.

"Nah, selamat makan."

Lisa hanya diam dan menatapi mangkuk bubur dan sup di hadapannya. Sebenarnya perutnya lapar sekali, tetapi ia tidak ingin Rayhan puas karena telah berhasil membuatnya patuh.

Rayhan mengernyitkan kening melihat Lisa yang sepertinya tidak berselera. Pria itu tidak percaya kalau wanita hamil ini tidak merasa lapar.

"Hei, tunggu apa lagi? Oh, kau ingin aku suapi, ya?" goda Rayhan seraya duduk di tepi ranjang. Lisa langsung memberinya tatapan tajam, tetapi sayangnya tidak melunturkan semangat Rayhan untuk mendekatinya.

"Kau lapar dan aku tahu itu. Makanlah sekarang, atau kalau tidak aku akan menyuapimu."

Lisa mengerjap polos padanya. Terang saja membuat Rayhan gemas. Maka pria itu pun melingkarkan tangan kekarnya di perut buncit Lisa.

Lisa terperangah kaget.

"Kau--"

"Atau aku akan menciummu. Kau pilih makan atau kucium? Kalau aku menjadi dirimu, aku akan memilih pilihan kedua."

Lisa melepaskan tangan Rayhan dari perutnya. "Lebih baik aku makan makanan tak enak daripada harus menciummu. Tolong jauh-jauh dariku, aku ingin makan dengan tenang!"

Rayhan menyeringai. "Aku senang mendengarnya, hahaha!"

Lisa mendengkus, "Tch, dasar tidak punya malu."

"Tetapi kau menyukainya, hehe," sambung Rayhan, lalu duduk di sofa.

Selama lima belas menit kamar itu hening dari suara manusia. Terdengar hanya suara dentingan sendok dan piring dari meja Lisa. Rayhan tidak berhenti menatapi wanita itu meskipun perutnya sendiri juga lapar. Baginya, melihat keadaan Lisa membaik adalah suatu kebahagiaan. Ia tidak peduli dengan penderitaannya sendiri.

Tepat setelah Lisa menyelesaikan sarapannya, seorang suster masuk dan mendorong kursi roda. Suster itu tersenyum ramah pada Rayhan dan Lisa.

Rayhan berdiri lalu menghampiri Lisa.

"Selamat pagi Tuan dan Nyonya Andira. Sudah saatnya Nyonya Lisa Andira melakukan USG."

Mendengar kejanggalan pada namanya, Lisa pun terkejut. Ia menoleh kepada Rayhan sekilas, lalu kembali menghadap suster.

"Suster saya rasa ada kesalahan pada nama depan saya," kritik Lisa, sementara Rayhan  menahan senyum di sampingnya.

Suster itu kembali menunduk dan memandangi catatan di tangannya, kemudian tersenyum kepada Lisa. "Maaf Nyonya Andira. Namun, nama Anda sesuai dengan data yang diberikan oleh suami Anda."

Lisa terperangah melihat arah pandang suster tersebut. Tepatnya ke arah Rayhan. Namun, belum sempat mengatakan apa-apa lagi, suster itu membungkuk sopan, kemudian berjalan meninggalkan ruangan. Alhasil Lisa hanya melotot pada Rayhan yang kini tengah menarik kursi roda di samping ranjangnya.

Sadar dipandangi secara tajam oleh Lisa, akhirnya Rayhan mendesah. Ia menumpukan kedua tangannya di tepi ranjang dan mencondongkan tubuhnya ke arah wanita itu.

"Aku tahu kau pasti kesal karena aku mengatakan kepada mereka kalau kita adalah suami istri. Tapi, kau mau orang-orang di rumah sakit ini menganggap kau hamil tanpa seorang suami?"

Lisa mendengkus kasar.

"Aku tidak peduli apa pendapat orang lain. Lagi pula memang kenyataannya aku hamil tanpa suami,” tandasnya ketus.

Rayhan tertegun. Sekali lagi Lisa telah membuatnya merasa semakin bersalah. Ia menatap Lisa dengan tatapan sendu, sementara wanita itu menghindarinya.

Pria itu tersenyum pahit.

"Maafkan aku," ucapnya. Lisa tidak menjawab.

"Kalau begitu, ayo! Dokter sudah menunggumu."

Dengan perlahan dan hati-hati Rayhan mengangkat tubuh Lisa dan mendudukkannya ke kursi roda. Lisa berpegangan erat pada pundak Rayhan sehingga wajahnya dekat sekali dengan wajah pria itu. Wanita itu bisa mencium aroma maskulin Rayhan. Jantungnya berdegup kencang seketika, dan jika pria itu bisa melihatnya, ada rona merah pada pipinya.

Setelah memosisikan tubuh Lisa nyaman di kursi roda, Rayhan pun mendorongnya keluar dari kamar rawat. Ternyata suster tadi sudah menunggu mereka di koridor, bermaksud untuk menunjukkan ruangannya.

Lisa mengelus perutnya lembut, seolah-olah ia bisa menyentuh kepala anaknya dari sana. Ia berharap setelah kejadian kemarin kondisi kandungannya baik-baik saja.

Sampai di depan ruang Dokter Ardi, Rayhan mendorong kursi roda Lisa masuk ke sana. Perlakuannya benar-benar seperti seorang suami sungguhan. Tentu saja hal tersebut menarik perhatian sang dokter.

Dokter Ardi memandangi Rayhan dan Lisa dengan senyuman menenangkan di wajahnya. Tepat ketika Rayhan menggendong Lisa untuk naik ke ranjang, Dokter Ardi yakin kalau Rayhan adalah suami yang bertanggung jawab serta sangat mencintai istrinya.

"Apa Nyonya Andira sudah siap? Bagaimana perasaan Anda saat ini? Apa ada keluhan?"

"Ya, saya sudah siap. Saya juga baik-baik saja, Dok."

Rayhan berdiri jauh dari ranjang, tetapi tetap mengawasi Dokter Ardi dan Lisa. Rayhan memalingkan pandangannya ketika Dokter Ardi menyingkap baju Lisa sehingga perut wanita itu terekspos. Lisa juga tidak sanggup memandangi Rayhan, pandangannya terpaku pada Dokter Ardi, lalu Lisa menggigit bibir saat dokter itu membaluri perutnya dengan gel.

"Kalian benar-benar pasangan yang serasi. Kalau boleh tahu, sudah berapa lama kalian menikah?" Dokter Ardi bertanya untuk mencairkan suasana.

Lisa melirik Rayhan.

"Kami telah menikah satu tahun, Dok!" jawab Rayhan antusias. Lisa diam-diam mencibir padanya.

"Pantas saja kalian tampak sangat romantis. Jadi ini adalah kehamilan pertama, begitu, ya? Nah, mari kita lihat."

Sambil menggerak-gerakkan transduser keatas dan kebawah di perut Lisa, Dokter Ardi  mengawasi layar monitor di dekatnya.

Melihat bayangan rahim Lisa yang mulai terdeteksi, Rayhan pun berjalan mendekat. Pria itu  duduk di tepi ranjang dan matanya tidak mengedip sekalipun.

Bayangan hitam putih itu mulai tampak jelas. Rayhan dan Lisa sama-sama terpaku menyaksikan gerak-gerik samar si jabang bayi. Ukurannya diperbesar dilatar monitor, tangan dan kakinya meringkuk. Hati Lisa bergetar, ada makhluk hidup yang sangat menawan di dalam rahimnya.

Sebentar lagi makhluk kecil itu akan segera menghirup udara segar, bertemu dengannya serta Rayhan, sang ayah.

Diam-diam Lisa melirik Rayhan dan ia pun terkejut. Pria itu menangis. Bukan menangis terisak tentunya, tetapi ia dapat melihat cairan bening itu mengalir dari mata pria itu.

Kenapa Rayhan menangis? Kira-kira apa yang dirasakannya ketika melihat si calon bayi?

Rayhan tidak menyadari kalau saat ini dirinya menangis. Ada hawa menyejukkan didadanya ketika melihat jabang bayi di rahim Lisa sesekali bergerak. Ia menangis bahagia, sangat bahagia. Itu adalah anaknya, benihnya! Perlahan tangan kanan pria itu terulur, gemetar dan berkeringat. Membelai serta menyayanginya.

Jantungnya berdegup tidak karuan ketika ujung-ujung jarinya mengusap layar monitor. Ia merasa begitu dekat dengan anaknya. Pria itu benar-benar bersyukur kepada Tuhan sebab ia bisa merasakan kasih sayang yang melandanya. Kasih sayang itu datang dari hatinya sendiri atau mungkin dari tampilan rahim Lisa di hadapannya.

Rayhan akan mengenang ini seumur hidupnya. Ia berterima kasih kepada Lisa yang telah memberinya kesempatan untuk berada sedekat ini dengan calon bayinya. Rayhan  berjanji akan terus berada di sisi mereka, Lisa serta calon anak mereka.

"Hai, anakku. Sebentar lagi kau akan bertemu dengan ayah dan ibu. Kami sangat menantikan kehadiranmu, Nak."

Lisa tidak ingin berbohong pada diri sendiri, tetapi hatinya benar-benar tersentuh mendengar Rayhan  berujar seperti itu.

Air matanya ikut mengalir. Perlahan senyum tulusnya mengembang.

***

Rayhan tidak berhenti dan tidak bosan-bosannya memandangi hasil USG berukuran foto potret yang tadi dimintanya dari Dokter Ardi. Terkadang ia mencium foto itu, lalu tersenyum lebar seperti orang gila.

Lisa kini tengah tertidur lelap di ranjangnya, menyamping ke arah sofa yang diduduki Rayhan. Syukurlah, Dokter Ardi mengatakan kalau kandungannya baik-baik saja. Wanita itu hanya memerlukan istirahat yang cukup serta menjaga pola makanannya.

"Lihatlah ibumu, seharian ini hanya bermalas-malasan. Dia menolak ayah ajak jalan-jalan ke taman. Ibumu lebih senang tidur di kamar yang dipenuhi bau obat ini,” celoteh Rayhan  pada foto yang dipegangnya.

Kemudian, Rayhan menyimpan foto tersebut di saku kemejanya dan menghampiri Lisa. Pria itu menarik kursi sehingga kini ia bisa duduk sambil memandangi wajah Lisa dari dekat. Matanya terfokus pada perut Lisa. Pria itu menopang dagu dengan kedua tangannya, lalu tersenyum pada perut Lisa, seolah-olah perut itu bisa membalas senyumannya.

"Hello, Baby. Apa kau juga tidur seperti ibu? Apakah sangat sempit di dalam sana? Baby, maafkan ayah, selama ini ayah menelantarkanmu dan ibu. Ayah adalah ayah terburuk di dunia. Setelah kau lahir, kau boleh menendang ayah atau memukul ayah dengan tongkat baseball, ayah pantas mendapatkannya. Tapi satu hal, Nak. Jangan membenci ayah. Karena ayah sangat mencintaimu. Ayah Juga sangat mencintai ibumu. Tidak ada yang lain selain kalian," ungkap Rayhan lembut.

Ia menghela napas berat, kemudian kembali melanjutkan. "Ayah harap setelah kau lahir, ibumu bersedia kembali Ke Jakarta bersama ayah. Kita akan hidup bahagia di sana. Ayah berjanji kalian tidak akan kekurangan apa pun. Ayah berjanji akan terus ada untuk kalian, karena ayah tidak bisa hidup tanpa kalian."

Rayhan mengelus perut Lisa. Ia mengucapkan janji tersebut dari relung hatinya yang paling dalam, lalu pria itu menempelkan jari tengah dan telunjuk di bibirnya kemudian ditempelkannya ke perut Lisa.

"Selamat malam, Nak."

Rayhan pun berdiri, ia beranjak ke samping kepala Lisa. Melihat wajah tidur Lisa membuat Rayhan tersenyum senang. Selanjutnya ia melakukan apa yang tadi dilakukannya pada perut Lisa. Namun kali ini, pria itu menempelkan kedua jarinya di bibir wanita yang sangat dicintainya.

"Sweet dream. I Love You."

Pria itu kembali ke sofa dan berbaring di sana. Pria itu melihat Lisa sebentar, kemudian menutup matanya sendiri. Tubuhnya juga memerlukan istirahat yang cukup. Tubuhnya lelah, tetapi semuanya terobati dengan adanya Lisa serta hasil USG yang masih tersimpan di sakunya.

Di ranjangnya, Lisa perlahan membuka matanya lalu tersenyum kecil.

BERSAMBUNG ....

1
yuiwnye
semangat Han 💪🏼💪🏼🤪🤪
yuiwnye
tidur di pos keamanan
Khanza Safira
halo thor aku mampir, awal yang menarik untuk cerita nya
Shuhairi Nafsir
Liza bodoh mau ditungguin lagi apa. Pergi aje Dari rumah itu Dari diri mu disakiti. Biarkan Rayyan kapok dan menyesal diatas perbuatan nya
Agustina Kusuma Dewi
ending nya cukup bagus. begitulah realita bila tidak sesuai prediksi, jiwa akan terguncang tidak menerima kenyataan adanya.

tetaplah sesuai jalur Allah, pastinya kebahagian akan selalu menghampiri kita, sekalipun badai tozan menhpaskan n mengombang ambingkan jiwa.. tp pastinya Allah, memberikan reqard atas ujian yg telah kt jalani, baik d dunia n d akhirat, ada balasanya.

ttp semangat k.. storymu spt realita kt dunia, ini penuh dg fatamorgana bila kita tidaj kuat iman.

ttp bersyukur dg apa yg kt puny, jaga diri..
cha yo.. 😘😍😘😍😘😍😍😘😍😘😍
Agustina Kusuma Dewi
sahabatan yg baek baek
Agustina Kusuma Dewi
apa an k othor aminion..
wis ga paham, terlalu saintis, yg ku tau air ketuban.. krn q ngalami pas anak ke 2.wkkwkwkw🤣😂😆😅😄😃😁😁
Agustina Kusuma Dewi
aamiin
Agustina Kusuma Dewi
ademmmmm.. eh salah.. hangatnya hati ini.. 🙂🙂🙂🙂🙂
Agustina Kusuma Dewi
kau adalah bpk anak q.. ray..
Agustina Kusuma Dewi
awas lo.. ray.. bila hbs nih bucin akut.. lisa.. tinggalen jal.. ben kayak cacing kepanasan mosternya..
Agustina Kusuma Dewi
yang ada rasa cembokur akutt.. silahkan melampiaskan.. emang enak sok.. 😏😏😏😏
Agustina Kusuma Dewi
bala bantuan... maju.. ✋✋✋
Detrieni Gemar Putri
kahhhh.... ku kira Reyhan on lagi.... rupanya tidak 😂😂😂😂😂😂
reecka
payah iih,, Lisa lemah bgt!!
reecka
kasian lisaa
reecka
aq menangis dipart ini . kasian Lisa.. mudah2an si Rayhan dapet azab
Ronawati Bend
ahirnya happy anding terimakasih thor.... karyamu selalu ok.
Destiny
ceritanya mirip banget drama Thailand sawan biang
🔵♨ˢᶜ༄⃞⃟⚡ˢ⍣⃟ₛ as⏤͟͟͞R¢ᖱ'D⃤zc❖
ayo bos cari lisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!