Spin Off dari "GHEA: Cinta Lama Belum Usai"
Tak pernah terbayangkan di benak Felichia, kalau dirinya akan mengandung anak dari Dean Alexander, sahabat Erlan Prakasa yang merupakan suami sah Felichia.
Semua hal rumit ini terpaksa Felichia lakukan atas perintah dari mertuanya dan demi menebus kesalahannya pada keluarga Prakasa.
Apa sebenarnya kesalahan Felichia pada keluarga Prakasa, hingga ia harus melakukan hal mengerikan ini?
Lalu bagaimana tanggapan Erlan saat tahu anak yang dikandung Felichia adalah benih dari Dean dan bukan merupakan benihnya?
Dan apa sebenarnya alasan Dean Alexander meminta Felichia mengandung calon anaknya, sementara dirinya juga sudah menikah dengan Melanie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKIT?
Felichia bangun dari tidurnya saat ari sudah berganti dan matahari sidah mulai mengintip di ufuk timur. Wanita itu langsung terkejut saat mendapati kancing piyamanya yang terbuka dari ujung atas hingga ujung bawah.
Apa?
Bagaimana bisa?
Bahkan bra Felichia juga sudah tersingkap hingga membuat kedua gundukan kembarnya menyembul keluar.
Felichia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar untuk memastikan siapa yang sedang berada di dalam kamarnya. Wanita itu juga memeriksa kamar madi, namun kosong. Hanya Felichia yang saat ini berada di kamarnya.
Lalu siapa yang membuka piyama dan bra Felichia semalam?
Pandangan mata Felichia langsung tertumbuk ke arah pintu kamar yag semalam sepertinya lupa Felichia kunci.
Bodoh!
Felichia memejamkan mata sejenak, lalu merapatkan piyamanya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Masih sambil memakai piyama, Felichia menyalakan shower dan mengguyur tubuh murahannya dengan air dingin.
Dasar Dean brengsek!
****
"Fe!"
Melanie mengetuk pintu kamar Felichia berulang kali namun tetap tak ada jawaban.
"Felichia!" Panggil Melanie sekali lagi masih sambil mengetuk pintu yang dikunci dari dalam tersebut.
"Mungkin dia memang masih tidur, Mel! Berhentilah nenggedor pintu itu, karena kepalaku pusing mendengarnya!" Omel Dean pada Melanie yang tak berhenti mengetuk pintu kamar Felichia.
"Tapi biasanya Felichia sudah bangun dan sarapan jam segini, Dean! Bagaimana kalau Felichia kenapa kenapa di dalam?" Wajah Melanie terlihat khawatir.
"Fe!"
"Felichia!" Melanie menggedor lebih keras dan memaggil sambil setengah berteriak.
Ck!
Dean berdecak dan ahirnya menghampiri pintu kamar Felichia yang tak pernah dikunci setiap malam. Lalu kenapa saat pagi malah dikunci rapat?
Dean baru saja akan mendobrak pintu sialan itu, saat tiba-tiba pintu sudah di buka dari dalam dan Felichia mengintip dari belakang pintu, hanya mengenakan bathrobe serta handuk putih yang melilit kepalanya.
Brengsek!
Apa wanita ini memang berniat membuat Dean sakit kepala?
"Aku tadi baru mandi, Mel! Maaf membuatmu khawatir," ucap Felichia dengan nada lirih dan raut wajah datar.
Dean sendiri sudah meninggalkan Felichia dan Melanie untuk berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah.
Lagi?
"Kenapa wajahmu pucat, Fe? Kau sakit?" Tanya Melanie khawatir karena melihat wajah pucat dan lesu Felichia.
Kedua mata Felichia juga terlihat bengkak dan sembab seperti habis menangis.
"Aku tidak sakit, Mel! Aku hanya sedikit flu," jawab Felichia bersungguh-sungguh.
"Aku panggilkan paman dokter agar memeriksamu."
"Pasti karena kau jajan sembarangan kemarin itu. Aku sudah bilang agar kau tidak jajan sembarangan," Melanie tak berhenti mengomel dan wanita itu menjalankan kursi rodanya menjauh dari kamar Felichia.
Melanie meraih telepon rumah dan langsung menghubungi Paman Dokter.
"Telepon siapa?" Tanya Dean yang akhirnya selesai muntah-muntah.
"Paman Dokter," jawab Melanie yang sudah mengembalikan gagang telepon ke tempatnya,
"Felichia sakit karena terlalu banyak makan jajanan pinggir jalan kemarin. Susah sekali dinasihati," cerocos Melanie sedikit kesal.
Dean diam sejenak dan mendadak ingat pada tingkah mesumnya semalam yang sempat mencecap gundukan kenyal Felichia dan menjilati ujungnya yang kemerahan.
Oh, ya ampun!
Hanya membayangkan saja Dean sudah langsung bergairah.
Tapi Dean juga lupa menutup dan merapikan kembali piyama Felichia semalam karena Dean merasa kesal setelah Felichia menggumamkan nama Erlan.
Dasar brengsek!
Apa jangan-jangan Felichia sakit karena semalaman wanita itu tidur dengan baju yang terbuka?
Apa itu artinya, Dean yang sudah membuat Felichia menjadi sakit?
"Dean! Kau ke kantor hari ini?" Tanya Melanie selanjutnya menyentak lamunan Dean.
"Tidak! Aku akan mengerjakan berkas yang dibawakan Aaron tadi malam di rumah saja. Aku harus menghadiri acara juga sore ini," jawab Dean yang langsung membuat Melanie mengernyit.
"Acara apa? Acara perusahaan?" Tanya Melanie menerka-nerka.
"Ya. Acara perusahaan Orlando. Kau mau ikut?" Tanya Dean yang langsung membuat raut wajah Melanie berubah cemberut.
"Datanglah sendiri! Aku akan tidur di rumah!" Jawab Melanie seraya bersedekap.
Dean langsung tersenyum melihat perubahan sikap Melanie.
"Bukannya dulu kau merasa senang saat aku mengajakmu berkunjung ke kediaman Orlando karena banyak bunga anggrek kesukaanmu disana, lalu si Tuan Muda Orlando yang katamu baik hati itu akan membawakanmu sebuket bunga mawar warna-warni saat kau pulang-"
"Dean, jangan mulai!" Sergah Melanie memotong sindiran demi sindiran yang dilayangkan oleh Dean. Wajah wanita itu semakin merengut.
"Kau sendiri yang sudah berjanji untuk tak lagi membahas hal ini!"
"Berapa kali aku harus mengatakan kalau aku tidak ada perasaan apa-apa pada Matthew! Kau itu yang hampir menukarku dengan sebuah proyek besar!" Sekarang Melanie malah balik menyalahkan Dean.
"Aku sama sekali tidak berpikir ke arah sana! Aku langsung menolaknya saat Matthew menawarkannya kepadaku! Kau masih saja percaya dengan cerita bohong cassanova brengsek itu!" Sergah Dean ikut-ikutan emosi.
"Baiklah, sudah cukup!" Melanie mengangkat tangannya dan memberi isyarat pada Dean untuk berhenti berdebat.
"Kenapa kau jadi kekanakan dan membesarkan setiap masalah akhir-akhir ini? Aku benar-benar tak paham dengan sikapmu!" Sambung Melanie lagi seraya berdecak berulang kali. Dean baru saja akan menyahut namun kehadiran Paman Dokter membuat Dean mengurungkan niatnya.
Setelah sedikit berbasa-basi pada Paman Dokter, Melanie segera mengantar pamannya tersebut kamar Felichia, agar kondisi Felichia bisa secepatnya diperiksa
Dean masih sempat menguping sejenak, penjelasan Paman dokter tentang sakitnya Felichia. Dean pergi sebentar ke dapur untuk menemui koki, sebelum pria itu menghilang ke lantai dua dan menuju ke ruang kerjanya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.