Demi mama, aku rela membohongi dunia dan menyembunyikan identitas asliku. Bahkan, aku juga mengorbankan rasa cinta yang aku punya pada seorang laki-laki. Semua aku lakukan demi mama yang selama ini telah berjuang demi aku. Aku yakin, doa dan restu mama, adalah hal terpenting dalam hidupku.
Apakah aku sangup, tetap menahan rasa ini. Mungkinkah, aku mampu mengubah pandagan lelaki itu padaku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Mulya Pov
Gadis itu jauh berbeda dari yang aku bayangkan sebenarnya. Ketika ia mengunakan pakai laki-laki, ia tidak akan terlihat seperti wanita lagi. Tapi bau harum yang melekat di tubuhnya, masih tetap sama. Bau harum gadis cantik yang mampu membuat aku tidak bisa tidur semalaman karna telah memikirkannya.
Aku sangat ingin tahu, apa yang ia rasakan ketika ia sedang berada di sekitar aku. Apakah ia juga mempunyai perasaan yang sama dengan yang aku rasakan atau tidak? Yang jelas, aku akan perjuangkan rasa ini, karna aku sangat tertarik, juga mungkin sudah jatuh cinta pada Alina ini.
Saat makan siang, aku keluar untuk makan. Seperti biasa, aku akan di sambut oleh Mika, pacar yang selalu bersikap manis di depanku.
"Sayang, apa kita akan makan bersama hari ini?" ucap Mika dengan manja menyambut aku yang baru saja keluar dari ruang kerjaku.
Aku tidak tertarik untuk menjawab apa yang Mika tanyakan. Aku lebih tertarik untuk melihat gadis yang berkulit laki-laki, yang sedang sibuk bekerja di pojokan sana.
Ia tidak melihat aku sedikitpun, ia hanya sibuk dengan pekerjaannya. Aku ingin sekali ia melihat aku yang sedang berdiri di sini, bersama Mika. Aku ingin melihat, bagaimana tatapan Alina, ketika aku dekat dengan Mika.
"Sayang, apa yang kamu lihat sih? Apa ada masalah dengan kak Nino, Mulya?" kata Mika lagi, saat ia memergoki mataku sedang melihat gadis berkulit laki-laki itu.
"Tidak, tidak ada urusannya dengan kamu."
Nasa bicara ketus yang aku ucapkan, mampu membuat Mika yang yang sedang bermanja denganku saat ini, mengubah raut wajahnya.
Sebenarnya, aku tidak punya perasaan apa-apa dengan Mika. Aku memilikinya sebagai pacar, hanya ingin membuat Ryan sakit hati dan terluka.
Apapun yang Ryan miliki, akan aku ambil dan aku rebut. Itu aku lakukan, karna Ryan adalah kepobakan dari orang yang telah membuat kakak ku tidak bahagia.
Itu memang terkesan sangat kekanak-kanakan. Tapi itulah yang aku lakukan. Selama hatiku bahagia dan puas, maka aku akan melakukan apa yang aku suka.
Tapi sayangnya, itu tidak berlaku dengan Alina. Meskipun aku tahu, kalau Alina adalah anak dari orang yang membuat kakak ku sakit hati, tapi aku tidak bisa marah pada Alina. Aku tidak bisa membenci Alina. Aku malah merasakan rasa nyaman dan rasa tidak ingin jauh dari gadis itu.
Aku berjalan meninggalkan Mika yang terlihat penuh tanda tanya dengan apa yang aku lakukan.
"Mulya tunggu! Kenapa kamu malah menjauhi aku sih?"
"Aku sedang banyak urusan Mika. Jangan ganggu aku untuk sementara waktu ini," ucapku sambil terus berjalan meninggalkan Mika.
Alina/Nino pov
Perlakuan Mulya sangat jauh berbeda dari yang biasanya pada Mika. Dia yang awalnya sangat hangat dan selalu menunjukkan kemesraan pada Mika, kini berubah seratus delapan puluh derajat dari yang biasanya.
Aku sangat jelas melihat perbedaan yang Mulya tunjukkan pada Mika. Mulya terlihat sangat dingin dan cuek pada gadis itu.
Hatiku kini berkata, apakah semua laki-laki itu sama ketika ada pengganti yang baru telah datang? Eh tapi tunggu, apakah benar sudah ada yang baru, sampai Mulya berubah sejauh itu pada Mika.
Ah, bodo banget aku ini, kenapa aku malah memikirkan kehidupan orang lain. Sedangkan kehidupan aku saja, tidak terurus saat ini.
Aku kembali menyibukkan diriku dengan pekerjaan yang lumayan banyak saat ini. Jadi, tidak ada alasan untuk aku memikirkan sesuatu yang tidak penting, seperti mengurus kehidupan orang lain.
"Nino, bagaimana pekerjaan kamu di kantor?" tanya mama saat aku baru saja meletakkan bokongku keatas sofa.
"Baik-baik aja ma," ucapku datar tanpa melihat mama.
"Mama ingin bicara serius sama kamu. Dengar mama baik-baik ya," kata mama sambil duduk di samping aku.
"Mau bicara apa ma, bicarakan saja."
"Nino, kamu harus semakin dekat dengan papa kamu. Dan kamu harus bisa mengambil hati papa kamu."
Aku hanya diam saja, saat mendengarkan apa yang mama katakan.
"Nino, mama punya satu cara agar papa kamu memberikan warisannya pada kamu nak."
"Apa caranya?" tanyaku dengan nada datar dan malas.
"Kamu harus bertunangan dengan putri bupati yang sedang menjabat sekarang," ucap mama tanpa berpikir apa-apa lagi.
"Apa!"
hehhehe
saking ngebut ya maaf sampe ga sempet komen hehehe