Kiran adalah seorang gadis berusia 34 tahun yang sudah menyandang gelar perawan tua dihadapkan pada 2 pilihan, menikah dengan Aslan yang sudah memiliki istri atau tetap menjadi simpanan mantan kekasihnya yang sudah lebih dulu menikah.
Antara cinta dan hidupnya sendiri, mana yang akan Kiran perjuangkan?
✍🏻 revisi typo dan pemberian judul bab 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Jam 4 sore.
Hari ini Tim Kiran mengadakan rapat mingguan untuk mengevaluasi hasil kerja mereka. Biasanya jam seperti ini mereka sudah pulang, tapi untuk hari ini meraka pulang terlambat. Pasalnya, minggu ini mereka hanya menjual sedikit mobil, target mingguan mereka tidak tercapai.
Ceklek! pintu ruang rapat di buka, dan melongoklah kepala Agung.
"Ran, mau aku tunggu atau tidak?" tawarnya pada sang sahabat. Biasanya sih Agung tidak pernah menunggu, tapi kini lain, Kiran sudah hamil dan baginya Kiran harus dijaga baik-baik.
"Tidak usah, pulanglah dulu," jawab Kiran dengan membuat gerakan tangan yang mengusir.
Para bawahan Kiran saling mencubit lengan, mengisyaratkan bahwa gosipan mereka adalah benar, Agung dan Kiran bukanlah sahabat biasa, mereka memiliki hubungan spesial.
"Pantesan aja mau jadi istri kedua, ditempat kerjanya dia punya pria lain, hii serem," bisik Lora pada lara.
Agung hanya mengangguk, lalu kembali menutup itu.
Dan rapat kembali dilanjutkan.
Jam 5 sore barulah tim Kiran bergegas untuk pulang.
Para anak buah Kiran pulang lebih dulu, sedangkan Kiran masih membereskan beberapa laporan.
Hingga 10 menit kemudian barulah semuanya selesai. Masih duduk dikursinya, Kiran melihat ponsel, ada satu pesan masuk dari nomor baru. Namun nomor itu begitu familiar, seolah dulu ia pernah menghapalnya.
"Mas Alfath." gumam Kiran pelan, lalu dibukalah pesan itu segera.
08228975****
Ran, aku dan Dinda ingin menemuimu, bisakah kita bertemu?
"Benar, ini nomor mas Alfath. Tapi untuk apa mereka ingin menemuiku," gumam Kiran lagi sambil terus memandang ponselnya yang masih menyala.
Merasa hatinya sudah biasa saja, akhirnya Kiran membalas pesan itu.
Kiran:
Ada perlu apa?
Balas Kiran singkat. Tak berapa lama, pesan itu langsung di balas.
08228975****:
Sebelum Dinda melahirkan, dia ingin hubungan kita bertiga membaik. Apakah kamu sibuk? sebenarnya aku dan Dinda saat ini berada tak jauh dari kantormu. Jika kamu bersedia, kami akan menjemputmu.
Kiran berpikir sejenak, rasanya akan aneh memang jika ia hanya bertemu berdua saja dengan Alfath. Tapi jika ada Dinda pasti semuanya baik-baik saja, pikirnya.
Akhirnya Kiran pun menyetujui ide Alfath itu, lagipula kisah mereka sudah benar-benar berakhir. Akan lebih baik jika semuanya berakhir dengan damai.
Tanpa ada selisih paham lagi diantara mereka bertiga.
Benar saja, tak berselang lama mobil Alfath sampai didepan kantor Kiran. Alfath turun dan berlari menghampiri wanita yang dicintainya ini.
"Ikutlah mobil kami, Dinda ada disana." terang Alfath saat sampai dihadapan Kiran.
Kiran menggeleng pelan, "Tidak Mas, aku akan membawa mobil sendiri. Sebaiknya juga kita tidak usah pergi jauh-jauh, cafe di pertigaan saja," ucap Kiran apa adanya.
Melihat Kiran yang biasa saja setelah sekian lama tak bertemu benar-benar membuat Alfath kecewa. Rasanya dunia ini sudah terbalik, dan Kiran jauh meninggalkan dirinya yang masih setia berada dimasa lalu.
"Jangan begitu, Dinda sedang hamil dan dia benar-benar ingin menemui kamu," jelas Alfath dengan wajah memelas.
Kiran terdiam, dia juga sedang hamil, dan tau rasanya jika keinginan itu tidak terpenuhi, rasanya pasti kecewa dan begitu sedih.
"Baiklah," jawab Kiran singkat dan Alfath tersenyum puas.
Kiran berjalan mengekor Alfath, hingga sampai di dekat mobil itu Alfath tiba-tiba mencekal tangan Kiran dan memasukkannya dengan paksa di kursi depan dan mengunci pintu itu menggunakan remote.
Kiran terkejut, ia sempat berontak namun tak membuahkan hasil.
Hingga Alfath masuk ke kursi kemudi dan mulai memelajukan mobil itu.
"Apa yang kamu lakukan Mas? dimana Dinda?!" tanya Kiran dengan nada membentak, ia begitu kesal atas sikap Alfath, terlebih di mobil itu tidak ada siapapun kecuali mereka berdua.
Dinda yang katanya sedang menunggu di mobil pun nyatanya tidak ada.
Alfath membohongi dirinya.
"Dimana Dinda?!" tanya Kiran lagi karena alfath hanya terdiam, mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"Berhenti membicarakan wanita itu, aku sudah menjatuhkan talak untuknya," jawab Alfath dengan suara yang dingin.
Kiran terperangah, mendadak hatinya diselimuti kecemasan. Ia begitu takut Alfath akan berbuat nekad, membawanya pergi jauh.
Sementara kini hatinya sudah dimiliki pria lain.
"Turunkan aku!" teriak Kiran.
Alfath tak menjawab, ia sekuat tenaga menahan amarah yang sudah sampai diubun-ubun. Alfath tak terima, kini Kiran menghianati dirinya dan mencintai pria lain.
"Selama ini aku ditipu Dinda Ran, dia mengaku hamil anakku, padahal bukan," Alfath mencoba menjelaskan sumber masalah dari semua ini.
Bukannya senang, Kiran malah menyeringai.
"Itu bukan urusanku, lagipula tidak mungkin Mas tertipu jika tidak pernah melakukan hubungan itu. Dengan Dinda menipumu, berarti kamu juga sudah menikmati tubuhnya." jawab Kiran sarkas, ia juga marah, ia juga benci, apalagi kini Alfath hendak menghancurkan hidupnya lagi.
Datang mengganggu disaat ia sudah bahagia.
"Jaga bicaramu, lagipula sekarang kamu sudah menikah, apa bedanya aku dan kamu? jadi lupakan pria sialan itu dan ikut pergi bersamaku," balas Alfath dengan nada sengit.
Mobil berhenti di lampu merah, namun perdebatan mereka belum juga usai.
"Aku tidak mau, hubungan kita sudah lama berakhir Mas dan aku pun sudah mencintai suamiku, jadi tolong, jangan ganggu aku lagi." Desis Kiran, ia mencoba menjelaskan dengan tangan yang terus berusaha untuk membuka pintu yang terkunci itu.
Bukannya mengerti, Alfath malah merasa amarahnya makin tersulut. Bukan maunya ini semua harus terjadi dan yang ia inginkan adalah Kiran seorang.
"Aku juga tidak mau tahu, yang jelas aku akan membawamu pergi. Akan ku buat kamu kembali mencintaiku," balas Alfath yakin.
Kiran menoleh, dengan cepat ia mendorong tubuh Alfath dan menekan tombol kunci di jendela kemudi.
Buru-buru membuka pintunya sendiri dan hendak keluar.
Namun dengan cepat Alfath mencekam tangan Kiran dan menariknya sekuat tenaga.
"Kiran! jangan terus kamu pancing amarahku, tutup pintunya!" bentak Alfath dengan suaranya yang lantang.
Kiran tak takut, masih terus mencoba menarik tangannya yang dicengkram kuat.
Merasa tak ada jalan lain, akhirnya Alfath memelajukan mobilnya meski lampu itu masih merah. Meski tangan kiran satu lagi masih menahan pintu itu namun Alfath tetap melaju dengan kecepatan tinggi.
"Jahat kamu mas! turunkan aku!" bentak Kiran dengan air mata yang sudah mengalir.
Alfath melepas cengkraman tangannya dan menatap dengan seringai.
"Tutup pintunya," ucap Alfat dingin dan Kiran masih betah bergeming.
"Berhenti atau aku akan loncat," ancam Kiran tanpa takut. Ya, mati saja lebih baik daripada harus mengikuti pria gila ini.
"Jangan gila kamu Ran, mungkin kamu bisa selamat, tapi tidak dengan anakmu."
Tangan dan kaki Kiran genetar, ucapan Alfath itu berhasil mempengaruhi dirinya.
Hingga lambat laun terdengar sirine polisi di belakang mobil mereka. Mendengar itu Kiran seperti menemukan harapannya lagi.
"Berhentilah jika tidak ingin jadi buronan," ucap Kiran yakin, tangannya masih menahan agar pintu itu tetap tidak terkunci.
Ini bahaya sekali, namun Kiran mencoba yakin.
"Sial." umpat Alfath, karena menerobos lampu merah kini ia jadi kejaran polisi.
Bukannya berhenti, Alfath malah semakin melaju dengan kencang, menuju jalan tol.
Seketika itu juga Kiran terperangah.
Tidak, tidak, aku tidak mau ikut mas Alfath! batinnya memberontak.
Merasa tak ada pilihan lain, dengan perlahan Kiran membuka pintu itu.
"Jangan gila kamu Ran! jangan berani-beraninya untuk lompat!" bentak Alfath, ia hendak mencekal tangan Kiran namun Kiran menghindar dan makin dekat dengan pintu itu.
"Kiran!" teriaknya lagi.
"Kamu yang memaksaku untuk lompat Mas."
Saat itu juga Kiran membuka pintu lebar-lebar, siap untuk melompat dan menyerahkan semuanya pada takdir.
Alftah yang gamang akhirnya banting stir dan menahan tubuh Kiran.
Hingga akhinya semua diluar kendali.
Brak! Brak! Brak!
Kecelakaan beruntun pun terjadi.
Sekuat apapun Alfath menahan, Kiran tetap terpelanting. Darah segar tak hanya mengalir dari kepala wanita itu, melainkan juga di kakinya.
Perlahan matanya mulai tertutup dan menjadikan dunia begitu gelap.