Luna Maheswari. Wanita muda yatim piatu, Luna terlahir dari keluarga yang sederhana. Tepat pada saat Luna berusia 18 tahun dia kehilangan kedua orang tuanya. Luna harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, dengan menjadi karyawan di salah satu Toko Kue yang lumayan terkenal di Ibu Kota. Pada saat berusia 20 Tahun Luna menikah dengan pria yang di cintainya,kini umur pernikahan Luna dan suaminya sudah menginjak usia ke 3 Tahun.Bukan hal yang mudah untuk memperjuangkan rumah tangga-nya hingga ke tahap ini.Banyak sekali kerikil-kerikil yang harus Luna lalui di dalam rumah tangga-nya, air mata , kesabaran dan pengorbanan menjadi hal yang biasa bagi Luna demi mempertahankan pernikahannya.Namun kadang kala di masa depan Luna harus mengambil keputusan demi dirinya sendiri kan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulainya Dari Awal
"Jangan marah padanya mas,akulah yang bersalah disini." Anggel masih bertahan dengan sandiwaranya,Anggel menitikan air mata buaya guna menyempurnakan sandiwaranya.
"Apa kalian sudah selesai ? jika sudah,aku akan pergi." Acuh Luna.
Awalnya Luna juga merasa jika Anggel benar-benar kesakitan saat melihatnya terjatuh di lantai,tapi kemudian Luna menyadari jika semua itu hanyalah sandiwara yang di mainkan Anggel saja.Luna tidak mau membuang waktu lebih lama,tubuhnya lelah saat ini.
"Setelah yang kau lakukan,kau tidak mau meninta maaf padanya dan ingin pergi begitu saja ?, kau sangat keterlaluan Luna." Teriak Rama,mendekati Luna dengan amarah membara.
" Ini hadiah dariku untukmu Luna." Batin Anggel,tersenyum sinis.
"Aku tidak mendorongnya,aku tidak melukainya.Mengapa aku harus meninta maaf ?,kau sangat naif mas." Bantah Luna mengejek.
Luna sudah tidak mempunyai hubungan lagi dengan mereka,Luna pikir akan dapat hidup dengan tenang setelah ini.Kenyataannya,untuk pulang saja bahkan dirinya tidak bisa melepaskan diri dari mereka.
Rama melangkah lebih dekat,jarak di antara mereka sangat tipis.Rama mencengkeram tangan Luna,tepat di luka akibat cengkeraman dari Anggel.Luna meringis,menahan perih di tangannya.Cengkeraman Rama sangat kuat,tangan Luna kesakitan karnanya.
"Mas lepaskan aku.." Luna mencoba berontak.
"Minta maaf padanya,maka aku akan melepaskanmu." Rama semakin mencengkeramnya dengan kuat.
"Sakit...Kau menyakitiku," Kekuatan Luna tidak mampu untuk melawan Rama.
Sebelum Rama bertindak lebih jauh,Rama sudah terpental kebelakang.Ada tubuh kekar muncul di samping Luna,mendorong kasar tubuh Rama.Dorongan itu hampir membuat Luna ikut serta jatuh bersama Rama,Tapi di cegah tangan kekar Alan.
"Maaf aku terlambat." Sesal Alan,hatinya memanas saat menatap tangan mulus Luna terluka dan memerah,akibat kuku panjang Anggel dan cengkeraman dari Rama.
"Alan kau di sini...?" Tidak peduli apapun,Luna justru menanyakan pertanyaan konyol itu pada Alan.
Sejak tadi,Luna memang benar-benar tidak menyadari kedatangan Alan.Bahkan Luna sendiri,tidak mengetahui jika Alan ikut duduk di belakang saat persidangannya di mulai.Entah apa yang di pikirkan Luna,hingga tidak menyadari kedatangan tubuh besar Alan.
Sebelum Alan menjawabnya,Rama meraung karna marah."Brengsek beraninya kau..."Marah Rama bangkit dari jatuhnya.
"Pengecut seperti dirimu,hanya bisa menyakiti wanita saja.Urungkan niatmu,berfikirlah dua kali untuk menyakitinya lagi..Jika tidak...Kau akan melihat keluarga Anggoro hancur hingga ke jurang yang terdasar." Ancam Alan.
Suara Alan menusuk ke telinga mereka,terutama Rama dan Anggel.Tidak sulit untuk Alan melakukan sesuatu kepada keluarga Anggoro,jika itu di perlukan.Selama ini Alan diam,karna dirinya tidak dapat ikut campur urusan rumah tangga mereka.
Namun saat ini Luna sudah bukan istri Rama lagi,jadi tidak ada halangan apapun bagi Alan melindungi Luna secara terang-terangan.Harga diri Luna pun tidak akan ternoda karnanya.Sejak tadi Alan mengamati setiap tindakan yang di lakukan Rama pada Luna,Alan berusaha menahan diri,tapi saat Rama sudah berani menyentuh dan menyakiti Luna.Pria arogan itu sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Rama tidak bisa terima dengan ancaman langsung dari Alan,tapi saat ini dirinya masih berada di pengadilan.Bodoh jika Rama terus memperpanjang masalah ini,reputasi keluarga terhormatnya pasti akan ternoda.Rama mengepalkan kedua tangannya,mencoba menahan dirinya sendiri.
Rama juga tau,siapa pria di depannya ini.Pria ini bukanlah pria yang dapat seenaknya Rama tindas,beberapa hari yang lalu Rama mendapat kabar dari orang-orangnya jika pria yang dekat dengan istrinya adalah pewaris dari keluarga Luwis,Rama sangat mengenal nama itu dan Rama tidak berharap akan bertemu pria ini di sini pada hari ini.
"Urusan kita belum selesai Luna,Ayo Anggel kita pergi dari sini." Sebelum membawa Anggel pergi,Rama masih berani memperingatkan Luna.
Sejak Alan datang,Anggel sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Alan.Bagaimana bisa,wanita rendah seperti Luna bisa sangat beruntung dekat dengan pria hebat seperti Alan.Sebelumnya Anggel pernah bertemu Luna dengan seorang pria,tapi Anggel sama sekali tidak menduga jika pria itu adalah Xalandar Luwis,pria tampan dan tidak tersentuh oleh sembarang wanita.Dalam hati Anggel mengeram penuh iri,Anggel tidak membantah dan mengikuti Rama pergi.
Luna menyeritkan keningnya,mengapa Rama melepas masalah ini begitu saja ?,bukankah tadi kekeh meminta dirinya untuk meninta maaf pada Anggel.Luna tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya di wajah lelahnya.
"Apa yang kau pikirkan.?" Alan bertanya,membuyarkan lamunan Luna.
"Aku..." Ucapan Luna terpotong.
"Jangan jawab sekarang,ayo kita pulang." Potong Alan,menarik tangan Luna.
"Heiii...Mengapa menyeretku ? Aku bisa jalan sendiri." Protes Luna mengerutu.
"Brisik..." Ucap Alan dingin.
Mulai lagi mereka,tiada hari tanpa bertengkar.Hubungan mereka memang lebih banyak di warnai dengan pertengkaran.Tapi di balik itu,mereka ada untuk saling memahami.Entah mengapa hati Luna merasa aman saat bersama dengan Alan.
"Duduk.." Perintah Alan,menekan lembut kedua bahu Luna.
"Aku bisa duduk sendiri,berhenti memaksaku." Tentu saja Luna tidak bisa diam,saat Alan memaksanya duduk.
"Dasar wanita bodoh,di sakiti seperti ini masih saja diam.Bagaimana jika aku tidak datang ?,mungkin tangan kecilmu ini akan terpisah dari tempatnya."Omel Alan,tangannya mengobati luka di tangan Luna dengan lembut.
"Apa kau tidak bisa melihatnya,aku sudah melepaskan diri tadi..Berhenti mengomel padaku," Elak Luna,tidak terima saat pria dingin di depannya ini masih saja mengomelinya.
"Makan yang banyak,kau harus cepat tumbuh untuk menjadi dirimu sendiri." Ucap Alan,suaranya terdengar berat namun datar.
"Jangan memberikan orang lain kesempatan, untuk merendahkanmu seperti ini di masa depan.Kau harus tumbuh kuat,aku bisa melindungimu dengan kemampuanku..Tapi aku akan jauh lebih senang,saat kau bisa membungkam mereka dengan caramu sendiri..Kau bukan wanita bodoh,seperti yang terlihat." Dengan Bijak,Alan menasehati Luna.
"Kau sedang di masa tersulitmu,jadilah lebih kuat untuk dirimu sendiri Luna..Kau pernah kehilangan orang-orang yang sangat kau cintai,kedua orang tuamu,bayimu..Itu hal yang menyakitkan jika di ingat,tapi gunakan itu sebagai bahan bakar untuk membuat dirimu lebih kuat.Aku disini,mommy bersamamu apa lagi yang kau takutkan ?, jadilah dirimu sendiri,dan jangan biarkan orang lain merendahkanmu." Sambung Alan dengan nada serius.
Luna tercengang mendengar nasehat dari Alan,sudah sangat lama sekali Luna tidak mendapatkan nasehat dari siapapun setelah kedua orang tuanya meninggal.Luna lebih banyak mendapatkan penghinaan dari orang di sekelilingnya.
Perasaan Luna menghangat,bagaimana pria arogan dan dingin seperti dia mampu mengatakan hal bijak seperti ini padanya.Diam-diam Luna bersyukur,bisa mengenal pria seperti Alan di masa tersulitnya.Air matanya mengalir untuk kesekuian kalinya,bayangan menyakitkan muncul di depan matanya.
"Apa aku masih berhak bahagia Alan ?, Apa aku masih bisa untuk berdiri ? kehilangan kedua orang tuaku,kelilangan bayiku membuatku sangat hancur,luka ini masih terasa.Penghianatan,perpisahan...Aku mencoba tidak menangis,tapi...Hiks..Aku..Hikss hikss." Luna tidak bisa meneruskan ucapannya.
Luna membuat dinding yang tinggi dan kuat di hatinya,untuk membuatnya kuat dan tidak mengeluh.Tapi tanpa sengaja,hari ini di depan Alan dirinya mengutarakan semua rasa sakitnya.
"Mengapa kau ragu..? Menangislah Luna,tapi cukup untuk hari ini.Esok hari,saat matahari bersinar di pagi hari...Kau harus kembali berdiri,menjadi dirimu sendiri.Memulainya dari awal,jangan takutkan apapun...Aku dan mommy ada bersamamu untuk melewati kesulitan apapun.Jangan merusak dirimu karna ketidak beruntunganmu." Alan menjelaskan,tangan kekarnya menghapus air mata luna.
"Hikss hikss..." Luna tidak mengatakan apapun,Luna hanya menangis dan tubuh mungilnya menghambur ke tubuh kekar di depannya.Luna terisak di dalam pelukan Alan.
TBC
Hai...Mohon dukungan,like dan komennya ya 🙏😊