Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 05 - Meja yang Terbalik
"Kamu menyelidiki aku?"
Suara Hendra rendah. Tidak keras, tapi setiap katanya seperti batu dilempar ke lantai.
Ratna duduk tegak di sofa. Map cokelat masih terbuka di meja. Foto Hendra, Clara, dan Alif terlihat jelas di bawah lampu ruang tengah.
Raka yang tadi tertawa kini diam.
Maya menutup mulutnya.
Mama Sulastri memandangi foto itu dengan mata melebar, lalu cepat-cepat mengalihkan wajah seolah jika ia tidak melihat, maka semua itu tidak nyata.
Ratna menatap Hendra.
"Pertanyaanmu lucu, Mas."
"Jawab."
"Yang kamu persoalkan bukan perselingkuhanmu, bukan anak yang kamu sembunyikan, bukan uang rumah yang kamu alihkan. Kamu malah bertanya kenapa aku tahu."
Hendra melangkah mendekat.
"Jaga bicaramu."
Ratna tertawa pelan. Tanpa gembira.
"Aku sudah menjaga bicaraku selama dua puluh delapan tahun."
Mama Sulastri akhirnya bersuara.
"Ratna, jangan buka aib suami di depan anak. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik di kamar."
Ratna menoleh.
"Ma, aib itu dibuat oleh orang yang berbuat. Bukan oleh orang yang melihat."
Wajah Mama Sulastri memerah.
"Kamu mulai pintar menjawab, ya."
"Saya baru mulai bicara."
Raka mengambil salah satu foto dengan tangan ragu.
"Pa... ini siapa?"
Hendra merampas foto itu.
"Bukan urusanmu."
"Bukan urusanku?" Raka menatap ayahnya tidak percaya. "Itu anak siapa?"
Hendra diam.
Diamnya sudah cukup.
Maya berbisik, "Ya Allah..."
Mama Sulastri langsung menunjuk Maya.
"Kamu jangan ikut campur. Ini urusan orang tua."
Ratna berdiri.
"Tidak. Ini urusan semua orang yang selama ini hidup dari saya, lalu mengira saya tidak punya hak tahu."
Hendra menatapnya tajam.
"Ratna, kamu pikir dengan beberapa foto kamu bisa menghancurkan rumah tangga kita?"
"Rumah tangga kita sudah kamu hancurkan sejak lama."
"Aku laki-laki. Aku khilaf."
"Dua belas tahun khilaf?"
Hendra tersentak.
Raka menoleh cepat.
"Dua belas tahun?"
Ratna mengambil lembar lain dari map.
"Apartemen Clara dibeli tiga tahun lalu. Mobilnya dibeli dari rekening usaha. Biaya sekolah Alif dibayar rutin. Kalau dihitung dari umur anak itu, hubungan kalian pasti lebih lama."
Ia menatap Hendra.
"Jadi jangan pakai kata khilaf. Itu terlalu suci untuk kebohongan yang kamu rawat."
Hendra mengangkat tangan, seolah hendak mencengkeram lengan Ratna. Ratna mundur setengah langkah, tapi tidak menunduk.
Ponselnya sudah menyala di tangannya. Rekaman suara aktif.
Hendra melihat itu.
"Kamu merekam?"
"Iya."
"Matikan."
"Tidak."
Mama Sulastri bangkit dengan marah.
"Kurang ajar! Istri macam apa merekam suami sendiri?"
Ratna menatapnya.
"Istri yang akhirnya belajar melindungi diri."
Hendra mengembuskan napas kasar. Ia mencoba mengganti nada.
"Baik. Aku salah. Aku akui. Tapi kamu tidak perlu bawa pengacara. Kita selesaikan baik-baik. Kamu mau apa?"
"Cerai. Pembagian harta bersama. Pengembalian aset yang kamu alihkan."
"Kamu serakah."
Ratna hampir tersenyum.
"Serakah?"
"Selama ini aku yang cari uang."
Kalimat itu membuat sesuatu dalam dada Ratna pecah. Bukan lagi tangis. Bukan lagi sakit. Lebih seperti pintu yang didobrak dari dalam.
"Siapa yang berdagang sayur waktu kamu kuliah?"
Hendra diam.
"Siapa yang buka warung pertama saat kamu masih malu pinjam uang ke saudara?"
Raka menatap ibunya.
"Siapa yang jaga toko dari subuh sampai malam waktu aku hamil tua? Siapa yang berhenti bekerja karena kamu bilang anak butuh ibu di rumah? Siapa yang mengurus ibumu, anakmu, menantumu, cucumu, sementara kamu membangun usaha dengan tenang?"
Ratna menunjuk meja.
"Kalau semua itu tidak dihitung sebagai kerja, lalu apa namanya? Ibadah gratis untuk laki-laki yang diam-diam punya istri lain?"
"Ratna!" Hendra membentak.
Bima menangis dari kamar. Maya spontan berdiri, tapi Mama Sulastri lebih cepat berkata, "Biarkan. Anak kecil biasa menangis."
Ratna menoleh ke arah kamar Bima.
Dadanya sakit.
Ia tidak ingin anak itu mendengar semua ini. Tapi mungkin rumah ini memang sudah terlalu lama memaksa semua orang diam.
Maya akhirnya berjalan ke kamar dan menggendong Bima keluar. Anak itu memeluk leher ibunya sambil menangis kecil.
"Nenek jangan pergi," gumam Bima.
Ratna memejamkan mata sebentar.
Hendra melihat celah itu.
"Lihat? Kamu tega sama cucumu? Kamu mau menghancurkan keluarga ini hanya karena satu kesalahan?"
Ratna membuka mata.
"Jangan pakai Bima untuk menutup dosamu."
Hendra terdiam lagi.
Raka tampak bingung. Marah, malu, takut, semuanya bercampur di wajahnya.
"Ma, kalau cerai, rumah ini bagaimana?"
Ratna menatap anak yang ia lahirkan, besarkan, dan manjakan sampai dewasa.
"Itu yang kamu pikirkan pertama kali?"
Raka gelagapan.
"Bukan begitu. Tapi kita harus realistis. Papa memang salah, tapi Mama juga tidak bisa hidup sendiri. Mama sudah lama tidak kerja tetap. Kalau bercerai, nanti Mama susah."
Ratna merasakan tusukan lain.
Namun kali ini ia tidak hancur.
"Raka, Mama sudah susah saat masih menikah."
Maya menunduk. Mungkin untuk pertama kalinya ia mendengar kalimat itu dengan benar.
Mama Sulastri menunjuk Ratna lagi.
"Perempuan kalau sudah tua harus tahu diri. Hendra masih memberimu tempat tinggal. Masih memberi nama sebagai istri. Kamu mau apa lagi?"
"Saya mau hidup tanpa dibohongi."
"Hidup sendiri? Siapa yang mau sama kamu?"
Ratna menggenggam ponselnya.
Kalimat itu dulu akan membuatnya merasa kecil.
Sekarang ia hanya melihat betapa miskinnya cara berpikir mereka. Seolah hidup perempuan hanya berarti jika masih diinginkan laki-laki.
Hendra duduk kembali. Ia mengusap wajah.
"Dengar. Aku tidak akan menceraikanmu."
"Kamu tidak perlu setuju untuk aku mulai prosesnya."
"Kamu pikir pengadilan akan langsung percaya?"
"Aku punya pengacara."
Hendra mendongak cepat.
"Siapa?"
Ratna tidak menjawab.
Ponselnya berbunyi. Nama Siska muncul.
Ratna mengangkatnya dengan speaker tidak aktif.
"Ya, Mbak?"
Suara Siska terdengar jelas di telinganya. "Bu Ratna, kami sudah kirim daftar awal dokumen yang perlu Ibu siapkan. Besok pagi kita bisa bertemu untuk tanda tangan kuasa hukum kalau Ibu siap."
Ratna menatap Hendra.
"Saya siap."
Hendra berdiri lagi.
"Ratna, jangan gegabah."
Ratna menutup telepon.
"Aku gegabah saat terlalu percaya padamu. Yang sekarang bukan gegabah."
Ia mengambil map cokelat dan memasukkannya ke tas.
Hendra mencoba menahan tas itu.
"Dokumen itu tidak boleh keluar dari rumah."
Ratna menatap tangannya.
"Lepaskan."
"Aku bilang lepaskan."
"Mas Hendra, kalau kamu menarik tas ini, rekaman suara akan menunjukkan kamu menghalangi aku membawa bukti."
Hendra membeku.
Ratna menarik tasnya perlahan.
Raka menatap ayahnya, lalu ibunya. Maya memeluk Bima lebih erat. Mama Sulastri komat-kamit membaca istighfar, tapi matanya penuh kebencian, bukan penyesalan.
Ratna berjalan ke arah kamar.
"Malam ini saya tidur di kamar tamu."
"Ini rumahku," kata Hendra dingin.
Ratna berhenti.
Ia menoleh pelan.
"Kita lihat nanti rumah ini milik siapa."
Tidak ada yang menjawab.
Untuk pertama kalinya, meja di rumah itu tidak lagi miring ke arah Hendra.
Pelan-pelan, Ratna sedang membaliknya.
Di kamar tamu, Ratna menggelar selimut tipis yang biasanya dipakai saudara jauh jika menginap. Kamar itu pengap. Lemarinya berisi barang lama. Dulu ia selalu malu kalau ada tamu tidur di sana, takut dianggap tidak cukup nyaman.
Malam ini justru kamar kecil itu terasa lebih aman daripada kamar utama.
Ia mengunci pintu, duduk di tepi kasur, lalu mendengar suara debat dari ruang tengah. Mama Sulastri menangis. Raka bertanya. Hendra membentak. Maya mencoba menenangkan Bima.
Semua suara itu biasanya akan menarik Ratna keluar.
Kali ini ia tetap duduk.
Ia membuka ponsel dan mengirim pesan pada Siska.
"Saya sudah menyampaikan perceraian. Mereka tahu sebagian bukti."
Balasan datang cepat.
"Baik, Bu. Jangan serahkan dokumen asli. Besok kita susun langkah resmi."
Ratna memeluk tas berisi map cokelat. Di luar, rumahnya ribut.
Di dalam kamar sempit itu, untuk pertama kalinya, ia memilih dirinya sendiri tanpa meminta maaf.
Ia tidak tidur cepat. Setiap suara dari luar membuat tubuhnya refleks tegang. Jika Bima menangis, ia hampir berdiri. Jika Mama Sulastri batuk keras, tangannya hampir membuka kunci.
Namun setiap kali itu terjadi, Ratna memegang buku kecilnya.
"Aku bukan barang milik Hendra," bacanya pelan.
Kalimat itu seperti pegangan di tepi jurang.
Baru menjelang subuh ia tertidur sebentar. Saat bangun, punggungnya sakit karena kasur tipis, tapi hatinya tidak seberat malam sebelumnya.
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃