"Jangan pernah Lo ikut campur dalam urusan gue!!" Alifa Zea Amanda~
"saya akan ikut campur. karena apa yang kamu lakukan itu salah!" ghibram Naufal Rizal~
Alifa, seorang mafia terjebak dalam pesantren demi memenuhi janjinya untuk nenek. ia selama disana tak tinggal diam. beberapa kali ia mencoba kabur, namun ada seorang Guz yang selalu menggagalkan rencananya.
seperti apa kisah lanjutan nya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alcanbery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. chapter tiga puluh dua
Jangan lupa vote, vote, dan vote.
Komen, like dan bintang...
Jangan lupa taruh di daftar bacaan, agar kalian tidak ketinggalan dengan cerita berikut nya.
Follow IG bunny @quensha_sha
______________________
Happy reading...
•
•
•
"Kakak..." ujar Albert tertegun memandangi Alifa.
"Tidak apa-apa kalo kamu belum siap cerita sama kakak. Kakak paham sekali." Ujar Alifa.
Albert memeluk erat Alifa, seolah ia tak ingin kehilangan lagi Alifa. "Kakak jangan tinggalkan Albert lagi. Albert takut tanpa kakak disini Albert."ujar Albert.
Alifa membalas pelukan Albert. "Kakak tidak akan pernah meninggalkan mu lagi."
"Kakak berjanji?"
"Ya, kakak janji."
"Albert sayang kakak."
"Kakak juga sangat menyayangi mu, Albert." Alifa membelai rambut Albert dengan penuh kasih sayang.
'kakak maafkan aku, aku tidak bisa mengatakan pada kakak.' batin Albert.
"Mulai Sekarang kakak akan menjadi orang tua mu, Albert. Kakak akan menjaga mu dari semua bahaya. Itulah janji kakak." Ujar Alifa.
***
Dua Minggu kemudian
Alifa dinyatakan boleh pulang ke mansion oleh dokter. Kondisi Alifa berangsur-angsur mulai membaik. Racun yang ada ditubuh Alifa perlahan-lahan mulai hilang. Namun, dokter menyarankan agar Alifa sementara tetap beristirahat, tidak boleh melakukan hal-hal berat yang akan membuatnya lelah dan disarankan untuk rutin meminum obat.
Alifa memang sengat senang bisa keluar dari rumah sakit. Namun, ia lagi-lagi harus terpaksa terkurung dalam kamar. Ditambah kedua Abang twin's nya menjaga ketat keamanan Alifa.
Rangga, sebagai dokter sangat rutin memeriksa kondisi Alifa. Perlahan-lahan hubungan Rangga dan Alifa mulai membalik seperti sediakala.
Cekrek...
Pintu terbuka menampakkan sosok umi, Kelly dan teman-teman nya di pesantren. Kelly menyodorkan obat berserta minuman kepada Alifa.
Alifa menerima obat dari Kelly, namun ia menaruh diatas nakas terlebih dahulu.
Teman-teman Alifa sangat kagum dengan kamar tidur milik Alifa. Sangat besar, mewah dan megah.
"Wow, kamar Mbak bagus juga." Kagum diva terus memperhatikan kesekeliling nya.
Alifa menanggapi nya dengan senyuman tipis.
Tok... Tok...
"Nona muda, ini cemilan yang anda minta." Ujar bibik tutik dibalik pintu.
"Masuk saja bik. Pintu ngak dikunci kok." Jawab Alifa.
Cekrek...
Bik Tutik masuk kedalam kamar Alifa. Ia menaruh beberapa cemilan di atas meja. Setelah itu, bik Tutik pamit untuk pergi ke dapur.
Umi duduk di samping Alifa. "Apa kabar nak?" Tanya umi.
"Baik umi. Kalo umi sendiri bagaimana kabarnya?" Tanya Alifa.
"Umi baik juga." Jawab umi tersenyum ramah.
"Wow, makanan dan minuman nya banyak sekali." Kagum Gilang.
Gus Rizal mencubit tangan Gilang.
"Aww... Apa-apaan sih anta." Lereng Gilang sambil mengelus lengannya yang terkena cubitan.
"Jangan lupakan kesopanan anta disini." Bisik Gus Rizal.
"Makan lah Jangan malu-malu. Kalian juga boleh menghabiskan nya." Ujar Alifa.
"Itu pasti Alifa." Kekeh elang.
'mereka ini masih sama saja.' batin Sasa.
Sasa geleng-geleng kepala memandangi kelakuan teman-teman. Tak sengaja kedua bola matanya melirik kesebuah bingkai. Sasa mengambil bingkai foto itu.
"Alifa, ini siapa?" Tanya Sasa.
Mendadak raut wajah Alifa menjadi sedih.
'ehhh, apa aku salah bicara?' batin Sasa tak enak hati.
Alifa berusaha menyembunyikan kesedihannya dibalik senyuman.
"Ini foto mamah gue. Foto yang diambil tepat disaat kedua orang tua gue bercerai." Ujar Alifa.
Sasa meletakkan bingkai foto itu kembali. Sasa menggenggam kedua tangan Alifa.
"Maaf... Aku sama sekali tidak tahu." Ujar Sasa merasa bersalah.
Alifa memilih diam saja.
Gus Rizal menyodorkan laptop kearah Alifa. Alifa memandangi nya dengan tatapan tanda tanya.
"Semua pelajaran yang kamu lewatkan, saya sudah menyusunnya dalam laptop kamu." Ujar Gus Rizal.
Alifa menerima laptop tersebut. "Makasih Gus Rizal."
***
Kediaman Oberoi:
Siska membuang semua barang-barang dimana-mana. Kamar tidurnya sangat berantakan sekali. Banyak pecahan kaca, semua kain pada sobek, dan bulu-bulu berhamburan dimana-mana.
"Aghhhh..." Desah frustasi Siska.
Siska sangat frustasi saat dokter menyatakan dirinya lumpuh. Siska dinyatakan tidak akan bisa berjalan menggunakan kakinya untuk selamanya.
Siska tidak percaya ucapan dokter itu. Ia memanggil dokter terbaik didunia, namun hasilnya sama.
Hanna yang baru datang dikamar Siska sangat terkejut melihat adiknya mau bunuh diri. Hanna membuang pecahan kaca.
Plak...
Satu tamparan mendarat tepat di pipi Siska.
"Kakak, apa kamu menamparku?" Tanya Siska tak percaya.
Baru pertama kali Siska menerima tamparan sarat erat di pipinya. Selama ini tidak pernah ada yang menampar nya sesekeras ini. Kedua bola mata Hanna berkacamata, hatinya bercampur aduk dan tangan yang ia gunakan untuk menampar adiknya bergetar hebat.
"Kakak, kenapa kamu menamparku?" Siska mengulang pertanyaan kembali.
"Apa kamu gila, ha!? Apa yang kamu akan dapatkan dari bunuh diri?" Tanya Hanna. Amarahnya sudah tak bisa ia kontrol lagi.
Siska diam. Air matanya mengalir di membasahi pipi Siska.
"Katakan pada ku? Apa yang kamu dapatkan jika kamu bunuh diri, ha!?" Hanna mengulang pertanyaan kembali.
"Ak---aku cacat kakak. Pasti Gus Rizal tidak mau sama aku, karena aku cacat. Ikhik... Ikhik.."
"Gus Rizal terus. Lagi-lagi kamu masih mekhayalkan Gus Rizal itu ya?" Tanya tegas Hanna.
"Kakak tidak tahu apapun. Aku sangat mencintai Gus Rizal. Aku hanya ingin memiliki Gus Rizal. Kakak mana tahu hal itu. Owh, ya aku lupa. Kakak kan sudah dicampakkan oleh Kevin. Mana pun kakak akan mengerti dengan perasaan ku." Ujar Siska terkekeh sendiri.
"Siska." Satu tamparan lagi hampir mendarat di pipi Siska.
"Kenapa berhenti kakak! Ayo cepat tampar! Tampar aku kakak! Kenapa berhenti, ha!"
Hanna memilih pergi meninggalkan Siska didalam kamar. Hanna terduduk lemah dibalik pintu kamar Siska. Ia memegang erat dadanya yang terasa sangat sesak sekali.
"Kenapa??? Kenapa adik ku juga harus mengalami hal sama seperti ku?" Gumam Hanna meratapi nasibnya sendiri.
***
Negara los angeles:
"Bagaimana apa kamu telah menemukan putriku?" Tanya seorang wanita misterius.
"Belum nyonya. Keberadaan nya sangat sulit kami lacak." Jawab bawahannya bernama Lala.
Wanita misterius itu memutar kursi kebesaran. Wajahnya menunjukkan raut wajah serius. Lala menunduk ketakutan, ia tak berani untuk memandangi atasannya.
"Dimana terakhir kali kalian menemukan keberadaan nya?" Tanya wanita misterius itu lagi.
"Nyonya cameli, kamu kehilangan jejaknya di Seol, Korea Selatan. Tepatnya di bandara." Ujar Lala.
Cameli mengusap wajahnya kasar. 'dimana keberadaan mu, Alifa? Sampai kapan kamu akan marah sama mami.' batin cameli.
Cameli adalah ibu kandung Alifa. Semenjak Alifa mendapatkan kabar bahwa orang tuanya berpisah, Alifa sangat syok sekali. Cameli tidak menyangka bahwa Alifa akan tahu secepatnya ini. Semenjak saat itulah Alifa memutuskan hubungan dengan cameli.
"Nyonya, apa...