Setelah lulus kuliah, kamu mau ngapain nih bestie? Kerja? Lanjut S2? Atau bahkan langsung nikah?? Xixixi.
Buat yang lanjut S2 semangat, yang kerja ga usah lesu letih dan lunglai, yuk mampir baca kisah seorang tokoh yang berakhir di jodohkan, dan hidup bahagia (?) setelahnya.
Kirana Putri yang baru saja lulus dari pendidikannya, harus merelakan mimpinya dan menikah dengan seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya. Lelaki penyayang, lembut dan setia, tentu saja bukan. Ia menikah dengan orang yang terlihat begitu membencinya, bahkan ia bukanlah wanita satu-satunya bagi suaminya. Mampu kah ia bertahan dalam kehidupan rumah tangga seperti itu? Atau justru ia akan menyerah dan kembali mengejar mimpinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya_BC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Rumah
Mereka sampai di rumah. Saat masuk ke dalam rumah, ternyata rumah sangat rapi dan bersih. Jadi Ran tidak perlu merapihkannya. Rei mengangkat Keli yang tertidur di mobil dan memindahkannya ke kamar. Sedangkan Ran mengambil handuk di kamarnya dan membersihkan diri.
Ran membuka pintu kamar perlahan, dan melihat Rei sedang merapikan tempat tidur. "Eh Ran, sudah selesai?" Tanya Lelaki itu.
".. Sudah"
"Ayo tidur, udah malam" Ajak Rei. Ia memperhatikan Ran yang sedang berjalan perlahan menuju tempat tidur.
"Ran" Belum sampai ke tempat tidur, langkah Ran terhenti karena panggilan Rei.
".. Iya?"
".. Saya boleh minta peluk?" Pinta Rei dengan suara rendah.
".. Peluk?" Lelaki itu mengangguk. Setelah diam sebentar, Ran berdehem dan mengangguk, menyetujui permintaan Rei.
Rei beranjak dari posisi duduknya dan berdiri berhadapan dengan Ran. Lelaki itu perlahan maju dan memeluk tubuh mungil Ran. Ia merasa nyaman dengan posisi seperti itu.
".. Saya kangen" Ucap Rei seraya mengelus punggung Ran lembut. Perempuan itu diam tak menanggapi ucapan Rei.
"Kamu kok diam aja? Ga kangen sama saya?" Tanya Rei.
"Saya kangen, tapi saya masih belum bisa ngelupain kejadian ini. Saya jadi ngebayangin kalau mas sama mba Nad-" Ran berhenti bicara saat jari telunjuk Rei menempel di bibirnya.
"Kamu membayangkan apa? Saya dan dia berada di kamar yang sama? Ranjang yang sama?" Ran terdiam, lalu mengangguk pelan dan menunduk.
"Ran, liat saya" Titah Rei membuat Ran mengangkat kepalanya menatap Rei.
"Kalaupun dulu saya pernah mabuk dan pulang malam saat bertemu Nadine, saya berani bersumpah, matipun saya siap, saya ga pernah melakukan hal macam-macam dengan dia" Tutur Rei.
".. Masa?" Tanya Ran yang jujur saja tidak percaya. Masa mereka tidak pernah melakukan apa-apa, padahal sudah pacaran lama.
"Iya. Bahkan first kiss saya, ya sama kamu. Saya ga bohong, sumpah!" Ucap Rei dengan nada serius.
"Saya ga pernah merasa terangsang ketika sama perempuan lain, Ran" Celetuk Rei membuat Ran memalingkan wajahnya malu.
"Loh serius, dengerin saya" Rei memegang dagu Ran membuat perempuan itu kembali menatapnya.
"Sama siapapun saya, sekalipun Nadine, saya ga pernah terpikir untuk menyentuh mereka. Sama sekali ga ada!" Ran diam menatap mata suaminya. Masih mempertimbangkan, apakah yang dikatakan lelaki ini benar?
"Tapi ketika saya sama kamu, saat dekat dengan kamu seperti ini, saya selalu ingin mendekap kamu. Kamu tahu, saya rasa saya ini memang mesum. Karena jari saya yang menyentuh bibir kamu tadi, bikin saya mau cium kamu saat ini juga!" Ucap Rei malu lalu memalingkan wajahnya.
"Saya takut deh.." Celetuk Ran membuat Rei kembali menatapnya secepat kilat.
"Saya bilang gini bukan buat bikin kamu takut, tapi saya mau kamu percaya kalau saya cuma bisa tidur dan seranjang sama kamu!" Pekik Rei seraya melepaskan pelukannya.
"Lho, udah pelukannya?" Tanya Ran lalu terkekeh.
"Kamu mau saya serang? Udah ayo tidur" Ajak Rei yang sedang merapikan selimut dan hendak naik ke kasur.
Belum sepenuhnya naik ke kasur, Ran memeluknya dari belakang, membuat pergerakan lelaki itu terhenti. "Ran.." Tegur laki-laki itu dengan suara rendah.
"Dasar ga pengertian! Saya tuh masih kangen!" Pekik perempuan itu ketus.
Rei menarik napas panjang lalu menghembuskannya. "Saya bukannya ga kangen, tapi saya ga mau bikin kamu begadang malam ini" Ucap Rei masih dengan suara rendah.
"Hng..!" Ran membenamkan wajahnya di punggung Rei dan mengeratkan pelukannya.
"Ran.." Mendengar teguran itu, Ran melepas pelukannya dan berjalan menuju lemari. Ia mengambil sebuah baju yang tersimpan di kotak lalu masuk ke kamar mandi.
Rei menggelengkan kepalanya, berusaha menahan diri dan naik ke kasur. Tak ingin membuat perempuan itu kesal, ia menunggu hingga Ran keluar dari kamar mandi.
Ketika melihat pintu kamar mandi terbuka, Rei segera menarik selimut dan masuk ke dalamnya, tak ingin menatap Ran.
"Mas, ada telepon" Ran menepuk bahu Rei membuat lelaki itu tersentak.
"Kenapa sih?" Tanya Ran dibalas gelengan kepala oleh suaminya. Lelaki itu mengambil ponsel yang Ran berikan lalu beranjak keluar dari kamar untuk mengangkat telepon.
"Mau kemana? Angkat di sini aja!" Ran mengalungkan tangannya pada Rei, mencegah lelaki itu untuk keluar.
"Ran, lepas dulu... Saya mau angkat telepon" Ucap Rei seraya berusaha menjauhkan tangan Ran darinya.
"Ya terus? Angkat cepet!" Rei menghela napas lalu mengangkat telepon dari papah. Mereka membahas tentang pekerjaan rupanya.
Setelah sambungan telepon dimatikan, Rei melirik istrinya yang masih bersandar di bahunya, perempuan yang menungguinya menelpon itu kini menatapnya lekat-lekat.
"Jadinya waktu itu beli baju itu ya?" Tanya Rei seraya memalingkan wajahnya, menatap arah lain.
"Iya" Balas Ran singkat.
"Kenapa dipakai? Ga dingin apa pakai baju begitu" Geruru Rei masih tak ingin menatap istrinya.
"Ran.." Rei menatap Ran yang mengeratkan pelukannya seraya menggelengkan kepala.
"Kamu sengaja? Nempel-nempel saya sambil pake baju perang kayak gitu.. Nakal ya.." Rei menarik hidung Ran gemas membuat perempuan itu tertawa.
Perhatian mereka tertuju pada ponsel Ran di atas meja yang berdering. Segera, Rei meraih ponsel itu dan melihat nama penelepon. Wajahnya seketika cemberut dan menatap Ran jutek. "Ngapain Regi nelepon kamu malem-malem?" Tanya Rei ketus.
"Ga tau, kok tanya saya. Biasanya ga pernah kok" Balas Ran lalu mencoba meraih ponselnya yang ada di tangan Rei.
"Mau ngapain? Mau kamu angkat?" Tanya Rei dengan nada kesal.
"Terus gimana? Ga diangkat? Kalau penting gimana? Angkat dulu cepet" Rei diam menatap istrinya dengan wajah masam, lalu memberikan ponsel itu tanpa mengatakan sepatah katapun.
Ran mengambil ponsel yang ada digenggaman Re lalu mengecup bibir lelaki itu seraya mengedipkan satu matanya genit. Membuat Rei kaget dan membatu menatapnya.
"Kenapa Reg?" Tanya Ran pada Regi yang jauh di sana.
"Oh? Engga mba, ini kayaknya kepencet tadi. Hpnya eror tadi. Tutup aja ga papa, maaf ya mba ganggu" Jelas Regi mendapat anggukan paham dari Ran. Ia menutup telepon dan kembali menatap Rei yang sedang salah tingkah.
Ran memegang dagu Rei dan mengecup bibir laki-laki itu. "Udah om-om masih aja cemburuan!" Ledek Ran membuat Rei membulatkan matanya tak terima. Perempuan itu masuk ke dalam selimut dan sembunyi di sana.
"Apa kamu bilang? Hmm??" Rei ikut masuk ke dalam selimut dan menyerang perempuan itu.
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh bersama, Keli kembali ke kamarnya, begitupun dengan Rei. Ia kembali ke tempat tidur kemudian menepuk-nepuk kasur.
"Sini Ran" Panggil Rei.
"Hm? Mas mau tidur lagi? Biasanya langsung siap-siap, ke kantor loh hari ini. Ran mau masak"
"Masih jam lima lebih lima belas, tiduran dulu sebentar... Nanti aja masaknyaaa.. Sini..." Ran menuruti kata-kata Rei dan kembali ke tempat tidur. Entah perasaannya saja atau benar, rasanya dari kemarin Rei manja sekali.
Ran naik ke tempat tidur dan duduk di depan Rei yang sedang menatapnya memelas. Ran merasa bingung, ada apa dengan laki-laki ini. Rei menggeser posisinya agar lebih dekat dengan Ran dan menyenderkan kepalanya pada bahu Ran. Rei memeluknya erat.
"Mas kenapa? Lagi ada masalah?" Tanya Ran bingung dengan tingkah suaminya.
"Ga ada"
"Terus kenapa? Dari kemarin kayaknya mas beda"
"Ga papa..."
Hujan deras tiba-tiba turun membasahi pagi hari. "Wah, hujan" Celetuk Ran ketika mendengar suara hujan mulai menghantami atap rumah mereka.
Ran tersentak saat merasakan ada tangan yang masuk ke dalam bajunya. "Mas!" Tegurnya.
".. Apa?" Tanya Rei dengan wajah memelas seperti tidak ada dosa.
"Mau ngapain?!" Ran berusaha menjauhkan tangan Rei darinya.
".. Hari ini ga usah ke kantor ya? Hujaan" Rengek Rei.
"Loh, biasanya hujan tetep berangkat. Mas kan bawa mobil?"
"Malaaas" Rengek Rei menggesekkan kepalanya di leher Ran.
"Ga boleh gitu. Ayo bangun, ga boleh malas-malas. Udah ya, lepas. Ran mau buat sarapan" Ran melepas pelukan Rei dan berjalan meninggalkan lelaki yang tengah dilanda rasa malas itu.
"Raaaann" Panggil Rei seperti anak kecil.
Rei berdiri dan dengan malas berjalan menyusul Ran ke dapur. Ia melihat Ran sedang menyiapkan sarapan. Rei berjalan mendekati Ran dan memeluknya dari belakang. Rei menyenderkan kepalanya pada pundak Ran. Dan itu membuat Ran sedikit merasa kesal.
"Mas kenapa sih? Ran lagi masak loh" Tegur Ran.
"Ga usah ke kantor ya? Males banget. Kelonan aja di rumah" Rengek Rei.
"Hus! Ga boleh gituuu, biarpun hujan harus tetap semangat! Ayo ih, nanti mas telaaat"
"Hng.." Rei menggesek-gesek kepalanya membuat Ran merasa geli.
"Huwaa mas.. Ran mau masaaak"
"Ga usah gin, pesan aja"
"Ga. Udah jam 6 loh mas, mandi buruan" Titah Ran takut suaminya akan terlambat bekerja.
".. Mandiin" Celetuk Rei membuat Ran membelalakkan matanya heran.
"Ayoooo" Ajak Rei seraya menarik-narik tangan Ran.
"Aku masih masak. Cepet mandi sana!" Titah Ran seraya berusaha melepaskan pelukan Rei.
"Hng.." Rengek Rei yang masih dalam posisi nyamannya. Merasa geram, Ran akhirnya menarik tangan Rei dan membawanya menuju kamar mandi.
"Ayo, mandi dulu" Perintah Ran.
".. Mandiin..."
"Mandi sendiiii"
"Aaa bantuin mandinya.. Mana sabunnya? Sabunin punggungnya" Perintah Rei. Ran tidak bisa menolak perkataan suaminya yang sedang di landa malas ini. Ia menyabuni punggung suaminya sampai bersih.
"Nah sudah ya, mas mandi sendiri. Ran mau masak dulu, handuknya di belakang pintu"
Ucap Ran seraya meninggalkan kamar mandi.
"Huwaaaaa Ran jangan pergii" Ran tak mendengarkan dan melanjutkan langkahnya menuju dapur. Karena kemalasan Rei, alhasil, ia terlambat ke kantor.
si ratu drama nadine minta di baigon nie
pengen ku bunuh dua orang itu😭👍
Cuss bacaa jan lupa tinglkan jejaakk🤗
tkn prfil q aja yaa😍
vielen danke😘