Shella namanya, seorang gadis kecil yang tumbuh dilingkungan keluarga yang membenci ibunya, dia dipisahkan dari Lisna sang ibu dengan cara paksa.
Meski demikian, Shella sering diperlakukan tidak adil setelah ayahnya menikah lagi, namun dia enggan kembali pada ibunya. Seiring berjalannya waktu dia sering menghilang tanpa kabar.
Ini menjadi dilema tersendiri bagi anak korban perceraian. Apakah Shella akan ikut membenci Lisna seperti hasutan yang selama ini diberikan oleh keluarga sang ayah? dan apakah Lisna bisa mendapatkan kembali hati anaknya dengan kesabaran yang dia miliki?
Sikahkan simak kisahnya ya.. 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selly setiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Pusara Ayah
Pagi ini aku berlalu melewati beberapa rumah tua yang usang. Dulu kami sering bermain disini saat usia aku dan adik-adik masih kecil.
Rumah-rumah ini adalah peninggalan orang tua temanku yang sengaja dibiarkan lapuk tanpa dirubuhkan, mereka bilang terlalu banyak kenangan yang tak bisa mereka lupakan.
Aku sesekali berdiri memerhatikan mereka yang sedang sibuk dengan aktivitasnya. Ada yang berlalu didepanku dengan membawa cangkul dengan terburu-buru karena harus menggarap sawah, ada yang sibuk dengan persiapannya menuju tempat kerja.
Hari ini aku telah berjanji untuk berkunjung kepusara ayah, lama sekali semenjak kepergiannya aku tak pernah menemuinya lagi. Aku pergi sendiri dengan berjalan kaki melewati kuburan yang berjajar disebelahku.
Diantara nisan-nisan itu banyak kerabat dan tetangga yang kukenal. Ternyata kematian itu nyata adanya, kehidupan ini terasa lama tapi nyatanya sangat singkat, sesingkat aku mengenal mereka yang telah tiada.
Semakin jauh aku melangkah pusara ayah semakin dekat. Rumput-rumput telah mulai rimbun kembali, biasanya adik laki-lakiku yang sering membersihkannya namun sepertinya dia sedang sibuk hingga pusara ayah dikelilingi banyak rerumputan.
Aku membersihkannya dahulu sebelum lantunan do'a ku panjatkan dipusaranya.
"Maafkan Lisna ayah, lama sekali aku tak berkunjung sampai pusaramu sesemraut ini," batinku dalam hati.
Ini sudah setahun ayah pergi dan keadaan masih saja sama. Aku masih berada dalam kegalauan atas penantian yang tak berujung.
"Ayah aku rindu" gumamku dalam hati.
Kuusap pusaranya yang nyata didepanku. Mata ini tak bisa berbohong, aku mencoba menahan air mataku agar tidak jatuh.
"Ayah, maafkan Shella yang belum juga menemuimu" ku tahan sedikit apa yang ingin kuucapkan.
"Banyak sekali peristiwa yang cukup mengejutkan setelah ayah pergi, biasanya ayah yang selalu memberiku nasihat agar aku kuat. Yah, tenang disana ya!" Aku banyak bercerita seperti orang gila karena bicara sendiri tengah pemakaman.
...***...
Hari menjelang siang angin berhembus cukup kencang.. aku merenung sebentar dipusara ayah.
"Jika nanti aku telah menjadi bagian dari deretan nisan-nisan ini akankah Shella sudi menginjakan kakinya dipusaraku? kalau sampai diakhir penghujung waktuku dia tak kunjung datang " Batinku dalam hati.
Aku percaya pada anak-anakku yang lain karena mereka dibesarkan atas didikan dari ku dan Dimas.
Di belakangku telah datang rombongan pelayat, mereka tampak berjalan rapi mengantarkan keranda yang menjadi kendaraan terahir almarhum. Ku perhatikan ada wanita dibopong oleh dua orang remaja mengantarkan jenazah itu, nampaknya dia begitu kehilangan sampai sulit untuk berjalan.
Begitulah kematian memang benar adanya, ku seka airmata disudut mata ini aku telah berjanji pada ayah untuk tidak bersedih dihadapannya.
Ku lantunkan beberapa ayat suci alqur'an lalu kutaburkan bunga dan air diatas pusaranya.
"Ayah aku tak bisa berlama-lama! aku akan kembali dilain waktu" kataku sambil berdiri berlalu meninggalkan pemakaman itu.
Malam ini kami berencana untuk menggelar pengajian untuk mengenang kepergian ayah. Segala persiapan telah kami lakukan dan tetangga serta kerabat telah kami undang.
Pak Ustadz dari pesantren dekat rumah kami memimpin pengajian malam ini, segala do'a tercurahkan dari setiap orang yang ikut berkumpul semoga do'a ini bisa sampai pada ayah yang telah tenang disana.
Setelah semua tamu pulang, suasana rumah mulai hening kembali semakin malam semakin sepi hanya terdengar suara hujan yang turun dengan derasnya, tanpa suara tanpa kata lalu aku tertidur. "Selamat malam Ayah".
Bersambung....
Bab 32 ini terisipirasi dari rasa rindu author kepada sang ayah, salam hangat untuk ayah yang jauh disana. 🙂
Terimakasih kepada para reader yang telah bersedia membaca tulisan ini!
Jangan lupa sertakan like, komen yang mendukung untuk author ya... terimakasih 💕💕😊
Salam kenal 😉💐
mampir juga di karyaku
Salam dari novelku : "Cinta Tulus Viola" bila berkenan, mampir ya kak.. hehe ditunggu😅
likeback ke Who is He ya, dah UP😄💕
dan minta tolong kk komen di sana sebagai kehadirannya yah, hehe😅