NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 Malam Terakhir di Warkop

Chapter 29: Malam Terakhir di Warkop

Sebelum minggu ujian resmi ditutup oleh kalender akademik dan gelombang mudik mahasiswa perantauan dimulai, Gavin Dewantara memutuskan untuk melakukan sebuah gerakan finansial yang paling radikal sepanjang sejarah hidupnya di kota ini. Ia menyewa seluruh area Warkop Cak Min selama satu malam suntuk. Tidak tanggung-tanggung, ia membayar di muka untuk memborong seluruh sisa stok mi instan, tumpukan gorengan yang sudah dingin, hingga berbalok-balok es batu untuk menjamu anak-anak Kos Bu Broto, teman-teman seangkatannya di Teknik Kimia, dan tentu saja, Kirana.

Malam itu, Warkop Cak Min bertransformasi menjadi ruang pesta paling tidak bermutu sekaligus paling meriah. Lampu neon kuning yang bergoyang ditiup angin malam menerangi puluhan mahasiswa yang duduk lesehan di atas tikar pandan. Aroma kuah mi instan rasa soto dan kari ayam menyerbak di udara, bersahut-sapaan dengan suara tawa yang meledak-ledak. Cak Min sendiri, yang malam ini sudah kembali ke kasta aslinya mengenakan kaus kutang putih dan handuk kecil di leher, tampak sibuk meracik puluhan gelas es teh manis dengan senyum lebar karena omzetnya malam ini setara dengan hasil jualan tiga bulan.

Di tengah riuh rendahnya suasana, Gavin mendadak berdiri di atas bangku kayu panjang yang agak bergoyang. Tangan kanannya memegang segelas es teh manis yang es batunya sudah mencair setengah, sementara tangan kirinya bersarang di saku jins robeknya. Ia memakai kaos oblong hitam bergambar ayam jago andalannya, dipadukan dengan kemeja flanel merah yang dibiarkan terbuka.

"Perhatian untuk seluruh rakyat jelata Kos Bu Broto dan koloni Teknik Kimia!" teriak Gavin ugal-ugalan, suaranya langsung memotong obrolan tentang konspirasi nilai UTS. "Pertama-tama, gue mau minta maaf secara resmi dan ugal-ugalan atas ketidaknyamanan visual yang terjadi belakangan ini. Gue tahu, ketampanan wajah gue yang terpampang di internet pake jas mewah kemarin sempat merusak fokus belajar kalian!"

BOOO! LEMPAR GORENGAN!

Sorakan riuh langsung terdengar. Dono dengan sangat sukses melempar sebuah bakwan jagung dingin yang meluncur mulus tepat mengenai dada Gavin, membuat kaos ayam jagonya tercetak noda minyak baru.

"Halah, banyak bacot lu, Tuan Muda gadungan!" teriak Dono sambil tertawa terbahak-bahak. "Utang gorengan lu lima biji minggu lalu tetep harus dibayar pake fisik ya! Gak ada sistem transfer korporat di sini!"

"Tenang, Bang Don! Malam ini semuanya udah gue lunasin pake sistem barter logistik tanpa batas!" balas Gavin sambil terkekeh renyah, menyeruput es teh manisnya hingga memicu sendawa kasar yang sengaja dikencangkan lewat mikrofon darurat berupa botol kecap kosong. "Gue cuma mau bilang... makasih banyak. Makasih karena selama satu semester ini, lu semua udah mau berteman sama berandalan slengean yang hobi tidur di lantai teras kayak gue. Di Jakarta, semua orang tersenyum sama gue karena nominal di belakang nama gue. Tapi di sini... lu semua tetep ngejitak kepala gue pake ember plastik meskipun tahu isi dompet gue bisa buat beli kosan ini. Itu adalah level kehormatan tertinggi yang pernah gue terima seumur hidup."

Mendengar kalimat Gavin yang slengean namun penuh ketulusan tersebut, keheningan hangat mendadak merayap di antara para mahasiswa. Rian yang duduk di bawah meja langsung mengangkat gelas kopinya tinggi-tinggi. "Hidup Gavin si triliuner gembel!"

"HIDUP GAVIN!!" sahut seisi warkop serempak, dilanjutkan dengan benturan gelas-gelas kaca yang meriah.

Setelah turun dari bangku kayu, Gavin berjalan menuju sudut warkop yang agak sepi, tepat di bawah naungan akar beringin tua. Di sana, Kirana Putri sedang duduk sendirian, memutar-mutar sedotan di dalam gelas es teh manisnya dengan senyuman tipis yang melankolis. Gadis itu mengenakan kemeja kotak-kotak biru yang santai, rambutnya dibiarkan terurai bebas diterpa angin malam.

Gavin menjatuhkan tubuh tegapnya di samping Kirana, melipat kedua tangannya di belakang kepala sambil bersandar pada batang beringin. "Kenapa mojok di sini, Bos Kirana? Gak ikut antre pembagian mie instan kuah double di depan?"

Kirana menoleh, menatap wajah Gavin dari samping. Di bawah temaram lampu warkop, gurat lebah di rahang cowok itu sudah hampir hilang, menyisakan ketegangan tipis yang sengaja ia sembunyikan di balik cengiran konyolnya. "Aku cuma lagi mikir, Gav. Besok pagi... saat mobil jemputan keluarga kamu datang ke depan kosan... apakah ini bakal jadi malam terakhir kita bisa ngeliat kamu slengean kayak gini?"

Suara Kirana terdengar sangat pelan, dihiasi oleh rasa kehilangan yang jujur. Sebagai satu-satunya orang yang memegang rahasia terdalam Gavin, Kirana tahu betul betapa beratnya beban formalitas yang menanti cowok berandalan ini di Jakarta.

Gavin terdiam sejenak. Ia memandang ke arah Rian dan Dono yang sedang sibuk berebut potongan tempe goreng di meja tengah sambil tertawa lepas. Sisi ugal-ugalan di wajah Gavin perlahan memudar, berganti dengan tatapan mata yang sangat dalam, hangat, dan penuh dengan prinsip kesetiaan kawannya yang kokoh.

"Jakarta itu cuma tempat di mana nama belakang gue bekerja, Ran," ucap Gavin dengan nada suara yang sangat rendah, lembut, dan stabil. Ia menoleh tepat ke arah mata Kirana, menatap manik mata gadis itu dengan pandangan yang sangat tulus. "Tapi rumah gue yang sebenarnya... tempat di mana gue bisa bernapas sebagai manusia merdeka... ada di jalanan kota ini. Di kamar kos hijau yang sempit, di atas kasur busa tipis, dan di bawah terpal warkop Cak Min ini. Libur semester ini gue emang harus balik buat nyelesein urusan birokrasi keluarga. Tapi gue bersumpah demi nyali jalanan gue... semester depan gue bakal balik lagi ke sini. Gue bakal tetep jadi Gavin yang naik motor bebek tua, yang bakal ngebantuin lu ngerjain rumus kalkulus di lab, dan yang bakal nemenin lu shift malam di minimarket sambil bawa botol susu hangat."

Kirana menatap mata Gavin, melihat sebuah komitmen mutlak yang tidak akan pernah bisa dibeli atau dihancurkan oleh dinding marmer sekaku apa pun di Menteng. Air mata haru yang tipis sempat menggenang di sudut mata Kirana, namun ia dengan cepat menyekanya sambil melempar senyuman manis terindahnya yang membuat jantung Gavin berdegup dengan ritme paling ugal-ugalan malam itu.

"Janji ya, Gav?" bisik Kirana, mengulurkan jari kelingkingnya yang kecil ke depan dada Gavin.

Gavin terkekeh renyah, menautkan jari kelingking kanannya yang kasar pada kelingking Kirana dengan erat. "Janji, Bos Kirana. Lagian kalau gue gak balik, siapa lagi yang bakal bikin tingkat entropi di hidup lu yang super rapi itu jadi berantakan dan seru?"

Di bawah langit malam yang perlahan melarut menuju fajar, malam terakhir di Warkop Cak Min itu ditutup bukan dengan kesedihan perpisahan, melainkan dengan sebuah janji setia kawan dan kehangatan murni yang terpatri kuat di dalam hati mereka, bersiap menghadapi badai apa pun yang akan menghadang di masa depan.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!