Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Upaya Penyelamatan Adiguna Grup
Sejenak Saka terdiam. Pria itu tidak tahu harus menjawab apa. Terlebih ada Firlan di antara mereka. Baik Novia maupun Firlan menunggu jawaban dari Saka.
“I-Itu karena ibu mirip dengan ibu saya,” jawab Saka asal.
“Benarkah?” tanya Novia tidak percaya.
“Oh ya, apa Pak Indra baik-baik saja? Saya lihat dari pemberitaan kalau Pak Indra ditahan pihak kejaksaan.” Saka mencoba mengalihkan pembicaraan.
Mendengar nama Indra, wajah Novia langsung murung. Anak sulungnya itu sekarang masih berada di kantor kejaksaan untuk menjalani penyidikan. Andai Saka masih hidup, pasti anak bungsunya itu bisa membantu Indra.
Saka memang lebih cerdas daripada Indra. Intuisinya juga begitu tajam. Dia kerap memberikan usulan yang menguntungkan perusahaan. Itulah yang membuat kondisi Wisnu drop setelah kecelakaan yang menimpa anaknya.
Tujuan Novia datang ke bank untuk mencairkan deposito miliknya. Novia berharap uang miliknya bisa membantu Fredy yang sekarang sedang berusaha menstabilkan kondisi perusahaan.
Wisnu sendiri tidak bisa melakukan apa-apa. Pria itu sedang terbaring sakit di rumah.
“Indra masih menjalani pemeriksaan,” jawab Novia dengan suara lemah. “Kondisi perusahaan juga sedang goyah.”
“Tante tenang saja, saya akan membantu Tante,” Saka memegang tangan Novia.
“Membantuku? Bagaimana caranya?” tanya Novia bingung.
Bagaimana seorang supir taksi bisa membantu perusahaannya?
Cukup lama Novia menatap Saka. Sorot mata pria di hadapannya ini mengingatkannya akan anak bungsunya yang meninggal dalam kecelakaan. Tanpa sadar tangannya mengusap rahang Saka. “Sorot matamu mirip Saka,” ujar Novia pelan.
Meski pelan, Firlan masih bisa mendengar apa yang dikatakan Novia. Ada kecurigaan di benak pria itu terhadap sikap ganjil Saka.
Namun dia memilih diam. Firlan masih mengamati situasi dan tidak mau mengambil keputusan gegabah.
Saka tidak bisa mengendalikan perasaannya saat Novia menyentuh rahangnya. Kerinduannya pada wanita yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya tak terbendung lagi. Pria itu langsung memeluk Novia.
“Mama,” lirih Saka. Mata pria itu tampak berkaca-kaca.
Novia yang bingung ketika Saka tiba-tiba memeluknya hanya membiarkan. Entah mengapa dia bisa merasakan pelukan itu bukanlah pelukan orang asing. Pelukan pria yang baru dua kali bertemu dengannya itu begitu hangat, seperti pelukan Saka.
“Saka,” panggil Novia pelan.
Lagi-lagi Firlan dibuat terkejut dengan interaksi keduanya. Otaknya mulai merangkai berbagai kemungkinan dari peristiwa yang dialaminya bersama Aryan.
Pelan-pelan Saka mengurai pelukannya. Pria itu menghapus sudut matanya yang berair. “Maaf, Tante, saya terbawa perasaan. Tante mirip sekali dengan Mama saya.”
“Nggak apa-apa. Tante juga terbawa perasaan. Kamu mengingatkan Tante pada anak Tante yang baru saja meninggal.”
“Kalau diizinkan, apa saya boleh panggil Mama?”
“Ya, tentu aja.”
“Ma… ma,” panggil Saka dengan terbata.
Novia mengangguk pelan. Air matanya kembali mengalir. Wanita itu senang mendengar panggilan pria di hadapannya. Dia seperti mendengar Saka yang memanggilnya.
“Mama tenang aja, aku akan membantu Pak Indra.” Saka mulai mengubah panggilannya menjadi aku.
“Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?”
“Apa pun. Apa pun akan aku lakukan agar Pak Indra bebas. Mama tenang aja, jangan banyak pikiran.”
Ucapan Saka yang begitu meyakinkan membuat Novia mulai mempercayainya. Hati Novia sedikit tenang mendengar janji Saka.
“Sekarang lebih baik Mama pulang.”
Saka merangkul bahu Novia lalu membawanya ke mobil. Melihat Novia mendekat, sopir yang bertugas mengantarnya segera membukakan pintu. Saka membantu Novia duduk di kursi belakang. Sebelum menutup pintu, dia melihat sopir yang sudah duduk di belakang kemudi.
“Bawa mobilnya hati-hati ya, Pak Didi.”
“Siap, Mas Saka.”
Setelah mendengar jawaban sopir, Saka segera menutup pintu.
Begitu pintu tertutup, sopir baru menyadari bahwa tadi dia menyebut pria itu dengan panggilan Saka. Ucapan tadi biasa didengarnya dari Saka. Karena itu, dia refleks menyebut nama Saka.
“Jalan, Pak Didi,” ujar Novia membuyarkan lamunan Didi. Pria itu segera menyalakan mesin lalu melajukannya keluar dari area parkir bank.
Tepat ketika mobil yang ditumpangi Novia keluar, taksi yang dikemudikan Dirga memasuki area parkir bank. Pria itu segera keluar lalu mendekati Saka yang sedang bersama Firlan.
“Urusannya sudah selesai?” tanya Dirga. Matanya menyapu sekeliling. Tampak beberapa pekerja sedang memindahkan gondola yang terjatuh tadi. Dia juga sempat berpapasan dengan ambulans.
“Sudah selesai,” jawab Firlan. “Apa kamu mau pulang sekarang?” tanya Firlan seraya melihat Saka.
“Ya. Masih ada yang harus kulakukan.”
Saka melangkah lebih dulu ke mobil Firlan. Dirga yang masih penasaran, ingin bertanya kepada Saka, tapi segera dicegah oleh Firlan.
“Sebaiknya kita tidak usah bertanya-tanya dulu pada Aryan,” ujar Firlan.
“Kenapa? Sikapnya makin aneh aja.”
“Oh ya, kamu kan udah lama kenal Aryan. Kamu pasti kenal ibunya juga.”
“Iyalah. Aku dekat dengan Tante Astri. Kenapa?”
“Apa wajahnya mirip dengan istri pemilik Adiguna Grup?”
Karena penasaran, Dirga mengambil ponselnya lalu mencari gambar Novia Ardana, istri dari Wisnu Chandra Adiguna. Setelah menemukannya, dia memperlihatkannya pada Firlan. “Maksudmu yang ini?”
“Iya. Apa mirip dengan ibunya Aryan?”
“Sama sekali, nggak. Kenapa?”
Kecurigaan Firlan semakin bertambah. Namun, sekali lagi, dia belum berani menyimpulkan.
“Untuk sementara ini, sebaiknya tidak usah banyak bertanya dulu pada Saka. Ikuti saja apa kemauannya. Saat ini dia sedang menghadapi masalah.
Kalau kita terus menekannya dan banyak bertanya padanya, bisa jadi dia malah akan menghindar. Jadi, tahan dulu rasa penasaranmu. Terima saja penjelasannya untuk sementara.”
Meski tidak terlalu paham dengan apa yang dikatakan Firlan, Dirga mengiyakan saja. Pasti ada alasan mengapa Firlan berkata seperti itu.
“Apa kita pulang sekarang?” tanya Firlan begitu duduk di belakang kemudi.
“Iya. Maaf sudah merepotkanmu.”
“Santai aja,” jawab Firlan sambil tersenyum. Pria itu segera melajukan kendaraan.
Di perjalanan, Saka memeriksa rekening bank-nya. Bonus yang dijanjikan Revan sudah masuk. Dia pun bisa menjalankan rencana selanjutnya.
“Apa bisa mampir ke rumahku dulu?” tanya Saka kepada Firlan. “Aku harus mengambil laptop.”
“Tentu saja,” jawab Firlan.
Saka kemudian mengirimkan pesan kepada Dirga untuk menunggunya di toko kue tempat Ayura bekerja.
Satu setengah jam kemudian, Saka tiba di rumahnya. Bergegas dia mengambil laptop. Dia segera kembali ke mobil. Sekarang tujuan mereka adalah toko kue Ayura.
Saat tiba di sana, sudah ada Dirga. Pria itu sedang berbincang dengan Ayura. Saka mengambil tempat di samping Ayura.
Dia segera menyalakan laptopnya lalu mulai menjalankan rencananya. Saka membuat rekening efek atas nama Aryan Satrio.
Selanjutnya, dia menyetor dana ke Rekening Dana Nasabah. Setelah itu Saka mulai membeli saham Adiguna Grup.
Hati Saka miris melihat harga saham yang anjlok. Harganya mencapai lima ratus rupiah per lembar.
Saka menghabiskan semua bonus pemberian Revan untuk membeli saham.
Selesai melakukannya untuk dirinya, sekarang Saka melakukannya untuk Ayura. Dia membuatkan rekening efek atas nama Ayura. Lalu mengulangi langkah seperti tadi.
“Kamu buat apa beli saham Adiguna Grup?” tanya Dirga.
“Untuk menyelamatkan perusahaan itu agar tidak jatuh ke orang yang salah.”
“Kalau aku juga mau beli, bisa?” tanya Dirga.
***
Dirga ikutan pengen beli saham😂
kan dia yg berkuasa di Adiguna ☺️