Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.
Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.
Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.
Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.
Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.
Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!
Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Bisa Keluar Sekarang
Tangannya bergerak gemulai hendak menyentuh lengan jas Alvaro, namun Alvaro dengan sangat dingin mengambil satu langkah mundur, menghindari sentuhan itu.
Clarissa sedikit meringis kesal, namun buru-buru menutupi kekecewaannya dengan kibasan rambut.
"Kenapa kau bisa berada di area parkir privat B3, Clarissa?" tanya Alvaro dengan nada suara yang begitu dingin, datar, dan tajam bagaikan belati es.
"Ini area terbatas khusus direksi." sambungnya lagi.
"Aduh, Al... kau ini kaku sekali sih!" kekeh Clarissa seraya mengibaskan tangannya di udara.
"Papa tadi kan ada rapat dengan jajaran komisaris di lantai tiga puluh lima. Aku sengaja ikut karena aku tahu jam pulangmu selalu jam begini! Aku minta izin ke bagian keamanan bawah untuk masuk ke B3, lagipula petugas di depan kan tahu siapa aku." balas Clarissa dengan santainya.
Alvaro menatap Clarissa dengan pandangan teramat dingin. "Keamanan di depan akan menerima teguran keras dariku besok pagi karena membiarkan orang luar masuk tanpa izin."
"Orang luar?" pangkas Clarissa dengan nada manja yang dibuat-buat, memajukan bibir bergancunya.
"Alvaro! Tega sekali kau menyebutku 'orang luar'! Papa dan papamu kan sudah berteman puluhan tahun! Perusahaan kita juga baru saja menandatangani kerja sama investasi energi di Kalimantan!"
Di bawah lantai mobil, di dalam persembunyiannya yang gelap dan sempit, Hana menahan napasnya rapat-rapat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut suaranya akan menembus kaca mobil. Ia bisa mendengar setiap patah kata yang diucapkan Clarissa dengan sangat jelas melalui celah pintu yang tak kedap suara sepenuhnya.
'Clarissa... jadi dia wanita kaya yang sering digosipkan anak-anak kantor itu?' batin Hana, dadanya terasa berdenyut nyeri yang tak dapat ia jelaskan.
"Aku punya urusan penting, Clarissa. Jangan menghambat waktuku," ujar Alvaro singkat, nadanya menyiratkan ketidaksabaran yang memuncak.
Pria itu sudah memutar badannya hendak meraih gagang pintu mobil.
Namun Clarissa dengan cepat melangkah memotong jalur Alvaro. "Tunggu dulu, Al! Mau pulang sekarang kan? Bagaimana kalau kita makan malam bersama dulu? Ada restoran Prancis baru yang sangat eksklusif di Jakarta Selatan. Aku sudah memesankan tempat khusus untuk kita berdua!"
Alvaro menatap Clarissa dari puncak ketinggian tubuhnya, memancarkan rasa penolakan yang mutlak.
"Tidak. Aku punya janji lain malam ini." tolak Alvaro mentah-mentah.
Clarissa mengerutkan kening mulusnya, memiringkan kepalanya curiga. "Janji lain? Dengan siapa? Dengan klien dari Singapura? Kenapa Nakula tidak memberitahuku?"
"Saya tidak berkewajiban melaporkan agenda pribadi Pak Alvaro kepada Anda, Nona Clarissa." sela Nakula dengan nada suara yang sangat sopan namun penuh ketegasan profesional.
Clarissa melempar tatapan tajam yang penuh rasa benci pada Nakula. "Aku tidak bicara padamu, Nakula! Aku bicara pada bosmu!"
Clarissa kemudian kembali menatap Alvaro dengan binar mata menuntut.
"Al, ayolah! Papa bilang jika hubungan kita makin dekat, saham konsorsium kita akan makin stabil. Kau tahu betul kan seberapa menguntungkannya jika keluarga Adhitama dan keluarga Vanea bersatu? Kau tidak bisa terus-menerus bersikap dingin padaku seperti ini!"
Alvaro mengepalkan tangannya di samping paha. Kehadiran Clarissa yang terus menekan dan menuntut posisinya sebagai pendamping hidupnya membuat kemarahan Alvaro di ujung tanduk.
Terlebih lagi, ia sangat mengkhawatirkan kondisi Hana yang harus bersembunyi di bawah lantai mobil dalam posisi yang pasti sangat tidak nyaman.
"Clarissa, dengarkan aku baik-baik," kata Alvaro. Suaranya tidak keras, namun mengandung penekanan yang membuat Clarissa seketika terdiam kaku.
"Urusan bisnis antara keluargaku dan keluargamu adalah murni profesionalisme kerja. Jangan pernah sekali-kali membawa masalah saham untuk menekan kehidupan pribadiku." tegas Alvaro dengan penuh peringatan.
"Tapi Al..." ucapnya terpotong.
"Aku tidak berminat makan malam bersamamu," pangkas Alvaro tanpa ampun, matanya menatap Clarissa tanpa sedikit pun kehangatan.
"Dan aku tidak berminat membangun hubungan apa pun denganmu di luar urusan pekerjaan. Mengerti?" sahut Alvaro dengan jelas.
Wajah cantik Clarissa mendadak pucat pasi. Bibir bergancunya agak bergetar karena terkejut dan malu luar biasa atas penolakan yang begitu telak di depan seorang asisten seperti Nakula.
"Kau... kau menolakku demi apa, Alvaro?!" bisik Clarissa dengan nada marah yang terpecah.
"Selama ini kau selalu beralasan sibuk dengan kantor! Tapi sampai kapan kau mau membujang?! Tidak ada wanita lain di kota ini yang lebih sepadan dan lebih layak menjadi mendampingmu selain aku!"
Alvaro menyunggingkan senyum tipis yaitu senyum dingin yang amat sinis.
"Siapa wanita yang layak mendampingiku... itu bukan keputusanmu, Clarissa."
Tanpa memberi kesempatan lagi bagi Clarissa untuk membalas, Alvaro mengode Nakula dengan isyarat mata. Nakula dengan cepat membukakan pintu depan penumpang untuk Alvaro.
"Nakula, jalan sekarang," perintah Alvaro tegas seraya melangkah masuk ke kursi depan di samping pengemudi yaitu sebuah keputusan yang sengaja ia ambil agar Clarissa tidak curiga dengan area kursi belakang yang pintunya sengaja tak ia buka lagi.
Nakula segera menutup pintu depan, memutari mobil, lalu masuk ke kursi pengemudi.
Mesin sedan hitam itu menggerung halus saat Nakula menginjak pedal gas, meluncur mulus meninggalkan Clarissa yang berdiri mematung sendirian di tengah lorong basemen dengan wajah memerah tahan amarah.
Mata tajam Clarissa menatap sedan hitam yang perlahan menjauh menuju pintu keluar basemen.
Melalui kaca belakang mobil yang sangat gelap, Clarissa mencoba memicingkan matanya, berusaha melihat apakah ada orang lain di dalam mobil itu.
Namun, kaca film tebal berteknologi tinggi itu sepenuhnya memantulkan bayangan lampu basemen, menyembunyikan rahasia besar di dalamnya.
Clarissa menghentakkan kaki dengan sepatu hak tingginya, menjerit kekalapan yang tertahan.
"Lihat saja, Alvaro! Kau pasti akan berlutut padaku suatu hari nanti!" serunya dengan kesal.
Sedan hitam itu terus meluncur membelah jalanan utama Jakarta yang mulai dipadati oleh arus kendaraan jam pulang kantor.
Di dalam mobil, keheningan sempat tercipta selama beberapa menit. Nakula fokus mengemudikan kendaraan, sementara Alvaro terus memperhatikan kaca spion tengah dengan raut wajah sangat cemas.
"Hana..." panggil Alvaro pelan, suaranya dipenuhi rasa tak tenang.
"Kau bisa keluar sekarang. Mobilnya sudah aman." sahut Alvaro.
Gerakan halus terdengar dari area bawah kursi belakang. Selimut tipis terkuak, dan Hana perlahan-lahan menegakkan tubuhnya kembali. Ia memanjat naik ke atas kursi empuk, membetulkan letak seragam biru dongkernya yang sedikit kusut.
Pipi gadis itu tampak memerah dan napasnya sedikit terengah-engah karena terlalu lama menahan napas di persembunyiannya.
Alvaro memutar tubuhnya di kursi depan, menatap istrinya dengan pandangan yang sarat akan rasa bersalah dan penyesalan mendalam.
"Kau tidak apa-apa, Hana?" tanya Alvaro, suaranya terdengar begitu lembut.
"Apakah kakimu terantuk atau pegal?" tanya Alvaro lagi mengkhawatirkan kondisi sang istri.
.
.
Cerita Belum Selesai.....