NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 : LUKA YANG TERSEMBUNYI

...BAB 9...

...LUKA YANG TERSEMBUNYI...

Pagi datang seperti biasanya. Rumah besar milik Rian tetap terasa tenang.

Tidak ada suara Nita sejak pagi, tetapi sebenarnya keadaan seperti itu bukan sesuatu yang baru bagi penghuni rumah tersebut.

Nita memang seorang wanita karier. Kesibukannya sebagai model dan bintang iklan membuatnya lebih sering berada di luar rumah. Kadang sejak pagi hingga malam, bahkan beberapa kali harus pergi ke luar kota atau luar negeri untuk pekerjaan.

Karena itu, rumah ini sudah terbiasa tanpa kehadiran Nita.

Hanya saja, pagi ini terasa sedikit berbeda. Bukan karena rumah menjadi lebih sunyi.

Melainkan karena semua orang tahu, kali ini Nita tidak pergi untuk bekerja. Tapi ia pergi setelah rumah tangganya berakhir.

Wulan berdiri di dapur sambil menyiapkan sarapan. Sesekali matanya melirik ke arah ruang makan.

Rian sudah duduk di sana. Lelaki itu terlihat lebih banyak diam sejak kepergian Nita semalam.

Di hadapannya terdapat secangkir kopi yang bahkan belum disentuh.

Wulan tidak tahu bagaimana harus bersikap. Sejak Nita pergi, suasana rumah ini berubah.

Dan entah kenapa, dirinya merasa semakin canggung.

Ia hanyalah seorang pekerja. Belum sampai dua bulan bekerja di rumah ini.

Tetapi dalam waktu sesingkat itu, ia sudah menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia lihat.

Pertengkaran suami istri. Keretakan rumah tangga. Dan malam tadi, Nita pergi meninggalkan rumah bersama koper-kopernya.

Wulan menghela napas. Ia tidak ingin terlibat lebih jauh. “Delon, Astrid, sarapannya sudah siap,” panggilnya.

Dua anak itu segera datang dari kamar. Delon membawa tas sekolahnya. Astrid masih mengusap matanya.

“Ma, hari ini aku mau telur.”

“Sudah Mama buatkan.”

“Banyak?”

“Cukup.”

Astrid tersenyum.

Wulan membantu keduanya duduk di kursi makan yang berada di dapur khusus untuk pembantu.

Tak lama Rian muncul ke arah dapur sambil menggendong Rana yang baru saja terbangun dan turun dari kamarnya sendiri.

Anak kecil itu langsung mencari Wulan. “Mama Wulan.”

“Iya sayang, kamu sudah bangun rupanya...”

Rian menghampiri Wulan, Rana mengangkat kedua tangannya ke arah Wulan.

“Gendong.” pintanya manja.

Wulan tersenyum lalu mengambil Rana dari gendongan Rian.

Namun kali ini ia bisa merasakan tatapan Rian padanya.

Lelaki itu memperhatikan mereka tanpa berkata apa-apa.

Wulan pun langsung merasa tidak nyaman. Ia memilih memalingkan wajah. “Rana sarapan dulu sama Kak Delon dan Kak Astrid ya...”

“Enggak mau.”

“Kenapa?”

“Maunya cama Mama Wulan.”

Wulan mengusap pipinya. “Mama masih ada pekerjaan. Kalau kamu tidak sarapan dulu nanti perutnya bisa sakit.”

Rana akhirnya mengangguk. Wulan membawa anak itu ke kursi.

Rian masih diam. Namun dalam hati, ia merasa lega.

Sejak kejadian semalam, satu-satunya hal yang membuatnya tenang adalah melihat putrinya masih bisa tersenyum. Dan orang yang membuat Rana tersenyum adalah Wulan.

*****

Setelah kedua anaknya sarapan, Wulan mengantar Delon pergi sekolah. Sementara Astrid menemani Rana menonton televisi.

Sekolah Delon tidak begitu jauh dari rumah Rian. Jalan kaki sepuluh menit sudah sampai.

Rian kembali duduk di meja makan, setelah barusan ia menyiapkan beberapa berkas perceraian dengan Nita nanti.

Tak lama, Wulan pun sudah kembali pulang. Lelaki itu melihat kedatangannya, sejak pagi tadi sebenarnya ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkannya.

Akhirnya Wulan yang lebih dulu berbicara. “Pak Rian.”

“Hm?”

“Kalau soal semalam... saya minta maaf kalau saya terlalu banyak melihat.”

Rian mengerutkan kening. “Kamu tidak perlu minta maaf.”

“Saya tidak bermaksud mencampuri urusan Bapak.”

“Aku tahu.”

Wulan mengangguk. “Kalau begitu permisi saya lanjut bekerja.”

Ia hendak pergi. Namun Rian segera memanggilnya. “Wulan.”

Langkah perempuan itu berhenti. “Iya Pak?”

“Rana.”

Wulan menoleh. “Kenapa dengan Rana?”

“Terima kasih, karena kamu sudah menjaganya.”

Wulan tersenyum tipis. “Itu memang pekerjaan saya, Pak.”

Jawaban tersebut membuat Rian terdiam. Lagi-lagi Wulan membuat batas yang jelas, hanyalah pekerjaan.

Rian menghela napas. “Aku tahu.”

Wulan kemudian kembali bekerja. Namun Rian masih memperhatikannya.

*****

Menjelang sore, setelah anak-anak makan siang. Mereka langsung bermain bersama Rana di halaman.

Taman kecil yang dulu dibuat Rian untuk putrinya kembali ramai. Ada ayunan, perosotan dan rumah-rumahan kecil.

Bahkan sebuah meja mungil tempat anak-anak biasanya menggambar.

Rana dan Astrid berlari kecil sambil tertawa. Delon bermain bola. Wulan sesekali memperhatikan mereka dari dalam rumah, tersenyum bahagia melihatnya.

Sedangkan anak-anak asyik bermain, Wulan melanjutkan melipat pakaian ketika itu Rian masuk ke ruang laundry.

“Kamu belum istirahat?”

Wulan menoleh. “Sebentar lagi.”

“Kamu dari pagi terus bekerja.”

“Saya sudah terbiasa.”

Rian mengambil beberapa pakaian. “Biar aku bantu.”

Wulan langsung menggeleng. “Tidak perlu, Pak.

"Aku cuma bantu mengangkatnya.” Rian menawari lagi.

Tapi Wulan tetap menolak bantuannya. "Saya bisa sendiri Pak.”

Wulan kemudian mengambil keranjang laundry yang sudah penuh. Namun baru beberapa langkah, bahunya terasa nyeri.

Wulan sedikit meringis, menahan napas. "Ssshhh..."

Keranjang itu ternyata lebih berat dari yang ia kira.

“Biar saya bawa ke atas.” Wulan mencoba mengangkatnya lebih tinggi. Tapi tiba-tiba langkahnya goyah. “Ah!”

Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Rian yang berada tepat di belakangnya langsung meraih lengan Wulan.

“Wulan!”

Keranjang itu hampir terjatuh, tetapi Rian berhasil menahannya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih memegang lengan Wulan.

“Kamu tidak apa-apa?”

Wulan menarik napas. “Saya tidak apa-apa, Pak.”

Namun ketika Rian hendak melepaskan tangannya, matanya menangkap sesuatu.

Lengan baju Wulan sedikit tersingkap. Di bagian lengannya terlihat bekas luka kemerahan. Seperti bekas luka bakar yang sudah lama.

Wulan cepat-cepat menarik lengan bajunya menutupi kulit tersebut.

“Tidak apa-apa,” katanya lagi.

Tetapi kali ini Rian tidak langsung percaya. “Lenganmu kenapa?”

“Tidak ada apa-apa.” Wulan hendak pergi.

Namun Rian menahan tangannya. “Tunggu dulu!”

Wulan langsung menoleh.

Rian perlahan menarik tangan Wulan kembali. “Biar aku lihat.”

“Pak, tidak perlu.”

“Wulan, diam.”

Nada suara Rian tidak keras, tetapi cukup membuat Wulan berhenti melawan.

Rian menyingkap sedikit lengan bajunya. Bekas luka itu kini terlihat jelas. Tidak hanya satu. Ada beberapa bagian kulit yang masih tampak kemerahan dan belum sepenuhnya pulih.

Rian terdiam sesaat. Lalu menatap wajah Wulan. “Bekas luka apa ini?”

Wulan segera menarik tangannya. “Ini cuma luka lama.”

“Luka lama?”

“Iya.”

“Kenapa ada di lengan?”

Wulan terdiam. "Ini luka bakar, waktu itu saya begitu ceroboh."

Rian semakin penasaran. Luka itu sepertinya bukan tidak sengaja. Tapi seperti luka bekas penganiayaan.

Ia baru mengetahui bahwa perceraian Wulan belum genap dua bulan. Ia juga baru tahu bahwa perempuan itu memiliki masa lalu yang tidak pernah diceritakannya.

“Apakah ini ada hubungannya dengan mantan suamimu?”

Wulan langsung menghindari tatapan Rian. “Maaf Pak, saya masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan.”

“Wulan.”

“Saya permisi, Pak.”

Ia mengambil kembali keranjang laundry. Kali ini Rian tidak menahannya lagi. Ia hanya berdiri terpaku, memandangi punggung Wulan yang semakin menjauh.

Rian merasa ada sesuatu yang disembunyikan perempuan itu. Dan semakin Wulan berusaha untuk menutupinya, semakin besar pula rasa penasaran Rian.

Sebenarnya, apa yang terjadi dalam pernikahan Wulan sampai meninggalkan luka sebesar itu? Gumam Rian dalam hatinya.

Bersambung...

1
falea sezi
Ryan ini plin plan masih ttep. milih wanita karir🤣 nanti sama. kayak istri mu dlu tukang selingkuh trs sibuk🤣 gk ambil. pengalaman ya qm.. nanti wulan pergi lu nyesel laki kok gk sat set menye manut karo emak nya yg kayak. lampir matre itu😒
Kam1la
cerai itu pilihan yg tepat, Rian.
Kam1la
Wulan merasa diperhatikan, kembali di masa saat kuliah dulu
Kam1la
seperti kena Karma ya si Rian...
Kam1la
Wulan harus kuat dong, demi kedua anaknya....
Kam1la
Jangan-jangan Rian jodoh Wulan di masa depan
Lisa
Moga dgn berjlnnya waktu..Wulan dpt menerima Rian.
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!